sudah berapa lama gejala-gejala ini berlangsung? dan semua nyeri dada harus ditangani dengan cara ini terutama di usia Anda dan bersama dengan demam dan tekanan darah serta kolesterol Anda juga perlu diperiksa dan apakah Anda sedang demam sekarang? dan apakah Anda mengalami gejala berikut bersama nyeri dada Anda? dan apakah Anda ingusan? dan apakah Anda merasakan nyeri dada ini sekarang? dan apakah Anda juga kesulitan bernapas? dan bisakah Anda ceritakan gejala lain yang Anda alami bersama dengan gejala ini? dan apakah nyeri ini berpindah dari dada Anda? dan minum banyak cairan dan pernah sampai berapa tinggi demam Anda? dan saya juga batuk dan saya sedikit pilek dan batuk dan saya merasakan nyeri dada berat hari ini dan ini musim alergi rhinitis dan terasa nyeri dada dan saya rasa saya juga sedikit demam dan saya ingin Anda menjelaskan tempat nyeri dada Anda dan dia sepertinya memiliki gejala yang sama dan coba ceritakan gejala yang Anda rasakan sekarang? dan mereka juga demam dan dengan riwayat diabetes Anda dan tahukah Anda, dada saya rasanya seperti akan remuk dan tahukah Anda, orang selalu batuk ke arah saya dan Anda merasa nyeri dada dan gejala Anda tidak hilang dalam lima hari dan Anda katakan bahwa ada tekanan di dada Anda siapa pun di keluarga yang memiliki masalah jantung, penyakit jantung, serangan jantung, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi apakah ada gejala atau masalah lain yang Anda perhatikan bersama dengan nyeri otot? apakah ada nyeri menusuk di bagian kiri dada Anda? apakah ada orang lain yang sakit seperti Anda di rumah dengan gejala yang sama? apakah Anda kesulitan bernapas saat ini? apakah Anda merasakan gejala lain? apakah Anda pernah merasa sesak napas? apakah Anda masih merasa nyeri dada? karena ini musim flu selain diabetes, apakah ada masalah atau penyakit penting lainnya? tetapi kita juga tidak boleh mengesampingkan nyeri dada yang berasal dari jantung tetapi masalah yang lebih penting sekarang adalah nyeri dada ini tetapi jika Anda batuk dan saya merasa kesulitan bernapas tetapi saya tahu banyak orang batuk ke arah saya tetapi kita perlu menangani setiap nyeri dada dengan sangat serius tetapi saat ini Anda dapat bernapas dengan baik? saya benar-benar lupa penyebab nyeri dada ini karena mereka batuk apakah rasanya seperti ada orang yang meremas dada Anda? masih terasa seperti sesak napas apakah mereka mengeluh sakit dengan gejala yang sama? apakah Anda memiliki masalah tekanan darah sejauh yang Anda tahu? apakah Anda memiliki masalah kronis seperti tekanan darah tinggi atau sejenisnya? apakah Anda memiliki masalah medis atau penyakit kronis lain seperti diabetes? apakah Anda merasa sesak napas bersama dengan nyeri dada tersebut? apakah Anda menderita tekanan darah tinggi? apakah Anda merasa sesak napas bersama dengan gejala itu? apakah Anda tahu gejala apa yang dialaminya? apakah kerabat Anda memiliki gejala yang sama? apakah Anda melihat gambarnya? minum banyak cairan hari ini mengalami batuk kering, pilek, ingusan, muntah, dan diare namun saya menjalani tes diabetes namun ia memiliki gejala yang agak mirip dengan saya seberapa tinggi demam Anda? bagaimana tekanan darah Anda? saya rasa saya tidak menderita tekanan darah tinggi saya merasa nyeri di dada sebelah sini, di bagian depan dada jika demam Anda berlanjut jika demam Anda seratus dua atau lebih tinggi jika menurut Anda gejala atau masalah Anda perlu pemeriksaan lebih baik saya demam kemarin saya juga sedikit demam saya demam kemarin saya merasa nyeri menusuk di dada yang berlangsung singkat saya merasa nyeri menusuk di sini, di dada saya juga menderita rinitis alergi saya sudah buat di tubuh sekitar daerah dada? saya juga kesulitan bernapas saya akan mengirimkan gambar kepada Anda saya merasa nyeri dada hari ini saya hanya merasa sedikit sakit kepala dan demam hari ini menurut pendapat saya, ini flu menurut pendapat saya, ini sedikit flu saya melihatnya bergerak naik dari tengah dada ke leher Anda apakah rasanya seperti ada orang yang sangat berat duduk di dada Anda? semua berawal dari sakit kepala disertai demam pada saat yang hampir bersamaan terasa sakit di dada terasa sakit di bagian tengah dada saya tekanan seperti nyeri dada di dada saya di bagian tengah dada saya di bagian tengah dada terjadi tepat di bagian tengah dada saya tepat di bagian tengah dada saya sepertinya Anda menderita pilek biasa atau flu saya mengalami nyeri di dada saya saya sangat khawatir tentang nyeri dada ini saya ingin Anda menjelaskan nyeri dada ini saya akan mengirimkan gambar kepada Anda saya akan mengirimkan gambar di layar Anda seperti tekanan darah tinggi atau diabetes seperti tepat di bagian tengah dada sering kali jenis nyeri dada seperti ini saudara perempuan saya memiliki gejala serupa untuk demamnya, Anda bisa minum tachipirina manis saya mengirimkan gambar kepada Anda Mary, sudah berapa hari Anda mengalami gejala ini? Anda katakan bahwa Anda merasa nyeri dada terkadang saya merasa nyeri dada baiklah, apakah ada gejala lain bersama gejala ini selain rasa nyeri atau jika Anda menderita tekanan darah tinggi atau seseorang duduk di dada Anda? hampir sama dengan demam, batuk, sakit kepala, dan nyeri otot tepat di bagian tengah dada saya tunjukkan di gambar ini tempat Anda merasa sakit karena Anda demam jadi, apakah menurut Anda beberapa gejala ini mungkin berhubungan dengan kehamilan? jadi, nyeri dada Anda berawal pagi ini jadi, anak-anak Anda memiliki beberapa gejala yang sama? ceritakan mengenai nyeri dada Anda demam meningkat di malam hari demam saya sudah berlangsung selama dua hari demam mulai meningkat tadi malam demam berawal dua hari yang lalu nyeri otot disertai rinitis alergi ini dokter Porter di pusat triase ruang gawat darurat bisakah Anda ceritakan lebih banyak mengenai nyeri dada Anda? menurut pendapat saya, itu hanya sedikit flu saya merasa nyeri di bagian depan tubuh saya, di sini, di dada saya merasakan nyeri yang kuat di dada saya baik bu, dari cerita Anda mengenai gejalanya, sepertinya Anda tertular salah satu virus flu saat saya merasakan nyeri tersebut di dada saya nyeri seperti apa yang Anda rasakan di dada Anda? kapan nyeri dada ini berawal? di bagian mana Anda merasa nyeri di dada? di bagian mana Anda merasa nyeri dada? Anda mungkin mengalami nyeri dada Anda merasa seperti sesak di dada Anda tahukah Anda saya menderita diabetes dan penyakit lain Anda katakan bahwa Anda merasakan nyeri dada ini Insiden kumulatif penyakit koronavirus (COVID-19) yang meningkat cepat di Uni Eropa/Wilayah Ekonomi Eropa dan Inggris Raya, 1 Januari hingga 15 Maret 2020 Insiden kumulatif kasus penyakit koronavirus (COVID-19) menunjukkan tren serupa di negara Uni Eropa/Wilayah Ekonomi Eropa dan Inggris Raya yang mengonfirmasi bahwa, meskipun tahapnya berbeda-beda tergantung negara, pandemi COVID-19 berkembang sangat cepat di semua negara. Berdasarkan pengalaman Italia, negara, rumah sakit, dan unit perawatan intensif hendaknya meningkatkan kesiapannya untuk lonjakan pasien COVID-19 yang akan memerlukan perawatan kesehatan, khususnya perawatan intensif. Pada 31 Desember 2019, klaster kasus pneumonia dengan etiologi tidak dikenal dilaporkan di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Pada 9 Januari 2020, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok melaporkan agen kausatif penyakit ini adalah koronavirus baru yang sekarang disebut koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2). Sejak saat itu, penyakit yang diakibatkan oleh infeksi SARS-CoV-2 disebut penyakit koronavirus (COVID-19). Bukti hingga saat ini menunjukkan bahwa sekitar 80% penderita COVID-19 mengalami penyakit ringan, yakni infeksi saluran napas dengan atau tanpa pneumonia, dengan sebagian besar penderita ini sembuh. Pada sekitar 14% kasus, COVID-19 berkembang menjadi penyakit yang lebih berat dan memerlukan perawatan rumah sakit, sementara 6% kasus lainnya mengalami penyakit kritis yang memerlukan perawatan intensif. Mortalitas pasien yang dirawat di rumah sakit akibat COVID-19 sekitar 4%. Dalam studi ini, kami mengkaji tren insiden kumulatif COVID-19 negara Uni Eropa/Wilayah Ekonomi Eropa (EU/EEA) dan Inggris Raya (UK) lalu membandingkannya dengan insiden di Provinsi Hubei, Tiongkok. Kami juga membandingkan jumlah kasus COVID-19 saat ini di negara EU/EEA dan UK dengan jumlah kasus di Italia selama 31 Januari–15 Maret 2020. Kasus COVID-19 di negara EU/EEA dan UK Setelah Tiongkok, COVID-19 mengalami penyebaran geografis lebih jauh dan dinamika pandemi COVID-19 di belahan dunia lainnya saat ini mengikuti dinamika pandemi di Tiongkok. Pada 11 Maret 2020, Direktur Jendral Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Di Eurosurveillance 2020 terbitan 5 Maret, Spiteri et al. melaporkan orang Eropa pertama dengan kasus COVID-19 terkonfirmasi berdasarkan definisi kasus WHO. Di EU/EEA, tiga kasus terkonfirmasi pertama dilaporkan oleh Prancis pada 24 Januari 2020 pada orang-orang yang kembali dari Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Pada 15 Maret 2020, kasus COVID-19 telah dideteksi di seluruh 30 negara EU/EEA dan Ingris Raya (UK), antara tanggal 31 Desember 2019 dan 15 Maret 2020 dengan tanggal tersebut termasuk, ada 39.768 kasus dan 1.727 kematian dilaporkan, dengan 17.750 kasus dan 1.441 kematian dari Italia saja. Mendapatkan angka kumulatif dan insiden kumulatif kasus COVID-19 Di Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), jumlah kasus COVID-19 yang diberitahukan setiap negara di seluruh dunia diperbarui setiap hari pada pukul 8.00. Jumlah ini diperoleh hanya dari sumber resmi seperti Kementrian Kesehatan negara tersebut, otoritas kesehatan nasional dan regional, dan WHO. Data ini digunakan untuk menilai tren COVID-19 di EU/EEA dan UK, serta membandingkannya dengan tren di Italia. Sebagai proksi prevalensi kasus COVID-19 aktif, kami menghitung insiden kumulatif terpenggal 14 hari, jadi memperhitungkan perjalanan alami COVID-19, di setiap negara EU/EEA dan UK, dalam periode 1 Januari–15 Maret 2020. Kami juga menyajikan angka kumulatif kasus yang diberitahukan setiap negara hingga 15 Maret 2020 pukul 8.00 dibandingkan dengan kasus Italia selama periode 31 Januari–15Maret 2020. Tren COVID-19 di negara EU/EEA dan UK Tren insiden kumulatif terpenggal 14 hari kasus COVID-19 di negara EU/EEA dan UK umumnya mengikuti tren di Provinsi Hubei (Tiongkok) (Gambar 1). Untuk EU/EEA dan UK secara keseluruhan, insiden kumulatif COVID-19 mulai meningkat sekitar 21 Februari, lalu meningkat tajam sekitar 28 Februari 2020 (Bahan tambahan). Tren ini terutama digerakkan oleh peningkatan cepat jumlah kasus yang dilaporkan dari Italia, tetapi semua negara EU/EEA yang lain dan UK menunjukkan tren peningkatan insiden kumulatif COVID-19 yang serupa (Bahan tambahan). Gambar 2 menunjukkan jumlah kumulatif kasus COVID-19 di negara EU/EEA dan UK dibandingkan dengan jumlah kumulatif di Italia selama periode 31 Januari–15 Maret 2020. Data tersebut menyoroti bahwa, hingga 15 Maret pukul 8.00, 15 negara EU/EEA lain dan UK telah melaporkan total jumlah kasus yang sebanding dengan total jumlah kasus Italia tiga minggu sebelumnya atau kurang dari itu. Hasil kami mengindikasikan bahwa jumlah kasus COVID-19 yang diberitahukan meningkat cepat di EU/EEA dan UK. Tren yang teramati pada insiden kumulatif COVID-19 mengisyaratkan bahwa pandemi meningkat pada kecepatan yang sebanding di semua negara. Hal ini terlepas dari perbedaan tahap yang dialami negara-negara, variasi respons kesehatan masyarakat, dan kemungkinan perbedaan definisi kasus antara negara dan perbedaan protokol untuk memilih pasien yang harus diuji untuk konfirmasi COVID-19, yang mencakup pengujian susulan. Pada awal Maret 2020, para dokter di wilayah Italia yang terdampak menjelaskan situasi sekitar 10% pasien COVID-19 memerlukan perawatan intensif dan sumber media melaporkan bahwa rumah sakit dan unit perawatan intensif di wilayah ini telah mencapai kapasitas maksimumnya. Saat ini, data penerimaan kasus COVID-19 di rumah sakit dan/atau unit perawatan intensif di tingkat EU/EAA hanya tersedia untuk masing-masing 6% dan 1% kasus (data tidak diperlihatkan). Namun, data harus dikumpulkan dalam cara yang sistematik untuk melengkapi data surveilans saat ini yang berfokus pada jumlah kasus yang dilaporkan dan angka kematian. Studi yang dilakukan pada tahun 2010-2011 menunjukkan variasi besar dalam hal ketersediaan tempat tidur perawatan intensif dan perawatan madya di Eropa, berkisar mulai dari 29,2 di Jerman hingga 4,2 per 100.000 populasi di Portugal. Hal ini berarti bahwa negara-negara dapat memiliki sumber daya yang lebih banyak atau lebih sedikit dibandingkan Italia (12,5 tempat tidur perawatan intensif dan perawatan madya per 100.000 populasi pada tahun 2010-2011). Skenario pemodelan terkait kejenuhan kapasitas perawatan kesehatan, dengan estimasi prevalensi kasus COVID-19 rawat inap untuk setiap negara EU/EEA dan UK yang berkaitan dengan risiko > 90% melampaui kapasitas tempat tidur perawatan intensif, disediakan di pembaruan keenam penilaian risiko cepat ECDC tentang COVID-19. Karena sejauh ini kasus terklaster di wilayah tertentu di negara EU/EEA dan UK, dan rumah sakit serta unit perawatan intensif biasanya melayani populasi cakupan pelayanan regional tertentu, informasi tentang kasus dan tempat tidur perawatan intensif sebaiknya disediakan pada tingkat Penamaan Unit Wilayah untuk Statistik 2 (NUTS-2). Pengalaman dari Italia dan tren saat ini di negara lain menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 berkembang sangat cepat di EU/EEA dan UK. Karena itu, negara, rumah sakit, dan unit perawatan intensif hendaknya mempersiapkan diri untuk skenario transmisi komunitas SARS-CoV-2 dan peningkatkan jumlah pasien COVID-19 yang memerlukan perawatan kesehatan, khususnya perawatan intensif, seperti yang terjadi di wilayah terdampak di Italia. Sebagaimana ditunjukkan dalam penilaian risiko cepat ECDC baru-baru ini, pendekatan yang cepat, proaktif, dan komprehensif sangat penting untuk memperlambat penyebaran SARS-CoV-2, dengan peralihan dari pendekatan pembendungan ke pendekatan mitigasi, sebab peningkatan jumlah kasus yang cepat, sebagaimana diantisipasi, mungkin tidak memberi cukup waktu kepada para pembuat keputusan dan rumah sakit untuk memahami, menerima, dan mengadaptasi respons yang tepat jika hal itu tidak diterapkan sebelumnya. Penilaian risiko cepat tersebut juga mencantumkan langkah-langkah kesehatan masyarakat untuk memitigasi dampak pandemi. Tersedia jendela kesempatan yang pendek saat negara memiliki kemungkinan untuk lebih meningkatkan upaya pengendaliannya dalam memperlambat penyebaran SARS-CoV-2 dan mengurangi tekanan pada perawatan kesehatan. Jika gagal, sistem perawatan kesehatan negara EU/EEA lain kemungkinan akan menghadapi lonjakan pasien yang memerlukan perawatan intensif dalam beberapa hari atau minggu ke depan. Wabah penyakit koronavirus 2019 (COVID-19), yang disebabkan oleh koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2), sejauh ini telah menewaskan lebih dari 3.000 orang dan menginfeksi lebih dari 80.000 orang di Tiongkok dan tempat lain di dunia, yang menyebabkan bencana bagi manusia. Mirip dengan virus homolognya, SARS-CoV, yang menyebabkan SARS pada ribuan orang pada tahun 2003, SARS-CoV-2 mungkin juga ditransmisikan dari kelelawar dan menyebabkan gejala yang mirip melalui mekanisme yang mirip. Meski demikian, COVID-19 memiliki tingkat keparahan dan mortalitas yang lebih rendah dibandingkan SARS, tetapi lebih menular dan lebih banyak mengenai lansia daripada orang muda, serta lebih banyak pada pria daripada wanita. Sebagai respons terhadap jumlah publikasi yang meningkat cepat tentang penyakit yang baru muncul ini, artikel ini mencoba memberikan tinjauan tepat waktu dan komprehensif tentang subjek penelitian yang berkembang cepat. Kami akan membahas dasar-dasar epidemiologi, etiologi, virologi, diagnosis, perawatan, prognosis, dan pencegahan penyakit. Meski masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, kami berharap tinjauan ini membantu pemahaman dan pemberantasan penyakit yang mengancam ini. Festival Musim Semi pada tanggal 25 Januari 2020 telah menjadi kenangan yang belum pernah terjadi dan tidak terlupakan bagi semua orang Tionghoa yang diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah selama liburan dan beberapa minggu setelahnya karena wabah penyakit virus baru. Virus ini sangat homolog dengan koronavirus (CoV) yang menyebabkan wabah sindrom pernapasan akut berat (SARS) pada tahun 2003; karena itu, virus ini diberi nama SARS-CoV-2 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Februari 2020, dan penyakit yang disebabkannya disebut CoV Disease-19 (COVID-19). Epidemi berawal di Wuhan, Tiongkok, dan dengan cepat menyebar ke seluruh negeri dan ke hampir 50 negara lain di seluruh dunia. Hingga 2 Maret 2020, virus ini telah mengakibatkan 80.000 kasus COVID-19 terkonfirmasi, dengan lebih dari 40.000 pasien dipulangkan dan 3.000 pasien meninggal dunia. WHO memperingatkan bahwa COVID-19 merupakan “musuh khalayak nomor 1” dan berpotensi merusak lebih kuat daripada terorisme. Menurut PubMed (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/), dalam waktu kurang dari dua bulan sejak laporan pertama pada 7 Januari 2020 yang menetapkan sekuens virus yang diisolasi dari beberapa pasien, lebih dari 200 makalah telah diterbitkan tentang COVID-19, yang mencakup virologi, epidemiologi, etiologi, diagnosis, dan perawatannya. Tinjauan ini berusaha merangkum kemajuan riset dalam bidang subjek baru yang berkembang cepat ini. Sedapat mungkin, kami akan mencoba membandingkan COVID-19 dengan SARS dan penyakit yang disebabkan CoV lainnya, yakni sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS, wabah pada tahun 2012). Kami juga akan membahas hal yang telah dipelajari sejauh ini mengenai pencegahan dan prognosis penyakit serta beberapa pertanyaan lain yang belum terjawab, tetapi mendesak. Berdasarkan tradisi, CoV dianggap patogen nonletal bagi manusia, terutama menyebabkan sekitar 15% pilek 4. Meski demikian, pada abad ini, kita telah menjumpai CoV yang sangat patogenik bagi manusia dua kali, yakni SARS-CoV dan MERS-CoV, masing-masing menyebabkan wabah yang berawal di Tiongkok pada tahun 2003 dan Arab Saudi pada tahun 2012, dan segera menyebar ke banyak negara lain dengan morbiditas dan mortalitas yang mengerikan. Karena itu, COVID-19 saat ini adalah wabah CoV ketiga dalam sejarah manusia yang tercatat. Seperti diperlihatkan di Gbr. 1.1, klaster pneumonia dengan asal tidak diketahui pertama kali dilaporkan dari Wuhan pada 31 Desember 2019 kepada Komisi Kesehatan Nasional Republik Rakyat Tiongkok. Tujuh hari kemudian, sekuens CoV diluncurkan. Pada 15 Januari 2020, kasus fatal pertama dari Wuhan dilaporkan. Sementara itu, epidemi menyebar cepat ke kota, provinsi, dan negara tetangga. Pada 20 Januari, infeksi penyedia perawatan kesehatan dilaporkan, yang mengisyaratkan bahwa transmisi manusia-ke-manusia mungkin terjadi. Pada 23 Januari, karantina wilayah diberlakukan di kota Wuhan dan seluruh angkutan umum dihentikan. Pada 24 Januari, studi klinis pertama tentang penyakit ini melaporkan bahwa, dari 41 pasien dengan kasus terkonfirmasi, hanya 21 pasien yang berkontak langsung dengan pasar makanan laut Wuhan yang dianggap sebagai lokasi awal infeksi dari sumber hewan yang tidak diketahui. Pada 30 Januari, WHO menyatakan wabah ini sebagai darurat kesehatan global. Pada waktu laporan ini ditulis, penyakit ini sudah menyebar ke seluruh Tiongkok dan hampir 50 negara lain di seluruh dunia (Gbr. 2).2). Karena situasi berkembang dengan sangat cepat, cakupan akhir dan keparahan wabah masih harus ditetapkan. Pada 11 Februari 2020, studi multipusat pada 8.866 pasien, yang mencakup 4.021 pasien COVID-19 terkonfirmasi, menyajikan gambaran epidemi yang lebih diperbarui berikut (https://mp.weixin.qq.com/s/UlBi-HX_rHPXa1qHA2bhdA). SARS-CoV-2 menginfeksi orang pada segala usia, tetapi terutama pada usia 30-65. Hampir separuh (47,7%) dari orang-orang yang terinfeksi berusia lebih dari 50 tahun, hanya sedikit yang berusia di bawah 20 tahun, dan hanya 14 orang terinfeksi yang berusia di bawah usia 10 tahun. SARS-CoV-2 lebih banyak menginfeksi pria (0,31/100.000) dibandingkan wanita (0,27/100.000). COVID-19 meluas dalam klaster, terutama di dalam dan sekitar Hubei. COVID-19 memakan waktu rata-rata 5 (2-9) hari mulai dari awitan hingga diagnosis. Periode inkubasi rata-rata adalah 4,8 (3,0-7,2) hari. Waktu rata-rata mulai dari awitan hingga kematian adalah 9,5 (4,8-13) hari. Angka reproduksi dasar (R0) adalah 3,77 (95% CI: 3,51-4,05) dan R0 tersuai 2,23-4,82. Jumlah orang yang terinfeksi meningkat secara eksponensial sebelum 23 Jan. 2020, sesuai dengan waktu transportasi masif sebelum Festival Musim Semi di Tiongkok. Mortalitas pasien dengan kasus terkonfirmasi sebesar 1,44% (95% CI: 1,10-1,86%) dan mortalitas tersuai untuk semua pasien sebesar 3,06% (95% CI: 2,02-4,59%). Tiga faktor risiko utama untuk COVID-19 adalah jenis kelamin (pria), usia (≥60 tahun), dan pneumonia berat. CoV adalah subfamili virus besar bersampul yang mengandung untai tunggal RNA sense. CoV dapat dibagi menjadi empat genus, yakni alfa, beta, gamma, dan delta, dengan alfa- dan beta-CoV diketahui menginfeksi manusia. Glikoprotein tonjolan atau spike (S) sampul berikatan dengan reseptor selnya, enzim penukar angiotensin 2 (ACE 2) dan dipeptidil peptidase 4 (DPP4) masing-masing untuk SARS-CoV dan MERS-CoV, lalu fusi membran terjadi. Genom RNA virus dilepaskan ke dalam sitoplasma; setelah replikasi genom virus, RNA genomik disertai glikoprotein sampul dan protein nukleokapsid membentuk vesikel berisi virion, yang kemudian mengalami fusi dengan membran plasma untuk melepaskan virus. Sekuens genomik SARS-CoV-2 pertama dilaporkan pada 10 Januari 2020. SARS-CoV-2 merupakan beta-CoV tipe baru dengan kesamaan genetik lebih dari 99,98% di antara 10 sampel yang disekuensi; sampel tersebut diambil dari lokasi asal wabah, yakni Pasar Makanan Laut Huanan di Wuhan. Secara genetik, SARS-CoV-2 lebih mirip dengan SARS-CoV dibandingkan dengan MERS-CoV. Melalui mikroskopi elektron transmisi, partikel SARS-CoV-2 ditemukan di bagian epitelium saluran napas manusia yang sangat tipis. ACE2 manusia ditemukan merupakan reseptor untuk SARS-CoV-2 seperti juga SARS-CoV. Meski demikian, protein S SARS-CoV-2 berikatan dengan ACE2 manusia lebih lemah daripada ikatannya dengan protein S SARS-CoV, yang sesuai dengan fakta bahwa SARS-CoV-2 menyebabkan infeksi yang tidak separah infeksi SARS-CoV pada pasien. SARS-CoV-2 juga dapat membentuk protein pendek baru yang disandikan dengan orf3b dan protein yang disekresikan dengan sandi orf8. Protein orf3b SARS-CoV-2 mungkin berperan dalam patogenisitas virus dan inhibisi ekspresi IFNβ; namun, orf8 tidak memiliki domain fungsional atau motif yang dikenal. Pada 18 Februari 2020, Zhou, et al. melaporkan struktur cryo-EM ACE2 lengkap manusia pada resolusi 2,9 Å dalam kompleks dengan transporter asam amino B0AT1. Mereka menemukan bahwa kompleks, yang memiliki konformasi terbuka dan tertutup, tersusun membentuk dimer dan kompleks ACE2-B0AT1 dapat mengikat dua protein S, yang menjadi bukti untuk pengenalan dan infeksi CoV. B0AT1 dapat dijadikan sasaran terapeutik dalam penapisan obat untuk menekan infeksi SARS-CoV-2. Inang asal dan perantara SARS-CoV dan MERS-CoV diketahui berasal dari kelelawar dan masing-masing ditransmisikan kepada manusia melalui musang dan unta. Melalui perbandingan filogenetik SARS-CoV-2 dengan CoV lain, kelelawar dianggap sebagai inang asli SARS-CoV-2 karena virus baru ini 96% identik dengan dua CoV mirip-SARS dari kelelawar yang disebut bat-SL-CoVZX45 dan bat-SL-CoVZX21. Namun, inang perantara yang membantu virus melintas penghalang spesies untuk menginfeksi manusia masih belum diketahui, dan rute transmisi masih harus dijelaskan. Ji, et al. mengusulkan ular sebagai pembawa virus dari kelelawar kepada manusia yang melibatkan rekombinasi homolog di dalam protein S. Menurut sebuah studi, peneliti di Guangzhou, Tiongkok, mengusulkan bahwa tenggiling, mamalia bermoncong panjang pemakan semut yang sering digunakan dalam obat Tionghoa tradisional, berpotensi sebagai inang perantara SARS-CoV-2 berdasarkan 99% homologi genetik pada CoV yang ditemukan di tenggiling dan SARS-CoV-2. Meski demikian, 1% perbedaan yang tersebar di seluruh genom masih merupakan perbedaan yang besar; karena itu, hasil yang konklusif sebagai bukti konkret masih belum didapatkan (Gbr. 3). Sifat fisikokimia SARS-CoV-2 sebagian besar belum diketahui. In vitro, SARS-CoV dan MERS-CoV dapat bertahan selama 48 jam di lingkungan yang kering dan hingga 5 hari pada 20 °C dan kelembapan 40%-50%. SARS-CoV-2 mungkin memiliki sifat yang serupa. Dilaporkan bahwa SARS-CoV-2 sensitif terhadap sinar ultraviolet dan panas pada 56 °C selama 30 menit; eter, etanol 75%, disinfektan yang mengandung klorin, asam perasetat, kloroform, dan pelarut lemak lainnya, tetapi bukan klorheksidin, efektif menonaktifkan virus. Secara umum, seluruh populasi manusia tidak memiliki imunitas terhadap SARS-CoV-2 dan karena itu rentan terhadap virus baru ini. Saat ini, belum ada studi terperinci yang melaporkan tentang respons imunologis terhadap SARS-CoV-2. Karena itu, kita hanya bisa merujuk ke penelitian CoV lain sebelumnya, khususnya SARS-CoV dan MERS-CoV (Gbr. 4).4). Secara umum, setelah menginvasi inang, virus dikenali oleh sistem imun bawaan melalui reseptor pengenal pola (PRR), yang mencakup C-type lectin-like receptor, Toll-like receptor (TLR), NOD-like receptor (NLR), dan RIG-I-like receptor (RLR). Melalui jalur yang berbeda, virus menginduksi ekspresi faktor inflamatori, maturasi sel dendritik, dan sintesis interferon tipe I (IFN) yang membatasi penyebaran virus dan mempercepat fagositosis antigen virus oleh makrofag. Namun, protein N pada SARS-CoV dapat membantu virus mengelakkan respons imun. Tidak lama kemudian, respons imun adaptif bergabung dalam pertempuran melawan virus ini. Limfosit T, yang mencakup sel CD4+ dan CD8+, memainkan peranan penting dalam pertahanan ini. Sel T CD4+ menstimulasi sel B untuk menghasilkan antibodi yang spesifik terhadap virus, dan sel T CD8+ membunuh sel yang terinfeksi virus secara langsung. Sel T penolong menghasilkan sitokin proinflamatori untuk membantu melindungi sel. Meski demikian, CoV dapat menghambat fungsi sel T dengan menginduksi apoptosis sel T. Imunitas humoral, yang mencakup komplemen, seperti C3a dan C5a, serta antibodi juga penting dalam melawan infeksi virus. Misalnya, antibodi yang diisolasi dari pasien yang sudah sembuh menetralkan MERS-CoV. Di sisi lain, reaksi sistem imun yang berlebihan menghasilkan sejumlah besar radikal bebas secara lokal, yang dapat menyebabkan kerusakan parah pada paru dan organ lain, dan, pada skenario terburuk, gagal organ majemuk dan bahkan kematian. Infeksi SARS-CoV-2, yang ditandai dengan klaster awitan, lebih banyak mengenai lansia dengan penyakit penyerta dan wanita hamil. Umumnya, orang yang terpapar virus dalam jumlah besar atau yang fungsi imunnya terganggu memiliki peluang terinfeksi lebih tinggi daripada orang lain. Estimasi periode inkubasi rata-rata SARS-CoV-2 adalah 1-14 hari, kebanyakan 3-7 hari berdasarkan studi terhadap 425 kasus pertama di Wuhan. Namun, sebuah studi terhadap 1.099 kasus menunjukkan bahwa periode inkubasi rata-rata adalah 3 hari dan berkisar mulai dari 0 hingga 24 hari. Studi yang lebih baru, sebagaimana dijelaskan di atas, menunjukkan bahwa periode inkubasi 4,8 (3,0-7,2) hari berdasarkan demografi 8.866 kasus. Penting sekali otoritas kesehatan menyesuaikan waktu karantina efektif berdasarkan periode inkubasi paling akurat sehingga mencegah orang yang terinfeksi, tetapi tanpa gejala, mentransmisikan virus kepada orang lain. Sebagai praktik umum, orang yang terpapar virus atau terinfeksi biasanya diharuskan untuk dikarantina selama 14 hari. Haruskan waktu karantina diperpanjang hingga 24 hari? Demam sering kali merupakan gejala COVID-19 utama dan awal, dengan atau tanpa disertai gejala lain seperti batuk kering, sesak napas, nyeri otot, limbung, sakit kepala, sakit tenggorokan, rinorea, nyeri dada, diare, nausea, dan muntah. Beberapa pasien mengalami dispnea dan/atau hipoksemia satu minggu setelah awitan penyakit. Pada kasus yang berat, perkembangan penyakit pasien berlangsung cepat menjadi sindrom pernapasan akut, syok septik, asidosis metabolik, dan koagulopati. Pasien yang mengalami demam dan/atau gejala pernapasan dan demam akut, walaupun tanpa kelainan pencitraan paru, harus ditapis terhadap virus untuk diagnosis dini. Studi demografi pada akhir Desember 2019 menunjukkan bahwa persentase gejala sebesar 98% untuk demam, 76% untuk batuk kering, 55% untuk dispnea, dan 3% untuk diare; 8% pasien memerlukan dukungan ventilator. Temuan serupa dilaporkan dalam dua studi baru-baru ini, yakni studi pada klaster keluarga dan klaster yang disebabkan transmisi dari orang asimtomatik. Sebanding dengan itu, studi demografi pada tahun 2012 menunjukkan bahwa pasien MERS-CoV juga mengalami demam (98%), batuk kering (47%), dan dispnea (55%) sebagai gejala utamanya. Namun, 80% pasien membutuhkan dukungan ventilasi, jauh lebih banyak daripada pasien COVID-19 dan konsisten dengan letalitas MERS yang lebih tinggi daripada COVID-19. Diare (26%) dan sakit tenggorokan (21%) juga teramati pada pasien MERS. Pada pasien SARS, demam (99%-100%), batuk kering (29%-75%), dispnea (40%-42%), diare (20-25%), dan sakit tenggorokan (13-25%) ditunjukkan sebagai gejala utama dan dukungan ventilasi diperlukan untuk sekitar 14%-20% pasien. Hingga 14 Februari, mortalitas COVID-19 sebesar 2% dengan kasus terkonfirmasi mencapai 66.576 di seluruh dunia. Sebanding dengan itu, mortalitas SARS pada November 2002 sebesar 10% dari 8.096 kasus terkonfirmasi. Untuk MERS, berdasarkan studi demografi pada Juni 2012, mortalitas sebesar 37% dari 2.494 kasus terkonfirmasi. Studi sebelumnya melaporkan bahwa R0 SARS-CoV-2 mencapai setinggi 6,47 dengan interval kepercayaan (CI) 95% sebesar 5,71-7,23, sementara R0 SARS-CoV hanya berkisar 2 hingga 4. Perbandingan SARS-CoV-2 dengan MERS-CoV dan SARS-CoV dalam hal gejala, mortalitas, dan R0 diberikan di Tabel 1. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 memiliki kemampuan menyebar yang lebih tinggi dibandingkan MERS-CoV dan SARS-CoV, tetapi tidak semematikan MERS-CoV dan SARS-CoV. Karena itu, tantangan untuk mengontrol pandemi SARS-CoV-2 lebih besar daripada pandemi MERS-CoV dan SARS-CoV. Awitan berklaster sering dijumpai dalam satu keluarga atau dari satu perkumpulan atau kendaraan seperti kapal pesiar. Pasien sering kali memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di Wuhan atau daerah terdampak lainnya atau berkontak dengan orang terinfeksi atau pasien dalam dua minggu terakhir sebelum awitan. Namun, dilaporkan bahwa orang dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala lebih dari dua minggu dan pasien yang dipulangkan dari rumah sakit dapat membawa virus lagi. Hal ini menimbulkan kewaspadaan untuk meningkatkan waktu karantina. Di tahap awal, pasien memiliki hitung sel darah putih perifer (khususnya limfosit) normal atau menurun. Misalnya, limfopenia dengan hitung sel darah putih < 4×109/L, yang mencakup hitung limfosit < 1×109/L, dan kadar aspartat aminotransferase serta viremia yang meningkat ditemukan pada 1.099 pasien COVID-19. Kadar enzim hati dan otot serta mioglobin meningkat dalam darah sejumlah pasien, serta protein C-reaktif dan laju endap darah meningkat pada sebagian besar pasien. Pada pasien dengan kasus berat, kadar D-dimer meningkat, yakni produk penguraian fibrin yang ada dalam darah, dan hitung limfosit menurun secara progresif. Kelainan foto toraks ditemukan pada sebagaian besar pasien COVID-19 dan ditandai dengan bayangan berawan bilateral atau opasitas ground-glass di paru. Pasien sering kali mengalami pneumonia atipis, cedera paru akut, dan sindrom gawat napas akut (ARDS). Saat ARDS terjadi, inflamasi takterkendali, akumulasi cairan, dan fibrosis progresif sangat memperparah gangguan pertukaran gas. Disfungsi pneumosit tipe I dan tipe II menurunkan kadar surfaktan dan meningkatkan tekanan permukaan sehingga menurunkan kemampuan paru untuk mengembang dan meningkatkan risiko kolaps paru. Karena itu, temuan paling buruk pada foto toraks sering kali paralel dengan tingkat penyakit paling parah. Pada 18 Februari 2020, analisis patologis COVID-19 pertama menunjukkan deskuamasi pneumosit, pembentukan membran hialin, dan infiltrasi limfosit interstisial, serta sel sinsitial berinti banyak di paru pasien yang meninggal karena penyakit ini, sesuai dengan patologi infeksi virus dan ARDS serta serupa dengan analisis patologis pasien SARS dan MERS. Deteksi RNA SARS-CoV-2 melalui reaksi rantai polimerase transkriptase balik (RT-PCR) digunakan sebagai kriteria utama untuk diagnosis COVID-19. Namun, karena tingginya tingkat negatif palsu, yang dapat mempercepat epidemi, manifestasi klinis mulai digunakan untuk diagnosis (yang tidak lagi hanya bergantung pada RT-PCR) di Tiongkok pada 13 Februari 2020. Situasi serupa juga terjadi pada diagnosis SARS. Karena itu, kombinasi antara riwayat penyakit, manifestasi klinis, uji laboratorium, dan temuan radiologis sangat penting dan suatu keharusan untuk membuat diagnosis yang efektif. Pada 14 Februari 2020, grup Feng Zhang menjelaskan protokol penggunaan teknik SHERLOCK berbasis-CRISPR untuk mendeteksi SARS-CoV-2, yang mendeteksi fragmen RNA SARS-CoV-2 sintetik pada 20 × 10-18 mol/L hingga 200 × 10-18 mol/L (10-100 salinan per mikroliter input) menggunakan tongkat celup dalam waktu kurang dari satu jam tanpa memerlukan instrumentasi yang rumit. Semoga saja, teknik baru ini dapat sangat meningkatkan sensitivitas dan kemudahan jika terverifikasi pada sampel klinis. Karena kurangnya pengalaman dengan CoV baru, dokter terutama menawarkan perawatan pendukung kepada pasien COVID-19, selagi mencoba berbagai terapi yang pernah digunakan atau diusulkan sebelumnya untuk perawatan CoV lain, seperti SARS-CoV, MERS-CoV, dan penyakit viral lainnya (Tabel 2).2). Terapi ini mencakup terapi yang ada saat ini dan terapi potensial dengan obat antivirus, imunosupresan, steroid, plasma dari pasien yang sudah sembuh, obat tradisional Tionghoa, dan dukungan psikologis. Bahkan plasma dari pasien yang sudah sembuh diusulkan untuk digunakan dalam terapi. Perusahaan farmasi berlomba mengembangkan antibodi dan vaksin terhadap virus ini. Di tahap awal, SARS-CoV-2 terutama menyerang paru dan mungkin juga menyerang organ lain yang mengekspresikan ACE2 dalam tingkat yang lebih rendah, seperti sistem gastrointestinal dan ginjal. Namun, disfungsi dan kegagalan pernapasan merupakan ancaman utama bagi pasien dan penyebab utama kematian. Karena itu, dukungan pernapasan sangat penting untuk meringankan gejala dan menyelamatkan nyawa, yang mencakup terapi oksigen umum, oksigen aliran tinggi, ventilasi noninvasif, dan ventilasi mekanis invasif, tergantung tingkat keparahan penyakit. Pasien dengan gejala pernapasan berat harus didukung dengan oksigenasi membran ekstrakorporeum (ECMO), yaitu teknik pintas kardiopulmoner termodifikasi yang digunakan untuk perawatan kegagalan jantung atau pernapasan yang mengancam jiwa. Selain itu, penjagaan keseimbangan elektrolit, pencegahan dan perawatan infeksi sekunder dan syok septik, serta perlindungan fungsi organ vital juga sangat penting bagi pasien SARS-CoV-2. Reaksi sistem imun yang berlebihan diketahui mengakibatkan badai sitokin pada pasien SARS dan MERS. Badai sitokin adalah bentuk respons inflamatori sistemik yang ditandai degnan pelepasan serangkaian sitokin, yang mencakup TNFα, IL-1β, IL-2, IL-6, IFNα, IFNβ, IFNγ, dan MCP-1. Sitokin-sitokin ini menginduksi sel imun untuk melepaskan sejumlah besar radikal bebas yang menjadi penyebab utama ARDS dan gagal organ majemuk. Imunosupresi sangat penting dalam penanganan badai sitokin, terutama pada pasien yang parah. Kortikosteroid dan Tocilizumab, suatu antibodi monoklonal anti-IL6, telah digunakan untuk menangani badai sitokin. Penanganan imunosupresi lain untuk badai sitokin mencakup modulasi respons imun yang diarahkan sel T; pemblokiran IFN-γ, IL-1, dan TNF; inhibisi JAK; blinatumomab; penekan sinyal sitokin 4; dan inhibitor HDAC. Steroid, sebagai imunosupresan, banyak digunakan dalam perawatan SARS untuk mengurangi keparahan kerusakan inflamatori. Namun, steroid pada dosis tinggi tidak berguna untuk cedera paru berat pada pasien SARS dan COVID-19. Sebaliknya, steroid dapat mengakibatkan efek samping berat, khususnya osteonekrosis, yang sangat memengaruhi prognosis. Meski demikian, pemberian kortikosteroid singkat pada dosis rendah hingga sedang dianjurkan untuk diberikan dengan hati-hati pada pasien COVID-19 yang sakit kritis. Pada saat penulisan tinjauan ini, belum ada terapi antivirus efektif yang telah terkonfirmasi. Namun, pemberian remdesivir secara intravena, yakni sebuah analog nukleotida, didapati berkhasiat pada seorang pasien COVID-19 dari Amerika. Remdesivir adalah obat antivirus baru yang dikembangkan oleh Gilead, semula untuk perawatan penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola dan Marlburg. Belakangan, remdesivir juga menunjukkan inhibisi terhadap virus RNA untai tunggal lainnya, yang mencakup virus MERS dan SARS. Berdasarkan hal ini, Gilead menyediakan senyawa ini bagi Tiongkok untuk melakukan serangkaian uji coba pada orang terinfeksi SARS-CoV-2, dan hasilnya sangat dinantikan. Selain itu, baricitinb, interferon-α, lopinavir/ritonavir, dan ribavirin telah disarankan sebagai terapi potensial untuk pasien dengan gejala pernapasan akut. Diare, nausea, muntah, kerusakan hati, dan reaksi samping lainnya dapat terjadi setelah terapi kombinasi dengan lopinavir/ritonavir. Interaksi terapi ini dengan obat lain yang digunakan pasien harus dipantau secara saksama. Plasma dari pasien yang sudah sembuh dan pembuatan antibodi Ada sejarah panjang tentang pengumpulan darah pasien yang sudah sembuh dari penyakit menular untuk mengobati pasien lain yang menderita penyakit yang sama atau untuk mencegah orang sehat terkena penyakit tersebut. Memang, pasien yang sudah sembuh sering kali memiliki kadar antibodi yang relatif tinggi dalam darahnya. Antibodi adalah imunoglobulin (Ig) yang dihasilkan limfosit B untuk melawan patogen serta benda asing lainnya, mengenali molekul unik pada patogen, dan langsung menetralkannya. Berdasarkan hal ini, plasma dikumpulkan dari darah sekelompok pasien yang sudah sembuh dari COVID-19 dan disuntikkan kepada 10 pasien yang sakit parah. Gejala mereka membaik dalam 24 jam, disertai dengan menurunnya inflamasi dan beban virus serta meningkatnya saturasi oksigen dalam darah. Namun, verifikasi dan klarifikasi perlu dilakukan untuk mengajukan metode tersebut untuk penggunaan skala besar sebelum terapi spesifik dikembangkan. Lebih lanjut, selain efek terapeutiknya, beberapa kekurangan yang berkaitan dengan plasma harus dipertimbangkan secara saksama. Sebagai contoh, antibodi dapat menstimulasi respons imun secara berlebihan dan menyebabkan sindrom pelepasan sitokin, yang merupakan toksisitas yang berpotensi mengancam jiwa. Konsentrasi antibodi dalam darah biasanya rendah dan plasma dibutuhkan dalam jumlah besar untuk merawat pasien yang sakit kritis. Pengembangan dan produksi antibodi spesifik dengan cukup cepat untuk melawan epidemi global sulit dilakukan. Karena itu, lebih penting dan praktis mengisolasi sel B dari pasien yang sudah sembuh dan mengidentifikasi kode genetik yang menyandi antibodi efektif atau melakukan penapisan antibodi yang efektif terhadap protein yang penting bagi virus. Dengan cara ini, kita dapat dengan mudah meningkatkan skala produksi antibodi. TCM telah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit di Tiongkok selama ribuan tahun. Namun, efeknya sebagian besar tergantung pada kombinasi berbagai komponen dalam formula. Formula ini berbeda-beda tergantung pada diagnosis penyakit berdasarkan teori TCM. Sebagian besar komponen efektif masih belum diketahui atau belum jelas karena sulit untuk mengekstrak atau memverifikasi komponen tersebut atau kombinasi optimalnya. Saat ini, karena terapi yang efektif dan spesifik untuk COVID-19 belum ada, TCM menjadi salah satu terapi alternatif utama untuk pasien dengan gejala ringan hingga sedang atau untuk orang yang pulih dari penyakit berat. Sebagai contoh, kapsul Shu Feng Jie Du dan kapsul Lian Hua Qing Wen didapati manjur untuk terapi COVID-19. Tingkat kesembuhan teratas dalam terapi pasien COVID-19 teramati di beberapa provinsi Tiongkok yang menggunakan TCM pada 87% pasiennya, yang mencakup Gansu (63,7%), Ningxia (50%), dan Hunan (50%), sementara provinsi Hubei, yang menggunakan TCM hanya pada sekitar 30% pasien COVID-19, memiliki tingkat kesembuhan terendah (13%). Namun, perbandingan ini masih sangat kasar sebab banyak faktor dampak lainnya, seperti jumlah dan keparahan pasien, harus disertakan dalam evaluasi. Pada 18 Februari 2020, Boli Zhang dan kawan-kawan memplubikasikan sebuah studi yang membandingkan terapi obat barat (WM) saja dengan terapi gabungan WM dan TCM. Mereka menemukan bahwa waktu yang diperlukan untuk pemulihan suhu tubuh, hilangnya gejala, dan rawat inap sangat jauh lebih singkat pada kelompok WM+TCM dibandingkan dengan kelompok WM saja. Hal yang lebih mengesankan, tingkat pemburukan gejala (dari ringan ke berat) jauh lebih rendah untuk kelompok WM+TCM dibandingkan dengan kelompok WM saja (7,4% dibanding 46,2%) dan mortalitas lebih rendah pada kelompok WM+TCM dibandingkan dengan kelompok WM saja (8,8% dibanding 39%). Meski demikian, efikasi dan keamanan TCM masih menunggu uji coba yang terkontrol lebih baik pada skala lebih besar dan di lebih banyak pusat penelitian. Hal yang menarik lainnya adalah mencirikan mekanisme kerja dan mengklarifikasi komponen efektif dalam terapi TCM atau kombinasinya, jika memungkinkan. Sebagian besar pasien yang diduga atau dikonfirmasi COVID-19 merasa sangat ketakutan akan penyakit yang sangat menular dan bahkan mematikan ini, dan orang yang dikarantina juga merasakan kebosanan, kesepian, dan kemarahan. Lebih lanjut, gejala infeksi seperti demam, hipoksia, dan batuk serta efek samping terapi seperti insomnia yang disebabkan kortikosteroid dapat menyebabkan kecemasan dan tekanan mental yang lebih besar. Di fase awal wabah SARS, serangkaian morbiditas psikiatri, yang mencakup depresi, kecemasan, serangan panik, gejolak psikomotor, gejala psikotik, delirium, dan bahkan suisidalitas pernah dilaporkan. Pelacakan riwayat kontak dan karantina wajib, sebagai bagian dari respons kesehatan masyarakat terhadap wabah COVID-19, dapat membuat orang menjadi lebih cemas dan merasa bersalah terkait efek penularan, karantina, dan stigma tentang kerabat dan teman. Karena itu, perawatan kesehatan mental harus disediakan bagi pasien COVID-19, orang yang diduga, dan orang yang berkontak dengan mereka, serta masyarakat umum yang membutuhkan. Dukungan psikologis harus mencakup pembentukan tim kesehatan mental multidisipliner, komunikasi yang jelas dengan pembaruan rutin dan akurat tentang wabah SARS-CoV-2, dan rencana terapi serta penggunaan perangkat dan aplikasi elektronik profesional untuk menghindari kontak dekat satu sama lain. Vaksin yang efektif sangat penting untuk memutus rantai transmisi dari reservoir hewan dan manusia terinfeksi kepada inang yang rentan dan sering kali bersifat melengkapi terapi antivirus dalam mengontrol epidemi yang disebabkan oleh kemunculan virus. Upaya telah dilakukan untuk mengembangkan vaksin berbasis protein S, yang secara jangka panjang dan efektif membuat antibodi penetralan dan/atau imunitas yang melindungi terhadap SARS-CoV. Untuk SARS, vaksin hidup-dilemahkan telah dievaluasi pada hewan percobaan. Meski demikian, efikasi in vivo kandidat vaksin ini pada lansia dan model tantangan letal serta perlindungannya terhadap infeksi virus zoonotik masih harus ditentukan sebelum studi klinis dimulai. Hal ini mungkin karena SARS mereda 17 tahun lalu dan tidak ada kasus baru dilaporkan sejak saat itu. Sebaliknya, kasus sporadis dan klaster MERS terus terjadi di Timur Tengah dan menyebar ke wilayah lain karena terus adanya sumber zoonotik di daerah endemi. Strategi vaksinasi telah dikembangkan untuk MERS dengan menggunakan virus yang dinonaktifkan, plasmid DNA, vektor virus, nanopartikel, partikel mirip virus, dan subunit protein rekombinan dan sebagian telah dievaluasi pada hewan percobaan. Pengembangan vaksin terhadap SARS-CoV-2 yang aman dan efektif untuk orang non-imun merupakan tugas yang sangat mendesak dan penting untuk mengontrol epidemi yang sedang berlangsung. Namun, kesulitan ini tidak mudah diatasi karena waktu yang panjang untuk mengembangkan vaksin (rata-rata 18 bulan) dan variasi CoV yang dinamis. Sebagai penyakit baru, COVID-19 baru mulai memperlihatkan perjalanan klinis penuhnya pada ribuan pasien. Pada sebagian besar kasus, pasien dapat berangsur sembuh tanpa sequela. Namun, serupa dengan SARS dan MERS, COVID-19 juga dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada pasien dengan kasus berat. Karena itu, pembentukan model prognosis penyakit sangat penting bagi badan perawatan kesehatan guna memprioritaskan layanannya, khususnya di area dengan sumber daya terbatas. Berdasarkan studi klinis yang dilaporkan sejauh ini, faktor berikut dapat memengaruhi atau dikaitkan dengan prognosis pasien COVID-19 (Tabel 3): Usia: Usia merupakan faktor paling penting untuk prognosis SARS, yang juga berlaku untuk COVID-19. COVID-19 terutama terjadi pada usia 30-65 tahun dengan 47,7% pasien berusia di atas 50 tahun dalam studi berisi 8.866 kasus sebagaimana dijelaskan di atas. Pasien yang membutuhkan perawatan intensif cenderung memiliki komorbiditas penyerta dan komplikasi serta secara signifikan berusia lebih tua dibandingkan pasien yang tidak membutuhkan perawatan intensif (median usia 66 tahun dibanding 51 tahun), yang mengisyaratkan usia sebagai faktor prognostik untuk hasil akhir pasien COVID-19. Jenis kelamin: SARS-CoV-2 lebih banyak menginfeksi pria dibanding wanita (0,31/100.000 dibanding 0,27/100.000), sebagaimana dijelaskan di atas. Komorbiditas dan komplikasi: Pasien COVID-19 yang memerlukan perawatan intensif memiliki kemungkinan lebih besar mengalami cedera jantung akut dan aritmia. Kejadian jantung juga meruapakan alasan utama kematian pada pasien SARS. SARS-CoV-2 dilaporkan juga dapat berikatan dengan kolangiosit dengan ACE2-positif, yang dapat mengakibatkan disfungsi hati pada pasien COVID-19. Perlu diperhatikan bahwa usia dan penyakit yang mendasari sangat berkorelasi dan dapat saling memengaruhi. Temuan laboratorium abnormal: Kadar protein C-reaktif (CRP) dalam darah mencerminkan keparahan inflamasi atau cedera jaringan dan diusulkan sebagai faktor prognostik potensial untuk penyakit, respons terhadap terapi, dan pemulihan akhir. Korelasi antara kadar CRP dan keparahan serta prognosis COVID-19 juga telah diusulkan. Selain itu, peningkatan laktat dehidrogenase (LDH), aspartat aminotransferase (AST), alanin aminotransferase (ALT), dan kreatin kinase (CK) juga dapat membantu memprediksi hasil akhir. Enzim-enzim ini diekspresikan sangat tinggi di berbagai organ, khususnya di jantung dan hati, dan dilepaskan selama kerusakan jaringan. Karena itu, enzim-enzim ini merupakan penanda tradisional untuk disfungsi jantung dan hati. Gejala klinis utama: Foto toraks dan perkembangan gejala klinis temporal harus dipertimbangkan bersama dengan hal-hal lainnya untuk memprediksi hasil akhir dan komplikasi COVID-19. Penggunaan steroid: Sebagaimana dijelaskan di atas, steroid merupakan imunosupresan yang banyak digunakan sebagai terapi penunjang untuk penyakit infeksi guna mengurangi keparahan kerusakan inflamatori. Karena kortikosteroid dosis tinggi banyak digunakan pada pasien SARS parah, banyak orang yang selamat dari penyakit ini akhirnya menderita osteonekrosis avaskular dengan disabilitas seumur hidup dan kualitas hidup yang buruk. Karena itu, jika diperlukan, steroid harus digunakan pada dosis rendah dan kurun waktu singkat pada pasien COVID-19. Tekanan mental: Seperti dijelaskan di atas, selama wabah COVID-19, banyak pasien menderita stres luar biasa karena mereka harus menjalani karantina jangka panjang dan ketidakpastian yang ekstrem serta menyaksikan kematian anggota keluarga dekat dan sesama pasien. Konseling psikologis dan dukungan jangka panjang harus diberikan untuk menolong pasien ini pulih dari stres dan kembali ke kehidupan normal. Berdasarkan studi demografi sejauh ini, COVID-19 tampaknya memiliki gambaran epidemiologis yang berbeda dengan SARS. Selain bereplikasi di saluran pernapasan bawah, SARS-CoV-2 dapat bereplikasi secara efisien di saluran pernapasan atas dan menyebabkan gejala ringan atau tanpa gejala di fase awal infeksi, serupa dengan CoV lain yang menyebabkan pilek. Karena itu, pada fase awal atau masa inkubasi, pasien yang terinfeksi dapat menghasilkan virus dalam jumlah besar selama aktivitas sehari-hari, yang menimbulkan kesulitan besar untuk mengontrol epidemi. Namun, transmisi SARS-CoV dipercaya terjadi saat pasien sakit parah dan kebanyakan tidak terjadi pada fase awal. Dengan demikian, wabah COVID-19 saat ini jauh lebih parah dan sulit dikontrol daripada wabah SARS. Saat ini, upaya besar sedang dilakukan di Tiongkok, yang mencakup karantina wilayah Wuhan dan kota-kota sekitar serta karantina berkelanjutan hampir seluruh populasi dengan harapan memutus transmisi SARS-CoV-2. Walaupun tindakan ini sangat merusak ekonomi dan sektor lain dalam negara, jumlah pasien baru menurun, yang mengindikasikan perlambatan epidemi. Estimasi paling optimis menyatakan wabah akan berakhir pada bulan Maret dan fase penurunan berlangsung selama 3-4 bulan. Namun, beberapa pakar lain tidak seoptimis itu. Paul Hunter et al. mengestimasi bahwa COVID-19, yang tampaknya jauh lebih menular daripada SARS, tidak akan berakhir pada tahun 2020. Ira Longini, et al. membuat model untuk memprediksi hasil akhir epidemi dan menyatakan bahwa SARS-CoV-2 dapat menginfeksi dua pertiga populasi global. Grup peneliti Kanada melaporkan bahwa SARS-CoV-2 terdeteksi di usap mid-konka dan tenggorokan pasien yang sudah sembuh dan pulang dari rumah sakit 2 minggu sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa virus yang teridentifikasi kembali dapat menjadi episode berulang, mirip dengan influenza. Meski demikian, tanda-tanda menjanjikan terjadi di Tiongkok, jika dilihat berdasarkan menurunnya jumlah kasus baru, yang menunjukkan bahwa strategi saat ini mungkin berhasil. Ebola semula diprediksi akan menyebabkan satu juta kasus dengan setengah juga kematian. Namun, dengan karantina dan isolasi ketat, penyakit ini akhirnya dapat dikendalikan. Mungkin juga, mirip dengan SARS-CoV, SARS-CoV-2 melemah kemampuannya menginfeksi dan akhirnya menghilang atau menjadi virus tidak terlalu patogen yang dapat berdampingan dengan manusia. Perbandingan epidemi COVID-19 dengan epidemi SARS dan MERS diberikan di bawah ini (Gbr. 5). SARS-CoV-2 sangat mudah ditransmisikan melalui batuk atau bersin, dan mungkin juga melalui kontak langsung dengan bahan yang terkontaminasi oleh virus. Virus ini ditemukan juga di feses sehingga memunculkan kemungkinan transmisi baru, yakni transmisi feses-ke-mulut. Studi baru-baru ini pada 138 kasus melaporkan bahwa 41% kasus mungkin disebabkan oleh infeksi nosokomial, yang mencakup 17 pasien dengan penyakit lain sebelumnya dan 40 penyedia perawatan kesehatan. Karena itu, tindakan pencegahan yang saksama harus dilakukan untuk melindungi manusia, khususnya penyedia perawatan kesehatan, pekerja sosial, anggota keluarga, rekan kerja, dan bahkan orang yang kebetulan berkontak dengan pasien atau orang yang terinfeksi. Lini pertahanan pertama yang dapat digunakan untuk menurunkan risiko infeksi adalah melalui penggunaan masker wajah, baik masker bedah maupun masker respirator N95 (nomor seri 1860-an) membantu mengendalikan penyebaran virus. Masker bedah menjaga agar percikan ludah orang yang berpotensi terinfeksi tidak terikut udara atau menempel pada permukaan bahan, tempat percikan ludah tersebut dapat diteruskan kepada orang lain. Namun, hanya masker N95 (nomor seri 1860-an) yang dapat melindungi terhadap inhalasi virion dengan ukuran sekecil 10 sampai 80 nm, dengan hanya 5% virion dapat memenetrasi sepenuhnya; SARS-CoV-2 mirip dengan SARS-CoV dalam hal ukuran, keduanya berukuran sekitar 85 nm. Karena partikel dapat memenetrasi bahkan lima masker bedah yang ditumpuk menjadi satu, penyedia perawatan kesehatan yang berkontak langsung dengan pasien harus mengenakan N95 (nomor seri 1860-an) dan bukan masker bedah. Selain masker, penyedia perawatan kesehatan harus mengenakan jubah isolasi yang pas untuk lebih mengurangi kontak dengan virus. Virus juga dapat menginfeksi seseorang melalui mata. Pada 22 Januari 2020, seorang dokter terinfeksi SARS-CoV-2 walaupun ia mengenakan masker N95; virus mungkin masuk ke dalam tubuhnya melalui peradangan mata. Karena itu, penyedia perawatan kesehatan juga harus mengenakan perisai wajah tembus pandang atau kacamata selagi bekerja dengan pasien. Untuk masyarakat umum di daerah yang terdampak atau berpotensi terdampak, sangat disarankan bagi setiap orang untuk mencuci tangannya dengan sabun disinfektan lebih sering daripada biasa, mencoba untuk tetap di rumah guna karantina mandiri, dan menghindari kontak dengan orang yang berpotensi terinfeksi. Jarak tiga kaki diyakini sesuai untuk menjaga jarak dari pasien. Tindakan-tindakan ini merupakan metode yang efektif untuk mengurangi risiko infeksi serta mencegah penyebaran virus. Meskipun SARS-CoV-2 merupakan virus baru bagi dunia manusia, homologinya yang tinggi dengan SARS-CoV, sebagaimana dilaporkan pada 7 Januari 2020, mestinya menjadi peringatan besar bagi Tiongkok yang memiliki kenangan kuat terhadap wabah SARS tahun 2003. Meski demikian, pada tanggal 19 Januari 2020, direktur Pusat Pengendalian Penyakit Wuhan menenangkan penduduk dengan mengatakan bahwa virus baru ini memiliki sifat penyebaran rendah dan kapasitas reproduksi terbatas dari manusia ke manusia dan pencegahan serta pembendungan penyakit ini bukanlah suatu masalah. Pesan ini sangat menenangkan ketakutan masyarakat, terutama saat seluruh negeri sedang mempersiapkan Festival Musim Semi, sehingga waktu yang kritis ini terlewat untuk membendung penyakit yang masih berskala kecil di Wuhan. Badan pengendalian penyakit di Tiongkok hendaknya memetik pelajaran dari hal ini dan membuat perbaikan besar di masa depan. Misalnya, badan ini seharusnya (1) lebih berhati-hati saat membuat pengumuman publik sebab setiap kata diperhatikan oleh penduduk dan dapat mengubah sikap dan keputusan mereka; (2) lebih sensitif dan reaktif terhadap informasi tidak lazim dari klinik daripada menunggu laporan resmi dari dokter atau petugas yang berwenang; (3) lebih membatasi guna membendung potensi epidemi pada tahap awal, dan bukan mencoba menenangkan publik; dan (4) lebih sering mengeluarkan latihan bertarget dan efektif guna meningkatkan kesadaran publik tentang epidemi penyakit dan menguji serta meningkatkan sistem respons masyarakat secara periodik. Wabah COVID-19 disebabkan oleh virus baru SARS-CoV-2 yang mulai merebak pada akhir Desember 2019. Dalam waktu kurang dari 2 bulan, wabah telah menyebar ke seluruh Tiongkok dan lebih dari 50 negara di dunia pada saat penulisan tinjauan ini. Karena virus ini sangat mirip dengan SARS-CoV dan gejala COVID-19 dan SARS juga serupa, wabah COVID-19 memberi kesan seperti wabah SARS terulang kembali. Namun, ada beberapa perbedaan jelas antara COVID-19 dan SARS, yang sangat penting untuk membendung epidemi dan menangani pasien. COVID-19 lebih banyak mengenai lansia daripada orang muda dan lebih banyak mengenai pria daripada wanita, serta tingkat kematian juga lebih tinggi pada lansia dibandingkan orang muda. Mortalitas SARS lebih tinggi daripada mortalitas COVID-19 (10,91% dibanding 1,44%). Pasien COVID-19 mentransmisikan virus walaupun saat mereka tanpa gejala, sementara pasien SARS biasanya mentransmisikan virus saat mereka sakit parah. Hal ini membuat kesulitan yang lebih besar dalam membendung penyebaran COVID-19 dibandingkan SARS. Hal ini menjelaskan sebagian alasan SARS-CoV-2 menyebar lebih cepat dan lebih luas daripada SARS-CoV. Asai RNA rutin untuk memeriksa SARS-CoV-2 dapat memberi hasil negatif pada beberapa pasien COVID-19. Di sisi lain, pasien yang sudah sembuh dapat memberi hasil positif lagi terhadap pemeriksaan virus. Temuan ini sangat meningkatkan risiko penyebaran virus. Dengan begitu cepatnya kemajuan penelitian COVID-19, beberapa masalah penting masih harus diselesaikan, yaitu: Dari mana SARS-CoV-2 berasal? Walaupun ditemukan homologi genetik sebesar 96% antara SARS-CoV-2 dan dua CoV mirip-SARS kelelawar, kita masih belum dapat menyimpulkan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari kelelawar. Hewan apa yang menjadi spesies perantara untuk mentranmisikan virus dari inang asal, katakanlah kelelawar, kepada manusia? Tanpa mengetahui jawaban nomor 1 dan 2, kita tidak dapat memutus transmisi dengan efektif dan wabah dapat merebak kembali setiap saat. Walaupun pemodelan molekuler dan asai biokimia menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 berikatan dengan ACE2, bagaimana tepatnya virus masuk ke sel saluran napas dan mengakibatkan perubahan patologis selanjutnya? Apakah virus ini berikatan juga dengan sel yang mengekspresikan ACE2 di organ lain? Tanpa jawaban yang jelas untuk pertanyaan-pertanyaan ini, kita tidak dapat mencapai diagnosis yang cepat dan akurat serta perawatan yang efektif. Berapa lama epidemi ini akan berlangsung? Bagaimana virus berkembang secara genetis selama transmisi antara manusia? Apakah pandemi ini akan menjadi pandemi seluruh dunia, berakhir seperti SARS, atau terulang kembali secara periodik seperti flu? Jawaban untuk pertanyaan di atas dan banyak pernyataan lainnya sangat penting, tetapi mungkin memerlukan waktu untuk menemukannya. Meski demikian, berapa pun harganya, kita tidak memiliki pilihan lain selain menghentikan epidemi ini sesegera mungkin agar dapat kembali ke kehidupan normal. Asal zoonotik virus korona manusia Selama ribuan tahun, mutasi dan adaptasi telah menggerakkan ko-evolusi virus korona (CoV) dan inangnya, termasuk manusia. Sebelum tahun 2003, dua CoV manusia (HCoV) diketahui menyebabkan penyakit ringan, seperti selesma. Wabah sindrom pernapasan akut berat (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) membalikkan keadaan dan mengungkapkan betapa infeksi HCoV dapat sangat merusak dan mengancam jiwa. Munculnya SARS-CoV-2 di Tiongkok pusat pada akhir tahun 2019 telah membuat CoV menjadi sorotan kembali dan mengejutkan kita dengan transmisi yang tinggi, tetapi dengan patogenisitas yang lebih rendah dibandingkan saudaranya, SARS-CoV. Infeksi HCoV merupakan zoonosis. Karena itu, pemahaman asal zoonotik HCoV akan bermanfaat bagi kita. Sebagian besar HCoV berasal dari kelelawar. Pada hewan ini, virus tidak bersifat patogenik. Inang reservoir perantara beberapa HCoV juga telah diketahui. Identifikasi inang hewan memiliki implikasi langsung dalam pencegahan penyakit manusia. Penyelidikan interaksi CoV-inang pada hewan juga dapat memberikan wawasan penting tentang patogenesis CoV pada manusia. Dalam tinjauan ini, kami menyajikan gambaran umum pengetahuan saat ini tentang tujuh HCoV, dengan fokus pada sejarah penemuannya serta asal zoonotiknya dan transmisi antarspesiesnya. Hal yang penting, kami membandingkan dan mengontraskan HCoV tersebut dari sudut pandang evolusi dan rekombinasi genom. Epidemi penyakit CoV 2019 (COVID-19) saat ini dibahas dalam konteks ini. Selain itu, persyaratan peralihan inang yang berhasil dan implikasi evolusi virus pada keparahan penyakit juga disoroti. Virus korona (CoV) berasal dari keluarga Coronaviridae, yang terdiri dari sekelompok virus RNA berselubung, berindra positif, dan beruntai tunggal. Virus ini memiliki genom terbesar dengan ukuran 26 hingga 32 kilobasa di antara virus RNA yang disebut "CoV", karena morfologinya yang mirip mahkota di bawah mikroskop elektron. Berdasarkan strukturnya, CoV memiliki genom yang tidak tersegmentasi yang memiliki penataan yang serupa. Sekitar dua pertiga genom terdiri dari dua rangka baca terbuka besar (ORF1a dan ORF1b) yang saling tumpang tindih. Keduanya ditranslasi menjadi poliprotein replikasi pp1a dan pp1ab. Poliprotein mengalami pemrosesan lebih lanjut untuk membentuk 16 protein nonstruktural, yang disebut nsp1~16. Sisa genom terdiri dari rangka baca terbuka (ORF) untuk protein struktural, yang mencakup tonjolan atau spike (S), selubung atau envelope (E), membran (M), dan nukleoprotein (N). Sejumlah protein pelengkap yang spesifik untuk garis keturunan tertentu juga disandikan oleh berbagai garis keturunan CoV. Berdasarkan perbedaan pada sekuens protein, CoV diklasifikasi menjadi empat genus (alfa-CoV, beta-CoV, gamma-CoV, dan delta-CoV); di antara keempat genus tersebut, genus beta-CoV memiliki paling banyak HCoV dan dibagi lagi menjadi empat garis keturunan (A, B, C, dan D). Bukti filogenetik menunjukkan bahwa kelelawar dan hewan pengerat merupakan sumber gen sebagian besar alfa-CoV dan beta-CoV, sementara unggas merupakan reservoir utama gamma-CoV dan delta-CoV. Selama ribuan tahun, CoV terus menerus melintasi penghalang spesies dan beberapa CoV telah menjadi patogen penting pada manusia. Sampai saat ini, ada tujuh CoV manusia (HCoV) yang diketahui. Di antara ketujuh virus tersebut, HCoV-229E dan HCoV-NL63 adalah alfa-CoV. Lima beta-CoV lainnya meliputi HCoV-OC43, HCoV-HKU1, virus korona sindrom pernapasan akut berat (SARS-CoV), virus korona sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS-CoV), dan SARS-CoV-2. HCoV-229E, HCoV-OC43, HCoV-HKU1, dan HCoV-NL63 biasanya menyebabkan gejala ringan, seperti pilek dan/atau diare. Sebaliknya, SARS-CoV, MERS-CoV, dan SARS-CoV-2 bersifat sangat patogenik, menyebabkan infeksi saluran napas bawah berat pada relatif lebih banyak pasien dan memiliki peluang lebih tinggi untuk berkembang menjadi sindrom gangguan pernapas akut (ARDS) dan manifestasi di luar organ paru. Strain HCoV-229E pertama, B814, diisolasi dari ingus pasien yang selesma pada pertengahan 1960-an. Sejak itu, semakin banyak pengetahuan dikumpulkan melalui studi mendalam terhadap HCoV-229E dan HCoV-OC43, yang keduanya menyebabkan gejala yang sembuh sendiri. Bahkan, konsep ini telah diterima secara luas bahwa infeksi HCoV umumnya tidak berbahaya, sampai wabah SARS terjadi. Wabah SARS yang terjadi pada tahun 2003 adalah salah satu wabah paling merusak dalam sejarah saat ini, yang menginfeksi lebih dari 8.000 orang dengan angka kematian kasar sekitar 10%. Sepuluh tahun kemudian, wabah sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) mengakibatkan epidemi berkelanjutan di Semenanjung Arab dengan penyebaran sporadik ke berbagai belahan dunia lainnya. HCoV baru 2019 (2019-nCoV), yang selanjutnya disebut SARS-CoV-2, adalah agen kausatif epidemi penyakit virus korona 2019 (COVID-19), yang telah merenggut nyawa lebih dari 3.120 orang dan menginfeksi lebih dari 91.000 orang sampai dengan 3 Maret 2020. Alarm sudah berbunyi dan dunia harus mempersiapkan diri untuk pandemi SARS-CoV-2 yang akan datang. Tujuh HCoV tersebut semua memiliki asal zoonotik dari kelelawar, tikus, atau hewan peliharaan. Banyak bukti mendukung asal evolusi semua HCoV dari kelelawar. Di kelelawar, CoV berdaptasi dengan baik dan bersifat nonpatogenik, tetapi menunjukkan keragaman genetik yang besar. Epidemi COVID-19 telah menimbulkan tantangan medis, ilmiah, sosial, dan moral yang luar biasa besar bagi Tiongkok dan seluruh dunia. Pelacakan asal zoonotik HCoV memberi kerangka kerja untuk memahami riwayat alami, daya penggerak, dan faktor pembatasan terjadinya perpindahan antar spesies. Studi ini juga dapat memandu atau memfasilitasi pencarian inang hewan reservoir, perantara, dan pengamplifikasi SARS-CoV-2, yang memiliki implikasi penting dalam pencegahan penyebaran di masa mendatang. Dalam tinjauan ini, kami memberikan gambaran umum asal zoonotik, transmisi antarspesies, dan patogenesis HCoV. Kami secara khusus menyoroti dan membahas topik umum bahwa virus induk HCoV biasanya bersifat nonpatogenik di reservoir alaminya, tetapi menjadi patogenik setelah transmisi antarspesies ke inang baru. Kami juga mengulas tren evolusi HCoV bahwa peningkatan kemampuan transmisi sering kali disertai dengan penurunan patogenisitas. Hasil akhir epidemi SARS-CoV-2 juga dibahas dalam konteks ini. CoV hewan telah dikenal sejak akhir 1930-an. Sebelum isolasi HCoV-229E strain B814 pertama dari ingus pasien yang terkena selesma, berbagai CoV telah diisolasi dari berbagai hewan yang terinfeksi, yang mencakup kalkun, tikus, sapi, babi, kucing, dan anjing. Dalam beberapa dasawarsa terakhir, tujuh HCoV telah diidentifikasi. Rangkuman singkat sejarah penemuan HCoV dalam urutan kronologis (Tabel 1) merupakan petunjuk yang informatif. Strain HCoV-229E pertama diisolasi dari saluran napas pasien yang mengalami infeksi saluran napas atas pada tahun 1966, yang selanjutnya diadaptasi untuk ditumbuhkan di lini sel paru WI-38. Pasien yang terinfeksi HCoV-229E menunjukkan gejala selesma, yang mencakup sakit kepala, bersin, lesu, dan sakit tenggorokan, disertai demam dan batuk yang terlihat pada 10~20% kasus. Selanjutnya pada tahun 1967, HCoV-OC43 diisolasi dari kultur organ dan jalur seri berurutan di otak mencit yang masih menyusu. Gambaran klinis infeksi HCoV-OC43 tampaknya mirip dengan infeksi yang disebabkan oleh HCoV-229E, yang secara simtomatis tidak dapat dibedakan dengan infeksi patogen saluran pernapasan lain seperti virus influenza A dan rhinovirus. HCoV-229E dan HCoV-OC43 tersebar ke seluruh dunia dan cenderung paling banyak ditransmisikan selama musim dingin di daerah beriklim sedang. Biasanya, waktu inkubasi dua virus ini kurang dari satu minggu dan diikuti dengan masa sakit selama sekitar 2 minggu. Berdasarkan sebuah studi sukarelawan manusia, orang sehat yang terinfeksi HCoV-229E mengalami selesma ringan. Hanya sedikit pasien dengan sistim kekebalan tubuh yang melemah yang menunjukkan infeksi saluran napas bawah berat. SARS, yang dikenal juga sebagai "pneumonia atipis", merupakan pandemi akibat HCoV pertama yang didokumentasikan dengan baik dalam sejarah manusia dan agen etiologisnya adalah SARS-CoV, yang merupakan HCoV ketiga yang ditemukan. Kasus pertama SARS dapat ditelusuri kembali ke akhir tahun 2002 di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Epidemi SARS mengakibatkan 8.096 kasus dilaporkan dengan 774 kematian, yang tersebar di banyak negara dan benua. Terlepas dari penular super, setiap kasus diperkirakan dapat menyebabkan sekitar dua kasus sekunder, dengan masa inkubasi 4 hingga 7 hari dan puncak beban virus terlihat pada hari ke-10 penyakit. Pasien yang terinfeksi SARS-CoV awalnya mengalami mialgia, sakit kepala, demam, lesu, dan menggigil, yang diikuti dengan dispnea, batuk, dan gangguan napas sebagai gejala tingkat lanjut. Limfopenia, uji fungsi hati yang tidak normal, dan peningkatan kreatin kinase merupakan kelainan laboratorium yang lazim pada SARS. Kerusakan difusi alveolar, proliferasi sel epitel, dan peningkatan makrofag juga teramati pada pasien SARS. Selanjutnya, sekitar 20-30% pasien memerlukan perawatan intensif dan ventilasi mekanis. Selain saluran pernapasan bawah, beberapa organ yang mencakup saluran gastrointestinal, hati, dan ginjal juga dapat terinfeksi dalam kasus berat, biasanya disertai dengan badai sitokin, yang bisa mematikan, khususnya pada pasien yang kekebalannya lemah. Virus pertama kali diisolasi dari biopsi paru terbuka kerabat pasien nol yang melakukan perjalanan ke Hong Kong dari Guangzhou. Sejak itu, upaya sangat besar didedikasikan untuk penelitian HCoV. HCoV-NL63 diisolasi dari anak berusia 7 bulan dari Belanda pada akhir tahun 2004. Virus ini awalnya sangat lazim pada anak kecil, lansia, dan pasien yang kekebalannya lemah yang menderita penyakit pernapasan. Gambaran koriza, konjungtivitis, demam, dan bronkiolitis lazim dijumpai pada penyakit yang disebabkan oleh HCoV-NL63. Studi independen lain menjelaskan isolasi virus yang sama dari spesimen nasal anak laki-laki berusia 8 bulan yang menderita pneumonia di Belanda. Walaupun diidentifikasi di Belanda, virus ini sebenarnya tersebar di seluruh dunia. Diperkirakan bahwa HCoV-NL63 mewakili sekitar 4,7% penyakit pernapasan umum dan puncak kejadiannya terjadi pada awal musim panas, musim semi, dan musim dingin. HCoV-NL63 dikaitkan dengan laringitis obstruktif, yang disebut juga krup. Di tahun yang sama, HCoV-HKU1 diisolasi dari pria berusia 71 tahun yang pernah dirawat inap karena pneumonia dan bronkiolitis di Hong Kong. Selain pneumonia dan bronkiolitis komunitas, HCoV-HKU1 dilaporkan berkaitan dengan eksaserbasi asma akut. Serupa dengan HCoV-NL63, HCoV-229E, dan HCoV-OC43, HCoV-HKU1 ditemukan di seluruh dunia, menyebabkan penyakit pernapasan ringan. Empat HCoV komunitas ini seluruhnya telah beradaptasi dengan manusia dan umumnya memiliki kemungkinan kecil bermutasi menjadi penyakit sangat patogen. Meski demikian, kasus luar biasa memang terjadi karena alasan yang tidak diketahui, seperti dalam kasus subtipe HCoV-NL63 lebih virulen yang baru-baru ini dilaporkan menyebabkan infeksi saluran napas bawah berat di Tiongkok. Umumnya, ketika mendapat kemampuan untuk berpindah secara efisien dan terus mempertahankan diri di dalam manusia, virulensi dan patogenitas HCoV ini juga berkurang. MERS-CoV pertama kali diisolasi pada tahun 2012 dari paru pasien berusia 60 tahun yang mengalami pneumonia akut dan gagal ginjal di Arab Saudi. Walaupun kebanyakan kasus terkonfirmasi laboratorium berasal dari Timur Tengah, kasus impor dengan sesekali penyebaran sekunder kepada kontak erat telah dilaporkan di berbagai negara Eropa dan Tunisia. Wabah sekunder lainnya terjadi di Korea Selatan pada tahun 2015 dengan 186 kasus terkonfirmasi. Manifestasi klinis MERS mirip dengan manifestasi klinis SARS, yang dicirikan dengan pneumonia akut progresif. Tidak seperti SARS, banyak pasien MERS juga mengalami gagal ginjal akut, yang sejauh ini hanya terjadi pada MERS di antara penyakit yang disebabkan HCoV. Lebih dari 30% pasien memperlihatkan gejala gastrointestinal, seperti diare dan muntah. Hingga 14 Februari 2020, lebih dari 2500 kasus terkonfirmasi laboratorium dilaporkan dengan kematian kasus yang tinggi, yaitu sebesar 34,4%, membuat MERS-CoV menjadi salah satu virus paling menakutkan yang dikenal oleh manusia. Pada pertengahan hingga akhir Desember 2019, klaster pasien pneumonia yang secara retrospektif dikaitkan dengan infeksi SARS-CoV-2 ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa wabah infeksi saluran napas bawah yang sedang berlangsung dan disebabkan oleh SARS-CoV-2 sebagai Darurat Kesehatan Global serta menamai penyakit tersebut COVID-19. Hingga 3 Maret 2020, 90.053 kasus telah dikonfirmasi di seluruh dunia, dengan angka kematian kasus kasar sebesar 3,4%. Perlu dicatat, kematian kasus di Hubei, Tiongkok, sebesar 4,2%, sementara kematian kasus di luar Hubei sebesar 1,2%. SARS-CoV-2 menyebabkan infeksi pernapasan berat seperti SARS-CoV dan MERS-CoV dengan gambaran demam, batuk, dan sesak napas. Diare juga dijumpai pada sejumlah pasien. Pneumonia adalah salah satu gejala paling berat dan dapat berkembang cepat menjadi sindrom gangguan napas akut. Walaupun SARS-CoV dan SARS-CoV-2 sangat mirip karena homologi urutan nukleotida yang tinggi, sebesar 82%, keduanya mengelompok ke dalam cabang pohon filogenetik yang berbeda. Patogonisitas SARS-CoV-2 jelas lebih rendah, tetapi lebih menular dibandingkan dengan SARS-CoV dan MERS-CoV. Subjek terinfeksi SARS-CoV-2 tanpa gejala telah dilaporkan dan mungkin berperan dalam penyebaran SARS-CoV-2 yang cepat di seluruh dunia. Membandingkan dan membedakan SARS-CoV-2 dengan enam HCoV lain menunjukkan persamaan dan perbedaan yang sangat menarik. Pertama, masa inkubasi dan durasi perjalanan penyakit HCoV sangat mirip. Dalam hal ini, SARS-CoV-2 mengikuti tren umum enam HCoV lainnya. Kedua, keparahan COVID-19 terletak di antara SARS-CoV dan empat HCoV komunitas yang lain (yakni HCoV-229E, HCoV-OC43, HCoV-HKU1, dan HCoV-NL63). Di satu sisi, infeksi SARS-CoV-2 memperlihatkan gambaran yang lebih umum terlihat pada infeksi HCoV Komunitas, yang mencakup gambaran gejala nonspesifik ringan atau bahkan tanpa gejala. Di sisi lain, sebagian kecil kasus COVID-19 yang parah dapat terlihat seperti infeksi SARS-CoV walaupun dengan rasio yang sedikit lebih rendah. Ketiga, transmisi SARS-CoV-2 juga memperlihatkan karakteristik pola yang menarik, memiliki kemiripan dengan HCoV komunitas maupun SARS-CoV. Di satu sisi, kemampuan transmisi SARS-CoV-2 setidaknya sama tinggi dengan HCoV komunitas. Di sisi lain, menurun tidaknya kemampuan transmisi SARS-CoV-2 setelah beberapa jalur pada manusia masih perlu diverifikasi, sebagaimana kasus SARS-CoV dan MERS-CoV. Terakhir, sama seperti HCoV lainnya, SARS-CoV-2 dapat dideteksi dari sampel feses. "Apakah transmisi SARS-CoV-2 fekal-oral berperan penting, seperti dalam kasus transmisi SARS-CoV, setidaknya pada situasi tertentu, hal itu masih harus diklarifikasi oleh studi selanjutnya." Hal yang juga sangat penting untuk diketahui adalah apakah SARS-CoV-2 bersifat musiman seperti pada kasus HCoV komunitas. Bagaimana pun, gambaran SARS-CoV-2, yang mencakup kemampuan transmisi, patogenisitas, dan penyebaran berkelanjutan dalam beberapa jalur pada manusia, akan sangat berpengaruh pada nasib akhir wabah COVID-19 yang sedang berlangsung. Empat HCoV komunitas yang menyebabkan gejala ringan semua telah beradaptasi dengan manusia. Dilihat dari sudut pandang lain, dapat dikatakan manusia telah beradaptasi dengan empat HCoV ini. Dengan kata lain, baik HCoV maupun manusia mungkin adalah spesies penyintas pandemi HCoV zaman purba. HCoV yang menyebabkan penyakit berat pada manusia dan manusia yang mengalami sakit HCoV berat telah musnah. Agar hal ini terjadi, HCoV harus bereplikasi dalam manusia dalam jumlah yang memadai untuk memungkinkan akumulasi mutasi adaptif guna melawan faktor pembatasan inang. Dengan demikian, semakin lama wabah SARS-CoV-2 bertahan dan semakin banyak orang terinfeksi, semakin besar kemungkinan virus ini beradaptasi penuh dengan manusia. Jika virus beradaptasi dengan baik, transmisinya pada manusia akan sulit dihentikan dengan karantina atau langkah pengendalian infeksi lainnya. Selama bertahun-tahun, empat CoV komunitas beredar di populasi manusia dan memicu selesma pada orang yang imunokompetensi. Virus ini tidak memerlukan reservoir hewan. Sebaliknya, SARS-CoV dan MERS-CoV yang sangat patogenik belum beradaptasi dengan manusia dan transmisinya dalam manusia tidak bisa dipertahankan. Keduanya harus mempertahankan diri dan melakukan pembiakan dalam reservoir zoonotik serta mencari peluang untuk menyebar ke target manusia yang rentan, kemungkinan melalui satu atau beberapa inang perantara dan pengamplifikasi. SARS-CoV-2 memiliki gambaran yang mirip dengan SARS-CoV/MERS-CoV dan empat HCoV komunitas. SARS-CoV-2 sangat mudah ditransmisikan seperti HCoV komunitas, setidaknya sekarang ini. Namun, SARS-CoV-2 lebih patogenik dibanding HCoV komunitas dan tidak sepatogenik SARS-CoV atau MERS-CoV. Masih harus diamati apakah SARS-CoV-2 akan beradaptasi penuh dengan manusia dan bersirkulasi dalam manusia tanpa inang hewan reservoir atau perantara. Sebelum membahas asal hewan HCoV, kita perlu membahas definisi dan karakteristik inang evolusioner, alami, reservoir, perantara, dan pengamplifikasi HCoV. Hewan bertindak sebagai inang evolusioner HCoV jika memiliki leluhur yang berkerabat dekat dan berbagi homologi yang tinggi di tingkat sekuens nukleotida. Virus leluhur biasanya beradaptasi dengan baik dan bersifat nonpatogenik dalam inang ini. Begitu pula, inang reservoir membawa HCoV secara berkelanjutan dan dalam kurun waktu lama. Dalam dua kasus tersebut, inang terinfeksi secara alami dan merupakan inang alami untuk HCoV atau virus induk. Sebaliknya, jika HCoV baru masuk ke inang perantara tepat sebelum atau sekitar waktu virus masuk ke manusia, virus belum beradaptasi dengan inang baru dan sering kali bersifat patogenik. Inang perantara ini dapat berfungsi sebagai sumber zoonotik infeksi manusia dan berperan sebagai inang pengamplifikasi dengan memungkinkan virus untuk bereplikasi secara sementara, lalu mentransmisikannya kepada manusia untuk mengamplifikasi skala infeksi manusia. HCoV dapat mengalami infeksi buntu jika tidak dapat mempertahankan transmisinya dalam inang perantara. Sebaliknya, HCoV juga dapat beradaptasi dengan inang perantara dan bahkan menyebabkan endemisitas jangka panjang. Dalam hal ini, inang perantara menjadi inang reservoir alami. Data epidemiologis mengungkapkan secara retrospektif bahwa kasus nol SARS memiliki riwayat kontak dengan hewan buruan. Penelitian seroprevalensi selanjutnya mengindikasikan bahwa penjual hewan tersebut memiliki prevalensi IgG anti-SARS-CoV yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum. Musang bulan (Paguma larvata) dan anjing rakun di pasar hewan hidup adalah yang pertama kali diidentifikasi membawa virus mirip-SARS-CoV yang hampir identik dengan SARS-CoV. Secara tidak langsung, hal ini didukung oleh fakta bahwa tidak ada lagi kasus SARS dilaporkan sejak semua musang di pasar itu dibunuh. Kendati demikian, dilaporkan bahwa musang bulan dari alam liar atau peternakan yang tidak terpapar ke pasar hewan hidup tersebut sebagian besar memberi hasil uji negatif untuk SARS-CoV. Hal ini mengisyaratkan bahwa musang bulan mungkin hanya bertindak sebagai inang pengamplifikasi perantara, tetapi bukan resorvoir alami SARS-CoV. Perlu dicatat, karena 80% dari berbagai hewan di pasar Guangzhou memiliki antibodi anti-SARS-CoV, tidak dapat dikesampingkan bahwa mungkin banyak spesies mamalia kecil juga berfungsi sebagai inang pengamplifikasi perantara SARS-CoV. Semua inang ini tampaknya merupakan inang akhir SARS-CoV. Pencarian inang hewan alami untuk SARS-CoV selanjutnya mengungkapkan CoV kelelawar yang berkerabat dekat, yang disebut CoV kelelawar Rhinolopus kerabat-SARS HKU3 (SARSr-Rh-BatCoV HKU3), yang terdapat di kelelawar tapal kuda Tiongkok. Kelelawar ini memberi hasil uji positif untuk antibodi anti-SARS-CoV dan sekuens genom SARSr-Rh-BatCoV HKU3. CoV ini dan CoV kelelawar lainnya berbagi homologi sekuens nukleotida 88-92% dengan SARS-CoV. Studi ini menjadi fondasi untuk konsep baru bahwa kelelawar adalah inang untuk patogen manusia yang baru muncul. Beberapa CoV mirip-SARS (SL-CoV) juga diidentifikasi dari kelelawar, tetapi hanya satu, yang diberi nama WIV1, dapat diisolasi sebagai virus hidup. Enzim pengubah angiotensin 2 (ACE2) diketahui merupakan reseptor SARS-CoV. WIV1 yang berasal dari sampel feses kelelawar diperlihatkan menggunakan ACE2 kelelawar, musang, dan manusia sebagai reseptor untuk masuk ke dalam sel. Hal yang menarik, serum pasien SARS konvalesen dapat menetralkan WIV1. Sejauh ini, WIV1 mewakili leluhur yang berkerabat paling dekat dengan SARS-CoV di kelelawar, dengan homologi sekuens nukleotida sebesar 95%. Terlepas dari tingginya homologi antara dua virus ini, umumnya dipercaya bahwa WIV1 bukan virus induk langsung SARS-CoV dan kelelawar bukan inang reservoir langsung SARS-CoV. Analisis filogenetik mengelompokkan MERS-CoV ke dalam kelompok yang sama dengan CoV-HKU4 kelelawar dan CoV-HKU5 kelelawar. CoV-HKU4 kelelawar dan MERS-CoV menggunakan reseptor inang yang sama, yakni dipeptidil peptidase 4 (DPP4), sebagai jalan masuk virus. Sekuens RNA polimerase tergantung-RNA MERS-CoV secara filogenetis lebih dekat dengan padanannya di beta-CoV kelelawar yang diidentifikasi dari Eropa dan Afrika. Hingga saat ini, belum ada MERS-CoV hidup ditemukan dalam kelelawar liar. MERS-CoV dan kerabat terdekatnya CoV-HKU25 kelelawar hanya berbagi 87% homologi sekuens nukleotida. Karena itu, kelelawar mungkin bukan inang reservoir langsung MERS-CoV. Di sisi lain, studi di Timur Tengah menunjukkan bahwa unta Arab memberi hasil seropositif untuk antibodi spesifik yang menetralkan MERS-CoV, sama seperti unta asal Timur Tengah di beberapa negara Afrika. MERS-CoV hidup yang identik dengan virus yang ditemukan di manusia diisolasi dari usap nasal unta Arab. Hal ini mengindikasikan lebih lanjut bahwa unta adalah inang reservoir yang sebenarnya untuk MERS-CoV. Hal yang juga penting diperhatikan bahwa peluruhan virus masif dengan gejala yang biasanya ringan teramati pada unta percobaan yang diinfeksi dengan MERS-CoV. Perlu dicatat, unta yang terinfeksi meluruhkan virus bukan hanya melalui rute pernapasan, tetapi juga melalui rute fekal-oral, yang juga merupakan rute utama peluruhan virus dari kelelawar. Meski demikian, pertanyaan masih belum terjawab sebab banyak kasus MERS terkonfirmasi tidak memiliki riwayat kontak dengan unta sebelum awitan gejala, kemungkinan akibat transmisi manusia-ke-manusia atau rute transmisi tidak diketahui yang melibatkan spesies hewan tidak dikenal yang membawa MERS-CoV. SARS-CoV-2 berbagi 96,2% homologi nukleotida dengan CoV kelelawar RaTG13 yang diisolasi dari kelelawar Rhinolophus affinis. Seperti pada kasus SARS-CoV dan MERS-CoV, perbedaan sekuens antara SARS-CoV-2 dan RaTG13 terlalu besar untuk menetapkan hubungan induk. Dengan kata lain, kelelawar mungkin bukan inang reservoir langsung SARS-CoV-2, kecuali jika CoV kelelawar yang hampir identik ditemukan di kemudian hari. Kemungkinan, inang hewan perantara SARS-CoV-2 ada di antara spesies satwa liar yang dijual dan dibunuh di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan. Banyak kasus awal COVID-19 terkait dengan pasar ini, yang mengindikasikan kemungkinan terjadinya transmisi hewan-ke-manusia. Beberapa studi terbaru berdasarkan sekuensi metagenomik menunjukkan bahwa sekelompok mamalia kecil yang terancam punah, dikenal sebagai trenggiling (Manis javanica), juga mungkin membawa beta-CoV leluhur yang berkerabat dengan SARS-CoV-2. Genom CoV trenggiling baru ini berbagi 85-92% homologi sekuens nukleotida dengan SARS-CoV-2. Namun, CoV tersebut berkerabat sama dekat dengan RaTG13 dengan kesamaan sebesar 90% pada tingkat sekuens nukleotida. Keduanya dikelompokkan ke dalam dua subgaris-keturunan virus mirip SARS-CoV-2 dalam pohon filogenetik, salah satu berbagi domain pengikatan reseptor (RBD) yang lebih mirip dengan SARS-CoV-2, dengan kesamaan sekuens asam amino sebesar 97,4%. Hal yang mencolok, RBD SARS-CoV-2 dan RaTG13 lebih jauh berbeda, walaupun tingkat homologi sekuens seluruh genom lebih tinggi. Studi sebelumnya pada trenggiling yang sakit juga melaporkan deteksi contig virus dari sampel paru, yang ternyata juga berkerabat dengan SARS-CoV-2. Studi ini mengadopsi metode penyusunan yang berbeda dan kurasi manual untuk menghasilkan sekuens genom parsial yang terdiri dari sekitar 86,3% genom virus lengkap. Kita tidak dapat mengesampingkan kemungkinan trenggiling sebagai salah satu inang hewan perantara SARS-CoV-2. Namun, saat ini belum ada bukti yang mendukung SARS-CoV-2 berasal langsung dari trenggiling karena perbedaan sekuens antara SARS-CoV-2 dan beta-CoV kerabat-SARS-CoV-2 tenggiling. Selain itu, jarak antara SARS-CoV-2 dan RaTG13 malah lebih dekat dibanding jarak antara SARS-CoV-2 dan beta-CoV kerabat-SARS-CoV-2. Jalur evolusioner SARS-CoV-2 di kelelawar, trenggiling, dan mamalia lain masih harus ditetapkan. Walaupun homologi sekuens tertinggi pada RBD ditemukan antara SARS-CoV-2 dan beta-CoV kerabat-SARS-CoV-2 trenggiling, SARS-CoV-2 dan RaTG13 berbagi homologi tertinggi di tingkat sekuens seluruh genom. Terlalu berspekulasi jika dikatakan bahwa tingginya tingkat kemiripan antara RBD beta-CoV kerabat-SARS-CoV-2 trenggiling dan SARS-CoV-2 digerakkan oleh evolusi konvergen yang selektivitasnya dimediasi. Hipotesis tandingan mendukung rekombinasi antara beta-CoV kerabat-SARS-CoV-2 trenggiling dan RaTG13 di spesies hewan liar ketiga. Sebagai faktor penggerak evolusi, rekombinasi banyak terjadi di antara beta-CoV. Para peneliti masih belum dapat memutuskan mengenai asal zoonotik SARS-CoV-2. Selain HCoV yang sangat patogenik, asal zoonotik HCoV-229E, HCoV-OC43, HCoV-NL63, dan HCoV-HKU1 juga telah diteliti. Bukti filogenetik mengindikasikan bahwa HCoV-NL63 dan HCoV-229E mungkin berasal dari CoV kelelawar, sementara virus induk HCoV-OC43 dan HCoV-HKU1 telah ditemukan di hewan pengerat. Dilaporkan bahwa CoV kelelawar bernama ARCoV.2 (Appalachian Ridge CoV) yang dideteksi di kelelawar tiga warna Amerika Utara menunjukkan kekerabatan dekat dengan HCoV-NL63. Di sisi lain, HCoV-229E secara genetis berkerabat dengan CoV kelelawar lainnya, dengan nama Hipposideros/GhanaKwam/19/2008, yang terdeteksi di Ghana, dengan Camelidae diduga juga merupakan inang perantaranya. Agar lebih jelas, pengetahuan saat ini tentang asal hewan HCoV yang diketahui diringkas di Gambar 1 dan Tabel 2. Analisis filogenetik telah memberikan bukti kejadian transmisi antarspesies HCoV dalam sejarah. Pada sekitar tahun 1890, saat HCoV-OC43 melintas spesies dari hewan ternak untuk menginfeksi manusia, tercatat adanya pandemi infeksi pernapasan. Sejarah transmisi HCoV-229E antarspesies tidak terlalu jelas. Alfa-CoV kelelawar yang berkerabat dengan HCoV-229E telah ditemukan. Di antara keduanya, ada alfa-CoV alpaka. Beberapa bukti mendukung transmisi virus langsung dari kelelawar kepada manusia. Pertama, manusia, bukan alpaka, yang mungkin berkontak dengan kelelawar dalam relung ekologi bersama. Sebaliknya, manusia memiliki kontak erat dengan alpaka. Kedua, alfa-CoV kelelawar yang berkerabat dengan HCoV-229E ada bermacam-macam dan nonpatogenik di kelelawar, sementara alfa-CoV alpaka menyebabkan wabah penyakit pernapasan pada hewan yang terinfeksi. Terakhir, alfa-CoV alpaka tidak ditemukan di hewan feral. Karena itu, kemungkinan alpaka mendapatkan alfa-CoV kerabat-HCoV-229E dari manusia tidak dapat dikesampingkan. Faktanya, kelelawar merupakan sumber langsung untuk virus patogenik manusia, yang mencakup virus rabies, virus Ebola, virus Nipah, dan virus Hendra. Karena itu, tidak terlalu mengherankan bahwa kelelawar mungkin langsung mentransmisikan HCoV-229E ke manusia. Kemungkinan lainnya, sementara alfa-CoV kelelawar berfungsi sebagai lungkang gen HCoV-229E, alpaka dan unta Arab mungkin berfungsi sebagai inang perantara yang mentransmisikan virus kepada manusia, persis seperti kasus MERS-CoV. MERS-CoV merupakan contoh yang sangat baik untuk transmisi antarspesies dari kelelawar ke unta Arab dan dari unta Arab ke manusia. Asal evolusioner MERS-CoV dari kelelawar diketahui pada identifikasi awal virus dan juga diperkuat dengan temuan setelahnya. Jelas bahwa kelelawar merupakan lungkang spesies virus yang kaya untuk pertukaran fragmen genetik antarspesies dan transmisi antarspesies. Umur yang panjang, koloni yang tersusun rapat, interaksi sosial yang erat, dan kemampuan terbang yang kuat, semua adalah kondisi yang mendukung bagi kelelawar untuk menjadi 'penyebar virus' yang ideal. Di sisi lain, MERS-CoV sudah masuk ke unta Arab selama puluhan tahun. Virus ini telah beradaptasi dengan unta yang telah berubah dari inang perantara menjadi inang reservoir yang stabil dan alami. MERS-CoV menyebabkan penyakit yang sangat ringan dan mempertahankan laju mutasi yang relatif rendah dalam hewan ini. Transmisinya yang sporadik ke manusia terjadi secara kebetulan dan manusia tetap menjadi inang akhir bagi MERS-CoV karena transmisinya tidak bisa berkelanjutan. Tidak seperti peran unta dalam transmisi MERS-CoV, peran trenggiling, jika ada, dalam transmisi SARS-CoV-2 berbeda. Terutama, beta-CoV trenggiling bersifat sangat patogenik dalam trenggiling. Tenggiling mungkin merupakan inang akhir untuk beta-CoV kerabat SARS-CoV-2, mirip dengan musang dalam kasus SARS-CoV. Di studi-studi mendatang, beberapa kemungkinan transmisi SARS-CoV-2 antarspesies dari hewan ke manusia harus diperhitungkan atau dikesampingkan. Pertama, kelelawar bisa saja merupakan inang reservoir untuk virus kerabat SARS-CoV-2 yang hampir identik dengan SARS-CoV-2. Manusia dapat berbagi relung ekologis dengan kelelawar melalui penyembelihan atau pertambangan batu bara. Kedua, trenggiling bisa saja merupakan salah satu inang pengamplifikasi perantara untuk virus kerabat SARS-CoV-2 yang baru masuk. Manusia mendapat virus melalui penyembelihan dan konsumsi daging buruan. Mungkin saja, banyak mamalia, yang mencakup hewan peliharaan, rentan terhadap SARS-CoV-2. Survei antibodi terhadap hewan peliharaan dan hewan liar perlu dilakukan. Ketiga, seperti disebutkan di atas, rekombinasi dan adaptasi SARS-CoV-2 mungkin terjadi dalam spesies ketiga yang berkontak baik dengan kelelawar maupun trenggiling. Pencarian asal hewan SARS-CoV-2 masih berlangsung. Terlepas dari berbagai jenis inang hewan, tiga faktor utama dari sisi virus juga penting untuk memudahkan CoV melintasi penghalang spesies. Pertama, laju mutasinya yang relatif tinggi dalam replikasi RNA. Dibandingkan dengan virus RNA beruntai tunggal lain, perkiraan laju mutasi CoV dapat dianggap “sedang” hingga “tinggi” dengan laju substitusi rata-rata sebesar ~10-4 per tahun per tapak, tergantung fase adaptasi CoV terhadap inang baru. CoV memiliki eksoribonuklease pengoreksi, penghapusan yang mengakibatkan mutabilitas yang sangat tinggi, atenuasi, atau bahkan inviabilitas. Hal yang menarik, analog nukleotida Remdesivir diketahui menekan replikasi CoV melalui inhibisi eksoribunuklease ini dan RNA polimerase tergantung-RNA. Remdesivir adalah salah satu agen anti-SARS-CoV-2 paling menjanjikan yang akan diuji dalam percobaan klinis. Meski demikian, laju mutasi CoV sekitar sejuta kali lebih tinggi daripada laju mutasi inangnya. Selain itu, laju mutasi sering kali tinggi saat CoV belum beradaptasi dengan inang. Dibandingkan SARS-CoV yang memiliki laju mutasi tinggi, laju mutasi SARS-CoV-2 sebenarnya lebih rendah, mengisyaratkan tingkat adaptasi yang lebih tinggi dengan manusia. Kemungkinan, SARS-CoV-2 telah beradaptasi dengan inang lain yang berkerabat dekat dengan manusia. Selain SARS-CoV-2, hal ini juga berlaku pada MERS-CoV yang telah beradaptasi dengan unta Arab. Secara teoritis, kecil kemungkinan bahwa hanyutan genetik akan cepat membuat vaksin dan agen antivirus terhadap SARS-CoV-2 menjadi tidak efektif. Kedua, genom RNA yang besar dalam CoV memberi kefleksibelan ekstra dalam modifikasi genom, untuk mutasi dan rekombinasi, sehingga meningkatkan probabilitas ko-evolusi antarspesies, yang menguntungkan untuk munculnya CoV baru saat kondisi sesuai. Hal ini didukung oleh banyaknya rangka baca terbuka unik dan fungsi protein yang disandi ke arah ujung 3′ genom. Ketiga, CoV kerap berganti templat secara acak selama replikasi RNA melalui mekanisme “pilih-salin” unik. Dalam inang yang berfungsi sebagai wadah pencampuran, peralihan untai kerap terjadi selama transkripsi RNA CoV. RNA lengkap dan subgenomik yang sangat homolog dapat mengalami rekombinasi untuk membentuk CoV baru. Bukti filogenetik rekombinasi alami telah ditemukan pada HCoV-HKU1 dan HCoV-OC43, begitu pula pada CoV hewan seperti SL-CoV kelelawar dan CoV-HKU9 kelelawar. Interaksi virus-inang dalam kaitannya dengan transmisi Selain tiga faktor virus yang disebutkan di atas, interaksi virus dengan reseptor inang adalah faktor utama lain yang memengaruhi transmisi antarspesies. Di sini, rekombinasi SARS-CoV dianggap sebagai contoh khas, yang juga menunjukkan bukti seleksi positif selama kejadian transmisi antarspesies. Berdasarkan analisis komparatif antara isolat SARS-CoV manusia dan musang, SARS-CoV diduga mengalami adaptasi cepat dalam berbagai inang, khususnya dengan mutasi pada RBD protein S. Umumnya, RBD protein S CoV berinteraksi dengan reseptor sel dan secara intensif menjadi target respons antibodi inang. Pada SARS-CoV, RBD adalah asam amino ke-318 hingga ke-510 pada fragmen S1, yang berikatan dengan ACE2 manusia serta koreseptornya sebagai jalan masuk virus. RBD SARS-CoV memiliki kemampuan untuk mengenali reseptor ACE2 berbagai hewan, yang mencakup kelelawar, musang, tikus, dan anjing rakun, sehingga memungkinkan transmisi virus antarspesies. Sebenarnya, hanya 6 residu asam amino yang diamati berbeda antara isolat virus manusia dan musang di RBD dan 4 di antaranya berlokasi di motif pengikatan reseptor untuk interaksi dengan reseptor ACE2. SARS-CoV musang memiliki mutasi K479N dan S487T di RBD-nya, yang mungkin meningkatkan afinitas interaksi protein tonjolan dengan reseptor ACE2 manusia. Dengan kata lain, dua substitusi asam amino ini mungkin sangat penting untuk adaptasi virus ke manusia. Perlu dicatat bahwa SARS-CoV-2 memiliki reseptor sel yang sama dengan SARS-CoV. Perbedaan sebesar 30% antara SARS-CoV-2 dan SARS-CoV di unit S1 protein S mengimplikasikan afinitas pengikatan protein S dengan ACE2 manusia kemungkinan sudah berubah. Bahkan, sebuah studi cryo-EM menunjukkan afinitas pengikatan ACE2 manusia dan protein S SARS-CoV-2 10 hingga 20 kali lebih tinggi dibandingkan afinitas antara ACE2 manusia dan protein S SARS-CoV. Hal yang juga penting untuk diketahui adalah apakah ada koreseptor lain yang mungkin dibutuhkan untuk transmisi SARS-CoV-2.. Hal yang menarik, HCoV-NL63 juga berikatan dengan ACE2, tetapi dengan bagian yang berbeda pada S. Ada banyak reseptor HCoV lain, seperti aminopeptidase N untuk HCoV-229E dan asam sialat 9-O-terasetilasi untuk HCoV-OC43. Reseptor-reseptor ini mungkin juga berperan dalam keberhasilan adaptasi CoV ini dalam manusia setelah transmisi antarspesies dari inang hewannya. Selain reseptor sel, hasil akhir transmisi HCoV antarspesies juga diatur oleh faktor ketergantungan dan pembatasan inang lainnya. Perbedaan protein inang ini antara manusia dan inang reservoir alami, seperti kelelawar, unta Arab, dan hewan pengerat dapat menjadi penghalang untuk transmisi antarspesies. HCoV harus mengambil alih faktor ketergantungan inang dan membobol faktor pembatasan inang agar berhasil dalam transmisi antarspesies. Dalam hal ini, penentu molekuler di bidang interaksi virus-inang yang penting ini masih harus diidentifikasi dan dicirikan. Penapisan seluruh genom tak bias untuk melihat faktor ketergantungan dan pembatasan inang SARS-CoV-2 menggunakan teknologi CRISPR tercanggih mungkin dapat bermanfaat. Munculnya HCoV baru: kembali ke awal wabah Keragaman CoV kelelawar memberi peluang besar untuk munculnya HCoV baru. Dalam hal ini, CoV kelelawar berfungsi sebagai lungkang gen HCoV. Selain itu, mutasi cepat dan rekombinasi genetik juga menggerakkan evolusi HCoV dan berfungsi sebagai dua langkah penting dalam proses ini. Sebagai contoh, perolehan atau kehilangan gen penyandi protein baru berpotensi memodifikasi fenotipe virus secara drastis. Di antara protein aksesori SARS-CoV, ORF8 diduga berperan penting dalam adaptasi ke manusia sebab virus kelelawar kerabat-SARS-CoV yang diisolasi ditemukan menyandi beragam protein ORF8. SARS-CoV dengan ciri khas penghapusan 29 nukleotida ditemukan pada strain yang diisolasi di awal epidemi manusia. Penghapusan ini memisahkan ORF8 menjadi ORF8a dan ORF8b dan diduga merupakan mutasi adaptif yang mendukung peralihan inang. Selain itu, SARS-CoV mungkin memiliki sejarah rekombinasi dengan garis keturunan alfa-CoV dan gamma-CoV, dengan sejumlah besar daerah rekombinan lebih kecil teridentifikasi di RNA polimerase yang tergantung pada RNA. Lokasi rekombinasi juga teridentifikasi di nsp9, sebagian besar nsp10, dan sebagian nsp14. Begitu pula, kejadian rekombinasi antara berbagai lini keturunan ditunjukkan berlangsung pada epidemi MERS-CoV, yang terjadi dalam unta Arab di Arab Saudi. Selain SARS-CoV dan MERS-CoV, kejadian rekombinasi juga telah diamati pada HCoV lainnya tempat HCoV mengalami rekombinasi dengan CoV hewan lain dalam gen nonstrukturalnya. Juga harus diwaspadai bahwa seleksi buatan dapat berperan dalam perubahan yang tidak disengaja pada genom viral, kemungkinan besar diakibatkan oleh pembebasan virus dari tekanan seleksi yang dialami, seperti oleh sistem imun inang. Contoh efek ini adalah hilangnya ORF4 lengkap pada strain prototipe HCoV-229E akibat penghapusan dua nukleotida. Sementara ORF4 utuh dapat diamati pada virus kelelawar dan unta yang berkerabat dengan HCoV-229E, alfa-CoV alpaka menunjukkan sisipan nukleotida tunggal yang mengakibatkan pergeseran rangka. Terakhir, evolusi HCoV baru juga digerakkan oleh tekanan seleksi di inang reservoirnya. Gejala ringan atau tanpa gejala terdeteksi saat kelelawar terinfeksi CoV, yang menunjukkan saling adaptasi antara CoV dan kelelawar. Tampaknya kelelawar beradaptasi dengan baik dengan CoV secara anatomi dan fisiologi. Sebagai contoh, cacat pada pengaktifan respons proinflamasi pada kelelawar akan menurunkan patologi yang dipicu CoV secara efisien. Selain itu, aktivitas sel pembunuh alami pada kelelawar ditekan karena kenaikan regulasi reseptor sel pembunuh alami penghambat NKG2/CD94 dan tingkat ekspresi molekul kompleks histokompatibilitas utama kelas I yang rendah. Selain itu, kadar spesies oksigen reaktif (ROS) yang tinggi dari aktivitas metabolik kelelawar yang tinggi dapat menekan replikasi CoV dan memengaruhi pengoreksian oleh eksoribonuklease sehingga memberi tekanan seleksi untuk pembuatan strain virus yang sangat patogenik saat masuk ke dalam inang baru. Strain CoV yang lebih patogenik mungkin juga berkembang melalui rekombinasi, yang mengakibatkan perolehan protein atau fitur protein baru untuk adaptasi inang. Karena itu, bukan suatu kebetulan bahwa tiga HCoV baru telah muncul dalam dua dasawarsa terakhir. CoV bersifat nonpatogenik atau menyebabkan gejala ringan dalam inang reservoirnya, seperti kelelawar dan unta. CoV bereplikasi dengan kuat tanpa memicu respons imun inang yang kuat. Di sinilah terletak rahasia adanya pembawa tanpa gejala dan penyebab kasus berat pada infeksi manusia. Gejala berat terutama karena pengaktifan respons imun yang berlebihan serta badai sitokin, dengan kerusakan paru yang semakin berat jika respons imun semakin kuat. Sebaliknya, pada pembawa tanpa gejala, respons imun sudah terlepas dari replikasi CoV. Strategi yang sama untuk memutuskan keterkaitan respons imun mungkin bermanfaat dalam terapi anti-SARS-CoV-2. Respons interferon terutama kuat pada kelelawar. Karena itu, pemberian interferon tipe I, setidaknya di fase awal infeksi SARS-CoV-2 pada manusia, seharusnya bermanfaat. Selain itu, pengaktifan inflamasom NLRP3 di kelelawar bersifat defektif. Dengan alasan ini, inhibisi inflamasom NLRP3 dengan MCC950 mungkin bermanfaat dalam penanganan COVID-19. Kemunculan SARS-CoV-2 mengikuti alur umum kemunculan SARS-CoV dan MERS-CoV. Sementara beta-CoV kelelawar yang berbagi 95% homologi nukleotida dengan SARS-CoV telah ditemukan, ada pula CoV kelelawar yang berbagi 96% homologi nukleotida dengan SARS-CoV-2. Walaupun musang dan hewan lain di pasar tersebut ditemukan membawa virus yang identik dengan SARS-CoV, inang perantara langsung untuk SARS-CoV-2 belum ditemukan. Beta-CoV trenggiling yang sangat homolog dengan SARS-CoV-2 telah ditemukan, yang menunjukkan bahwa trenggiling mungkin berperan sebagai salah satu inang perantara atau beta-CoV trenggiling mungkin memberi kontribusi fragmen gen pada versi akhir SARS-CoV-2. Walaupun masih dipertanyakan, belum ada bukti bahwa SARS-CoV-2 dibuat oleh manusia baik secara sengaja maupun tidak sengaja. CoV kembali menjadi pusat perhatian karena wabah SARS-CoV-2 baru-baru ini. Studi CoV di kelelawar dan hewan lain telah sangat mengubah persepsi kita tentang pentingnya asal zoonotik dan reservoir hewan untuk HCoV pada transmisi manusia. Sangat banyak bukti menunjukkan bahwa SARS-CoV, MERS-CoV, dan SARS-CoV-2 berasal dari kelelawar dan ditransmisikan kepada manusia melalui inang perantara. Mengingat bahwa infeksi SARS-CoV berasal dari kontak antara manusia dan musang di pasar basah, mungkin penutupan pasar basah dan pembunuhan semua musang di dalamnya yang mengakhiri epidemi SARS secara efektif. Dengan alasan yang sama, trenggiling seharusnya dipindahkan dari pasar basah untuk mencegah transmisi zoonotik, mengingat adanya penemuan beberapa garis keturunan beta-CoV trenggiling yang berkerabat dekat dengan SARS-CoV-2. Meski demikian, kebenaran dan mekanisme SARS-CoV-2 ditransmisikan kepada manusia melalui trenggiling dan mamalia lainnya masih harus diklarifikasi dalam penelitian di masa mendatang. Di sisi lain, MERS-CoV sudah lama berada dalam unta Arab. Unta ini berfungsi sebagai alat transportasi penting serta sebagai sumber utama untuk daging, susu, kulit, dan produk wol untuk masyarakat setempat. Unta Arab tersebar luas di seluruh Timur Tengah dan Afrika. Karena itu, kita tidak mungkin membunuh semua unta untuk mengendalikan MERS, seperti yang dilakukan di pasar hewan liar di Tiongkok untuk mencegah penyebaran SARS-CoV dan SARS-CoV-2. Untuk menghentikan wabah MERS, pendekatan komprehensif harus dilakukan untuk mengembangkan vaksin untuk unta yang efektif terhadap MERS-CoV dan dikombinasikan dengan langkah pengendalian infeksi yang lain. Sebelum kita berhasil menghilangkan virus ini, genotipe baru dapat muncul dan menyebabkan wabah. Berbagai CoV zoonotik beredar di alam liar. Khususnya, CoV kelelawar yang berpotensi zoonotik sangat beragam. Ada banyak kemungkinan bagi CoV zoonotik ini untuk berevolusi dan mengalami rekombinasi, yang mengakibatkan munculnya CoV baru yang lebih mudah ditransmisikan dan/atau lebih mematikan bagi manusia di masa depan. Budaya memakan hewan liar di beberapa tempat di Tiongkok harus ditinggalkan untuk mengurangi kontak yang tidak perlu antara manusia dan hewan. Dengan pengalaman pahit SARS, MERS, dan COVID-19, persiapan dan rencana penanggulangan yang lebih baik harus diterapkan. Sebenarnya, banyak virus telah ada di planet ini sejak dahulu kala. Virus-virus ini berada di reservoir alaminya sampai ada kesempatan untuk penyebaran. Walaupun kelelawar memiliki banyak ciri yang mendukung penyebaran virus, peluang manusia berkontak dengan kelelawar dan spesies alam liar lain dapat diminimalkan jika orang diedukasi untuk menjauhi hewan liar. Surveilans berkelanjutan terhadap mamalia perlu dilakukan untuk lebih memahami ekologi CoV dan inang alaminya, yang akan terbukti bermanfaat dalam mencegah transmisi hewan-ke-manusia dan wabah mendatang. Sebagai kesimpulan, cara paling efektif untuk mencegah zoonosis virus adalah manusia harus menjaga jarak dari relung ekologis reservoir alami virus zoonotik. Beberapa bagian teka-teki asal zoonotik SARS-CoV-2 belum ditemukan. Pertama, jika kelelawar mentransmisikan virus leluhur SARS-CoV-2 ke trenggiling, kondisi ketika kelelawar dan trenggiling berbagi relung ekologis adalah hal yang penting untuk diketahui. Kedua, jika kelelawar memiliki peran yang lebih langsung dalam transmisi ke manusia, cara manusia berkontak dengan kelelawar harus ditentukan. Ketiga, jika ada mamalia ketiga yang berperan sebagai inang perantara sebenarnya, cara mamalia itu berinteraksi dengan spesies lain, yang mencakup manusia, kelelawar, dan trenggiling harus diperjelas. Akhirnya, karena banyak mamalia, termasuk hewan peliharaan yang mungkin rentan terhadap SARS-CoV-2, baik infeksi percobaan dan surveilans harus dilakukan. Entah kelelawar, trenggiling, atau mamalia lain, diharapkan bahwa SARS-CoV-2 atau virus induknya yang hampir identik dapat diidentifikasi di inang alaminya di masa mendatang. Penyelidikan berkelanjutan dalam bidang ini akan menguraikan jalur evolusioner SARS-CoV-2 di hewan, dengan implikasi penting dalam pencegahan dan pengendalian COVID-19 pada manusia. Estimasi Awal Prevalensi Beberapa Kondisi Kesehatan yang Mendasari di Antara Pasien Penyakit Koronavirus 2019 — Amerika Serikat, 12 Februari–28 Maret 2020 Pada 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Penyakit Koronavirus 2019 (COVID-19) sebagai pandemi. Hingga 28 Maret 2020, ada total 571.678 kasus COVID-19 terkonfirmasi dan 26.494 kematian dilaporkan di seluruh dunia. Laporan dari Tiongkok dan Italia menyatakan bahwa faktor risiko untuk penyakit berat mencakup usia tua dan adanya paling sedikit satu dari beberapa kondisi kesehatan yang mendasari. Lansia Amerika Serikat (AS), yang mencakup orang berusia ≥65 tahun dan terutama orang berusia ≥85 tahun, tampaknya juga memiliki risiko lebih tinggi untuk hasil akhir berat terkait COVID-19; namun, data yang menjelaskan kondisi kesehatan yang mendasari di antara pasien COVID-19 AS belum dilaporkan. Hingga 28 Maret 2020, negara bagian dan wilayah teritorial AS telah melaporkan 122.653 kasus COVID-19 AS kepada CDC. Data ini mencakup 7.162 (5,8%) kasus yang dilaporkan beserta data tentang kondisi kesehatan yang mendasari dan faktor risiko lainnya untuk hasil akhir berat akibat infeksi pernapasan. Di antara 7.162 kasus ini, 2.692 (37,6%) pasien dilaporkan memiliki satu atau beberapa kondisi kesehatan yang mendasari atau faktor risiko dan 4.470 (62,4%) tidak memiliki kondisi ini. Persentase pasien COVID-19 dengan setidaknya satu kondisi kesehatan yang mendasari atau faktor risiko lebih tinggi di antara pasien yang perlu masuk unit perawatan intensif (ICU) (358 dari 457, 78%) dan di antara pasien yang perlu dirawat inap tanpa masuk ICU (732 dari 1.037, 71%) daripada di antara pasien yang tidak dirawat inap (1.388 dari 5.143, 27%). Kondisi yang paling banyak dilaporkan adalah diabetes melitus, penyakit paru kronis, dan penyakit kardiovaskular. Temuan awal ini mengisyaratkan bahwa, di Amerika Serikat, orang yang memiliki kondisi kesehatan yang mendasari atau faktor risiko lain yang diketahui untuk hasil akhir berat akibat infeksi pernapasan tampaknya memiliki rsiko lebih tinggi untuk penyakit berat akibat COVID-19 dibandingkan orang tanpa kondisi ini. Data dari kasus COVID-19 terkonfirmasi laboratorium yang dilaporkan kepada CDC dan berasal dari 50 negara bagian, empat wilayah teritorial AS dan kepulauan yang terkait, Distrik Columbia, dan Kota New York dengan tanggal awitan 12 Februari–28 Maret 2020 dianalisis. Kasus di antara orang yang direpatriasi ke Amerika Serikat dari Wuhan, Tiongkok, dan kapal pesiar Diamond Princess tidak disertakan. Untuk kasus yang tanggal awitannya tidak ada, tanggal awitan diestimasi dengan mengurangi 4 hari (median interval mulai dari awitan gejala hingga tanggal pengambilan spesimen di antara kasus dengan tanggal diketahui dalam data ini) dari tanggal pengambilan spesimen pertama. Departemen kesehatan masyarakat melaporkan kasus kepada CDC menggunakan formulir laporan kasus terstandarisasi yang mencatat informasi (ya, tidak, tidak diketahui) tentang kondisi dan faktor risiko potensial berikut: penyakit paru kronis (meliputi asma, penyakit paru obstruktif kronis [COPD], dan emfisema); diabetes melitus; penyakit kardiovaskular; penyakit ginjal kronis; penyakit hati kronis; kondisi luluh imun; gangguan neurologi, perkembangan neural, atau disabilitas intelektual; kehamilan; status merokok saat ini; status merokok sebelumnya; atau penyakit kronis lainnya. Data yang dilaporkan kepada CDC adalah data awal dan dapat diperbarui oleh departemen kesehatan seiring waktu; unsur data penting mungkin tidak ada pada waktu laporan awal; karena itu, analisis ini bersifat deskriptif dan tidak ada pembandingan statistik dapat dilakukan. Persentase pasien dari semua umur dengan kondisi kesehatan mendasari yang tidak dirawat inap, dirawat inap tanpa masuk ICU, dan dirawat inap dengan masuk ICU dihitung. Persentase rawat inap dengan atau tanpa masuk ICU diestimasi untuk orang berusia ≥19 tahun dengan atau tanpa kondisi kesehatan mendasari. Bagian analisis ini dibatasi untuk orang berusia ≥19 tahun karena kecilnya ukuran sampel yang dilaporkan (N = 32) untuk kasus anak dengan kondisi kesehatan mendasari. Untuk memperhitungkan data yang hilang di antara laporan awal ini, dibuat estimasi rentang dengan batas bawah mencakup kasus dengan status rawat inap diketahui dan tidak diketahui dengan atau tanpa masuk ICU sebagai denominator dan batas atas hanya menggunakan kasus dengan status hasil akhir diketahui sebagai denominator. Karena ukuran sampel kecil dan data tidak lengkap mengenai kondisi kesehatan yang mendasari di antara pasien COVID-19 yang meninggal, tingkat fatalitas kasus untuk orang dengan atau tanpa kondisi mendasari tidak diestimasi. Hingga 28 Maret 2020, total ada 122.653 kasus COVID-19 terkonfirmasi laboratorum (Gambar) dan 2.112 kematian dilaporkan kepada CDC. Formulir laporan kasus dikirimkan kepada CDC untuk 74.439 (60,7%) kasus. Data tentang ada tidaknya kondisi kesehatan mendasari dan faktor risiko lain yang diketahui untuk hasil akhir berat akibat infeksi pernapasan (yaitu, merokok dan kehamilan) tersedia untuk 7.162 (5,8%) pasien (Tabel 1). Sekitar sepertiga dari pasien ini (2.692, 37,6%) memiliki setidaknya satu kondisi mendasari atau faktor risiko. Diabetes melitus (784, 10,9%), penyakit paru kronis (656, 9,2%), dan penyakit kardiovaskular (647, 9,0%) adalah kondisi yang paling banyak dilaporkan di antara semua kasus. Di antara 457 rawat inap dengan masuk ICU dan 1.037 tanpa masuk ICU, masing-masing, 358 (78%) dan 732 (71%) terjadi di antara orang dengan satu atau beberapa kondisi kesehatan yang mendasari. Sebaliknya, 1.388 dari 5.143 (27%) pasien COVID-19 yang tidak dirawat inap dilaporkan memiliki setidaknya satu kondisi kesehatan yang mendasari. Di antara pasien berusia ≥19 tahun, persentase rawat inap non-ICU lebih tinggi untuk pasien dengan kondisi kesehatan yang mendasari (27,3%–29,8%) dibandingkan pasien tanpa kondisi kesehatan yang mendasari (7,2%–7,8%); persentase kasus yang masuk ICU juga lebih tinggi untuk pasien dengan kondisi kesehatan yang mendasari (13,3%–14,5%) dibandingkan pasien tanpa kondisi ini (2,2%–2,4%) (Tabel 2). Sejumlah kecil pasien COVID-19 berusia < 19 tahun dilaporkan dirawat inap (48) atau masuk ICU (delapan). Sebaliknya, 335 pasien yang berusia < 19 tahun tidak dirawat inap dan data tentang rawat inap 1.342 pasien tidak ada. Di antara semua COVID-19 pasien dengan informasi lengkap tentang kondisi mendasari atau faktor risiko, 184 meninggal (semua pasien berusia di atas ≥19 tahun); 173 kematian (94%) dilaporkan di antara pasien dengan setidaknya satu kondisi mendasari. Di antara 122.653 kasus COVID-19 AS yang dilaporkan kepada CDC hingga 28 Maret 2020, 7.162 (5,8%) pasien memiliki data tentang kondisi kesehatan mendasari atau faktor risiko potensial; di antara pasien ini, persentase pasien dengan kondisi mendasari yang dirawat inap dan masuk ICU lebih tinggi daripada pasien yang dilaporkan tanpa kondisi mendasari. Hasil ini konsisten dengan temuan dari Tiongkok dan Italia, yang menyatakan bahwa pasien dengan kondisi kesehatan mendasari dan faktor risiko, yang mencakup, tetapi tidak terbatas pada, diabetes melitus, hipertensi, COPD, penyakit arteri koroner, penyakit serebrovaskular, penyakit ginjal kronis, dan merokok, mungkin memiliki risiko lebih tinggi untuk penyakit berat atau kematian akibat COVID-19. Analisis ini dibatasi oleh jumlah data yang kecil dan tidak lengkap karena pelaporan menjadi beban bagi departemen kesehatan yang melaporkan kasus yang meningkat sangat cepat, dan temuan ini mungkin berubah saat data tambahan tersedia. Belum diketahui apakah keparahan atau tingkat pengendalian kondisi kesehatan yang mendasari memengaruhi risiko penyakit berat yang berkaitan dengan COVID-19. Banyak kondisi kesehatan yang mendasari ini lazim di Amerika Serikat: berdasarkan data swa-lapor tahun 2018, prevalensi diabetes terdiagnosis di antara orang dewasa AS sebesar 10,1% dan prevalensi tersuai umur untuk semua jenis penyakit jantung (tidak mencakup hipertensi tanpa penyakit jantung lainnya) sebesar 10,6% pada tahun 2017. Prevalensi tersuai umur untuk COPD di antara orang dewasa AS sebesar 5,9%, dan pada tahun 2018, estimasi prevalensi asma yang sedang diderita di antara semua orang AS di semua usia sebesar 7,9%. CDC terus mengembangkan dan memperbarui sumber daya untuk orang dengan kondisi kesehatan mendasari guna menurunkan risiko terkena COVID-19. Estimasi prevalensi kondisi ini yang lebih tinggi di antara kelompok awal pasien COVID-19 AS, dan potensi risiko yang lebih tinggi untuk penyakit lebih berat akibat COVID-19 yang berkaitan dengan adanya kondisi mendasari, menyoroti pentingnya pencegahan COVID-19 pada orang dengan kondisi mendasari. Temuan dalam laporan ini setidaknya dibatasi oleh enam hal. Pertama, data ini adalah data awal dan analisis dibatasi oleh data yang tidak lengkap karena beban departemen kesehatan yang melaporkan terkait begitu cepatnya peningkatan jumlah kasus dan penundaan dalam melengkapi informasi yang memerlukan peninjauan bagan medis; temuan ini mungkin berubah saat data tambahan tersedia. Informasi tentang kondisi mendasari hanya tersedia untuk 7.162 (5,8%) dari 122.653 kasus yang dilaporkan kepada CDC. Kasus yang tanpa informasi tidak dapat diasumsikan serupa dengan kasus yang dilengkapi dengan data rawat inap atau kondisi kesehatan mendasari. Kedua, data ini mungkin bias dalam pemastian hasil akhir karena waktu tindak-lanjut yang singkat. Sebagian hasil akhir mungkin kurang diperhitungkan dan hasil akhir jangka panjang tidak dapat dikaji dalam analisis ini. Ketiga, karena terbatasnya ketersediaan pengujian di banyak yurisdiksi selama periode ini, analisis ini mungkin bias ke arah kasus yang lebih berat, dan temuan mungkin berubah setelah pengujian lebih tersebar luas. Keempat, karena sifat data yang deskriptif, tingkat serangan di antara orang dengan atau tanpa kondisi kesehatan mendasari tidak dapat dibandingkan sehingga perbedaan risiko COVID-19 berat antara kelompok ini tidak dapat diestimasi. Kelima, tidak ada kesimpulan yang dapat ditarik tentang kondisi mendasari yang tidak disertakan dalam formulir laporan kasus atau tentang berbagai kondisi yang dilaporkan sebagai satu kategori umum. Misalnya, asma dan COPD dimasukkan dalam kategori penyakit paru kronis. Terakhir, untuk beberapa kondisi kesehatan mendasari dan faktor risiko, yang mencakup gangguan neurologi, penyakit hati kronis, perokok saat ini, dan kehamilan, sedikit hasil akhir berat dilaporkan; karena itu, kesimpulan tidak dapat diambil mengenai risiko COVID-19 berat di antara orang dalam kelompok ini. Di Amerika Serikat, orang yang memiliki kondisi kesehatan mendasari tampaknya memiliki risiko lebih tinggi untuk COVID-19 yang lebih berat, temuan ini konsisten dengan temuan dari negara lain. Orang dengan kondisi kesehatan mendasari yang mengalami gejala COVID-19, yang mencakup demam, batuk, atau sesak napas, harus segera menghubungi penyedia perawatan kesehatan. Orang-orang ini harus menerapkan langkah-langkah untuk melindungi dirinya dari COVID-19, melalui cuci tangan; membersihkan dan mendisinfeksi permukaan yang banyak disentuh; serta pembatasan sosial, yang mencakup tetap di rumah, menghindari kerumunan, perkumpulan, dan perjalanan, serta menghindari kontak dengan orang yang sakit. Orang dengan kondisi kesehatan mendasari dianjurkan untuk memiliki persediaan obat setidaknya untuk 30 hari, persediaan makanan dan keperluan lainnya untuk 2 minggu, dan pengetahuan tentang gejala COVID-19. Semua orang harus menerapkan langkah-langkah untuk melindungi dirinya dari COVID-19 dan melindungi orang lain. Semua orang yang sakit harus tetap di rumah, kecuali untuk mendapatkan perawatan kesehatan; tidak boleh pergi ke tempat kerja; dan harus menjaga jarak dengan orang lain. Hal ini terutama penting untuk orang yang bekerja dengan orang dengan kondisi mendasari atau karena hal lain berisiko tinggi untuk hasil akhir berat akibat COVID-19. Strategi mitigasi komunitas, yang bertujuan untuk memperlambat penyebaran COVID-19, penting untuk melindungi semua orang dari COVID-19, khususnya orang yang memiliki kondisi kesehatan mendasari dan orang lain yang berisiko untuk penyakit terkait COVID-19 berat (https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/downloads/community-mitigation-strategy.pdf). Apa yang telah diketahui mengenai topik ini? Laporan yang dipublikasikan dari Tiongkok dan Italia menunjukkan bahwa faktor risiko untuk penyakit COVID-19 berat mencakup kondisi kesehatan yang mendasari, tetapi data yang menjelaskan kondisi kesehatan yang mendasari di antara pasien COVID-19 AS belum dilaporkan. Apa yang ditambahkan melalui laporan ini? Berdasarkan data AS awal, orang dengan kondisi kesehatan mendasari seperti diabetes melitus, penyakit paru kronis, dan penyakit kardiovaskular, tampaknya memiliki risiko lebih tinggi untuk penyakit terkait COVID-19 berat dibandingkan orang tanpa kondisi ini. Apa implikasinya untuk praktik kesehatan masyarakat? Strategi untuk melindungi semua orang, khususnya orang dengan kondisi kesehatan mendasari, yang mencakup pembatasan sosial dan mencuci tangan, harus diterapkan oleh semua komunitas dan semua orang untuk membantu memperlambat penyebaran COVID-19. Kemunculan Koronavirus Baru (COVID-19): Protokol untuk Memperluas Surveilans yang Digunakan oleh Research and Surveillance Centre (RSC) Royal College of General Practitioners (RCGP) dan Public Health England (PHE) Research and Surveillance Centre (RSC) Royal College of General Practitioners (RCGP) dan Public Health England (PHE) telah berhasil bekerja sama dalam surveilans influenza dan penyakit menular lain selama lebih dari 50 tahun, yang mencakup tiga pandemi sebelumnya. Dengan merebaknya wabah internasional infeksi koronavirus (COVID-19), pendekatan pembendungan nasional Inggris Raya (UK) telah ditetapkan untuk menguji orang yang diduga terpapar COVID-19. Pada saat yang bersamaan dan secara terpisah, surveilans RSC RCGP telah diperluas untuk memantau penyebaran temporal dan geografis infeksi COVID-19 dalam komunitas serta menilai keefektifan strategi pembendungan. Tujuan studi ini adalah untuk mengawasi COVID-19 baik di populasi tanpa gejala maupun kasus rawat jalan dengan infeksi pernapasan, memastikan laju dan pola penyebaran COVID-19, serta mengkaji keefektifan kebijakan pembendungan. RSC RCGP, jaringan lebih dari 500 praktik dokter umum di Inggris, mengekstrak data yang dipseudoanonimkan setiap minggu. Surveilans diperluas ini terdiri dari lima komponen: (1) Pencatatan dalam rekam medis setiap orang yang diduga menderita atau terpapar COVID-19. Dalam satu minggu sejak permintaan, pemasok rekam medis terkomputasi telah membuat kode baru untuk mendukung hal ini. (2) Perluasan surveilans virologis saat ini dan pengujian orang dengan penyakit mirip influenza atau infeksi saluran napas bawah (LRTI)—dengan peringatan bahwa orang yang diduga menderita atau terpapar COVID-19 harus dirujuk ke alur pembendungan nasional dan tidak terlihat di fasilitas kesehatan tingkat pertama. (3) Pengumpulan sampel serologi di semua kelompok usia. Sampel darah tambahan akan diambil dari orang yang datang ke praktik dokter umum untuk pengujian darah terjadwal. Seratus praktik dokter umum yang saat ini melakukan surveilans virologi influenza tahunan akan dilibatkan dalam surveilans virologis dan serologis diperluas. (4) Pengumpulan sampel serum konvalesen. Kami memiliki kesempatan untuk meningkatkan ekstraksi data hingga dua kali seminggu jika diperlukan. Usapan dan serum akan dianalisis di laboratorium rujukan PHE. Penyedia sistem klinis praktik dokter umum telah memperkenalkan set darurat kode klinis baru untuk mendukung surveilans COVID-19. Selain itu, praktik yang berpartisipasi dalam surveilans virologi ini kini mengambil sampel untuk surveilans COVID-19 dari pasien berisiko rendah yang menunjukkan LRTI. Dalam 2 minggu pertama penyiapan surveilans ini, kami telah mengidentifikasi 3 kasus: 1 kasus melalui sistem pengodean baru dan 2 kasus lainnya melalui pengambilan sampel virologi diperluas. Dengan cepat, kami telah mengubah sistem surveilans influenza RSC RCGP nasional yang ada menjadi sistem yang dapat menguji keefektifan kebijakan pembendungan COVID-19. Dengan 3 kasus dilaporkan, surveilans yang diperluas sudah melihat kegunaan kode baru tersebut. Pembagian protokol ini dengan cepat akan memungkinkan kritik ilmiah dan pembelajaran bersama. Research and Surveillance Centre (RSC) Royal College of General Practitioners (RCGP) adalah jaringan praktik dokter umum (GP) dengan populasi representatif secara nasional yang menyediakan data pseudoanonim untuk surveilans mingguan terhadap penyakit infeksi. Program surveilans penyakit ini diamanatkan oleh Public Health England (PHE) dan mencakup 37 penyakit infeksi, yang mencakup influenza. RSC RCGP dan PHE telah membangun kolaborasi selama lebih dari 50 tahun dalam surveilans penyakit pernapasan dan influenza, dan kini berada dalam musim ke-53 untuk surveilans dan analisis. RSC RCGP mengekstrak data yang dipseudoanonimkan dari sampel representatif nasional lebih dari 500 GP perkotaan dan nonperkotaan setiap minggu, yang mencakup populasi berukuran lebih dari 4 juta. Data dari praktik ini dilaporkan secara online dalam laporan mingguan, yang mencakup pemantauan angka kesakitan mingguan untuk penyakit mirip influenza (ILI) serta penyakit menular dan pernapasan lain di Inggris. Kami juga membuat laporan tahunan. Set data RSC RCGP mencakup semua data yang dikode dan semua item yang ditentukan, yang mencakup paparan vaksin. RSC RCGP melakukan surveilans virologi setiap musim influenza dengan 100 GP berpartisipasi pada musim 2019-2020 (Gambar 1). Praktik pengambilan sampel virologi ini juga direkrut agar respresentatif secara nasional (Gambar 1). GP mengambil usap nasofaring dari orang yang menunjukkan penyakit pernapasan akut dalam 7 hari sejak awitan gejala. Usap nasofaring diambil dari anak berusia kurang dari 5 tahun yang menunjukkan gejala bronkitis atau bronkiolitis akut. Selain itu, sampel nasofaring diambil dari setiap orang berusia 5 tahun atau lebih tua yang menunjukkan awitan akut untuk ILI dan virus sinsitial pernapasan. Usapan diuji di Unit Virus Pernapasan PHE untuk influenza guna memantau angka kepositifan dan galur yang bersirkulasi, serta mengukur keefektifan vaksin. RSC RCGP berhasil mengadakan kajian rintis yang mengumpulkan sampel serologis dari orang dewasa dan menautkannya dengan rekam medis pasien selama musim influenza 2018-2019. Kajian rintis ini berkolaborasi dengan Unit Seroepidemiologi PHE dan ditambahkan ke sisa sampel darah yang dikirimkan ke PHE oleh laboratorium National Health Service (NHS). Serologi dapat memberikan informasi penting tentang imunitas populasi latar, lalu jaringan sentinel dapat menyediakan mekanisme untuk pengumpulan data sistematik dan penautan ke rekam medis dan hasil akhir kesehatan. Kajian rintis serologi telah memperlihatkan kemampuan jaringan untuk mengumpulkan sampel serologi pada orang dewasa. Dengan adanya wabah COVID-19, PHE dan RSC RCGP telah mengadaptasi surveilans influenza yang ada untuk memantau penyebaran COVID-19 di komunitas, dan protokol ini menyiapkan dasar untuk kolaborasi. Strategi nasional utama untuk infeksi COVID-19 adalah pembendungan, dengan pasien yang berisiko tinggi dikelola melalui sistem bantuan telepon NHS111 dan tim perlindungan kesehatan PHE, tetapi surveilans RSC RCGP sepenuhnya terpisah. RSC RCGP, dengan memperluas pekerjaan yang sudah dilakukan, akan menyediakan surveilans virologis dan serologis untuk memonitor distribusi temporal dan geografis infeksi COVID-19 di komunitas, serta mengkaji keefektifan strategi pembendungan. Kami tidak akan bekerja sendirian dalam riset ini. Kami akan membagikan protokol ini dengan rekan UK dan konsorsium I-MOVE yang baru-baru ini mendapatkan pendanaan Horizon 2020 Uni Eropa dari jalur “Advancing knowledge for the clinical and public health response to the novel coronavirus epidemic”. Efisiensi yang sangat tinggi diharapkan akan dihasilkan melalui kolaborasi ini dibandingkan dengan efisiensi yang dapat dicapai jika negara-negara bertindak sendiri. Tujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi adanya transmisi komunitas COVID-19 yang tidak terdeteksi, mengestimasi kerentanan populasi, dan memantau distribusi temporal dan geografis infeksi COVID-19 dalam komunitas. Tujuan studi ini adalah sebagai berikut: Untuk memantau beban aktivitas kasus terduga COVID-19 di komunitas melalui surveilans fasilitas kesehatan tingkat pertama dan pengodean klinis kasus kemungkinan COVID-19 yang dirujuk ke dalam jalur pembendungan Untuk menyediakan bukti virologis keberadaan dan tingkat transmisi komunitas COVID-19 yang tidak terdeteksi serta memonitor angka kepositifan di antara orang yang menunjukkan ILI atau infeksi saluran pernapasan akut yang datang ke fasilitas kesehatan tingkat pertama Untuk mengestimasi kerentanan dasar terhadap COVID-19 di komunitas dan mengestimasi tingkat paparan baik bergejala maupun tanpa gejala di populasi melalui pemantauan seroprevalensi Untuk merintis penerapan skema untuk mengumpulkan serum konvalesen dengan profil antibodi di antara kasus COVID-19 yang sembuh dan dipulangkan ke komunitas Kami bermaksud menangkap hal berikut. Beban kerja klinis terkait laporan COVID-19 menggunakan kode yang dibuat untuk menandai kasus, orang yang dikaji dan lokasi infeksi tidak disertakan (Gambar 2-44) Negara asing yang dikunjungi dalam 28 hari terakhir Kode saat ini yang mungkin dapat digunakan (Tabel 1-3).3). Banyak GP dan tim fasilitas kesehatan tingkat pertama mungkin tidak menyadari bahwa data relevan yang penting dapat dikode. Tersedia juga potensi selama pandemi untuk memantau keefektifan langkah pengendalian transmisi. Hasil uji dan pengodean huruf tepercaya yang akan menunjukkan infeksi telah dikonfirmasi atau dikesampingkan Metode akan mengikuti pendekatan yang digunakan dalam sistem surveilans influenza saat ini dan studi serologi terbaru, dan mencakup lima komponen: (1) surveilans klinis fasilitas kesehatan tingkat pertama; (2) surveilans virologis; (3) surveilans serologis populasi; (4) serum konvalesen dalam kasus; dan (5) pengumpulan data. NHS menggunakan sistem pengodean Systematized Nomenclature of Medicine Clinical Terms (SNOMED CT), yang biasanya hanya diperbarui dua kali setahun. Ada kerumitan tambahan karena sebagian pemasok rekam medis terkomputasi (CMR) menggunakan sistem pengodean Read (istilah klinis Read versi 3 – CTv3) yang tidak diperbarui lagi. Selain itu, tidak ada kode klinis untuk melaporkan COVID-19 di awal Februari 2020. Karena itu, dua pemasok sistem GP utama menambahkan lima istilah yang diperlihatkan di Tabel 4 sebagai kode lokal seluruh sistem. Selanjutnya, rilis darurat konsep SNOMED CT untuk COVID-19 UK juga dibuat tersedia di seluruh sistem CMR (Tabel 4). Tujuannya adalah agar konsep ini akhirnya dapat dipetakan ke konsep SNOMED CT baru, setelah tersedia, sehingga memungkinkan pencatatan data yang relevan (Lampiran Multimedia 1). Persyaratan utama untuk rilis ini adalah kemampuan mengodekan (Tabel 4) kasus COVID-19, paparan ke risiko infeksi (perjalanan ke area yang mungkin memiliki risiko lebih tinggi), kontak dengan orang yang terinfeksi COVID-19, laporan bahwa seseorang telah diuji COVID-19, dan bahwa penyakit telah dikesampingkan (kemungkinan melalu hasil uji negatif). Selain itu, praktik sekarang mampu mengodekan setiap perjalanan luar negeri yang dilakukan, yang mencakup kemampuan mencatat kunjungan ke beberapa negara (diimplentasikan 8 Februari 2020). Gambar 2-44 menunjukkan implementasi web EMIS. Saat ini, sampel virologi untuk surveilans influenza disertai dengan formulir permintaan standar. Untuk COVID-19, kami akan membuat formulir permintaan baru yang akan mencatat: Tanggal awitan gejala Diagnosis salah satu hal berikut: Bronkitis/bronkiolitis akut pada anak berusia kurang dari lima tahun Infeksi saluran napas bawah (LRTI) Riwayat demam (Y/T); diukur (Y/T); jika ya, tingkat panas Sesak napas (Y/T), jika diukur: saturasi oksigen dan laju pernapasan Baru bepergian (Y/T); jika ya, negara yang dikunjungi dalam 14 hari terakhir Kontak dengan seseorang yang terkonfirmasi COVID-19 (Y/T) dengan komentar terbuka tentang tingkat keyakinan Kode ini akan dikelompokkan secara ontologis menjadi “pasti”, “besar kemungkinan”, “kecil kemungkinan”, dan “bukan kasus” menggunakan pendekatan standar untuk mengelompokkan kode (Tabel 5), yang telah digunakan sebelumnya di bidang penyakit. Definisi RSC RCGP untuk ILI diperlihatkan di Lampiran Multimedia 2. Penyajian Data di Publik Menggunakan Observatori dan Dasbor Kami akan mengembangkan observatori untuk menyajikan data secara nasional dan dasbor untuk memberi umpan balik kepada praktik tentang kualitas data mereka dan pengumpulan sampel virologi dan serologi. Hal ini berdasarkan pengodean yang dijelaskan di Tabel 4. Kasus pasti akan disajikan di dasbor kami sebagai “kasus” COVID-19. Kasus mungkin akan disajikan sebagai “Dalam penyelidikan” (sedang diselidiki). “Bukan kasus” akan disajikan sebagai “Dikesampingkan”. Data online telah dibuat dalam beberapa minggu awal di Observatori COVID-19 (Gambar 5), yang mengindikasikan keseluruhan jumlah pasien dan angka kasus terkonfirmasi atau dalam penyelidikan per 10.000 pasien, serta saat virus ini dikesampingkan. Kami memiliki opsi untuk bergerak menjadi laporan surveilans dua kali seminggu dengan kapasitas untuk mengubahnya menjadi pelaporan harian. Kami akan meneruskan pengambilan sampel virologi dari praktik sentinel dan tidak berhenti saat influenza musiman menurun. Selain itu, kami akan merekrut lebih banyak praktik surveilans. Praktik virologi RSC RCGP akan menargetkan untuk melakukan 200-300 usap nasofaring per minggu di seluruh jaringan sentinel RSC RCGP, dengan mengumpulkan spesimen di seluruh kelompok usia. Selain kriteria untuk surveilans virologi influenza (ILI, bronkitis/bronkiolitis akut), praktik yang berpartisipasi akan mengambil sampel usap nasofaring dari semua orang yang menunjukkan gejala LRTI akut jika awitan gejala terjadi dalam 7 hari. Petugas riset RSC RCGP dan staf penghubung praktik akan mengelola praktik untuk mencapai total sampel nasional sebesar 200-300 usapan per minggu. Angka ini dapat ditingkatkan jika pemodel PHE memerlukan lebih banyak sampel. Sampel dari masing-masing praktik akan disebar di seluruh kelompok usia berikut: < 5 tahun, 5-17 tahun, 18-64 tahun, dan lebih dari 65 tahun Sampel (usapan dan serum) yang dikumpulkan akan dikirim melalui amplop prabayar yang dialamatkan kepada laboratorium PHE yang sesuai untuk dianalisis. Semua sampel yang dikumpulkan akan diuji untuk melihat adanya influenza dan COVID-19. Selain itu, PHE akan menguji secara retrospektif setiap sampel virologi influenza yang dikumpulkan antara awal dan pertengahan Februari 2020 untuk memeriksa COVID-19. Praktik akan tetap mengikuti protokol PHE untuk COVID-19 terkait orang dengan risiko infeksi yang harus diarahkan ke jalur pembendungan dan bukan datang secara fisik ke tempat praktik mereka. Pengujian langsung orang yang datang ke praktik dokter umum tetap diizinkan, tetapi kami juga telah meluncurkan pengambilan usap mandiri di rumah. Ringkasan proses diperinci di Lampiran Multimedia 3. Setiap orang dengan ILI atau penyakit pernapasan yang menghubungi GP (misalnya, menelepon untuk membuat janji temu) harus ditanya secara spesifik tentang perjalanan baru-baru ini ke Tiongkok atau negara lain yang ditandai dalam saran PHE saat ini, atau jika mereka telah berkontak dengan orang lain yang menderita COVID-19. Jika pertanyaan penapisan ini positif, pasien akan disarankan untuk tidak datang ke praktik, tetapi sebagai gantinya untuk mengikuti lembar alur PHE. Hal ini dapat dilakukan oleh staf resepsi atau dokter, tergantung masing-masing protokol praktik. Telepon ini harus dikodekan ke dalam sistem CMR GP dan dapat dilaporkan sebagai bagian dari laporan mingguan RSC RCGP. Kami telah mengembangkan bahan pelatihan untuk mendukung pengodean ini (Lampiran Multimedia 4). Proses ini mencakup kartu perintah untuk: Staf resepsi atau triase praktik: untuk pengodean setiap orang yang menelepon ke praktik dengan gejala infeksi pernapasan akut dan dengan riwayat perjalanan ke daerah penting berdasarkan saran PHE Staf administratif atau dokter yang mengodekan: untuk mendorong pengodean hasil yang konsisten untuk kasus terduga, yang mencakup pengodean hasil negatif untuk dikesampingkan Praktik yang berpartisipasi dalam surveilans virologis akan mengambil sampel darah secara oportunistis dari pasien yang datang ke praktik untuk pengujian darah rutin. Pasien yang datang ke praktik mereka untuk pengujian darah rutin akan diminta untuk memberikan sampel tambahan untuk serologi. Kami telah melakukan pencarian awal dalam basis data RSC RCGP untuk melihat jumlah hasil hitung darah lengkap (FBC) dan keseluruhan laju pada orang dewasa dan anak (Gambar 6-9).9). FBC adalah salah satu pengujian yang paling banyak dilakukan, dan kami berharap data ini akan memberi indikasi perkiraan keseluruhan jumlah pengujian darah yang dilakukan. Tingkat pengambilan sampel per 100.000 pasien paling tinggi untuk anak berusia 15-17 tahun dan lebih dari 60 tahun pada orang dewasa, dengan tingkat terendah pada anak berusia 0-4 tahun dan 18-29 tahun pada orang dewasa (Gambar 6-9). Kami akan menyediakan 1000 sampel dasar serologi di seluruh kelompok usia yang mencerminkan variasi tingkat kedatangan berdasarkan umur. Selain itu, kami akan menguji dapat tidaknya kami memperoleh semua ini dari praktik virologi untuk meningkatkan hasil. Sebaran geografis yang baik penting, jadi PHE dapat memberi saran area tempat serologi paling berguna dikumpulkan. Ini akan diikuti dengan 800 sampel setiap bulan. Sampel akan distratifikasi dengan 200 spesimen untuk survei prapandemi (100 untuk setiap bulan) dalam kelompok usia berikut: < 5 tahun, 5-17 tahun, 18-64 tahun, dan lebih dari 65 tahun. Pasien yang lebih muda, yaitu yang berusia kurang dari 14 tahun di banyak praktik dan yang berusia kurang dari 8 tahun di hampir semua praktik, akan memerlukan surveilans serologi pediatrik. Kami akan mengembangkan formulir permintaan baru untuk praktik guna mencatat perjalanan terbaru dan paparan terhadap COVID-19. Kami akan merintis skema untuk mengumpulkan serologi konvalesen dari orang dengan kasus terkonfirmasi dan yang telah diambil sampel virologi akut pada saat infeksinya. Tindakan ini untuk mengidentifikasi status pembawa pada pasien yang telah sembuh dari virus, tetapi mungkin masih terus meluruhkan virus. Jika jumlah kasus kecil, tindakan ini mungkin membantu mengembangkan kit uji bagi pasien guna dibawa ke GP-nya sendiri dan ditelusuri penerimaannya bagi pasien. Jika jumlah kasus COVID-19 nasional besar, sampel konvalesen dapat dikumpulkan dari praktik RSC RCGP saat ada kasus terkonfirmasi, dengan kemampuan untuk menghubungkan ke rekam medis lengkap. Proses ini mungkin mencakup memeriksa nomor NHS pseudoanonim untuk orang yang positif di praktik RSC RCGP, memeriksa panduan PHE saat ini mengenai pertimbangan penularan untuk kasus terkonfirmasi, dan menawarkan janji temu kepada pasien dengan mengikuti proses yang disebutkan sebelumnya. Hal ini perlu dikoordinasi dengan cermat secara nasional di seluruh jaringan dan PHE mungkin perlu memastikan bahwa orang tidak dihubungi oleh beberapa badan. RSC RCGP dapat menyediakan struktur yang diperlukan untuk menyalurkan kontak awal setelah PHE membuat permintaan. Praktik RSC RCGP yang berpartisipasi dalam surveilans virologi influenza tahunan telah mulai mengambil sampel dari pasien yang menunjukkan gejala LRTI. Semua sampel yang diterima diuji untuk memeriksa influenza dan COVID-19. RSC RCGP akan mencari cara untuk mengambil sampel konvalesen dari pasien yang memberi hasil positif untuk COVID-19 melalui perluasan surveilans virologis. Sejak awal, kami akan mengumpulkan data secara saksama untuk memastikan data dapat digunakan untuk studi di masa mendatang. Data klinis kami akan dihubungkan dengan virologi. Kami akan mengumpulkan data menggunakan prinsip Dapat Ditemukan, Dapat Diakses, Dapat Saling Operasi, dan Dapat Digunakan Kembali. Untuk memfasilitasinya, set data kami didaftarkan di Health Data Research UK dan European Health Data Evidence Network. Metode statistik yang dipakai mendukung pendekatan kebijakan untuk wabah penyakit yang tersebar luas, dengan intervensi nonfarmaseutikal (NPI) digunakan untuk menanggulangi wabah yang merebak guna menekan penyakit. Kebijakan ini bertujuan untuk menurunkan tingkat kontak dalam populasi dan dengan demikian mengurangi transmisi virus. Untuk menerapkan hal ini, pemerintah UK baru-baru ini mengutarakan keinginan untuk menerapkan langkah isolasi mandiri populasi. Dengan menargetkan angka reproduksi (R) (angka rata-rata kasus sekunder yang dihasilkan setiap kasus) dan bertujuan menurunkan R hingga di bawah 1, kebijakan ini berupaya untuk menurunkan jumlah kasus hingga tingkat rendah atau (sebagaimana terlihat pada wabah sebelumnya yakni sindrom pernapasan akut bawah dan Ebola) untuk menghilangkan transmisi manusia-ke-manusia. Sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman wabah H1N1 tahun 2009, NPI dapat menjadi komponen krusial dalam mitigasi pandemi. Fokus utama studi kami adalah mengestimasi kasus puncak di populasi dan pemantauan berkelanjutan melalui pengumpulan data serta pemodelan potensi pertumbuhan dan kemunculan puncak berikutnya pada kasus baru saat langkah pembatasan sosial dikendurkan. Sudah ada publikasi tentang ukuran epidemiologi penyakit yang penting terkait wabah COVID-19 di Tiongkok daratan. Ukuran selanjutnya yang sangat penting dalam dinamika pandemi adalah jangka waktu sejak infeksi hingga seseorang dapat menularkan kepada orang lain dan rata-rata durasi kemampuan menularkan. Faktor-faktor ini, jika diestimasi secara akurat, akan memberi prediksi yang baik untuk kemungkinan durasi pandemi dan jumlah akhir kasus yang terinfeksi. Kami bermaksud menerapkan inferens Approximate Bayesian Computation (ABC) untuk model epidemi stokastik SEIR (Susceptible-Exposed-Infectious-Removed) yang mungkin heterogen spasial. Teknik tersebut sangat dapat diparalelkan dan telah berhasil diterapkan pada banyak bidang, mencakup pemodelan transmisi penyakit. Teknik tersebut terutama sesuai untuk situasi saat fungsi kemungkinan tidak ada dan saat pendekatan yang lebih tradisional, seperti Markov chain Monte Carlo, tidak dapat diterapkan. Pendekatan tersebut telah terbukti berfungsi efektif pada data surveilans ASPREN, yakni jaringan GP sentinel dan praktisi perawat yang melaporkan informasi ILI dan kondisi lain yang telah dihilangkan identitasnya, dengan masalah seperti data tidak lengkap dan kebutuhan untuk memodelkan proses observasi itu sendiri berhasil diatasi. Lebih lanjut, puncak pada kasus baru telah diestimasi melalui metode distribusi. Estimasi parameter model SEIR dapat dilacak pada set data besar karena sifatnya yang dapat diparalelkan, dan metode ini telah diterapkan pada beberapa pustaka R; kami bermaksud menggunakan pustaka ABSEIR (disimpan di GitHub: https://tinyurl.com/vqu35cj) dan abctools (https://tinyurl.com/tfjavz4) untuk mengestimasi ukuran epidemi setiap minggu. Karena kami menyesuaikan model epidemi SIR dalam prosedur ABC, kami memperkirakan hasil kami akan teguh terhadap data kasus mingguan dengan angka relatif kecil. Sebagai contoh, kita dapat melihat metodologi ABC yang diterapkan pada data pilek Tristan da Cunha tahun 1967, dengan angka I (jumlah kasus infeksi) dan R (jumlah kasus sembuh) paling banyak puluhan. Akhirnya, selain metodologi di atas, kami akan menggunakan metode Kaplan-Meier dengan dua hasil akhir (kematian dan sembuh) untuk mengestimasi rasio fatalitas kasus. Pendekatan ini independen terhadap metodologi ABC dan akan memungkinkan perbandingan antara estimasi dari dua pendekatan pemodelan untuk menilai keteguhan hasil. Surveilans RSC RCGP dengan PHE didefinisikan sebagai Perlindungan Kesehatan berdasarkan Regulasi 3 pada Health Service (Control of Patient Information) Regulations 2002. Hal ini telah dikonfirmasi oleh Kantor Caldicott Guardians PHE. Kami tidak melihat adanya peningkatan risiko bagi praktik atau praktisi yang mengambil bagian dalam surveilans ini. Saran pencegahan dan pengendalian infeksi akan mengikuti panduan nasional yang berlaku. Setiap kasus yang teridentifikasi akan dikelola sesuai dengan panduan PHE/NHS yang berlaku saat ini, yang mencakup saran untuk kontak yang teridentifikasi. Namun, pelatihan kami akan mencakup pengingat tentang penanganan spesimen yang aman dan revisi langkah pengendalian infeksi yang diduga akan tinggi dalam praktik kami. Hal ini merupakan bagian utama Regulasi 12 tentang perlakuan dan penanganan aman, yang diperiksa secara berkala oleh Care Quality Commission. Riwayat Perjalanan dan Deskriptor Klinis Infeksi COVID-19 Praktik RSC RCGP telah diberi tahu mengenai pengodean klinis yang telah tersedia untuk COVID-19 di seluruh sistem CMR. Hal ini termasuk informasi mengenai pengodean deskriptor klinis (Tabel 4) dan setiap riwayat perjalanan terbaru. Pemapanan Pengambilan Sampel Virologi Diperluas Praktik RSC RCGP yang berpartisipasi dalam surveilans virologi influenza tahunan telah mulai mengambil sampel dari pasien yang menunjukkan gejala LRTI. Semua sampel yang diterima diuji untuk memeriksa influenza dan COVID-19. Tindakan ini telah menghasilkan identifikasi awal sebaran latar pada pasien berisiko rendah. Hingga 7 Maret 2020, sistem surveilans telah mendeteksi 2 kasus COVID-19 pada pasien berisiko rendah tanpa riwayat perjalanan melalui pengambilan sampel virologis diperluas. Protokol ini menjelaskan cara kami mengadaptasi sistem surveilans influenza nasional untuk memantau sebaran komunitas infeksi COVID-19 yang tidak diduga. Dengan cepat, kami telah membuat dan menambahkan kode baru untuk memungkinkan pencatatan data, serta mengumpulkan data untuk memonitor keefektifan strategi pembendungan. Melalui surveilans ini, kami bermaksud mencari tahu lebih lanjut tentang epidemiologi COVID-19 di perawatan ambulatori. Khususnya, laju sebarannya, baik temporal maupun geografis. Pengujian kami terhadap pasien berisiko rendah juga akan memberi informasi tentang keefektifan strategi pembendungan yang berdasarkan pada pengujian virologi pasien berisiko tinggi dan kontaknya, ditambah dengan isolasi mandiri. Pembendungan mestinya akan memperlambat penyebaran, dan pengelolaan sebaran dengan surveilans intensif mungkin akan bermanfaat. Namun, mungkin akan ada suatu titik ketika sebaran virus lebih luas dalam populasi, seperti yang terjadi di Italia. Surveilans pasien berisiko rendah akan memberi informasi saat kita mencapai titik kritis ini dan saat laju infeksi mulai menurun. Epidemiologi COVID-19 masih baru muncul. Sifat fasilitas kesehatan tingkat pertama UK yang berbasis pendaftaran berarti bahwa kita akan dapat membuat gambaran lengkap durasi dan insiden kumulatif. Sistem surveilans akan dapat mengidentifikasi area tempat berlangsungnya penyebaran COVID-19 yang mungkin sesuai untuk uji coba terapi antivirus. Kita juga dapat menindaklanjuti efektivitas atau reaksi samping terhadap obat atau vaksinasi ini. Akhirnya, deteksi awal kasus COVID-19 terkonfirmasi telah memperlihatkan pentingnya implementasi cepat surveilans yang ditingkatkan ini di jaringan nasional. Keamanan praktik adalah perhatian utama kami. RSC RCGP telah beroperasi selama lebih dari 50 tahun dan telah terlibat dalam pengumpulan sampel untuk memantau penyakit dan keefektifan vaksin selama pandemi flu Hong Kong pada tahun 1968/69, flu Rusia pada tahun 1977/78, dan pandemi flu babi pada tahun 2009. Kami tidak mengetahui adanya peningkatan risiko bagi staf praktik atau pasien lain akibat keterlibatan dalam surveilans. Kesiapan pandemi adalah bagian dari peran RSC RCGP. Pengodean yang ditingkatkan terhadap informasi dari kontak dengan praktik di RSC RCGP dipercaya akan mengurangi kemungkinan orang yang berpotensi terduga kasus COVID-19 tanpa sengaja diminta datang ke praktik dokter umum. Ketika kasus terdeteksi tanpa diduga, mungkin akan bermanfaat jika pasien, kontaknya, dan praktik diberi tahu. Dampak bagi praktik adalah ditutup selama sehari jika kasus ditemukan, untuk pembersihan secara saksama, lalu dibuka kembali. Limitasi utama sistem kami adalah jumlah titik data. Kami mengumpulkan data serologi dan virologi dari 100 lokasi, yang mencakup sekelompok kecil populasi. Sampel ini memadai untuk pemantauan influenza, tetapi kami tidak yakin jika sampel ini cukup besar untuk wabah COVID-19. Lokasi (praktik surveilans) kami saat ini adalah praktik yang sudah tetap; penyertaan cepat praktik-praktik di daerah yang memiliki banyak kasus mungkin akan berguna. Saat ini, kami akan melaporkan setiap minggu. Sistem yang ada dapat ditingkatkan menjadi dua kali seminggu, tetapi mungkin data per hari atau per jam seharusnya menjadi pendekatan kami saat ini. Pengambilan sampel oportunistik untuk serologi pada anak berusia kurang dari 10 tahun mungkin terbatas karena tingkat pengujian darah yang secara keseluruhan dikurangi pada anak. Surveilans yang diperluas menggunakan jaringan RSC RCGP-PHE untuk wabah COVID-19 yang baru muncul telah dibuat dengan cepat. Model untuk mendapatkan informatika yang sesuai guna memungkinkan pencatatan data yang diperlukan sudah berhasil, dengan pencatatan data dimulai pada minggu yang sama ketika kode dibuat. Selain itu, modifikasi sistem surveilans yang ada untuk mengumpulkan data populasi dalam cara yang paralel juga efektif. Namun, saat ini kami tidak yakin apakah skala surveilans ini menyediakan data yang memadai untuk mendorong strategi pembendungan lokal atau apakah pelaporan yang tidak cukup sering memenuhi kebutuhan kita di era informasi ini. Pembaruan kriteria diagnostik “kasus terduga” dan “kasus terkonfirmasi” COVID-19 perlu dilakukan Pada 6 Februari 2020, tim kami mempublikasikan panduan nasihat cepat untuk diagnosis dan penanganan infeksi koronavirus baru 2019 (2019-nCoV). Panduan ini berdasarkan pengalaman kami dan menjadi referensi yang baik untuk melawan pandemi di seluruh dunia. Meski demikian, penyakit koronavirus 2019 (COVID-19) adalah penyakit baru, kesadaran dan pengetahuan kita semakin meningkat berdasarkan temuan riset yang sedang berlangsung dan pengalaman praktis klinis; karena itu, strategi diagnosis dan penanganan juga terus diperbarui. Dalam surat ini, kami menjawab salah satu komentar di panduan kami dan menyediakan kriteria diagnostik terbaru untuk “kasus terduga” dan “kasus terkonfirmasi” berdasarkan Panduan Diagnosis dan Penanganan untuk COVID-19 (versi ketujuh) yang dikeluarkan oleh Komisi Kesehatan Nasional Republik Rakyat Tiongkok. Pada Desember 2019, koronavirus baru 2019 (2019-nCoV) telah menyebabkan wabah, yang saat ini secara formal disebut penyakit koronavirus 2019 (COVID-19) dan virus tersebut diberi nama koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2). Pada 11 Maret 2020, WHO menjelaskan COVID-19 sebagai pandemi. Untuk melawan infeksi SARS-CoV-2, tim kami mengembangkan panduan nasihat cepat dan panduan tersebut telah dipublikasikan secara daring di Military Medical Research pada 6 Februari 2020. Panduan tersebut telah banyak menarik perhatian sejak diterbitkan. Namun, perlu dicatat bahwa COVID-19 adalah penyakit baru, kesadaran dan pengetahuan kita semakin meningkat berdasarkan temuan riset yang sedang berlangsung serta pengalaman praktis klinis; karena itu, strategi diagnosis dan penanganan juga terus diperbarui. Sebagai contoh Panduan Diagnosis dan Penanganan untuk COVID-19 yang dikeluarkan oleh Komisi Kesehatan Nasional Republik Rakyat Tiongkok (http://www.nhc.gov.cn/), antara 16 Januari 2020 hingga 3 Maret 2020, komisi ini telah mengeluarkan total tujuh edisi dengan sebagian konteks telah diubah cukup banyak. Panduan kami menerima komentar dari Zhou et al., mereka memperkenalkan proposal pemberian skor sederhana berdasarkan pengalaman klinis mereka. Hasil kerja mereka menambahkan bukti baru untuk panduan kami serta menjadi rujukan berharga untuk pandemi ini di seluruh dunia. Kami mendukung hasil kerja mereka yang signifikan dan mengungkapkan rasa terima kasih kami. Meski demikian, hasil kerja mereka juga memerlukan pembaruan berdasarkan Panduan Diagnosis dan Penanganan untuk COVID-19 terbaru (versi ketujuh uji coba) dan studi terbaru. Berdasarkan edisi ketujuh (3 Maret 2020), untuk mengonfirmasi kasus terduga diperlukan kombinasi salah satu gambaran riwayat epidemiologis dengan dua manifestasi klinis untuk membuat analisis yang komprehensif, atau diperlukan pemenuhan tiga manifestasi klinis jika tidak ada riwayat epidemiologis yang jelas: Riwayat epidemiologis: (1) riwayat perjalanan atau tinggal di kota Wuhan dan daerah sekitarnya, atau komunitas lain tempat kasus COVID-19 telah dilaporkan dalam 14 hari terakhir sebelum awitan gejala; (2) riwayat kontak dengan kasus menular SARS-CoV-2 (dengan uji asam nukleat positif); (3) riwayat kontak dengan pasien yang mengalami demam atau gejala pernapasan dari kota Wuhan dan daerah sekitarnya, atau komunitas lain tempat kasus COVID-19 telah dilaporkan dalam 14 hari terakhir sebelum awitan gejala; (4) riwayat kontak dengan klaster kasus terkonfirmasi (≥ 2 kasus dengan demam dan/atau gejala pernapasan yang terjadi dalam 2 minggu di area kecil, seperti rumah, kantor, kelas sekolah, dll.). Manifestasi klinis: (1) demam dan/atau gejala pernapasan; (2) fitur pencitraan infeksi COVID-19; (3) total hitung sel darah putih menunjukkan hitung limfosit normal, menurun, atau berkurang di tahap awitan awal. Mendiagnosis kasus terkonfirmasi harus didasarkan pada kasus terduga dengan salah satu bukti patogenik atau serologis sebagai berikut: (1) uji PCR real-time positif untuk SARS-CoV-2; (2) sekuensi seluruh genom virus menunjukkan homogenitas tinggi untuk koronavirus baru yang diketahui; (3) positif untuk antibody IgM spesifik dan antibodi IgG terhadap SARS-CoV-2 dalam uji serum; atau perubahan antibodi IgG spesifik-SARS-CoV-2 dari negatif menjadi positif, atau titer meningkat ≥4 lipat pada fase pemulihan di atas kadar pada fase akut. Kita dapat melihat bahwa uji PCR real-time asam nukleat dalam sampel saluran pernapasan atau darah ditambahkan pada edisi kedua (18 Januari 2020) dan ketiga (22 Januari 2020). Deteksi patogenik pada sampel darah ditambahkan pada edisi keempat (27 Januari 2020) dan kelima (8 Februari 2020); lalu, bukti serologis ditambahkan pada edisi ketujuh. Modifikasi ini berdasarkan penelitian berkelanjutan para peneliti untuk mencari kit deteksi asam nukleat optimal untuk diagnosis cepat, serta sampel dari saluran napas termasuk pengambilan darah, yang meningkatkan ketersediaan berbagai spesimen, dan mendukung penyertaan hasil positif antibodi tertentu ke dalam kriteria terkonfirmasi. Selain itu, ada semakin banyak bukti yang mengingatkan kita untuk mewaspadai pasien dengan gejala atipis dan tanpa gejala. Karena itu, bagan alir Zhou et al. harus diperbarui sebab mereka mengklasifikasikan orang tanpa gejala klinis sebagai “berisiko rendah”. Sistem skor juga perlu diverifikasi dalam praktik dan studi klinis di masa mendatang. Sebagai penutup, kami berharap bukti yang lebih langsung akan muncul dan meminta pembaca untuk memberikan komentar. Untuk diagnosis “kasus terduga” dan “kasus terkonfirmasi”, kami menyarankan untuk mengikuti dan mematuhi panduan terbaru di negara masing-masing. Tim kami juga akan memperbarui panduan kami secara berkala sebagai bantuan. Bangladesh melaporkan lima kematian baru akibat COVID-19, angka kematian harian tertinggi Kemarin, Bangladesh mengonfirmasi lima kematian baru akibat COVID-19 pada hari itu. Ini adalah angka kematian tertinggi dalam satu hari akibat virus itu. Hingga kemarin, Institute of Epidemiology, Disease Control and Research (IEDCR) Bangladesh melaporkan jumlah kasus infeksi yang tercatat mencakup 114 kasus aktif dan 33 kasus sembuh yang tinggal di rumah. Tercatat total 17 kematian. Dalam sebuah taklimat berita daring, direktur IEDCR, Dr Meerjady Sabrina Flora, mengatakan kematian meliputi empat pria dan seorang wanita. Menurut Dr Meerjady, dua kasus berumur di atas 60 tahun, dua kasus antara 51 dan 60 tahun, dan satu kasus antara 41-50 tahun. Ia juga mengatakan dua korban berasal dari Dhaka. Pada tanggal 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Seorang pejabat rumah sakit memberitahu Anadolu Agency, sebuah kantor berita lokal, bahwa salah seorang yang meninggal adalah Jalal Saifur Rahman, direktur Komisi Anti Korupsi Bengali, yang dirawat di Rumah Sakit Kuwait Maitree. Pada hari Sabtu, dalam sebuah pengumuman video daring, Menteri Transportasi Jalan dan Jembatan, Obaidul Quader mengatakan transportasi umum akan dihentikan lebih lama dari yang semula direncanakan, sampai Sabtu mendatang. Penghentian transportasi umum ini telah dimulai sejak tanggal 26 Maret dan direncanakan berakhir pada hari Sabtu, 4 April. Transportasi barang kebutuhan pokok -- medis, bahan bakar, dan makanan -- masih diizinkan. Insiden infeksi COVID-19 yang pertama tercatat di Bangladesh adalah pada tanggal 8 Maret, pada dua orang yang baru pulang dari Italia dan juga istri salah seorang dari mereka. Pada 19 Maret, tiga orang tersebut telah sembuh. National Basketball Association menangguhkan musim ini akibat COVID-19 Pada hari Rabu, National Basketball Association (NBA) Amerika Serikat menangguhkan musim bola basket profesionalnya karena kekhawatiran terkait COVID-19. Keputusan NBA tersebut diambil setelah hasil tes salah seorang pemain Utah Jazz positif untuk virus COVID-19. NBA tidak mengumumkan identitas pemain tersebut dalam pengumumannya. Namun, mereka mengatakan bahwa ia tidak hadir di Chesapeake Energy Arena di Oklahoma City, tempat Utah Jazz bermain menghadapi Oklahoma City Thunder. Menurut pernyataan persnya, NBA "menangguhkan kompetisi sejak keputusan [hari Rabu] sampai pemberitahuan lebih lanjut." Pertandingan Jazz dibatalkan, sebagaimana pertandingan NBA hari Rabu lainnya antara Sacramento Kings dan New Orleans Pelicans. Pertandingan lain yang dijadwalkan hari Rabu masih diadakan, menurut Kantor Berita NBC. Organisasi basket utama di Amerika Serikat yang lain, National Collegiate Athletic Association, yang menyelenggarakan pertandingan basket kampus, telah membatalkan turnamennya, March Madness, baik untuk liga pria maupun wanita. Menurut Johns Hopkins University, hingga hari Rabu, terdapat setidaknya 1.279 kasus terkonfirmasi COVID-19 di Amerika Serikat. CNBC melaporkan setidaknya 118.381 kasus di seluruh dunia. Infeksi SARS-CoV-2 melebihi angka satu juta di seluruh dunia Pada hari Kamis, total jumlah kasus infeksi virus korona SARS-CoV-2 melampaui satu juta di seluruh dunia, menurut data Johns Hopkins University. Setidaknya 52 ribu kematian dikaitkan dengan COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus korona. Puncaknya terjadi pada hari yang sama ketika Malawi mengonfirmasi infeksi virus korona pertamanya dan Zambia mengalami kematian pertamanya terkait virus korona. Korea Utara mengklaim, pada hari Kamis, bahwa negara tersebut adalah salah satu dari sedikit negara yang tetap terbebas dari infeksi virus korona. Hingga kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan 1.051.635 kasus terkonfirmasi, termasuk 79.332 kasus dalam dua puluh empat jam sejak pukul 10 pagi Waktu Eropa Tengah (0800 UTC) pada tanggal 4 April. Di Amerika Serikat (AS), tercatat ada lebih dari 244 ribu kasus virus korona, yang mengakibatkan setidaknya 5.900 kematian. Kantor Berita CBS melaporkan, yang mengutip data Johns Hopkins University, terdapat lebih dari 1.000 kematian di AS yang diakibatkan oleh infeksi virus korona. Di seluruh dunia, negara-negara mengumumkan tindakan yang lebih ketat untuk menghambat penyebaran penyakit. Pada hari Kamis, Sergei Sobyanin, walikota Moskow, memperpanjang karantina wilayah hingga tanggal 1 Mei. Secara Nasional, Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa warga Rusia akan tetap dibayar tanpa perlu pergi bekerja hingga tanggal 30 April. Parlemen Portugal melakukan pengambilan suara untuk memperpanjang status darurat nasional selama 15 hari; pengambilan suara tersebut lolos dengan 215 suara mendukung, sepuluh suara abstain, dan satu suara menolak. Arab Saudi memperpanjang jam malam di kota suci Mekkah dan Madinah hingga sepanjang hari; sebelumnya, jam malam tersebut hanya berlaku antara pukul 3 sore dan 6 pagi. Thailand berencana menerapkan jam malam antara pukul 10 malam dan 4 pagi. Gubernur Ohio, Mike DeWine, mengumumkan bahwa negara bagian tersebut telah memperpanjang perintah tinggal di rumah hingga tanggal 1 Mei. Toko-toko di Australia menurunkan batas pembelian tisu toilet per transaksi Pada hari Minggu dan Sabtu sore, jaringan toko Australia Woolworth dan Coles masing-masing menurunkan batasan pembelian tisu toilet hingga dua dan satu pak per transaksi di semua toko pada tingkat nasional. ALDI juga menerapkan batasan satu pak, pada hari Senin. Pembatasan ini diumumkan sebagai pesan di kasir dan di halaman Facebook jaringannya. Pembeli dilaporkan menumpuk persediaan akibat ketakutan COVID-19 kalau-kalau masyarakat harus melakukan isolasi mandiri. Pada hari Rabu, Woolworths juga membatasi pembelian tisu toilet untuk pengiriman ke rumah hingga satu pak per pesanan. Perubahan ini mengikuti pembatasan empat pak per transaksi yang sebelumnya diterapkan Woolworths dan Coles masing-masing pada 4 dan 5 Maret. Pada pernyataan medianya tanggal 8 Maret, Coles melaporkan bahwa dengan pemberlakukan pembatasan empat pak tersebut, "banyak toko masih kehabisan dalam satu jam sejak pengiriman", dan menyebut permintaan tersebut "belum pernah terjadi sebelumnya", sementara ALDI, dalam sebuah postingan Facebook pada hari Selasa, menyebutnya "tidak terduga". Penjualan "meningkat tajam" minggu lalu, menurut salah seorang juru bicara Woolworths. Toko Costco di Canberra juga membatasi jumlah yang diijinkan hingga dua pak minggu lalu. Untuk menghindari kelangkaan, Coles memesan kemasan lebih besar dari pemasok dan meningkatkan frekuensi pengiriman, Woolworths memesan persediaan tambahan, sementara ALDI membuat persediaan untuk kegiatan promosi Rabu istimewa tersedia lebih awal. Russell Zimmerman, direktur eksekutif Asosiasi Peritel Australia, mengatakan bahwa peritel mencoba meningkatkan persediaan, tetapi batasan badan pemerintah lokal untuk waktu pengiriman truk membuatnya sulit. Ia mengantisipasi kenaikan biaya produksi, selagi pemasok berusaha memenuhi permintaan, dan lebih sedikit promosi khusus. Pada hari Selasa, ALDI mengumumkan bahwa karena telah melepas persediaan lebih awal, beberapa toko tidak dapat mengadakan Rabu istimewa. Dalam sebuah laporan News.com.au, Dr Gary Mortimer, pakar ritel dari Queensland University of Technology, mengatakan toko mengisi persediaan tiap malam. Ia menekankan bahwa tisu toilet adalah barang yang bervolume besar sehingga jumlah persediaannya rendah dan, jika habis terjual, membuat banyak ruang kosong di rak-rak sehingga kelangkaan barang semakin terasa. Coles dan Woolworths berpendapat [bahwa] jika ada banyak barang di rak, jika produk seperti tisu toilet dan penyanitasi dapat [dibeli] dan ada dalam jumlah besar, kepanikan mungkin dapat diminimalkan, ujar Russel Zimmerman melalui Kantor Berita ABC. Produsen tisu toilet daur ulang Who Gives a Crap mengatakan pada hari Rabu yang lalu bahwa mereka kehabisan persediaan. Kimberly-Clark, yang membuat Tisu Toilet Kleenex, dan Solaris Paper, yang membuat Sorbent, menekankan mereka bekerja 24/7 untuk menjaga pasokan, menurut laporan News.com.au. Domain.com, sebuah situs real estat, melaporkan bahwa beberapa penjual properti menawarkan tisu toilet gratis kepada penawar pertama lelang di Melbourne, saat lebih sedikit lelang diadakan karena pembeli mengambil jeda untuk libur panjang akhir pekan Hari Buruh. Edisi Kamis NT News, sebuah harian yang dicetak di Darwin, menyertakan delapan halaman sisipan yang dimaksudkan untuk dipotong dan digunakan sebagai tisu toilet. Toko-toko sebetulnya enggan menerapkan batasan, menurut laporan ABC Australia pada 3 Maret, mereka mengatakan bahwa mereka tidak berencana untuk menerapkan batasan pembelian. Russell Zimmerman menambahkan bahwa produk lain juga dalam permintaan tinggi, termasuk masker, penyanitasi, makanan kering, sabun cuci tangan, dan tepung. Begitu pula di luar Australia, pada Minggu sore supermarket daring Inggris Ocado diamati membatasi pembelian tisu toilet Andres hingga dua pak berisi 12 gulung. Presiden AS Trump menyatakan darurat nasional COVID-19 Pada hari Jumat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan darurat nasional sebagai tanggapan terhadap berlanjutnya wabah koronavirus. Pergerakan ini datang dua hari setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah tersebut, yang menyebabkan penyakit COVID-19, sebagai pandemi. Pergerakan tersebut memberikan pemerintah federal akses terhadap sekitar US$50 miliar dana tambahan untuk memerangi pandemi, menurut kantor berita NBC. Pengumuman tersebut secara khusus menyebut "Wabah COVID-19 di Amerika Serikat merupakan suatu darurat nasional" dan mengatakan darurat nasional tersebut dimulai tanggal 1 Maret, hampir dua minggu sebelum pengumuman itu sendiri. Kementerian Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat menyatakan wabah itu sebagai "darurat kesehatan masyarakat" pada 31 Januari. Trump tidak menugaskan Federal Emergency Management Agency (FEMA) untuk bertanggung jawab dalam respons pemerintah terhadap COVID-19, yang dilaporkan Politico mengecewakan beberapa pakar dalam manajemen bencana. Politico mengutip Tim Manning, mantan wakil administrator di FEMA, yang mengatakan "FEMA memiliki peran penting dalam mengoordinasikan respons besar terhadap krisis" dan "jika ada suatu kedaruratan, FEMA perlu dilibatkan." Trump membuat keputusan tersebut berdasarkan ketentuan National Emergencies Act, di samping otoritas pemerintah yang lain. Pemerintahan Trump juga mengumumkan upaya lain sebagai tanggapan terhadap COVID-19, termasuk membebaskan bunga terhadap pinjaman mahasiswa kepada pemerintah federal dan meningkatkan pembelian minyak cadangan strategis AS. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi Pada hari Rabu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah COVID-19 yang sedang terjadi—penyakit yang disebabkan oleh koronavirus SARS-CoV-2—sebagai pandemi. Walaupun kata "pandemi" hanya mengacu pada seberapa luas penyakit telah menyebar, bukan seberapa berbahaya kasus tersebut, WHO mencatat perlunya mendorong pemerintah untuk bertindak: Semua negara masih dapat mengubah perjalanan pandemi ini. Jika negara mendeteksi, menguji, menangani, mengisolasi, dan memobilisasi rakyatnya sebagai respons, ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jendral WHO. Kami sangat waswas baik karena tingkat penyebaran dan keparahan yang menghawatirkan maupun karena tingkat kelambanan tindakan yang mengkhawatirkan. Menurut Dr. Tom Frieden, mantan direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat Amerika Serikat, pandemi ini "belum pernah terjadi sebelumnya." Ia mengatakan, dalam catatan yang dipublikasikan CNN pada bulan Februari, "selain influenza, tidak ada virus saluran pernapasan yang pernah dilacak dari kemunculannya hingga penyebaran global yang berkelanjutan." Ghebreyesus menyatakan pandangan serupa, dengan mengatakan "kita belum pernah melihat pandemi yang dipicu oleh koronavirus." Ia melanjutkan, "dan kita belum pernah melihat pandemi yang dapat dikendalikan pada waktu yang bersamaan." Status baru pandemi mengikuti keputusan WHO pada bulan Januari yang menyatakan wabah ini sebagai suatu kedaruratan kesahatan masyarakat yang meresahkan dunia. Direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease Amerika Serikat, Dr. Anthony Fauci, mengatakan mengenai wabah ini, "intinya, wabah ini akan memburuk." Hingga Kamis, Associated Press melaporkan terdapat setidaknya 126.000 kasus COVID-19 di seluruh dunia, yang mengakibatkan lebih dari 4.600 kematian. Pandemi koronavirus 2019-2020 adalah pandemi penyakit koronavirus 2019 (COVID-19) yang sedang berlanjut dan disebabkan oleh koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2). Wabah diidentifikasi di Wuhan, Tiongkok, pada Desember 2019, dinyatakan sebagai suatu Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia pada 30 Januari 2020, dan dinyatakan sebagai pandemi pada 11 Maret 2020. Hingga 10 April 2020, sekitar 1,61 juta kasus COVID-19 telah dilaporkan di 210 negara dan wilayah teritorial, yang mengakibatkan sekitar 97.000 kematian. Sekitar 364.000 orang telah sembuh. Angka fatalitas kasus diperkirakan 4% di Tiongkok, sementara di seluruh dunia berkisar mulai dari 13,04% hingga 0,08% di Selandia Baru. Gejala umum meliputi demam, batuk, dan sesak napas. Komplikasi dapat meliputi pneumonia dan sindrom gawat napas akut. Waktu sejak terpapar hingga awitan gejala pada umumnya sekitar lima hari, tetapi dapat berkisar mulai dari dua hingga empat belas hari. Belum ada vaksin yang diketahui atau pengobatan antivirus yang spesifik. Perawatan utama berupa terapi simptomatik dan suportif. Tindakan preventif yang direkomendasikan meliputi mencuci tangan, menutup mulut saat batuk, menjaga jarak dari orang lain, dan memantau serta isolasi mandiri bagi orang-orang yang diduga terinfeksi. Otoritas di seluruh dunia telah merespons dengan memberlakukan batasan bepergian, karantina, jam malam, pengendalian bahaya tempat kerja, dan penutupan fasilitas. Pandemi ini telah menyebabkan gangguan sosial ekonomi global yang berat, penundaan atau pembatalan kegiatan budaya, politik, keagamaan, olah raga, dan luasnya kelangkaan pasokan barang yang diperparah dengan pembelian panik. Sekolah dan universitas telah ditutup baik di tingkat nasional maupun lokal di 193 negara, yang memengaruhi sekitar 99,4 persen populasi pelajar di seluruh dunia. Misinformasi mengenai virus ini telah menyebar daring dan ada insiden xenofobia dan diskriminasi terhadap orang Tionghoa, orang dengan keturunan dan penampilan Asia Timur dan Tenggara, dan orang yang berasal dari area dengan kasus virus yang signifikan. Akibat pengurangan perjalanan dan penutupan industri berat, polusi udara dan emisi karbon menurun. Otoritas kesehatan di Wuhan, Tiongkok (ibukota propinsi Hubei), melaporkan klaster kasus pneumonia dengan penyebab tidak dikenal pada 31 Desember 2019 dan penyelidikan dilakukan pada awal Januari 2020. Kasus-kasus tersebut sebagian besar terkait dengan Pasar Grosir Makanan Laut Huanan dan karena itu virus tersebut diduga memiliki asal zoonotik. Virus yang menyebabkan wabah disebut SARS-CoV-2, virus yang baru ditemukan dan berkerabat dengan koronavirus kelelawar, koronavirus tenggiling, dan SARS-CoV. Orang pertama dengan gejala kemudian diketahui jatuh sakit pada 1 Desember 2019, dan orang tersebut tidak memiliki keterkaitan yang jelas dengan klaster pasar basah yang disebutkan kemudian. Di antara klaster kasus awal yang dilaporkan pada Desember 2019, dua-pertiga didapati memiliki kaitan dengan pasar tersebut. Pada 13 Maret 2020, sebuah laporan yang belum terverifikasi dari South China Morning Post memperkirakan bahwa sebuah kasus yang dapat ditelusuri ke tanggal 17 November 2019, pada seorang berusia 55 tahun dari provinsi Hubei, kemungkinan adalah yang pertama. Pada 26 Februari 2020, WHO melaporkan bahwa, dengan kasus baru dilaporkan menurun di Tiongkok, tetapi tiba-tiba meningkat di Italia, Iran, dan Korea Selatan, jumlah kasus baru di luar Tiongkok telah melampaui jumlah kasus baru di dalam Tiongkok untuk pertama kalinya. Mungkin terdapat sejumlah besar kasus yang tidak dilaporkan, khususnya di antara orang dengan gejala yang lebih ringan. Hingga 26 Februari, relatif sedikit jumlah kasus yang dilaporkan di antara pemuda, dengan orang berumur 19 tahun ke bawah membentuk 2,4% kasus di seluruh dunia. Kepala penasihat ilmiah Inggris Raya, Patrick Vallance, memperkirakan bahwa 60% populasi Inggris perlu terinfeksi sebelum kekebalan kelompok dapat tercapai. Kasus mengacu pada jumlah orang yang telah diuji COVID-19 dan yang hasil ujinya telah dikonfirmasi positif menurut protokol resmi. Hingga 23 Maret, belum ada negara yang menguji lebih dari 3% populasinya, dan banyak negara telah membuat kebijakan resmi untuk tidak menguji orang dengan gejala ringan, seperti Italia, Belanda, Spanyol, dan Swiss. Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 16 Maret menemukan bahwa di Tiongkok, hingga 23 Januari, diperkirakan 86% infeksi COVID-19 tidak terdeteksi, dan bahwa infeksi yang tidak terdokumentasi ini adalah sumber infeksi bagi 79% kasus yang terdokumentasi. Sebuah analisis statistik yang dipublikasikan pada 30 Maret memperkirakan bahwa angka infeksi di Italia diperkirakan lebih besar daripada kasus yang dilaporkan. Perkiraan awal dari angka reproduksi dasar (R0) untuk COVID-19 adalah 1,4 hingga 2,4. Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menyimpulkan bahwa angka tersebut kemungkinan 5,7. Kebanyakan penderita COVID-19 sembuh. Untuk yang tidak sembuh, waktu sejak perkembangan gejala hingga kematian antara 6 dan 41 hari, dengan yang paling umum 14 hari. Sejak 10 April 2020, sekitar 97.000 kematian dikaitkan dengan COVID-19. Di Tiongkok, hingga 5 Februari, sekitar 80% kematian terjadi pada orang berusia di atas 60 tahun dan 75% memiliki gangguan kesehatan yang sudah ada sebelumnya, yang meliputi penyakit kardiovaskular dan diabetes. Perhitungan kematian resmi akibat pandemi COVID-19 secara umum mengacu pada orang meninggal yang memberi hasil uji positif untuk COVID menurut protokol resmi. Angka fatalitas yang sebenarnya akibat COVID-19 mungkin jauh lebih tinggi, mengingat angka resmi kemungkinan tidak menyertakan orang yang meninggal tanpa diuji, misalnya, di rumah, di rumah perawatan, dsb. Data parsial dari Italia menemukan bahwa jumlah kelebihan angka kematian selama pandemi melampaui perhitungan kematian COVID resmi dengan faktor 4-5 kali lipat. Seorang juru bicara wanita untuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mengakui, "Kami tahu [jumlah kematian yang diumumkan] itu lebih rendah daripada angka sebenarnya", sebuah pernyataan yang dikuatkan oleh laporan nonilmiah tentang perhitungan terlalu rendah di AS. Perhitungan yang terlalu rendah sering muncul dalam pandemi, seperti pada epidemi flu babi H1N1 tahun 2009. Kematian pertama terkonfirmasi adalah di Wuhan pada 9 Januari 2020. Kematian pertama di luar Tiongkok daratan terjadi pada 1 Februari di Filipina, dan kematian pertama di luar Asia adalah di Prancis pada 14 Februari. Hingga 28 Februari, di luar Tiongkok daratan, lebih dari selusin kematian dicatat masing-masing di Iran, Korea Selatan, dan Italia. Hingga 13 Maret, lebih dari empat puluh negara dan wilayah teritorial telah melaporkan kematian, di setiap benua, kecuali Antartika. Pada umumnya, beberapa pengukuran digunakan untuk menghitung mortalitas. Angka ini bervariasi berdasarkan wilayah dan seiring waktu, serta dipengaruhi oleh jumlah pengujian, kualitas sistem perawatan kesehatan, opsi penanganan, waktu sejak wabah pertama, dan karakter populasi seperti usia, jenis kelamin, dan kesehatan secara keseluruhan. Rasio kematian terhadap kasus mencerminkan jumlah kematian dibagi jumlah kasus terdiagnosis dalam suatu interval waktu yang ditentukan. Menurut statistik Johns Hopkins University, rasio kematian terhadap kasus secara global adalah 6,0% (97.039/1.617.204) per 10 April 2020. Angka ini bervariasi menurut wilayah. Di Tiongkok, perkiraan rasio kematian terhadap kasus menurun dari 17,3% (untuk orang dengan awitan gejala 1-10 Januari 2020) menjadi 0,7% (untuk orang dengan awitan gejala setelah 1 Februari 2020).Pengukuran lain meliputi angka fatalitas kasus (CFR), yang mencerminkan persentase orang terdiagnosis yang meninggal akibat penyakit tertentu, dan angka fatalitas infeksi (IFR), yang mencerminkan persentase orang terinfeksi (terdiagnosis dan tidak terdiagnosis) yang meninggal akibat penyakit tertentu. Statistik ini tidak terikat waktu dan mengikuti suatu populasi tertentu mulai dari infeksi hingga resolusi kasus. Sejumlah akademisi telah mencoba menghitung angka-angka ini untuk populasi tertentu. Centre for Evidence-Based Medicine University of Oxford memperkirakan angka fatalitas infeksi untuk pandemi secara keseluruhan antara 0,1% dan 0,39%. Batas atas rentang perkiraan ini sejalan dengan hasil dari pengujian acak pertama untuk COVID-19 di Jerman dan sebuah penelitan statistik yang menganalisis dampak pegujian pada perkiraan CFR. WHO menegaskan bahwa pandemi ini dapat dikendalikan. Puncak dan akhir durasi wabah ini tidak jelas dan mungkin berbeda menurut lokasi. Maciej Boni dari Penn State University menyatakan, "Tanpa dikendalikan pun, wabah menular biasanya mendatar dan kemudian mulai menurun saat penyakit itu kehabisan inang yang tersedia. Namun, hampir tidak mungkin untuk membuat proyeksi yang masuk akal saat ini tentang kapan hal itu terjadi". Penasihat medis senior pemerintah Tiongkok Zhong Nanshan berpendapat bahwa " wabah ini mungkin berakhir Juni" jika seluruh negara dapat dimobilisasi untuk mengikuti saran WHO mengenai langkah-langka untuk menghentikan penyebaran virus. Pada 17 Maret, Adam Kucharski dari London School of Hygiene & Tropical Medicine menyatakan bahwa SRS-CoV-2 "akan terus beredar, kemungkinan hingga satu atau dua tahun." Menurut penelitian Imperial College yang dipimpin oleh Neil Ferguson, pembatasan fisik dan langkah-langkah lain akan diperlukan "hingga vaksin tersedia (kemungkinan 18 bulan atau lebih)." William Schaffner dari Vanderbilt University menyatakan, "Saya rasa kecil kemungkinan bahwa koronavirus ini, karena sangat mudah ditransmisikan, dapat menghilang seluruhnya" dan penyakit ini "mungkin berubah menjadi penyakit musiman, yang datang kembali setiap tahun." Virulensi pengulangan akan tergantung pada kekebalan kelompok dan tingkat mutasi. Gejala COVID-19 bisa relatif tidak spesifik dan orang yang terinfeksi bisa tanpa gejala. Dua gejala paling umum adalah demam (88%) dan batuk kering (68%). Gejala yang kurang umum meliputi kelelahan, produksi sputum pernapasan (flegma), hilangnya daya penciuman, sesak napas, nyeri sendi dan otot, nyeri tenggorokan, sakit kepala, menggigil, muntah, hemoptisis, diare, atau sianosis. WHO menyatakan bahwa sekitar satu di antara enam orang menjadi sakit parah dan mengalami kesulitan bernapas. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mencantumkan gejala darurat meliputi kesulitan bernapas, dada tertekan atau nyeri dada menetap, kebingungan mendadak, kesulitan berjalan, dan kebiruan pada wajah dan bibir; perhatian medis segera disarankan jika gejala-gejala ini muncul. Perkembangan penyakit lebih lanjut dapat menjadi pneumonia parah, sindrome gawat napas akut, sepsis, syok septik, dan kematian. Beberapa orang yang terinfeksi mungkin asimtomatik, yakni tanpa gejala klinis, tetapi dengan hasil tes yang mengonfirmasi infeksi, karena itu, peneliti menyarankan agar mereka yang kontak dekat dengan orang yang terkonfirmasi terinfeksi harus dipantau ketat dan diperiksa untuk memastikan tidak terinfeksi. Orang Tionghoa memperkirakan rasio asimtomatik berkisar dari beberapa hingga 44%. Periode inkubasi (waktu antara infeksi dan awitan gejala) biasanya berkisar antara 1 hingga 14 hari, paling sering 5 hari. Sebagai contoh ketidakpastian, perkiraan jumlah penderita COVID-19 yang kehilangan daya penciuman awalnya 30%, lalu menurun menjadi 15%. Perincian tentang cara penyakit ini menyebar masih diteliti. Penyebaran COVID-19 diyakini terutama terjadi pada waktu kontak dekat dan melalui droplet kecil yang dihasilkan sewaktu batuk, bersin, atau berbicara; kontak dekat adalah kontak dalam jarak 1 hingga 2 meter (3 sampai 6 kaki). Penelitian menemukan bahwa batuk yang tidak ditutupi dapat menyebabkan droplet terdorong 4,5 meter (15 kaki) hingga 8,2 meter (27 kaki). Beberapa peneliti memperkirakan virus mungkin juga dapat ditularkan oleh droplet kecil yang bertahan lebih lama di udara dan dihasilkan ketika berbicara. Droplet pernapasan juga dapat dihasilkan saat mengembuskan napas, termasuk saat berbicara, meskipun virus ini umumnya tidak ditularkan melalui udara. Droplet dapat jatuh di mulut atau hidung orang yang berada di dekatnya atau mungkin terhirup ke dalam paru-paru. Beberapa prosedur medis, seperti intubasi dan resusitasi jantung paru (RJP), bisa membuat sekret pernapasan berubah menjadi aerosol lalu tersebar lewat udara. Penyebaran juga dapat terjadi saat seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi, termasuk kulit, lalu menyentuh mata, hidung, dan mulut. Walaupun ada kekhawatiran bahwa virus dapat menyebar melalui feses, risiko ini diyakini rendah. Pemerintah Tiongkok menampik kemungkinan transmisi SARS-CoV-2 secara fekal-oral.Virus paling menular dalam tiga hari pertama setelah awitan gejala, meskipun penyebaran mungkin terjadi sebelum gejala kelihatan dan pada tahap penyakit yang lebih lanjut. Orang memberi hasil uji positif hingga tiga hari sebelum awitan gejala, yang mengisyaratkan transmisi mungkin terjadi sebelum adanya gejala yang signifikan. Hanya sedikit laporan kasus asimtomatik yang terkonfirmasi secara laboratorium, tetapi penularan asimtomatik telah diidentifikasi oleh beberapa negara sewaktu penyelidikan penelusuran kontak. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menyatakan bahwa meskipun belum jelas sepenuhnya seberapa mudah penyakit ini menyebar, satu orang umumnya menginfeksi dua hingga tiga orang lain. Virus ini dapat bertahan di permukaan selama berjam-jam hingga berhari-hari. Khususnya, ditemukan bahwa virus dapat dideteksi hingga tiga hari pada plastik (polipropilen) dan baja tahan karat 304, satu hari pada kardus, dan lebih dari empat jam pada tembaga. Namun, hal ini bervariasi tergantung pada kelembapan dan suhu. Hewan peliharaan dan hewan lainnya telah diuji positif COVID-19. Tidak ada bukti bahwa hewan dapat menularkan virus kepada manusia, meskipun otoritas Inggris menyarankan untuk mencuci tangan setelah kontak dengan hewan, seperti setelah kontak dengan permukaan yang mungkin sudah disentuh orang yang terinfeksi. Koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2) adalah virus baru, pertama kali diisolasi dari tiga orang penderita pneumonia yang terkait dengan klaster kasus penyakit pernapasan akut di Wuhan. Semua ciri virus SARS-CoV-2 baru terkait dengan koronavirus di alam. Di luar tubuh manusia, virus ini dapat hancur jika terkena sabun rumah tangga, yang melarutkan amplop pelindungnya. SARS-CoV-2 berkerabat erat dengan SARS-CoV awal. Virus diperkirakan memiliki asal zoonotik. Analisis genetik mengungkapkan bahwa koronavirus secara genetik terklaster dengan genus Betacoronavirus, dalam subgenus Sarbecovirus (garis keturunan B) bersama dengan dua galur turunan kelelawar. Virus ini memiliki kesamaan 96% di tingkat seluruh genom dengan sampel koronavirus kelelawar lainnya (BatCov RaTG13). Pada Februari 2020, peneliti Tionghoa menemukan bahwa hanya ada perbedaan satu asam amino di bagian-bagian tertentu sekuens genom antara virus tenggiling dan virus manusia. Hingga saat ini, perbandingan seluruh genom menemukan paling banyak terdapat 92% kesamaan materi genetik antara koronavirus tenggiling dan SARS-CoV-2, tidak cukup untuk membuktikan bahwa tenggiling adalah inang perantara SARS-CoV-2. Infeksi oleh virus dapat didiagnosis sementara berdasarkan gejala, tetapi konfirmasi pada akhirnya dilakukan melalui reaksi rantai polimerase transkripsi balik (rRT-PCR) pada sekret yang terinfeksi atau memalui pencitraan CT. Sebuah penelitian yang membandingkan antara PCR dengan CT di Wuhan menunjukkan bahwa CT secara signifikan lebih sensitif daripada PCR, tetapi kurang spesifik, dengan banyaknya fitur pencitraan yang tumpang tindih dengan pneumonia dan proses penyakit lainnya. Pada Maret 2020, American College of Radiology merekomendasikan "CT tidak boleh digunakan untuk penapisan atau sebagai uji lini pertama dalam mendiagnosis COVID-19." WHO telah menerbitkan beberapa protokol pengujian RNA untuk SARS-CoV-2, yang diedarkan pertama kali pada 17 Januari. Pengujian menggunakan reaksi rantai polimerase transkripsi balik real-time (rRT-PCR). Pengujian dapat dilakukan pada sampel pernapasan atau darah. Hasil umumnya tersedia dalam beberapa jam hingga beberapa hari. Umumnya, uji ini dilakukan pada usap nasofaring, tetapi usap tenggorokan juga dapat digunakan. Sejumlah laboratorium dan perusahaan sedang mengembangkan uji serologis yang mendeteksi antibodi. Per 6 April 2020, tidak satu pun uji serologis ini terbukti cukup akurat untuk disetujui penggunaannya secara luas. Di AS, uji serologis yang dikembangkan oleh Cellex telah disetujui untuk penggunaan darurat, hanya oleh laboratorium yang disertifikasi. Karakteristik fitur pencitraan radiografi dan tomografi terkomputasi (CT) pada orang yang simtomatik mencakup opasitas ground glass perifer asimetri dan tidak ada efusi pleura. Italian Radiological Society sedang menyusun basis data daring internasional untuk temuan pencitraan pada kasus terkonfirmasi. Karena tumpang tindih dengan infeksi lain seperti adenovirus, pencitraan tanpa konfirmasi PCR memiliki spesifisitas terbatas dalam mengidentifikasi COVID-19. Sebuah penelitian besar di Tiongkok membandingkan hasil CT dada dengan PCR dan menunjukkan bahwa meskipun kurang spesifik untuk infeksi, pencitraan lebih cepat dan lebih sensitif sehingga disarankan untuk dipertimbangkan sebagai alat penapisan di daerah epidemi. Jaringan neural konvolusi berbasis kecerdasan buatan telah dikembangkan untuk mendeteksi fitur pencitraan virus dengan radiografi dan CT. Strategi untuk mencegah penularan penyakit ini mencakup menjaga kebersihan pribadi yang baik secara komprehensif, mencuci tangan, menghindari menyentuh mata, hidung, atau mulut sebelum mencuci tangan, dan memakai tisu saat batuk atau bersin serta langsung membuang tisu ke tempat sampah. Orang yang mungkin sudah terinfeksi disarankan untuk memakai masker bedah di tempat umum. Langkah-langkah pembatasan fisik juga direkomendasikan untuk mencegah penularan. Pemerintah di berbagai wilayah telah membatasi atau mengimbau untuk menghentikan semua perjalanan nonesensial ke dan dari negara dan daerah yang terkena dampak wabah. Namun, virus telah mencapai tahap penyebaran skala masyarakat di sebagian besar wilayah di dunia. Ini berarti bahwa virus telah menyebar di masyarakat, dan beberapa anggota masyarakat tidak tahu di mana atau bagaimana mereka terinfeksi. Penyedia perawatan kesehatan yang menangani orang yang mungkin terinfeksi disarankan untuk melakukan tindakan pencegahan standar, tindakan pencegahan kontak, dan pelindung mata. Pelacakan kontak merupakan langkah penting bagi otoritas kesehatan untuk menentukan sumber infeksi dan mencegah penularan lebih lanjut. Penggunaan data lokasi dari ponsel oleh pemerintah untuk tujuan ini telah memicu masalah privasi, dengan keluarnya pernyataan dari Amnesty International dan lebih dari 100 organisasi lainnya yang menyerukan pembatasan surveilans semacam ini. Berbagai aplikasi seluler telah diimplementasikan atau diusulkan untuk digunakan secara sukarela, dan pada 7 April 2020, lebih dari selusin kelompok pakar mengerjakan solusi ramah privasi, seperti menggunakan Bluetooth untuk mencatat kedekatan jarak pengguna ke ponsel lain. Selanjutnya, pengguna akan menerima pesan jika mereka berdekatan dengan seseorang yang teruji positif untuk COVID-19.Beredar kesalahpahaman tentang cara mencegah infeksi; sebagai contoh, membilas hidung dan berkumur dengan obat kumur tidak efektif. Belum ada vaksin COVID-19, meskipun banyak organisasi sedang bekerja untuk mengembangkannya. Mencuci tangan dianjurkan untuk mencegah penyebaran penyakit. CDC merekomendasikan agar orang sering mencuci tangan dengan sabun dan air selama setidaknya dua puluh detik, terutama setelah dari toilet atau ketika tangan terlihat kotor; sebelum makan; serta setelah mengembus hidung, batuk, atau bersin. Anjuran ini karena, di luar tubuh manusia, virus dibunuh oleh sabun rumah tangga yang merusak lapisan pelindungnya. Lebih lanjut, CDC merekomendasikan penggunaan penyanitasi tangan berbasis alkohol dengan kandungan alkohol sedikitnya 60% berdasarkan volume ketika sabun dan air tidak tersedia. WHO menganjurkan agar orang tidak menyentuh mata, hidung, atau mulut sebelum mencuci tangan. Permukaan dapat didekontaminasi menggunakan sejumlah larutan (dalam satu menit paparan disinfektan untuk permukaan baja tahan karat), termasuk etanol 62–71%, isopropanol 50–100%, natrium hipoklorit 0,1%, hidrogen peroksida 0,5%, dan povidone-iodine 0,2–7,5%. Larutan lain, seperti benzalkonium klorida dan klorheksidin glukonat, kurang efektif. CDC merekomendasikan bahwa jika terdapat kasus COVID terduga atau terkonfirmasi di fasilitas umum, seperti kantor atau tempat penitipan anak, semua area seperti kantor, kamar mandi, area umum, peralatan elektronik bersama seperti tablet, layar sentuh, keyboard, remote control, dan mesin ATM yang digunakan oleh penderita, harus didisinfeksi. Organisasi kesehatan merekomendasikan agar orang menutupi mulut dan hidung mereka dengan siku yang ditekuk atau menggunakan tisu ketika batuk atau bersin, lalu segera membuang tisu. Masker bedah direkomendasikan bagi orang yang mungkin telah terinfeksi sebab memakai masker dapat membatasi volume dan jarak tempuh droplet ekspiratori yang tersebar saat berbicara, bersin, dan batuk. WHO telah mengeluarkan instruksi tentang waktu dan cara pemakaian masker. Menurut Stephen Griffin, seorang ahli virologi di University of Leeds, "Memakai masker dapat mengurangi kecenderungan orang untuk menyentuh wajah dengan tangan yang tidak cukup bersih, yang merupakan sumber penularan utama."Masker juga direkomendasikan untuk dipakai oleh orang yang merawat orang lain yang mungkin menderita penyakit ini. WHO merekomendasikan penggunaan masker oleh orang sehat hanya jika mereka berisiko tinggi, seperti orang yang merawat penderita COVID-19, meskipun WHO juga mengakui bahwa memakai masker dapat membantu mencegah orang menyentuh wajah mereka. Beberapa negara sudah mulai mendorong penggunaan masker kepada anggota masyarakat. Di AS, CDC merekomendasikan penggunaan masker wajah nonmedis yang terbuat dari kain. Tiongkok secara spesifik merekomendasikan penggunaan masker medis sekali pakai kepada masyarakat yang sehat, terutama ketika berdekatan (1 meter (3 kaki) atau kurang) dengan orang lain. Hong Kong merekomendasikan pemakaian masker bedah saat menggunakan angkutan umum atau tinggal di tempat yang ramai. Pejabat kesehatan Thailand menganjurkan orang untuk membuat masker kain di rumah dan mencucinya setiap hari. Republik Ceko dan Slovakia melarang masyarakatnya keluar ke tempat umum tanpa mengenakan masker atau menutupi hidung dan mulut. Pada 16 Maret, Vietnam meminta semua warganya untuk mengenakan masker wajah saat pergi ke tempat umum untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Pemerintah Austria mengharuskan setiap orang yang memasuki toserba untuk mengenakan masker wajah. Israel meminta semua warganya untuk memakai masker wajah saat berada di tempat umum. Taiwan, yang memproduksi sepuluh juta masker per hari sejak pertengahan Maret, mewajibkan penumpang kereta api dan bus antarkota mengenakan masker wajah per 1 April. Panama mewajibkan penggunaan masker wajah setiap kali ke luar rumah, serta merekomendasikan pembuatan masker wajah buatan sendiri bagi mereka yang tidak dapat membeli masker wajah. Masker wajah juga digunakan secara luas di Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura. Pembatasan sosial (yang disebut juga pembatasan fisik) merupakan tindakan pengendalian infeksi yang dimaksudkan untuk memperlambat penyebaran penyakit dengan meminimalkan kontak dekat antar individu. Metode pembatasan sosial meliputi karantina; pembatasan perjalanan; serta penutupan sekolah, tempat kerja, stadion, teater, atau pusat perbelanjaan. Orang dapat menerapkan metode pembatasan sosial dengan tinggal di rumah, membatasi perjalanan, menghindari daerah ramai, menggunakan salam tanpa kontak, dan menjaga jarak fisik dari orang lain. Saat ini, banyak pemerintahan mewajibkan atau mengimbau pembatasan sosial di daerah yang terdampak wabah. Jumlah maksimum orang berkumpul yang direkomendasikan oleh badan-badan pemerintah AS dan organisasi kesehatan dengan cepat dikurangi, mulai dari 250 orang (jika tidak diketahui adanya sebaran COVID-19 di suatu wilayah) menjadi 50 orang, dan kemudian menjadi 10 orang. Pada 22 Maret 2020, Jerman melarang pertemuan di area publik yang melibatkan lebih dari dua orang. Lansia dan orang dengan kondisi medis mendasari seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit pernapasan, hipertensi, dan sistem imun terganggu yang memiliki risiko penyakit serius dan komplikasi lebih tinggi disarankan CDC untuk sebisa mungkin di rumah saja di daerah yang mengalami wabah di tingkat masyarakat. Pada akhir Maret 2020, WHO dan badan kesehatan lainnya mulai mengganti penggunaan istilah "pembatasan sosial" menjadi "pembatasan fisik", untuk memperjelas bahwa tujuannya adalah untuk mengurangi kontak fisik dengan tetap menjaga hubungan sosial, baik secara virtual atau dari jarak jauh. Penggunaan istilah "pembatasan sosial" memberi kesan bahwa orang harus mengisolasi diri sepenuhnya secara sosial dan tidak mendorong orang untuk tetap berhubungan dengan orang lain melalui cara-cara alternatif. Beberapa otoritas telah mengeluarkan pedoman kesehatan seksual untuk digunakan selama masa pandemi. Rekomendasi ini mencakup anjuran untuk berhubungan seks hanya dengan orang yang tinggal bersama Anda dan tidak memiliki virus atau gejala virus. Isolasi mandiri di rumah direkomendasikan bagi orang yang didiagnosis menderita COVID-19 dan orang yang diduga terinfeksi. Badan-badan kesehatan telah mengeluarkan instruksi terperinci untuk isolasi mandiri yang benar. Banyak pemerintah mewajibkan atau merekomendasikan karantina mandiri untuk seluruh populasi yang tinggal di daerah yang terdampak. Instruksi karantina mandiri paling ketat dikeluarkan bagi orang-orang yang termasuk kelompok berisiko tinggi. Orang yang mungkin terpapar penderita COVID-19 dan orang yang baru-baru ini bepergian ke negara atau wilayah dengan penyebaran COVID-19 yang luas disarankan untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari sejak waktu kemungkinan paparan terakhir. Strategi dalam pengendalian wabah adalah pembendungan atau supresi, serta mitigasi. Pembendungan dilakukan pada tahap awal wabah dan bertujuan untuk melacak dan mengisolasi orang yang terinfeksi serta melakukan langkah-langkah lain untuk pengendalian infeksi dan vaksinasi yang bertujuan menghentikan penyebaran penyakit ke seluruh populasi. Ketika tidak mungkin lagi untuk membendung penyebaran penyakit, upaya selanjutnya beralih ke tahap mitigasi: langkah-langkah ini diambil untuk memperlambat penyebaran dan mengurangi dampaknya pada sistem perawatan kesehatan dan masyarakat. Kombinasi tindakan pembendungan dan mitigasi dapat dilakukan pada saat yang bersamaan. Supresi membutuhkan langkah-langkah yang lebih ekstrem untuk membalikkan pandemi dengan mengurangi angka reproduksi dasar menjadi kurang dari 1.Bagian dari pengelolaan wabah penyakit menular adalah berusaha untuk menurunkan puncak epidemi, yang dikenal dengan melandaikan kurva epidemi. Hal ini menurunkan risiko kewalahan pada layanan kesehatan dan memberikan lebih banyak waktu untuk pengembangan vaksin dan pengobatan. Intervensi nonfarmasi untuk menangani wabah meliputi tindakan pencegahan individu, seperti kebersihan tangan, memakai masker wajah, dan karantina mandiri; langkah-langkah di tingkat masyarakat yang ditujukan untuk pembatasan fisik, seperti menutup sekolah dan membatalkan acara pertemuan massal; pelibatan masyarakat untuk mendorong penerimaan dan partisipasi dalam intervensi semacam ini; serta langkah-langkah di tingkat lingkungan, seperti pembersihan permukaan. Tindakan drastis lainnya yang bertujuan untuk membendung wabah dilakukan di Tiongkok saat keparahan wabah semakin nyata, seperti mengarantina seluruh kota dan memberlakukan larangan perjalanan yang ketat. Negara-negara lain juga menerapkan berbagai langkah yang bertujuan untuk membatasi penyebaran virus. Korea Selatan memperkenalkan penapisan massal dan karantina setempat, serta mengeluarkan peringatan tentang pergerakan orang yang terinfeksi. Singapura memberikan dukungan finansial bagi orang terinfeksi yang melakukan karantina mandiri dan mengenakan denda besar bagi orang yang gagal melakukannya. Taiwan meningkatkan produksi masker wajah dan menghukum penimbun persediaan medis. Simulasi untuk Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa mitigasi (memperlambat, tetapi tidak menghentikan penyebaran epidemi) dan supresi (membalikkan pertumbuhan epidemi) memiliki tantangan besar. Kebijakan mitigasi yang optimal dapat mengurangi puncak permintaan akan perawatan kesehatan hingga 2/3 dan kematian hingga setengahnya, tetapi masih mengakibatkan ratusan ribu kematian dan sistem kesehatan yang kewalahan. Supresi bisa dipilih, tetapi perlu dipertahankan selama virus masih beredar di populasi manusia (atau sampai vaksin tersedia, jika ini yang pertama dicapai), karena jika tidak, penularan akan melonjak kembali dengan cepat saat langkah-langkah supresi dikendurkan. Intervensi jangka panjang untuk menekan pandemi membawa dampak pada sosial dan ekonomi. Belum ada obat antivirus spesifik yang disetujui untuk COVID-19, tetapi upaya pengembangan sedang dilakukan, yang mencakup pengujian obat yang sudah ada. Mengonsumsi obat flu yang dijual bebas, minum cukup air, dan istirahat dapat membantu meringankan gejala. Tergantung pada tingkat keparahan, terapi oksigen, cairan intravena, dan dukungan pernapasan mungkin dibutuhkan. Penggunaan steroid dapat memperburuk kondisi pasien. Beberapa senyawa yang sebelumnya disetujui untuk pengobatan penyakit virus lain sedang diteliti untuk digunakan dalam mengobati COVID-19. WHO juga menyatakan bahwa beberapa "pengobatan tradisional dan rumahan" dapat meredakan gejala yang disebabkan oleh SARS-CoV-19. WHO mengatakan bahwa meningkatkan kapasitas dan mengadaptasi layanan kesehatan untuk kebutuhan pasien COVID-19 merupakan langkah dasar dalam merespon wabah. ECDC dan kantor WHO regional Eropa telah mengeluarkan pedoman untuk rumah sakit dan layanan kesehatan primer supaya mengalihkan sumber daya di berbagai tingkatan, termasuk memfokuskan layanan laboratorium untuk pengujian COVID-19, jika memungkinkan membatalkan prosedur elektif, memisahkan dan mengisolasi pasien positif COVID-19, serta meningkatkan kemampuan perawatan intensif dengan melatih personel serta meningkatkan jumlah ventilator dan tempat tidur. Ada berbagai teori tentang asal kasus pertama (yang disebut pasien nol). Kasus koronavirus baru yang pertama diketahui dapat ditelusuri ke tanggal 1 Desember 2019 di Wuhan, Hubei, Tiongkok. Dalam sebulan, jumlah kasus koronavirus di Hubei meningkat secara bertahap. Kasus-kasus ini sebagian besar terkait dengan Pasar Grosir Makanan Laut Huanan, yang juga menjual hewan hidup, dan satu teori mengatakan bahwa virus berasal dari salah satu jenis hewan ini; atau, dengan kata lain, virus memiliki asal zoonotik. Sebuah klaster pneumonia dengan penyebab tidak dikenal teramati pada 26 Desember dan ditangani oleh dokter Zhang Jixian di Rumah Sakit Provinsi Hubei, yang memberi tahu CDC Jianghan Wuhan pada 27 Desember. Pada 30 Desember, sekelompok dokter di Rumah Sakit Pusat Wuhan memberi tahu rekan mereka tentang "koronavirus mirip SARS". Delapan dari dokter ini, termasuk Li Wenliang, diperingatkan oleh polisi karena menyebarkan desas-desus palsu, dan yang lain, Ai Fen, ditegur oleh atasannya karena peringatan yang dikeluarkannya. Komisi Kesehatan Kota Wuhan kemudian mengeluarkan pengumuman kepada publik pada 31 Desember dan memberi tahu WHO. Cukup banyak kasus pneumonia tidak dikenal dilaporkan kepada otoritas kesehatan di Wuhan yang kemudian memicu penyelidikan pada awal Januari. Pada tahap awal wabah, jumlah kasus meningkat dua kali lipat setiap tujuh setengah hari. Pada awal dan pertengahan Januari 2020, virus menyebar ke provinsi-provinsi Tiongkok yang lain, didukung oleh migrasi saat Tahun Baru Imlek dan karena Wuhan merupakan pusat transportasi dan tempat transit kereta api utama. Pada 20 Januari, Tiongkok melaporkan hampir 140 kasus baru dalam sehari, termasuk dua orang di Beijing dan satu orang di Shenzhen. Data resmi selanjutnya menunjukkan bahwa 6.174 orang telah mengalami gejala pada 20 Januari 2020.Per 26 Maret, Amerika Serikat telah melampaui Tiongkok dan Italia dengan jumlah kasus terkonfirmasi tertinggi di dunia. Hingga 9 April 2020, lebih dari 1,61 juta kasus telah dilaporkan di seluruh dunia; lebih dari 97.000 orang meninggal dunia dan lebih dari 364.000 sembuh. Sekitar 200 negara dan wilayah teritorial memiliki setidaknya satu kasus. Karena pandemi di Eropa, banyak negara di Wilayah Schengen membatasi pergerakan bebas dan membuat kontrol perbatasan. Tanggapan nasional meliputi langkah-langkah pembendungan, seperti karantina (dikenal sebagai perintah tinggal di rumah, perintah berlindung di tempat, atau karantina wilayah) dan jam malam. Pada 2 April, hampir 300 juta orang, atau sekitar 90% populasi, berada dalam sejenis karantina wilayah di Amerika Serikat, lebih dari 50 juta orang dikarantina wilayah di Filipina, sekitar 59 juta orang dikarantina wilayah di Afrika Selatan, dan 1,3 miliar orang dikarantina wilayah di India. Pada 26 Maret, 1,7 miliar orang di seluruh dunia berada dalam sejenis kondisi karantina wilayah, yang meningkat menjadi 2,6 miliar orang dua hari kemudian, yakni sekitar sepertiga dari populasi dunia. Kasus COVID-19 terkonfirmasi pertama dapat ditelusuri kembali ke tanggal 1 Desember 2019 di Wuhan; satu laporan yang belum terkonfirmasi menunjukkan kasus paling awal pada 17 November. Dokter Zhang Jixian mengamati klaster kasus pneumonia dengan penyebab tidak dikenal pada 26 Desember; pengamatan ini diberitahukan rumah sakitnya kepada CDC Jianghan pada 27 Desember. Pengujian genetik awal sampel pasien pada 27 Desember 2019 mengindikasikan adanya koronavirus mirip SARS. Pengumuman kepada publik dirilis oleh Komisi Kesehatan Kota Wuhan pada 31 Desember. WHO diberi tahu pada hari yang sama. Ketika pemberitahuan ini dilaksanakan, dokter di Wuhan diperingatkan oleh polisi karena "menyebarkan desas-desus" tentang wabah tersebut. Komisi Kesehatan Nasional Republik Rakyat Tiongkok pada awalnya mengklaim bahwa tidak ada "bukti jelas" penularan dari manusia ke manusia. Pada akhir Januari, pemerintah Tiongkok meluncurkan kampanye radikal yang kemudian dijelaskan oleh sekretaris jenderal Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping sebagai "perang rakyat" untuk membendung penyebaran virus. Dalam karantina yang disebut sebagai "karantina terbesar dalam sejarah manusia", cordon sanitaire atau pembatas kebersihan diumumkan pada 23 Januari untuk menghentikan perjalanan masuk dan keluar Wuhan, dan diperluas ke total 15 kota di Hubei, yang memengaruhi total sekitar 57 juta orang. Penggunaan kendaraan pribadi dilarang di dalam kota. Perayaan Tahun Baru Imlek (25 Januari) dibatalkan di banyak tempat. Pihak berwenang juga mengumumkan pembangunan rumah sakit sementara, Rumah Sakit Huoshenshan, yang selesai dalam waktu 10 hari. Rumah sakit lain juga dibangun setelahnya, Rumah Sakit Leishenshan, untuk menangani pasien tambahan. Selain rumah sakit yang baru dibangun, Tiongkok juga mengubah 14 fasilitas lain di Wuhan, seperti pusat konvensi dan stadion, menjadi rumah sakit sementara. Pada 26 Januari, pemerintah menyusun langkah-langkah lebih lanjut untuk membendung wabah COVID-19, termasuk mengeluarkan deklarasi kesehatan untuk para turis dan memperpanjang liburan Festival Musim Semi. Seluruh universitas dan sekolah di dalam negeri juga ditutup. Wilayah Hong Kong dan Makau menerapkan beberapa langkah, khususnya dalam hal sekolah dan universitas. Langkah-langkah untuk bekerja dari jarak jauh diterapkan di beberapa daerah di Tiongkok. Pembatasan perjalanan diberlakukan di dalam dan di luar Hubei. Angkutan umum dimodifikasi dan museum di seluruh Tiongkok ditutup sementara. Pengendalian terhadap pergerakan publik diterapkan di banyak kota, dan diperkirakan sekitar 760 juta orang (lebih dari separuh populasi) menghadapi semacam pembatasan di luar rumah. Setelah wabah memasuki fase global pada bulan Maret, otoritas Tiongkok mengambil langkah-langkah ketat untuk mencegah "mengimpor" virus dari negara lain. Sebagai contoh, Beijing memberlakukan karantina wajib 14 hari untuk semua turis internasional yang masuk kota. Pada 23 Maret, satu-satunya kasus Tiongkok daratan ditransmisikan di dalam negeri lima hari sebelumnya, dalam hal ini melalui seorang turis yang kembali ke Guangzhou dari Istanbul. Pada 24 Maret 2020, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang melaporkan bahwa penyebaran kasus yang ditransmisikan di dalam negeri pada dasarnya telah diblokir dan wabah telah dikendalikan di Tiongkok. Pembatasan perjalanan pada hari yang sama dilonggarkan di Hubei, selain dari Wuhan, dua bulan setelah karantina wilayah diberlakukan. Kementrian Luar Negeri Republik Rakyat Tiongkok mengumumkan pada 26 Maret 2020 bahwa entri untuk pemegang visa atau izin tinggal akan ditangguhkan mulai 28 Maret dan seterusnya, tanpa ada perincian spesifik tentang waktu kebijakan ini akan berakhir. Orang yang ingin masuk ke Tiongkok harus mengajukan visa di kedutaan atau konsulat Tiongkok. Pada 30 Maret, pemerintah Tiongkok mendorong bisnis dan pabrik untuk buka kembali dan menyediakan paket stimulus moneter untuk perusahaan. Dewan Negara mengumumkan hari berkabung dengan memulai tiga menit mengheningkan cipta nasional pada 4 April pukul 10:00, bertepatan dengan Festival Qingming, meskipun pemerintah pusat meminta keluarga untuk memberikan penghormatan secara daring dengan memperhatikan pembatasan fisik untuk menghindari wabah COVID-19 yang baru. Pada 20 Januari 2020, COVID-19 dikonfirmasi telah menyebar ke Korea Selatan dari Tiongkok. Pada 20 Februari, badan kesehatan negara melaporkan peningkatan kasus terkonfirmasi yang signifikan, sebagian besar disebabkan oleh pertemuan gerakan keagamaan baru di Daegu, yang dikenal sebagai Gereja Yesus Shincheonji. Para penganut Shincheonji yang mengunjungi Daegu dari Wuhan diduga merupakan asal wabah tersebut. Per tanggal 22 Februari, di antara 9.336 pengikut gereja, 1.261 atau sekitar 13% telah melaporkan gejala. Korea Selatan menyatakan tingkat siaga tertinggi pada 23 Februari 2020. Pada 28 Februari, lebih dari 2.000 kasus terkonfirmasi dilaporkan di Korea, yang meningkat menjadi 3.150 pada 29 Februari. Semua pangkalan militer Korea Selatan dikarantina setelah pengujian mengonfirmasi bahwa tiga tentara positif terkena virus. Jadwal penerbangan juga terpengaruh dan diubah. Korea Selatan memperkenalkan program yang dianggap sebagai program terbesar dan terorganisir paling baik di dunia untuk menapis virus di populasi, mengisolasi setiap orang yang terinfeksi, serta melacak dan mengarantina orang yang kontak dengan mereka. Metode penapisan termasuk kewajiban melaporkan gejala secara mandiri oleh orang yang baru datang dari luar negeri melalui aplikasi seluler, pengujian virus lantatur atau drive-thru dengan hasil tersedia pada hari berikutnya, dan peningkatan kemampuan pengujian hingga lebih dari 20.000 orang setiap hari. Program Korea Selatan dianggap berhasil dalam mengendalikan wabah meskipun tidak mengarantina seluruh kota. Pada awalnya, pandangan masyarakat Korea Selatan terbagi mengenai tanggapan Presiden Moon Jae-in terhadap krisis ini. Banyak warga Korea menandatangani petisi menyerukan pemakzulan terhadap Presiden Moon atas klaim mereka bahwa pemerintah melakukan kesalahan dalam menangani wabah, atau sebaliknya, memuji reaksi presiden. Pada 23 Maret, Korea Selatan dilaporkan memiliki total kasus satu hari terendah dalam empat minggu. Pada 29 Maret, dilaporkan bahwa mulai 1 April semua orang yang baru datang dari luar negeri akan dikarantina selama dua minggu. Menurut laporan media pada 1 April, Korea Selatan telah menerima permintaan bantuan pengujian virus dari 121 negara. Iran melaporkan kasus infeksi SARS-CoV-2 terkonfirmasi pertama pada 19 Februari di Qom dan, menurut Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran, dua orang meninggal pada hari itu. Langkah awal yang diumumkan pemerintah mencakup pembatalan konser dan acara budaya lainnya, acara olahraga, dan salat Jumat, serta penutupan universitas, lembaga pendidikan tinggi, dan sekolah. Iran mengalokasikan lima triliun real untuk memerangi virus ini. Presiden Hassan Rouhani mengatakan pada 26 Februari 2020 bahwa tidak ada rencana untuk mengarantina wilayah yang terdampak wabah, hanya individu yang akan dikarantina. Rencana untuk membatasi perjalanan antarkota diumumkan pada bulan Maret, meskipun lalu lintas padat antarkota menjelang Tahun Baru Persia berlanjut. Tempat ibadah Syiah di Qom tetap terbuka untuk peziarah hingga 16 Maret 2020.Setelah Tiongkok, Iran menjadi pusat penyebaran virus selama bulan Februari. Di tengah klaim bahwa tingkat wabah di Iran ditutup-tutupi, lebih dari sepuluh negara menelusur balik kasus mereka ke Iran pada 28 Februari, yang menunjukkan bahwa tingkat wabah mungkin lebih parah daripada 388 kasus yang dilaporkan oleh pemerintah Iran pada tanggal itu. Parlemen Iran ditutup, dengan 23 dari 290 anggotanya dilaporkan teruji positif untuk virus ini pada 3 Maret. Pada 12 Maret, Human Rights Watch mendesak otoritas penjara Iran untuk membebaskan tanpa syarat para pembela HAM yang ditahan karena protes damai dan, untuk sementara waktu, membebaskan semua tahanan yang memenuhi syarat. Dinyatakan bahwa ada risiko lebih besar untuk penyebaran di lembaga tertutup seperti pusat tahanan, yang juga tidak memiliki perawatan medis yang memadai. Pada 15 Maret, pemerintah Iran melaporkan 100 kematian dalam satu hari, yang merupakan jumlah terbanyak di negara itu sejak awal wabah. Hingga 17 Maret, setidaknya ada 12 politisi atau pejabat pemerintah Iran sebelumnya atau yang sedang menjabat meninggal akibat penyakit ini. Per 23 Maret, Iran menghadapi 50 kasus baru setiap jam dan satu kematian baru setiap sepuluh menit karena koronavirus. Menurut seorang pejabat WHO, kemungkinan ada lima kali lebih banyak kasus di Iran daripada yang dilaporkan. Juga diutarakan bahwa sanksi AS terhadap Iran dapat memengaruhi kemampuan keuangan negara ini dalam merespons wabah virus. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia meminta agar sanksi ekonomi diringankan bagi negara yang terdampak pandemi, termasuk Iran. Pada 31 Januari, wabah dikonfirmasi telah menyebar ke Italia ketika dua wisatawan Tionghoa teruji positif untuk SARS-CoV-2 di Roma. Kasus mulai meningkat tajam sehingga mendorong pemerintah Italia untuk menangguhkan semua penerbangan menuju dan dari Tiongkok serta menyatakan keadaan darurat. Kemudian, klaster kasus COVID-19 yang tidak berhubungan terdeteksi, dimulai dengan 16 kasus terkonfirmasi di Lombardy pada 21 Februari. Pada 22 Februari, Dewan Menteri mengumumkan undang-undang baru untuk membendung wabah, yang mencakup karantina lebih dari 50.000 orang dari 11 kota berbeda di Italia utara. Perdana Menteri Giuseppe Conte mengatakan, "Di daerah wabah, orang tidak diperbolehkan untuk keluar masuk. Penangguhan kegiatan kerja dan acara olahraga telah diperintahkan di daerah tersebut."Pada 4 Maret, pemerintah Italia memerintahkan penutupan total semua sekolah dan universitas secara nasional saat Italia mencapai 100 kematian. Semua acara olahraga utama, termasuk pertandingan sepak bola Seri A, akan diadakan secara tertutup hingga April, tetapi pada 9 Maret, semua olahraga ditangguhkan sepenuhnya selama setidaknya satu bulan. Pada 11 Maret, Perdana Menteri Conte memerintahkan penghentian hampir semua kegiatan komersial, kecuali supermarket dan apotek. Pada 6 Maret, Sekolah Tinggi Anestesi, Analgesia, Resusitasi, dan Perawatan Intensif Italia (SIAARTI) menerbitkan rekomendasi etika medis mengenai protokol triase yang mungkin akan digunakan. Pada 19 Maret, Italia mengambil alih posisi Tiongkok sebagai negara dengan kematian terkait koronavirus terbanyak di dunia setelah melaporkan 3.405 kematian akibat pandemi. Pada 22 Maret, Rusia dilaporkan mengirim sembilan pesawat militer berisi peralatan medis ke Italia. Per 5 April, ada 128.948 kasus terkonfirmasi, 15.887 kematian, dan 21.815 kasus sembuh di Italia, dengan sebagian besar kasus tersebut terjadi di wilayah Lombardy. Sebuah laporan CNN mengatakan bahwa hal yang berkontribusi terhadap tingginya angka fatalitas adalah kombinasi populasi lansia Italia yang besar dan ketidakmampuan untuk menguji semua orang yang terinfeksi virus. Awalnya, respons Inggris Raya terhadap virus ini merupakan salah satu yang paling kendur di antara negara-negara yang terdampak, dan hingga 18 Maret 2020, pemerintah Inggris tidak memberlakukan langkah pembatasan sosial atau karantina massa apa pun pada warganya. Akibatnya, pemerintah menerima kritik karena dianggap kurang tanggap dan kurang intens dalam menanggapi kekhawatiran publik. Pada 16 Maret, Perdana Menteri Boris Johnson membuat pengumuman yang mengimbau untuk menghentikan semua perjalanan dan kontak sosial nonesensial dan menyarankan agar orang bekerja dari rumah, jika memungkinkan, serta menghindari tempat-tempat seperti pub, restoran, dan teater. Pada 20 Maret, pemerintah mengumumkan bahwa semua tempat rekreasi, seperti pub dan pusat kebugaran, harus ditutup sesegera mungkin, dan berjanji akan membayar hingga 80% upah pekerja hingga batas £2.500 per bulan untuk mencegah pengangguran dalam krisis. Pada 23 Maret, Perdana Menteri mengumumkan langkah-langkah pembatasan sosial yang lebih ketat, yakni melarang pertemuan lebih dari dua orang dan membatasi aktivitas perjalanan dan luar ruangan hanya untuk aktivitas yang dianggap sangat penting. Tidak seperti langkah-langkah sebelumnya, pembatasan ini ditegakkan oleh polisi melalui pemberian denda dan pembubaran kumpulan. Sebagian besar bisnis diperintahkan untuk tutup, kecuali bisnis yang dianggap "esensial", yang meliputi supermarket, apotek, bank, toko perangkat keras, pompa bensin, dan bengkel. Pada 20 Januari, kasus COVID-19 terkorfirmasi pertama diketahui di negara bagian barat laut, Washington, pada seorang pria yang kembali dari Wuhan pada 15 Januari. Pada 29 Januari, Gugus Tugas Koronavirus Gedung Putih didirikan. Pada 31 Januari, pemerintahan Trump mengumumkan darurat kesehatan masyarakat dan memberlakukan pembatasan entri untuk orang yang datang dari Tiongkok. Pada 28 Januari 2020, Pusat Pengendalian Penyakit, yaitu lembaga kesehatan masyarakat pemerintah AS terkemuka, mengumumkan bahwa mereka telah mengembangkan alat uji sendiri. Meski demikian, Amerika Serikat lambat dalam memulai pengujian sehingga mengaburkan tingkat wabah sebenarnya pada saat itu. Pengujian dikacaukan oleh alat uji cacat yang diproduksi oleh pemerintah federal pada bulan Februari, kurangnya persetujuan pemerintah federal untuk alat uji nonpemerintah (oleh akademisi, perusahaan, dan rumah sakit) hingga akhir Februari, dan kriteria restriktif untuk orang memenuhi syarat pengujian hingga awal Maret (perintah dokter diperlukan setelahnya). Hingga 27 Februari, The Washington Post melaporkan bahwa kurang dari 4.000 pengujian telah dilakukan di Amerika Serikat. Hingga 13 Maret, The Atlantic melaporkan bahwa kurang dari 14.000 pengujian telah dilakukan. Pada 22 Maret, Associated Press melaporkan: "Banyak orang yang memiliki gejala dan perintah dokter menunggu selama berjam-jam atau berhari-hari untuk diuji."Setelah kematian pertama di Amerika Serikat dilaporkan di negara bagian Washington pada 29 Februari, Gubernur Jay Inslee menyatakan keadaan darurat, tindakan yang segera diikuti oleh negara bagian lain. Sekolah di daerah Seattle membatalkan kelas pada 3 Maret, dan pada pertengahan Maret, sekolah di seluruh negeri ditutup. Pada 6 Maret 2020, Amerika Serikat diberi tahu proyeksi dampak koronavirus baru pada negara oleh sekelompok ahli epidemiologi di Imperial College London. Pada hari yang sama, Presiden Trump menandatangani Coronavirus Preparedness and Response Supplementsal Appropriations Act, yang menyediakan dana darurat sebesar $8,3 miliar bagi agen-agen federal untuk merespons wabah. Perusahaan memberlakukan pembatasan perjalanan pada karyawan, membatalkan konferensi, dan mendorong karyawan untuk bekerja dari rumah. Acara dan musim olahraga dibatalkan. Pada 11 Maret, Trump mengumumkan pembatasan perjalanan untuk sebagian besar Eropa, kecuali Inggris Raya, selama 30 hari, yang berlaku per 13 Maret. Keesokan harinya, ia memperluas pembatasan untuk menyertakan Inggris Raya dan Irlandia. Pada 13 Maret, ia mengumumkan keadaan darurat nasional sehingga dana federal tersedia untuk merespons krisis. Mulai 15 Maret, banyak bisnis ditutup atau dikurangi jam kerjanya di seluruh AS dalam rangka mencoba mengurangi penyebaran virus. Per 17 Maret, epidemi telah dikonfirmasi di seluruh 50 negara bagian dan di Distrik Columbia. Pada 23 Maret, Kota New York dilaporkan memiliki 10.700 kasus koronavirus, lebih banyak daripada jumlah total kasus di Korea Selatan. Pada 25 Maret, gubernur New York mengatakan bahwa pembatasan sosial tampaknya berhasil karena perkiraan penambahan kasus menjadi dua kali lipat melambat dari 2,0 hari menjadi 4,7 hari. Per 28 Maret, terdapat 32.308 kasus terkonfirmasi di Kota New York dan 672 orang meninggal akibat virus ini. Pada 26 Maret, Amerika Serikat dilaporkan memiliki kasus infeksi koronavirus terkonfirmasi lebih banyak daripada negara mana pun di dunia, termasuk Tiongkok dan Italia. Hingga 8 April, ada 400.335 kasus terkonfirmasi di Amerika Serikat dan 12.841 orang meninggal dunia. Menurut laporan media pada 30 Maret, Presiden AS Trump memutuskan untuk memperpanjang pedoman pembatasan sosial hingga 30 April. Pada hari yang sama, USNS Comfort, sebuah kapal rumah sakit dengan sekitar 1000 tempat tidur, berlabuh di New York. Pada 3 April, AS memiliki rekor 884 kematian akibat koronavirus dalam 24 jam. Di negara bagian New York, kasus telah melampaui 100.000 orang pada 3 April. Gedung Putih dikritik karena meremehkan ancaman dan mengendalikan pesan dengan mengarahkan pejabat kesehatan dan ilmuwan untuk mengoordinasikan pernyataan publik dan publikasi yang berkaitan dengan virus di kantor Wakil Presiden Mike Pence. Secara keseluruhan, persetujuan terhadap manajemen krisis Trump terbagi di seluruh jajaran partisan. Beberapa pejabat AS dan komentator mengkritik ketergantungan AS akan impor bahan penting dari Tiongkok, yang mencakup pasokan medis esensial. Analisis pola perjalanan udara digunakan untuk memetakan dan memprediksi pola penyebaran dan diterbitkan di The Journal of Travel Medicine pada pertengahan Januari 2020. Berdasarkan informasi tahun 2018 dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional, orang yang melakukan perjalanan dari Wuhan paling banyak berada di Bangkok, Hong Kong, Tokyo, dan Taipei. Dubai, Sydney, dan Melbourne juga dilaporkan sebagai tujuan populer bagi orang yang bepergian dari Wuhan. Bali dilaporkan paling tidak mampu dalam hal kesiapan di antara 20 kota tujuan paling populer, sementara kota-kota di Australia dianggap paling mampu. Australia merilis Rencana Tanggap Darurat untuk Coronavirus Baru (COVID-19) pada 7 Februari. Disebutkan bahwa masih banyak yang belum ditemukan tentang COVID-19, dan bahwa Australia akan menekankan kontrol perbatasan dan komunikasi dalam menanggapi pandemi. Pada 21 Maret, Australia menyatakan darurat ketahahanan hayati manusia. Karena karantina transportasi publik yang diberlakukan di Wuhan dan Hubei, beberapa negara berencana untuk mengevakuasi warga dan staf diplomatiknya dari daerah itu, terutama melalui penerbangan sewaan dari negara asal, dengan izin dari otoritas Tiongkok. Kanada, Amerika Serikat, Jepang, India, Sri Lanka, Australia, Prancis, Argentina, Jerman, dan Thailand adalah beberapa negara pertama yang berencana mengevakuasi warganya. Pakistan mengatakan bahwa mereka tidak akan mengevakuasi warganya dari Tiongkok. Pada 7 Februari, Brasil mengevakuasi 34 orang Brasil atau anggota keluarga orang Brasil, di samping empat orang Polandia, seorang Tionghoa, dan seorang warga negara India. Warga Polandia, Tiongkok, dan India diturunkan di Polandia, tempat pesawat Brasil itu singgah sebelum melanjutkan rute ke Brasil. Warga Brasil yang pergi ke Wuhan dikarantina di sebuah pangkalan militer dekat Brasília. Pada hari yang sama, 215 orang Kanada (176 dari pesawat pertama dan 39 dari pesawat kedua yang disewa oleh pemerintah AS) dievakuasi dari Wuhan ke CFB Trenton untuk dikarantina selama dua minggu. Pada 11 Februari, pesawat lain yang berisi 185 orang Kanada dari Wuhan mendarat di CFB Trenton. Otoritas Australia mengevakuasi 277 warganya pada tanggal 3 dan 4 Februari ke Pusat Tahanan Pulau Natal, yang telah diubah fungsinya menjadi fasilitas karantina, tempat mereka tinggal selama 14 hari. Sebuah penerbangan evakuasi Selandia Baru tiba di Auckland pada tanggal 5 Februari; penumpangnya (termasuk beberapa dari Australia dan Pasifik) dikarantina di pangkalan angkatan laut di Whangaparoa, di bagian utara Auckland. Pada 15 Februari, Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka akan mengevakuasi orang Amerika yang ada di kapal pesiar Diamond Princess. Pada 21 Februari, pesawat yang mengangkut 129 penumpang Kanada yang telah dievakuasi dari Diamond Princess mendarat di Trenton, Ontario. Pada awal Maret, pemerintah India mulai mengevakuasi warganya dari Iran. Pada 14 Maret, pesawat South African Airways yang disewa oleh Pemerintah Afrika Selatan memulangkan 112 warga negaranya. Penapisan medis dilakukan sebelum keberangkatan dan empat orang Afrika Selatan yang menunjukkan tanda-tanda koronavirus ditinggal untuk mengurangi risiko. Hanya orang Afrika Selatan yang teruji negatif yang direpatriasi. Berdasarkan hasil pengujian, izin dikeluarkan bagi semua orang Afrika Selatan tersebut, mencakup awak pesawat, pilot, staf hotel, polisi, dan tentara yang terlibat dalam misi kemanusiaan; sebagai tindakan pencegahan, semua tetap diawasi dan dikarantina selama 14 hari di The Ranch Resort. Pada 20 Maret, Amerika Serikat mulai menarik sebagian pasukannya dari Irak karena pandemi. Pada 5 Februari, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan bahwa 21 negara (mencakup Belarus, Pakistan, Trinidad dan Tobago, Mesir, dan Iran) telah mengirim bantuan ke Tiongkok. Beberapa mahasiswa Tionghoa di berbagai universitas Amerika bergabung untuk mengirim bantuan ke wilayah Tiongkok yang terdampak virus, bersama kelompok yang bergabung dari kawasan metropolitan Chicago; mereka dilaporkan berhasil mengirim 50.000 masker N95 ke rumah sakit di provinsi Hubei pada 30 Januari. Organisasi bantuan kemanusiaan Direct Relief, berkoordinasi dengan FedEx, mengirim 200.000 masker wajah dan alat pelindung diri lainnya, termasuk sarung tangan dan jubah, melalui pengiriman udara darurat ke Rumah Sakit Union Wuhan pada 30 Januari. Pada 5 Februari, Bill dan Melinda Gates mengumumkan donasi $100 juta kepada WHO untuk mendanai penelitian vaksin dan upaya penanganan, serta untuk melindungi "populasi berisiko di Afrika dan Asia Selatan". Interaksyon melaporkan bahwa pemerintah Tiongkok menyumbangkan 200.000 masker ke Filipina pada 6 Februari, setelah Senator Richard Gordon mengirim 3,16 juta masker ke Wuhan. Pada 19 Februari, Palang Merah Singapura mengumumkan bahwa mereka akan mengirim bantuan senilai $2,26 juta ke Tiongkok. Jepang menyumbangkan satu juta masker wajah ke Wuhan, Turki mengirim peralatan medis, Rusia mengirim lebih dari 13 ton pasokan medis ke Wuhan, Malaysia mengumumkan sumbangan 18 juta sarung tangan medis ke Tiongkok, Jerman mengirimkan berbagai pasokan medis termasuk 10.000 baju Hazmat, dan Amerika Serikat menyumbangkan 17,8 ton pasokan medis ke Tiongkok serta menjanjikan tambahan $100 juta dalam bentuk dukungan finansial untuk negara-negara yang terdampak. Setelah kasus di Tiongkok tampak stabil, AS mengirimkan bantuan ke berbagai negara yang terkena pandemi. Pada bulan Maret, Tiongkok, Kuba, dan Rusia mengirim pasokan medis dan pakar untuk membantu Italia menangani wabah koronavirus. Pengusaha Jack Ma mengirim 1,1 juta alat uji, 6 juta masker wajah, dan 60.000 pakaian pelindung ke Addis Ababa, Ethiopia, untuk didistribusikan oleh Uni Afrika. Kemudian, Ia mengirim 5.000 alat uji, 100.000 masker wajah, dan 5 ventilator ke Panama. Ma juga menyumbangkan pasokan medis ke Kanada. Belanda, Spanyol, Turki, Georgia, dan Republik Ceko menyatakan keprihatinannya tehadap kualitas masker dan alat uji buatan Tiongkok. Misalnya, Spanyol menarik 58.000 alat uji koronavirus buatan Tiongkok dengan tingkat akurasi hanya 30%; sementara itu, Belanda menarik kembali 600.000 masker wajah buatan Tiongkok yang cacat. Belgia juga menarik kembali 100.000 masker yang tidak dapat digunakan, yang diduga berasal dari Tiongkok, tetapi sebenarnya dari Kolombia. Di sisi lain, bantuan Tiongkok diterima dengan baik di beberapa bagian Amerika Latin dan Afrika. Pada 2 April, Bank Dunia meluncurkan operasi dukungan darurat untuk negara-negara berkembang. WHO memuji upaya pemerintah Tiongkok dalam mengelola dan membendung epidemi. WHO memperhatikan perbedaan antara wabah SARS tahun 2002-2004 ketika otoritas Tiongkok dituduh menutup-nutupi sehingga menghambat upaya pencegahan dan pembendungan dan krisis saat ini dengan pemerintah pusat "memberikan pembaruan rutin untuk menghindari kepanikan menjelang libur Tahun Baru Imlek". Pada 23 Januari, sebagai reaksi terhadap keputusan pemerintah pusat yang menerapkan larangan transportasi di Wuhan, perwakilan WHO Gauden Galea mengatakan bahwa walaupun langkah itu "jelas bukan rekomendasi WHO," tetapi langkah itu juga merupakan "indikasi yang sangat penting untuk komitmen membendung epidemi di tempat wabah itu paling terkonsentrasi" dan ia menyebutnya "belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kesehatan masyarakat".Pada 30 Januari, setelah konfirmasi penularan manusia ke manusia di luar Tiongkok dan peningkatan jumlah kasus di negara lain, WHO menyatakan wabah ini sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (PHEIC), yakni PHEIC keenam sejak langkah tersebut pertama kali diberlakukan sewaktu pandemi flu babi tahun 2009. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom mengatakan bahwa PHEIC dinyatakan karena adanya "risiko penyebaran global, terutama ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang belum memiliki sistem kesehatan yang mumpuni. Menanggapi penerapan pembatasan perjalanan, Tedros menyatakan bahwa "tidak ada alasan untuk memberlakukan langkah-langkah yang mengganggu perjalanan dan perdagangan internasional secara tidak perlu" serta "WHO tidak merekomendasikan pembatasan perdagangan dan pergerakan." Pada 5 Februari, WHO mengimbau masyarakat global untuk memberi kontribusi senilai $675 juta yang akan digunakan untuk mendanai kesiapan strategis di negara-negara berpenghasilan rendah, sambil menyebutkan urgensi untuk mendukung negara-negara yang "tidak memiliki sistem untuk mendeteksi orang-orang yang tertular virus jika wabah merebak." Lebih lanjut, Tedros membuat pernyataan bahwa "batas kekuatan kita ada pada mata rantai terlemah" dan mendesak masyarakat internasional untuk "berinvestasi hari ini atau membayar lebih mahal di kemudian hari."Dalam konferensi pers tanggal 11 Februari, WHO menetapkan COVID-19 sebagai nama penyakit untuk virus ini. Pada hari yang sama, Tedros menyatakan bahwa Sekretaris Jenderal PBB António Guterres telah setuju untuk memberikan "tanggapan berupa pengerahan seluruh kekuatan sistem PBB". Kemudian, PBB mengaktifkan Tim Manajemen Krisis untuk memungkinkan koordinasi seluruh respons PBB, yang menurut WHO akan memungkinkan mereka untuk "berfokus pada respons kesehatan, sementara lembaga-lembaga lain dapat menggunakan keahlian mereka untuk menanggung dampak wabah dalam bidang sosial, ekonomi, dan perkembangan yang lebih luas." Pada 14 Februari, sebuah Tim Misi Gabungan bersama Tiongkok yang dipimpin oleh WHO diaktifkan; tim ini bertujuan untuk menyediakan tenaga ahli internasional dan WHO di Tiongkok dalam rangka membantu manajemen domestik serta mengevaluasi "tingkat keparahan dan penularan penyakit" dengan mengadakan lokakarya dan pertemuan bersama lembaga tingkat nasional terkait dan untuk melakukan kunjungan lapangan untuk menilai "dampak kegiatan penanggulangan di tingkat provinsi dan kabupaten, yang mencakup tatanan perkotaan dan pedesaan."Pada 25 Februari, WHO menyatakan bahwa "dunia harus berbuat lebih banyak untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan pandemi koronavirus" dan mengatakan bahwa, walaupun masih terlalu dini untuk menyebutnya pandemi, negara-negara tetap harus berada "dalam fase siap". Menanggapi wabah yang berkembang di Iran, WHO mengirim Tim Misi Gabungan ke sana untuk menilai situasi. Pada 28 Februari, para pejabat WHO mengatakan bahwa penilaian ancaman koronavirus di tingkat global akan dinaikkan dari "tinggi" menjadi "sangat tinggi", ini adalah tingkat kewaspadaan dan penilaian risiko tertinggi. Dalam sebuah pernyataan, Mike Ryan, direktur eksekutif program kedaruratan kesehatan WHO, memperingatkan bahwa, "Ini saatnya setiap pemerintah di planet ini menghadapi kenyataan: Terjagalah. Virus ini mungkin akan datang ke tempat Anda dan Anda harus siap," dan mendesak bahwa langkah penanggulangan yang tepat dapat membantu dunia menghindari "yang terburuk". Lebih lanjut, Ryan menyatakan bahwa data saat ini tidak memungkinkan pejabat kesehatan masyarakat untuk menyatakan pandemi global, serta mengatakan bahwa deklarasi seperti itu berarti "pada dasarnya kita menerima bahwa setiap manusia di planet ini akan terpapar virus itu." Pada 11 Maret, WHO menyatakan wabah koronavirus sebagai pandemi. Direktur Jenderal WHO mengatakan bahwa WHO "sangat prihatin akan tingkat penyebaran dan keparahan yang mengkhawatirkan, serta tingkat kelambanan bertindak yang mengkhawatirkan."WHO menerima kritik pedas karena dinilai tidak adekuat dalam menangani pandemi, yang mencakup keterlambatan dalam mendeklarasikan darurat kesehatan masyarakat dan mengklasifikasikan virus sebagai pandemi. Salah satu reaksi keras mencakup petisi yang ditandatangani oleh 733.000 orang per 6 April, yang ditujukan kepada Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom agar mengajukan pengunduran dirinya. Pada 26 Maret 2020, puluhan pakar HAM PBB menekankan untuk menghormati hak setiap individu selama pandemi COVID-19. Kelompok ahli tersebut menyatakan bahwa setiap orang berhak atas intervensi penyelamatan jiwa dan pemerintah memikul tanggung jawab untuk hal ini. Kelompok ini menekankan bahwa kurangnya sumber daya atau asuransi kesehatan tidak boleh digunakan sebagai pembenaran untuk mendiskriminasi kelompok tertentu. Para ahli menggarisbawahi bahwa setiap individu memiliki hak atas kesehatan, termasuk orang cacat, kelompok minoritas, lansia, pelarian internal, tunawisma, orang yang hidup dalam kondisi sangat miskin, orang di penjara, pengungsi, dan kelompok lain yang membutuhkan dukungan pemerintah. Organisasi pemerintah internasional berusaha untuk menangani dampak sosial dan ekonomi krisis COVID-19. Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan telah meluncurkan program untuk memberikan informasi yang tepat waktu dan komprehensif tentang respons kebijakan di negara-negara di seluruh dunia, beserta sudut pandang dan saran. Mulai dari kebijakan untuk memperkuat sistem kesehatan dan ekonomi dunia hingga mengatasi dampak karantina wilayah dan pembatasan perjalanan, pusat digital mencakup Pelacak Kebijakan Negara, dan bertujuan untuk membantu negara-negara belajar satu sama lain dan untuk memfasilitasi tanggapan global yang terkoordinasi dalam menghadapi tantangan koronavirus. Pemerintah Tiongkok menerima kritik dari Amerika Serikat, Menteri Kantor Kabinet Inggris Raya Michael Gove, dan putra Presiden Brasil Jair Bolsonaro, Eduardo Bolsonaro, atas penanganan pandemi yang berawal di provinsi Hubei, Tiongkok. Sejumlah administrator tingkat provinsi Partai Komunis Tiongkok (CPC) diberhentikan berkaitan penanganan upaya karantina di Tiongkok Tengah, yang merupakan tanda ketidakpuasan terhadap respons lembaga politik dalam menangani wabah di wilayah tersebut. Beberapa komentator meyakini bahwa langkah ini dimaksudkan untuk melindungi sekretaris jenderal Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping dari kemarahan publik terkait wabah koronavirus. Beberapa pejabat Tiongkok, seperti Zhao Lijian, menolak pengakuan sebelumnya tentang wabah koronavirus berawal di Wuhan, dan mendukung teori konspirasi tentang COVID-19 berasal dari AS atau Italia. Pemerintah AS Donald Trump menyebut koronavirus sebagai "virus Tiongkok" atau "virus Wuhan" dan mengatakan bahwa "tindakan Tiongkok yang menutup-nutupi memberi kekuatan pada virus yang kini berubah menjadi pandemi global." Perkataan ini akhirnya dikritik oleh sejumlah kritikus sebagai rasisme dan "mengalihkan perhatian dari kegagalan pemerintahannya dalam menangani virus korona." The Daily Beast mendapatkan pesan pemerintah AS yang menguraikan strategi komunikasi dan jelas berasal di Dewan Keamanan Nasional, dengan strategi dikutip sebagai "Semua tentang Tiongkok. Kami diberitahu untuk mencoba dan menyampaikan pesan ini dengan cara apa pun yang mungkin, mencakup konferensi pers dan tampil di televisi."Media seperti Politico, Foreign Policy, dan Bloomberg mengklaim bahwa upaya Tiongkok untuk mengirim bantuan ke negara-negara yang terdampak virus adalah bagian dari dorongan propaganda untuk memengaruhi dunia. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell memperingatkan bahwa ada "komponen geo-politik, yang mencakup pertempuran untuk mendapatkan pengaruh melalui pemutarbalikan fakta dan 'politik kemurahan hati'." Borrell juga mengatakan bahwa, "Tiongkok secara agresif mendorong pesan bahwa, tidak seperti AS, mereka adalah mitra yang bertanggung jawab dan dapat diandalkan." Tiongkok juga menyerukan agar AS mencabut sanksi Suriah, Venezuela, dan Iran, serta dilaporkan mengirim bantuan kepada dua negara terakhir. Sumbangan Jack Ma berupa 100.000 masker untuk Kuba diblokir oleh sanksi AS pada 3 April. Otoritas AS juga dituduh mengalihkan bantuan yang ditujukan untuk negara lain ke negara mereka sendiri. Ada pula sengketa terkait masker yang dilaporkan antara negara-negara lain, seperti Jerman, Austria, dan Swiss; serta Republik Ceko dan Italia. Selain itu, Turki mengambil ratusan ventilator yang ditujukan untuk Spanyol. Pada awal Maret, pemerintah Italia mengkritik kurangnya solidaritas Uni Eropa terhadap Italia yang terdampak koronavirus. Maurizio Massari, duta besar Italia untuk Uni Eropa, mengatakan bahwa "Hanya Tiongkok yang merespons secara bilateral. Tentu saja, ini bukan pertanda solidaritas Eropa yang baik." Pada 22 Maret, setelah menerima panggilan telepon dari Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte, Presiden Rusia Vladimir Putin mengerahkan tentara Rusia untuk mengirim tenaga medis militer, kendaraan disinfeksi khusus, dan peralatan medis lainnya ke Italia. Surat kabar Italia La Stampa mengutip "sumber politik tingkat tinggi" anonim yang mengatakan bahwa 80 persen bantuan Rusia "tidak berguna atau sedikit gunanya bagi Italia." Sumber itu menuduh Rusia melakukan serangan pesona "geopolitik dan diplomatik". Presiden Lombardy, Attilio Fontana, dan Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio mengabaikan laporan media tersebut dan mengungkapkan rasa terima kasih mereka. Rusia juga mengirim pesawat kargo berisi bantuan medis ke Amerika Serikat. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa "ketika menawarkan bantuan kepada rekan-rekan di AS, [Putin] berasumsi bahwa jika produsen peralatan dan bahan medis AS mendapatkan kesempatan, mereka juga akan dapat membalas jika diperlukan." Latihan militer NATO "Defender 2020" yang direncanakan di Jerman, Polandia, dan negara-negara Baltik, yakni latihan perang NATO terbesar sejak akhir Perang Dingin, akan diadakan pada skala lebih kecil. Sekretaris Jenderal Kampanye Perlucutan Senjata Nuklir Kate Hudson mengkritik latihan Defender 2020: "Dalam krisis kesehatan publik saat ini, latihan ini bukan hanya membahayakan nyawa pasukan AS dan banyak negara Eropa yang berpartisipasi, tetapi juga penduduk negara tempat mereka beroperasi."Pemerintah Iran terdampak sangat berat oleh virus ini, dengan sekitar dua lusin anggota parlemen terinfeksi beserta lima belas tokoh politik saat ini atau sebelumnya. Pada 14 Maret 2020, Presiden Iran Hassan Rouhani menulis surat terbuka kepada para pemimpin dunia untuk meminta bantuan dan mengatakan bahwa negaranya kesulitan memerangi wabah karena kurangnya akses ke pasar internasional sebagai akibat dari sanksi Amerika Serikat terhadap Iran. Wabah ini telah mendorong seruan kepada Amerika Serikat untuk mengadopsi kebijakan sosial yang umum di negara-negara kaya lainnya, mencakup perawatan kesehatan universal, perawatan anak universal, cuti keluarga berbayar, dan tingkat pendanaan yang lebih tinggi untuk kesehatan masyarakat. Analis politik menduga hal itu dapat berdampak negatif pada peluang Donald Trump untuk terpilih kembali dalam pemilihan presiden 2020. Hubungan diplomatik antara Jepang dan Korea Selatan memburuk karena pandemi ini. Korea Selatan mengkritik "upaya karantina Jepang yang ambigu dan pasif" setelah Jepang mengumumkan bahwa setiap orang yang datang dari Korea Selatan akan ditempatkan dalam karantina dua minggu di lokasi yang ditunjuk pemerintah. Awalnya, pandangan masyarakat Korea Selatan terbagi berkaitan respons Presiden Moon Jae-in terhadap krisis ini. Banyak warga Korea menandatangani petisi, baik menyerukan pemakzulan Moon, berdasarkan klaim mereka tentang kesalahan pemerintah dalam menangani wabah, maupun memuji tanggapannya. Pandemi telah memungkinkan banyak negara untuk menanggapi dengan mengeluarkan undang-undang darurat. Beberapa komentator menyatakan keprihatinan bahwa hal itu dapat memungkinkan pemerintah untuk memperkuat cengkeramannya atas kekuasaan. Di Hungaria, parlemennya memilih untuk mengizinkan Perdana Menteri, Viktor Orbán, untuk memerintah melalui dekret tanpa batas waktu, menangguhkan parlemen dan pemilihan umum, serta menghukum orang yang dianggap menyebarkan informasi palsu tentang virus dan penanganan krisis oleh pemerintah. Wabah koronavirus dituding atas kasus kekurangan pasokan, yang berasal dari peningkatan penggunaan peralatan secara global untuk melawan wabah, pembelian karena panik, dan gangguan operasi pabrik dan logistik. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat mengeluarkan peringatan tentang kekurangan obat-obatan dan peralatan medis karena meningkatnya permintaan konsumen dan gangguan pemasok. Beberapa daerah juga mengalami pembelian karena panik yang mengakibatkan kekosongan kebutuhan pokok, seperti makanan, tisu toilet, dan air botolan, yang memicu kekurangan pasokan. Secara khusus, industri teknologi telah memperingatkan tentang keterlambatan pengiriman barang elektronik. Menurut direktur jenderal WHO Tedros Adhanom, permintaan untuk alat pelindung diri meningkat 100 kali lipat. Permintaan ini menyebabkan peningkatan harga hingga dua puluh kali lipat harga normal serta memicu penundaan pasokan barang medis selama empat hingga enam bulan. Hal ini juga menyebabkan kekurangan alat pelindung diri di seluruh dunia, dan WHO memperingatkan bahwa ini akan membahayakan tenaga kesehatan. Di Australia, pandemi memberikan peluang baru bagi pembeli daigou untuk menjual produk Australia di dalam Tiongkok. Kegiatan ini mengakibatkan kelangkaan susu formula di beberapa supermarket dan akhirnya dilarang oleh pemerintah Australia. Terlepas dari tingginya prevalensi kasus COVID-19 di Italia Utara dan wilayah Wuhan, serta tingginya permintaan akan produk makanan, dua area tersebut terhindar dari kekurangan bahan makanan. Langkah-langkah Tiongkok dan Italia dalam melawan penimbunan dan perdagangan ilegal produk penting berhasil sehingga kekurangan makanan akut yang diantisipasi akan terjadi di Eropa dan Amerika Utara dapat dihindarkan. Italia Utara, dengan produksi pertaniannya yang berjumlah besar, belum mengalami penurunan berarti, tetapi harga dapat meningkat menurut perwakilan industri. Rak makanan kosong hanya dijumpai sementara, bahkan di kota Wuhan, seiring pejabat pemerintah Tiongkok melepas cadangan daging babi untuk memastikan kecukupan gizi masyarakat. Undang-undang serupa juga ada di Italia, yang mewajibkan produsen makanan untuk menyimpan cadangan untuk keadaan darurat seperti ini. Kemerosotan ekonomi global telah dirasakan di Tiongkok: menurut laporan media pada 16 Maret, ekonomi di Tiongkok sangat terpukul dalam dua bulan pertama tahun 2020 akibat langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk menahan penyebaran virus, dan penjualan ritel anjlok sebesar 20,5%. Karena Tiongkok daratan adalah pusat ekonomi dan manufaktur besar, wabah virus dianggap menyebabkan ancaman destabilisasi besar terhadap ekonomi global. Agathe Demarais dari Economist Intelligence Unit memperkirakan bahwa pasar akan tetap bergejolak hingga ada gambaran yang lebih jelas tentang potensi hasil akhir. Pada Januari 2020, beberapa analis memperkirakan bahwa dampak kejatuhan ekonomi akibat epidemi pada pertumbuhan global dapat melampaui wabah SARS tahun 2002-2004. Sebuah estimasi dari ahli di Universitas Washington di St. Louis menyatakan wabah memberi dampak lebih dari $300 miliar pada rantai pasokan dunia, yang dapat bertahan hingga dua tahun. Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dilaporkan "kucar-kacir" setelah harga minyak bumi mengalami penurunan tajam akibat berkurangnya permintaan dari Tiongkok. Pada 24 Februari, pasar saham global jatuh karena kenaikan signifikan jumlah kasus COVID-19 di luar Tiongkok daratan. Pada 27 Februari, karena meningkatnya kekhawatiran tentang wabah koronavirus, berbagai indeks saham AS, yang mencakup NASDAQ-100, Indeks S & P 500, dan Dow Jones Industrial Average, mencatat penurunan tertajam sejak 2008, dengan Dow jatuh 1.191 poin, penurunan satu hari terbesar sejak krisis keuangan tahun 2007–2008. Tiga indeks saham tersebut menutup minggu dengan penurunan lebih dari 10%. Pada 28 Februari, Scope Ratings GmbH menegaskan peringkat kredit pemerintah Tiongkok, tetapi mempertahankan Outlook Negatif. Saham anjlok lagi karena kekhawatiran akan koronavirus, penurunan terbesar terjadi pada 16 Maret. Banyak orang berpikir resesi ekonomi mungkin terjadi. Ekonom Mohamed El-Erian memuji langkah darurat bank sentral dan negara bagian yang tepat waktu. Bank sentral bereaksi lebih cepat dibandingkan yang mereka lakukan pada saat krisis moneter tahun 2008. Pariwisata adalah salah satu sektor yang terdampak paling parah karena larangan perjalanan, penutupan tempat umum termasuk tempat wisata, dan tindakan pemerintah yang membatasi perjalanan di seluruh dunia. Sebagai akibatnya, banyak maskapai membatalkan penerbangan karena sedikitnya permintaan, termasuk British Airways, China Eastern Airlines, dan Qantas, sementara maskapai regional Inggris Flybe runtuh. Dampak pada industri jalur pelayaran berada pada tingkat yang belum pernah terlihat sebelumnya. Beberapa stasiun kereta api dan pelabuhan feri juga telah ditutup. Epidemi bertepatan dengan Chunyun, musim perjalanan utama yang berkaitan dengan liburan Tahun Baru Imlek. Sejumlah acara yang melibatkan banyak orang dibatalkan oleh pemerintah pusat dan daerah, termasuk festival Tahun Baru Imlek tahunan, dan perusahaan swasta juga secara mandiri menutup toko dan tempat wisata, seperti Hong Kong Disneyland dan Shanghai Disneyland. Banyak acara Tahun Baru Imlek dan tempat wisata ditutup untuk mencegah pertemuan massal, mencakup Kota Terlarang di Beijing dan pameran kuil tradisional. Di 24 dari 31 provinsi, kotamadya, dan wilayah Tiongkok, pihak berwenang memperpanjang liburan Tahun Baru hingga 10 Februari dan memerintahkan sebagian besar tempat kerja untuk tidak dibuka kembali sampai tanggal tersebut. Wilayah-wilayah ini merupakan penghasil 80% PDB negara dan 90% ekspor. Hong Kong meningkatkan penanggulangan penyakit menular ke tingkat tertinggi dan mengumumkan keadaan darurat, menutup sekolah hingga Maret, dan membatalkan perayaan Tahun Baru. Sektor ritel terdampak secara global karena pengurangan jam kerja atau penutupan sementara. Kunjungan ke pengecer di Eropa dan Amerika Latin menurun sebesar 40%. Pengecer Amerika Utara dan Timur Tengah mengalami penurunan 50–60%. Hal ini juga mengakibatkan penurunan 33-43% lalu lintas pejalan kaki ke pusat perbelanjaan di bulan Maret dibandingkan dengan bulan Februari. Operator pusat perbelanjaan di seluruh dunia memberlakukan langkah-langkah tambahan, seperti peningkatan sanitasi, pemasangan pemindai termal untuk memeriksa suhu pembeli, dan pembatalan acara. Menurut perkiraan Komisi Ekonomi PBB untuk Amerika Latin, resesi yang disebabkan pandemi dapat menyebabkan orang yang berada dalam kemiskinan ekstrem di Amerika Latin bertambah antara 14 dan 22 juta orang dibandingkan situasi tanpa pandemi. Pada bulan Januari dan Februari 2020, selama puncak epidemi di Wuhan, sekitar 5 juta orang di Tiongkok kehilangan pekerjaan. Sebagian besar dari 300 juta pekerja migran pedesaan Tiongkok terlantar di rumah di provinsi pedalaman atau terperangkap di provinsi Hubei. Pada Maret 2020, lebih dari 10 juta orang Amerika kehilangan pekerjaan dan mengajukan permohonan bantuan pemerintah. Menurut perkiraan Federal Reserve Bank of St. Louis, wabah koronavirus dapat menyebabkan hilangnya 47 juta pekerjaan di Amerika Serikat dan tingkat pengangguran dapat mencapai 32%. Karantina wilayah di India menyebabkan puluhan juta pekerja migran India (yang dibayar melalui upah harian) menganggur. Survei dari Angus Reid Institute menemukan bahwa 44% rumah tangga di Kanada mengalami semacam hilang pekerjaan. Hampir 900.000 pekerja kehilangan pekerjaan di Spanyol sejak diberlakukannya karantina wilayah pada pertengahan Maret 2020. Selama paruh kedua bulan Maret, sebanyak 4 juta pekerja Prancis mengajukan tunjangan pengangguran sementara dan 1 juta pekerja Inggris mengajukan skema kredit universal. Hampir setengah juta perusahaan di Jerman mengajukan skema kerja jangka pendek disubsidi pemerintah untuk pegawainya, yang disebut Kurzarbeit. Skema kompensasi kerja jangka pendek Jerman diadopsi oleh Prancis dan Inggris. Di seluruh dunia, sektor seni pertunjukan dan warisan budaya terdampak sangat besar oleh pandemi, yang memengaruhi pengoperasian organisasi serta individu, baik yang dipekerjakan maupun yang mandiri. Organisasi sektor seni dan budaya berusaha untuk menjunjung tinggi misi mereka (yang seringkali didanai publik) untuk memberikan akses warisan budaya kepada masyarakat, menjaga keselamatan karyawan dan masyarakat, dan mendukung seniman jika memungkinkan. Pada Maret 2020, di seluruh dunia dan pada tingkat yang berbeda-beda, museum, perpustakaan, tempat pertunjukan, dan lembaga budaya lainnya ditutup tanpa batas waktu, dengan pameran, acara, dan pertunjukannya dibatalkan atau ditunda. Sebagai tanggapan, upaya intensif dikerahkan untuk memberikan layanan alternatif melalui platform digital. Dampak merugikan lain penyakit ini yang terbaru dan sangat cepat berkembang adalah pembatalan layanan keagamaan, acara olahraga besar, dan acara sosial lainnya, seperti festival musik dan konser, konferensi teknologi, serta peragaan busana. Industri film juga mengalami gangguan. Vatikan mengumumkan bahwa perayaan Pekan Suci di Roma, yang jatuh pada minggu terakhir musim pertobatan Kristen Prapaskah, dibatalkan. Banyak keuskupan menganjurkan lansia Kristen untuk tinggal di rumah dan tidak menghadiri Misa pada hari Minggu; beberapa gereja menyediakan layanan gereja melalui radio, siaran langsung daring atau televisi, sementara yang lain menawarkan ibadah drive-in atau lantatur. Dengan ditutupnya gereja dan kapel oleh Keuskupan Katolik Roma serta dikosongkannya Lapangan Santo Petrus dari para peziarah Kristen, badan-badan keagamaan lainnya juga membatalkan layanan dan membatasi pertemuan publik di gereja, masjid, sinagoga, kuil, dan gurdwara. Kementerian Kesehatan Iran mengumumkan pembatalan salat Jumat di daerah yang terdampak wabah dan tempat-tempat ibadah kemudian ditutup, sementara Arab Saudi melarang masuknya peziarah asing serta penduduknya ke tempat-tempat suci di Mekah dan Madinah. Pandemi ini menyebabkan gangguan paling signifikan terhadap kalender olahraga sedunia sejak Perang Dunia Kedua. Kebanyakan acara olahraga besar dibatalkan atau ditunda, termasuk Liga Champions UEFA 2019-2020, Liga Premier 2019-2020, UEFA Euro 2020, NBA musim 2019-2020, dan NHL musim 2019-2020. Wabah ini mengacaukan rencana Olimpiade Musim Panas 2020, yang awalnya dijadwalkan akan dimulai pada akhir Juli; Komite Olimpiade Internasional mengumumkan pada 24 Maret bahwa acara tersebut akan "dijadwal ulang hingga setelah 2020, tetapi tidak akan lebih dari musim panas 2021."Di seluruh dunia, kasino dan tempat permainan lainnya ditutup dan siaran langsung turnamen poker ditunda atau dibatalkan. Hal ini menyebabkan banyak penjudi berpindah ke judi daring, banyak situs judi daring melaporkan peningkatan pendaftaran baru yang signifikan. Industri hiburan juga telah terpengaruh, dengan berbagai grup musik menunda atau membatalkan tur konser. Banyak teater besar seperti Broadway juga menunda semua pertunjukan. Seniman mengeksplorasi berbagai cara untuk terus menghasilkan dan berbagi karya melalui internet sebagai alternatif untuk pertunjukan langsung tradisional, seperti konser siaran langsung daring atau membuat "festival" berbasis web bagi para seniman untuk tampil, menyebarkan, dan mempublikasikan karya mereka. Banyak meme Internet bertema koronavirus disebarkan daring dengan banyaknya orang yang beralih ke humor dan pengalih perhatian di tengah ketidakpastian. Sejak merebaknya wabah COVID-19, teramati adanya peningkatan prasangka, xenofobia, dan rasisme terhadap orang keturunan Tionghoa dan Asia Timur, serta terhadap orang dari wilayah yang terdampak di Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara lain. Insiden ketakutan, kecurigaan, dan permusuhan teramati di banyak negara, terutama di Eropa, Asia Timur, Amerika Utara, dan wilayah Asia-Pasifik. Laporan dari bulan Februari (ketika mayoritas kasus masih terbatas di Tiongkok) mencatat sentimen rasis yang diungkapkan dalam berbagai grup di seluruh dunia bahwa orang Tionghoa pantas menerima virus atau menerima hal yang mereka klaim sebagai ganjaran yang setimpal. Beberapa negara di Afrika juga mengalami peningkatan sentimen anti-Tiongkok. Banyak penduduk Wuhan dan Hubei melaporkan diskriminasi karena asal daerah mereka. Sudah ada dukungan untuk orang Tionghoa, baik daring maupun luring, dan untuk orang-orang di daerah yang terdampak virus. Menyusul perkembangan wabah ke negara-negara hotspot baru, orang dari Italia, negara pertama di Eropa yang mengalami wabah serius COVID-19, juga bisa menjadi sasaran kecurigaan dan xenofobia. Warga di negara-negara mencakup Malaysia, Selandia Baru, Singapura, dan Korea Selatan pada awalnya menandatangani petisi untuk melarang orang Tionghoa memasuki negara mereka dalam upaya untuk menghentikan penyakit. Di Jepang, tagar #ChineseDontComeToJapan menjadi tren di Twitter. Orang Tionghoa serta orang Asia lainnya di Inggris Raya dan Amerika Serikat melaporkan peningkatan tingkat pelecehan rasis dan penyerangan. Presiden AS Donald Trump dikritik karena menyebut koronavirus sebagai "Virus Tiongkok", istilah yang oleh para kritikus dianggap rasis dan anti-Tiongkok. Para pengunjuk rasa di Ukraina menyerang bus-bus yang membawa orang Ukraina dan orang asing yang dievakuasi dari Wuhan ke Novi Sanzhary. Siswa yang berasal dari India Timur Laut, yang berbatasan dengan Tiongkok, dan belajar di kota-kota besar India dilaporkan mengalami pelecehan terkait wabah koronavirus. Presiden Partai Bharatiya Janata unit negara bagian di Benggala Barat Dilip Ghosh menyatakan bahwa Tiongkok telah menghancurkan alam dan "itulah sebabnya Tuhan membalas dendam kepada mereka." Pernyataan itu kemudian dikecam oleh konsulat Tiongkok di Kolkata, dengan menyebutnya "keliru".Di Tiongkok, xenofobia dan rasisme terhadap penduduk non-Tionghoa berkobar karena pandemi, dengan orang asing digambarkan sebagai "sampah asing" dan ditargetkan untuk "pembuangan". Banyak surat kabar yang menggunakan penyekatan berbayar telah menghapusnya untuk sebagian atau semua liputan koronavirus mereka. Banyak penerbit ilmiah membuat makalah ilmiah terkait wabah tersedia dengan akses terbuka. Beberapa ilmuwan memilih untuk membagikan hasilnya dengan cepat di server pracetak, seperti bioRxiv. Penyakit menular baru – Penyakit infeksi patogen yang baru muncul, sering kali baru dalam jangkauan wabah atau metode penularannya Globalisasi dan penyakit - Tinjauan globalisasi dan penularan penyakit Daftar epidemi dan pandemi - Daftar korban jiwa karena penyakit menular Penyelundupan satwa liar dan zoonosis - Risiko kesehatan yang terkait dengan perdagangan satwa liar eksotis Pengujian laboratorium untuk penyakit pernapasan koronavirus 2019 (COVID-19) dan virus SARS-CoV-2 mencakup metode yang mendeteksi keberadaan virus dan yang mendeteksi antibodi yang diproduksi sebagai respons terhadap infeksi. Keberadaan virus dalam sampel dikonfirmasi dengan RT-PCR, yang mendeteksi RNA koronavirus. Pengujian ini spesifik dan dirancang untuk mendeteksi RNA virus SARS-CoV-2 semata. Pengujian ini digunakan untuk mengonfirmasi infeksi baru atau masih aktif. Deteksi antibodi (serologi) dapat digunakan untuk diagnosis dan surveilans populasi. Uji antibodi menunjukkan jumlah orang yang sudah tertular, mencakup orang yang gejalanya terlalu ringan untuk dilaporkan atau yang tanpa gejala. Angka mortalitas penyakit yang akurat dan tingkat kekebalan kelompok dalam populasi dapat ditentukan dari hasil uji ini. Karena pengujian terbatas, hingga Maret 2020, belum ada negara yang memiliki data andal tentang prevalensi virus dalam populasinya. Hingga 23 Maret, belum ada negara yang menguji lebih dari 3% populasinya, dan ada variasi besar dalam jumlah pengujian yang telah dilakukan negara-negara. Variabilitas ini mungkin juga memengaruhi secara signifikan angka fatalitas kasus yang dilaporkan, yang kemungkinan besar dihitung terlalu tinggi di beberapa negara. Menggunakan reaksi rantai polimerase transkripsi balik real-time (rRT-PCR), uji ini dapat dilakukan pada sampel pernapasan yang diperoleh dengan berbagai metode, termasuk usap nasofaring atau sampel sputum. Umumnya, hasil tersedia dalam beberapa jam hingga dua hari. Uji RT-PCR yang dilakukan pada usap tenggorokan hanya dapat diandalkan pada minggu pertama penyakit. Nantinya, virus bisa menghilang di tenggorokan selagi terus bereplikasi di paru. Sebagai alternatif, untuk orang terinfeksi yang diuji pada minggu kedua, bahan sampel dapat diambil dari saluran napas dalam dengan menggunakan kateter isap atau bahan yang dikeluarkan melalui batuk (sputum) dapat digunakan. Salah satu uji PCR awal dikembangkan di Charité, Berlin, pada Januari 2020 menggunakan reaksi rantai polimerase transkripsi balik real-time (rRT-PCR), dan membentuk setidaknya 250.000 alat uji untuk didistribusikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Inggris Raya juga mengembangkan pengujian pada 23 Januari 2020.Perusahaan Korea Selatan Kogenebiotech mengembangkan alat pendeteksi SARS-CoV-2 berbasis PCR (PowerChek Coronavirus) yang bertaraf klisnis pada 28 Januari 2020. Perangkat ini mencari gen "E" yang dimiliki semua beta koronavirus, dan gen RdRp yang spesifik untuk SARS-CoV-2.Di Tiongkok, BGI Group adalah salah satu perusahaan pertama yang menerima persetujuan penggunaan darurat dari Administrasi Produk Medis Nasional Tiongkok untuk alat pendeteksi SARS-CoV-2 berbasis PCR. Di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mendistribusikan Panel Diagnostik RT-PCR Real-Time Koronavirus Baru 2019 (2019-nCoV) ke laboratorium kesehatan masyarakat melalui International Reagent Resource. Satu dari tiga uji genetik di alat uji versi lama memberikan hasil yang tidak meyakinkan karena kesalahan reagen, dan jumlah pengujian di CDC di Atlanta terbatas; hal ini mengakibatkan rata-rata kurang dari 100 sampel per hari berhasil diproses sepanjang Februari 2020. Pengujian menggunakan dua komponen dianggap tidak dapat diandalkan hingga 28 Februari 2020, dan baru setelah itu laboratorium negara bagian dan laboratorium lokal diizinkan untuk melakukan pengujian. Uji ini disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat berdasarkan Otorisasi Penggunaan Darurat. Laboratorium komersial AS mulai melakukan pengujian pada awal Maret 2020. Per 5 Maret 2020, LabCorp mengumumkan ketersediaan pengujian COVID-19 berbasis RT-PCR pada skala nasional. Begitu pula, Quest Diagnostics membuat pengujian COVID-19 tersedia secara nasional pada 9 Maret 2020. Tidak ada batasan kuantitas yang diumumkan; pengumpulan dan pemrosesan spesimen harus dilakukan sesuai dengan persyaratan CDC. Di Rusia, uji COVID-19 dikembangkan dan diproduksi oleh Pusat Riset Negara Bagian Virologi dan Bioteknologi VECTOR. Pada 11 Februari 2020, uji tersebut didaftarkan oleh Layanan Federal untuk Surveilans dalam Perawatan Kesehatan. Pada 12 Maret 2020, Mayo Clinic dilaporkan mengembangkan uji untuk mendeteksi infeksi COVID-19. Pada 13 Maret 2020, Roche Diagnostics menerima persetujuan FDA untuk pengujian yang dapat dilakukan dalam waktu 3,5 jam dengan volume tinggi sehingga satu mesin dapat melakukan sekitar 4.128 pengujian dalam waktu 24 jam. Pada 19 Maret 2020, FDA mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat (EUA) kepada Abbott Laboratories untuk pengujian pada sistem m2000 Abbott; FDA sebelumnya telah mengeluarkan otorisasi yang sama kepada Hologic, LabCorp, dan Thermo Fisher Scientific. Pada 21 Maret 2020, Cepheid juga menerima EUA dari FDA untuk pengujian yang memakan waktu sekitar 45 menit. FDA telah menyetujui pengujian yang menggunakan teknologi amplifikasi asam nukleat isotermal yang bukan PCR. Karena tidak memerlukan serangkaian siklus pergantian suhu, metode ini dapat memberikan hasil positif hanya dalam waktu lima menit dan hasil negatif dalam 13 menit. Saat ini ada sekitar 18.000 mesin ini di AS dan Abbott mengantisipasi untuk meningkatkan produksi hingga menghasilkan 50.000 uji per hari. Uji yang menggunakan antibodi monoklonal yang secara spesifik mengikat protein nukleokapsid (protein N) koronavirus baru sedang dikembangkan di Taiwan, dengan harapan dapat memberikan hasil dalam waktu 15 hingga 20 menit seperti uji influenza cepat. Sebuah tinjauan pustaka yang diterbitkan pada Maret 2020 menyimpulkan bahwa "foto toraks memiliki nilai diagnostik yang kecil pada tahap awal, sememtara temuan CT [tomografi terkomputasi] mungkin sudah ada sebelum awitan gejala." Fitur khas pada CT termasuk opasitas ground-glass multilobar bilateral dengan distribusi perifer, asimetri, dan posterior. Dominasi subpleura, crazy paving, dan konsolidasi terbentuk seiring perkembangan penyakit. Di Wuhan, sebuah studi yang membandingkan PCR dengan CT di titik asal pandemi saat ini menunjukkan bahwa CT secara signifikan lebih sensitif daripada PCR, meskipun kurang spesifik, dengan banyak fitur pencitraan tumpang tindih dengan pneumonia dan proses penyakit lainnya. Pada Maret 2020, American College of Radiology merekomendasikan "CT tidak boleh digunakan untuk penapisan atau sebagai uji lini pertama dalam mendiagnosis COVID-19."Pada Maret 2020, CDC merekomendasikan PCR untuk penapisan awal. Bagian dari respons imun terhadap infeksi adalah pembentukan antibodi yang mencakup IgM dan IgG. Hal ini dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi pada individu sejak sekitar 7 hari setelah awitan gejala, untuk menentukan imunitas terhadap penyakit, dan dalam surveilans populasi. Pemeriksaan dapat dilakukan di laboratorium pusat (CLT) atau dengan pengujian point-of-care (PoCT). Sistem otomatis dengan hasil tinggi di banyak laboratorium klinis akan dapat melakukan pemeriksaan ini, tetapi ketersediaannya akan tergantung pada tingkat produksi untuk setiap sistem. Untuk CLT, umumnya digunakan satu spesimen darah perifer, meskipun serangkaian spesimen dapat digunakan untuk mengikuti respon imun. Untuk PoCT, umumnya digunakan satu spesimen darah perifer yang diperoleh melalui tusukan kulit. Tidak seperti metode PCR, langkah ekstraksi tidak diperlukan sebelum pemeriksaan. Pada 26 Maret 2020, FDA menyebutkan 29 lembaga yang menyediakan pemberitahuan kepada agensi sebagaimana diperlukan dan karena itu kini dapat mendistribusikan uji antibodi mereka. Pada 7 April 2020, hanya satu uji yang telah disetujui oleh FDA berdasarkan otorisasi penggunaan darurat. Pada akhir Maret 2020, Euroimmun Medical Laboratory Diagnostics dan Epitope Diagnostics mendapat persetujuan Eropa untuk alat uji mereka yang dapat mendeteksi antibodi IgG dan IgA terhadap virus dalam sampel darah. Kapasitas pengujiannya hingga beberapa ratus sampel dalam beberapa jam, jadi jauh lebih cepat daripada pemeriksaan PCR konvensional terhadap RNA virus. Antibodi biasanya terdeteksi 14 hari setelah awitan infeksi. Pada awal April, Inggris Raya mendapati bahwa tidak satu pun alat uji antibodi yang dibelinya cukup bagus untuk digunakan. Hong Kong menyusun skema agar pasien terduga dapat tinggal di rumah, "departemen gawat darurat akan memberikan tabung spesimen kepada pasien," mereka meludah ke dalamnya, mengirimnya kembali, dan mendapatkan hasil uji beberapa saat kemudian. NHS Inggris mengumumkan bahwa NHS sedang merintis skema pengujian kasus terduga di rumah sehingga menghilangkan risiko pasien menulari orang lain jika mereka datang ke rumah sakit atau harus mendisinfeksi ambulans jika digunakan. Pada pengujian lantatur untuk kasus terduga COVID-19, seorang tenaga kesehatan profesional akan mengambil sampel menggunakan tindakan pencegahan yang sesuai. Pusat pengujian lantatur telah membantu Korea Selatan melakukan pengujian tercepat dan terluas dibandingkan negara mana pun. Pada 2 Maret, National Association of Statutory Health Insurance Physicians Jerman mengatakan bahwa Jerman memiliki kapasitas sekitar 12.000 uji per hari dalam tatanan rawat jalan dan 10.700 pengujian telah dilakukan pada minggu sebelumnya. Biaya ditanggung oleh asuransi kesehatan jika uji diminta oleh dokter. Menurut presiden Robert Koch Institute, Jerman memiliki kapasitas keseluruhan sebanyak 160.000 uji per minggu. Pada 19 Maret, uji lantatur ditawarkan di beberapa kota besar. Per 26 Maret 2020, jumlah uji yang dilakukan di Jerman tidak diketahui karena hanya hasil positif yang dilaporkan. Sebuah survei laboratorium pertama mengungkapkan bahwa, secara total, setidaknya 483.295 sampel telah diuji hingga dan termasuk minggu 12/2020 dan 33.491 sampel (6,9%) teruji positif untuk SARS-CoV-2.Di Israel, para peneliti di Rumah Sakit Technion dan Rambam mengembangkan dan menguji metode untuk menguji sampel dari 64 pasien secara bersamaan, dengan menggabungkan sampel dan hanya menguji lebih lanjut jika sampel gabungan ditemukan positif. Di Wuhan, laboratorium pendeteksi darurat sebesar 2.000 meter persegi bernama "Huo-Yan" (bahasa Mandarin: 火 眼, atau "Mata Api" dalam bahasa Indonesia) dibuka pada 5 Februari 2020 oleh BGI, yang dapat memproses lebih dari 10.000 sampel sehari. Dengan konstruksinya diawasi oleh pendiri BGI Wang Jian dan memakan waktu 5 hari, pemodelan menunjukkan bahwa kasus di Hubei bisa 47% lebih tinggi dan biaya terkait untuk penanganan karantina bisa dua kali lipat jika kapasitas pengujian ini tidak ada. Laboratorium Wuhan segera diikuti oleh laboratorium Huo-Yan di Shenzhen, Tianjin, Beijing, dan Shanghai, di total 12 kota di seluruh Tiongkok. Per 4 Maret 2020, total kapasitas hariannya sebesar 50.000 uji per hari. Desain multipleks sumber terbuka yang dirilis oleh Origami Assays dapat menguji sebanyak 1.222 sampel pasien untuk COVID-19 dengan hanya menggunakan 93 pemeriksaan. Desain seimbang ini dapat dijalankan di laboratorium kecil tanpa perlu penangan cairan robotik. Hingga bulan Maret, kekurangan dan jumlah reagen yang tidak mencukupi telah menjadi hambatan untuk pengujian massal di Uni Eropa, Inggris Raya, dan Amerika Serikat. Karena hal tersebut, sejumlah peneliti berusaha mengeksplorasi protokol penyiapan sampel yang melibatkan pemanasan sampel pada 98 °C (208 °F) selama 5 menit untuk melepaskan genom RNA untuk pengujian lebih lanjut. Pada 31 Maret, Uni Emirat Arab dilaporkan melakukan lebih banyak pengujian koronavirus per kapita populasi dibandingkan negara mana pun, dan siap meningkatkan skala pengujian untuk mencapai sebagian besar populasi. Hal ini dicapai melalui kombinasi pengujian lantatur dan pembelian laboratorium hasil massal berskala populasi dari Grup 42 dan BGI (berdasarkan pada laboratorium deteksi darurat "Huo-Yan" di Tiongkok). Dibangun dalam 14 hari, laboratorium ini mampu melakukan puluhan ribu uji RT-PCR per hari dan merupakan laboratorium pertama yang memiliki skala ini di luar Tiongkok. Berbagai resep pengujian yang menargetkan berbagai bagian profil genetik koronavirus dikembangkan di Tiongkok, Prancis, Jerman, Hong Kong, Jepang, dan Amerika Serikat. Organisasi Kesehatan Dunia mengadopsi resep Jerman untuk produksi alat uji yang dikirim ke negara-negara berpenghasilan rendah tanpa sumber daya untuk mengembangkan sendiri. Resep Jerman dipublikasikan pada 17 Januari 2020; protokol yang dikembangkan oleh Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat tidak tersedia hingga 28 Januari sehingga memperlambat pengujian yang tersedia di AS. Di awal wabah, Tiongkok dan Amerika Serikat bermasalah dengan keandalan alat uji; dua negara ini dan Australia tidak dapat menyediakan cukup alat uji untuk memenuhi permintaan dan rekomendasi pengujian pakar kesehatan. Sebaliknya, pakar mengatakan bahwa ketersediaan pengujian yang luas di Korea Selatan membantu mengurangi penyebaran koronavirus baru. Kapasitas pengujian, sebagian besar di laboratorium sektor swasta, dibangun dalam beberapa tahun oleh pemerintah Korea Selatan. Pada 16 Maret, Organisasi Kesehatan Dunia menyerukan peningkatan program pengujian sebagai cara terbaik untuk memperlambat peningkatan pandemi COVID-19. Permintaan yang tinggi untuk pengujian karena penyebaran virus yang luas menyebabkan ratusan ribu pengujian menunggu pengerjaan di laboratorium swasta AS, dan persediaan alat usap serta reagen kimia menjadi genting. Pada Maret 2020, Tiongkok melaporkan masalah akurasi pada alat uji mereka. Di Amerika Serikat, alat uji yang dikembangkan oleh CDC memiliki "cacat"; pemerintah kemudian menghapus halangan birokrasi yang mencegah pengujian oleh swasta. Spanyol membeli alat uji dari perusahaan Tiongkok Shenzhen Bioeasy Biotechnology Co Ltd, tetapi mendapati bahwa hasilnya tidak akurat. Perusahaan tersebut menjelaskan bahwa hasil yang tidak benar mungkin akibat kegagalan dalam mengumpulkan sampel atau menggunakan alat uji dengan benar. Kementrian Spanyol mengatakan bahwa mereka akan menarik peralatan yang memberi hasil tidak benar, dan menggantinya dengan alat uji lain yang disediakan oleh Shenzhen Bioeasy.80% alat uji yang dibeli Republik Ceko dari Tiongkok memberi hasil yang tidak benar. Slovakia membeli 1,2 juta alat uji dari Tiongkok yang ternyata tidak akurat. Perdana Menteri Matovič menyarankan agar alat uji ini dibuang ke sungai Danube. Ateş Kara dari Kementrian Kesehatan Turki mengatakan alat uji yang dibeli Turki dari Tiongkok memiliki "tingkat kesalahan tinggi" dan mereka tidak "menggunakannya".Inggris Raya membeli 3,5 juta alat uji dari Tiongkok, tetapi di awal April 2020, mereka mengumumkan bahwa alat uji ini tidak dapat digunakan. Pengujian, yang diikuti dengan karantina orang yang teruji positif dan pelacakan orang yang kontak dengan orang yang positif SARS-CoV-2, memberi hasil akhir yang positif. Peneliti yang bekerja di kota Vò Italia, lokasi kematian pertama akibat COVID-19 di Italia, melakukan dua putaran pengujian pada seluruh populasi yang terdiri atas 3.400 orang, dengan jarak sekitar 10 hari. Sekitar separuh dari orang yang teruji positif tidak memiliki gejala, dan semua kasus yang ditemukan dikarantina. Dengan pembatasan perjalanan ke komunitas ini, infeksi baru ditiadakan sama sekali. Dengan pelacakan kontak yang agresif, pembatasan perjalanan masuk, pengujian, dan karantina, pandemi koronavirus 2020 di Singapura berkembang jauh lebih lambat dibandingkan negara-negara maju lainnya meski tanpa pembatasan ekstrem, seperti penutupan paksa restoran dan perusahaan ritel. Banyak acara dibatalkan, dan Singapura menyarankan penduduk untuk tinggal di rumah pada 28 Maret, tetapi sekolah-sekolah dibuka kembali tepat waktu setelah liburan pada 23 Maret. Beberapa negara lain juga menangani pandemik dengan pelacakan kontak yang agresif, pembatasan perjalanan masuk, pengujian, dan karantina, tetapi dengan karantina wilayah yang tidak terlalu agresif, seperti Islandia dan Korea Selatan. Sebuah studi statistik menemukan bahwa negara-negara yang menguji lebih banyak, relatif terhadap jumlah kematian, memiliki angka fatalitas kasus yang jauh lebih rendah, mungkin karena negara-negara ini lebih mampu mendeteksi orang yang memiliki gejala ringan atau tanpa gejala. WHO merekomendasikan agar negara-negara yang tidak memiliki kapasitas pengujian, dan laboratorium nasional dengan pengalaman COVID-19 yang terbatas, mengirim lima sampel positif COVID-19 pertama dan sepuluh sampel negatif pertama ke salah satu dari 16 laboratorium rujukan WHO untuk pengujian konfirmasi. Dari 16 laboratorium rujukan, 7 ada di Asia, 5 di Eropa, 2 di Afrika, 1 di Amerika Utara, dan 1 di Australia. Di bagan berikut ini, kolom "% Hasil positif pengujian" dipengaruhi oleh kebijakan pengujian negara tersebut. Negara yang hanya menguji orang yang dirawat di rumah sakit akan memiliki % hasil positif lebih tinggi dibandingkan negara yang menguji semua penduduknya, entah mereka menunjukkan gejala atau tidak, dengan faktor lain sama. Mencuci tangan,yang disebut juga dengan kebersihan tangan, adalah tindakan membersihkan tangan seseorang yang bertujuan menghilangkan kotoran, minyak, mikroorganisme, atau zat lain yang tidak diinginkan. Mencuci tangan dengan sabun secara konsisten pada "saat kritis" tertentu sepanjang hari mencegah penyebaran banyak penyakit, misalnya diare dan kolera, yang ditularkan melalui rute fekal-oral. Orang juga bisa tertular penyakit pernapasan, seperti influenza atau selesma, jika mereka tidak mencuci tangan sebelum menyentuh mata, hidung, atau mulut (yaitu, membran mukosa). Lima saat kritis sepanjang hari yang sangat penting untuk mencuci tangan dengan sabun adalah: sebelum dan sesudah buang air besar, setelah membersihkan pantat anak atau mengganti popok, sebelum menyuapi anak, sebelum makan serta sebelum dan sesudah menyiapkan makanan atau mengolah daging, ikan, atau unggas mentah. Jika air dan sabun tidak ada, tangan bisa dibersihkan dengan abu. Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan mencuci tangan: Sebelum, ketika, dan setelah menyiapkan makanan. Sebelum dan setelah merawat orang sakit. Setelah mengganti popok atau membersihkan anak yang baru saja menggunakan toilet. Setelah membersihkan hidung, batuk, atau bersin. Setelah menyentuh hewan, makanan hewan, atau kotoran hewan. Kebersihan tangan medis mengacu pada praktik kebersihan yang berhubungan dengan prosedur medis. Mencuci tangan sebelum memberikan obat atau perawatan medis dapat mencegah atau mengurangi penyebaran penyakit. Tujuan medis utama mencuci tangan adalah membersihkan tangan dari patogen (bakteri, virus, atau mikroorganisme lain yang dapat menyebabkan penyakit) dan bahan kimia yang dapat menyebabkan bahaya atau penyakit. Hal ini terutama penting bagi orang yang menangani makanan atau bekerja di bidang medis, tetapi juga merupakan praktik yang penting bagi masyarakat umum. Mencuci tangan memiliki banyak manfaat kesehatan, termasuk meminimalkan penyebaran influenza, virus korona, dan penyakit menular lainnya; mencegah penyebab diare yang menular; mengurangi infeksi pernapasan; serta mengurangi angka mortalitas bayi pada persalinan di rumah. Studi yang dilakukan pada tahun 2013 menunjukkan bahwa peningkatan praktik mencuci tangan dapat sedikit meningkatkan pertumbuhan tinggi anak balita. Di negara berkembang, angka mortalitas anak akibat penyakit pernapasan dan diare dapat dikurangi dengan memperkenalkan perubahan perilaku sederhana, seperti mencuci tangan dengan sabun. Tindakan sederhana ini dapat mengurangi angka mortalitas akibat penyakit tersebut hingga hampir 50%. Intervensi yang menggalakkan cuci tangan dapat mengurangi kasus diare hingga sekitar sepertiganya; intervensi ini dapat dilakukan dengan menyediakan air bersih di daerah berpenghasilan rendah. 48% pengurangan kasus diare dapat dikaitkan dengan cuci tangan dengan sabun. Mencuci tangan dengan sabun adalah satu-satunya cara yang paling efektif dan murah untuk mencegah diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sebagai perilaku bawah sadar yang dilakukan di rumah, sekolah, dan masyarakat di seluruh dunia. Pneumonia, yang merupakan ISPA utama, adalah penyebab nomor satu kematian anak balita; penyakit ini menyebabkan kematian sekitar 1,8 juta anak per tahun. Diare dan pneumonia menyebabkan kematian hampir 3,5 juta anak setiap tahun. Menurut UNICEF, membuat cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan toilet menjadi kebiasaan yang tertanam dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa alih-alih vaksin atau tindakan medis apa pun, serta mengurangi kematian akibat diare hingga hampir setengahnya dan kematian akibat infeksi saluran pernapasan akut hingga seperempatnya. Mencuci tangan biasanya digabungkan bersama dengan tindakan sanitasi lainnya sebagai bagian dari program air, sanitasi, dan kebersihan (WASH). Mencuci tangan juga melindungi diri dari impetigo yang ditularkan melalui kontak fisik secara langsung. Efek samping kecil mencuci tangan adalah pencucian tangan yang sering dilakukan dapat menyebabkan kerusakan kulit akibat pengeringan kulit. Studi yang dilakukan pada tahun 2012 di Denmark menemukan bahwa mencuci tangan secara berlebihan dapat menyebabkan kondisi kulit gatal dan bersisik, yang dikenal sebagai eksim tangan atau dermatitis tangan, yang terutama banyak terjadi di kalangan petugas kesehatan. Mencuci tangan terlalu sering juga dilihat sebagai salah satu gejala gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Ada lima saat kritis sepanjang hari ketika mencuci tangan dengan sabun adalah penting guna mengurangi penularan penyakit secara fekal-oral, yaitu: sebelum dan sesudah menggunakan toilet (buang air kecil, buang air besar), setelah membersihkan pantat anak (mengganti popok), sebelum menyuapi anak, sebelum makan dan sebelum/sesudah menyiapkan makanan atau mengolah daging, ikan, atau unggas mentah. Saat lain yang penting untuk menerapkan teknik mencuci tangan yang benar guna mencegah penularan penyakit adalah sebelum dan sesudah merawat luka; setelah bersin, batuk, atau meniup hidung; setelah menyentuh kotoran hewan atau menangani hewan; dan setelah menyentuh sampah. Di banyak negara, tingkat mencuci tangan dengan sabun masih rendah. Sebuah studi tentang mencuci tangan di 54 negara pada tahun 2015 menemukan bahwa rata-rata 38,7% rumah tangga mempraktikkan cuci tangan dengan sabun. Sebuah studi tahun 2014 menunjukkan bahwa Arab Saudi memiliki tingkat tertinggi dengan 97 persen; Amerika Serikat hampir di tengah dengan 77 persen; dan Tiongkok pada tingkat terendah dengan 23 persen. Sekarang tersedia beberapa metodologi perubahan perilaku untuk meningkatkan adopsi kebiasaan perilaku mencuci tangan dengan sabun pada saat kritis. Mencuci tangan berkelompok untuk pelajar pada waktu yang telah ditentukan merupakan salah satu pilihan di negara-negara berkembang untuk membiasakan cuci tangan dalam perilaku anak. Program Perawatan Kesehatan Mendasar yang diterapkan Departemen Pendidikan di Filipina merupakan contoh tindakan berskala tepat untuk mendukung kesehatan dan pendidikan anak. Pemberian obat cacing dua kali setahun, ditambah dengan mencuci tangan setiap hari dengan sabun dan menyikat gigi setiap hari dengan fluorida, adalah inti dari program nasional ini. Program ini juga berhasil diterapkan di Indonesia. Pembersihan mikroorganisme dari kulit diperkuat dengan penambahan sabun atau deterjen ke air. Kerja utama sabun dan deterjen adalah mengurangi penghalang untuk larutan dan meningkatkan daya larut. Air saja merupakan pembersih kulit yang tidak efisien karena lemak dan protein, yang merupakan komponen kotoran organik, tidak mudah larut dalam air. Kendati demikian, pembersihan lemak dan protein dibantu oleh aliran air yang cukup. Sabun padat, karena sifatnya yang dapat digunakan kembali, mungkin dapat mengandung bakteri yang didapatkan dari penggunaan sebelumnya. Sejumlah kecil studi yang meneliti pemindahan bakteri dari sabun padat terkontaminasi menyimpulkan bahwa pemindahan tidak mungkin terjadi karena bakteri terbilas dengan busa. Meski demikian, CDC tetap menyatakan "sabun cair yang pengeluarannya dari wadah tanpa disentuh tangan lebih disukai." Sabun antibakeri digalakkan secara besar-besaran kepada masyarakat yang sadar kesehatan. Sampai saat ini, belum ada bukti bahwa penggunaan antiseptik atau disinfektan yang direkomendasikan lebih baik untuk organisme yang tahan antibiotik di alam. Namun, sabun antibakteri mengandung agen antibakeri umum seperti triklosan, yang memiliki daftar strain organisme berdaya tahan yang luas. Jadi, sekalipun strain yang tahan antibiotik tidak ditargetkan oleh sabun antibakteri, sabun ini mungkin tidak seefektif yang dipasarkan. Selain surfaktan dan zat pelindung kulit, formulasi yang canggih dapat mengandung asam (asam asetat, asam askorbat, asam laktat) sebagai pengatur pH, asam benzoat sebagai antimikroba aktif, dan kondisioner kulit lebih lanjut (lidah buaya, vitamin, mentol, ekstrak tumbuhan).Sebuah analisis komprehensif dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Oregon menunjukkan bahwa sabun biasa sama efektifnya dengan sabun antibakteri tingkat konsumen yang mengandung triklosan dalam mencegah penyakit dan membersihkan bakteri dari tangan. Air hangat yang nyaman untuk mencuci tangan tidak cukup panas untuk membunuh bakteri. Bakteri tumbuh lebih cepat pada suhu tubuh (37 °C). Air hangat bersabun lebih efektif dibandingkankan dengan air dingin bersabun dalam menghilangkan minyak alami yang menahan kotoran dan bakteri. Namun, bertolak belakang dengan keyakinan banyak orang, studi ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan air hangat tidak memiliki efek dalam mengurangi jumlah mikroba di tangan. Penyanitasi tangan atau antiseptik tangan adalah agen kebersihan yang tidak berbasis air. Pada akhir tahun 1990-an dan awal abad ke-21, agen kebersihan tangan berupa penggosok alkohol yang tidak berbasis air (disebut juga penggosok tangan berbasis alkohol, penggosok tangan antiseptik, atau penyanitasi tangan) mulai dikenal. Sebagian besar agen kebersihan ini berbasis isopropil alkohol atau etanol yang diformulasikan bersama dengan bahan pengental seperti Carbomer (polimer asam akrilat) menjadi gel atau bersama humektan seperti gliserin menjadi cairan atau busa agar mudah digunakan dan untuk mengurangi efek mengeringkan dari alkohol. Penambahan hidrogen peroksida encer meningkatkan aktivitas antimikroba lebih lanjut. Penyanitasi tangan yang mengandung setidaknya 60-95% alkohol merupakan pembunuh kuman yang efisien. Penyanitasi alkohol gosok membunuh bakteri, bakteri yang tahan terhadap banyak obat (MRSA dan VRE), bakteri tuberkulosis, sejumlah virus (mencakup HIV, herpes, RSV, rhinovirus, vaccinia, influenza, dan hepatitis), dan jamur. Penyanitasi alkohol yang mengandung 70% alkohol membunuh 99,97% (pengurangan log 3,5, mirip dengan pengurangan 35 desibel) bakteri di tangan 30 detik setelah pemakaian dan 99,99% hingga 99,999% (pengurangan log 4 hingga 5) bakteri di tangan 1 menit setelah pemakaian. Penyanitasi tangan paling efektif terhadap bakteri dan kurang efektif terhadap beberapa virus. Penyanitasi tangan berbasis alkohol hampir seluruhnya tidak efektif terhadap virus tipe norovirus (atau Norwalk), penyebab paling umum untuk gastroenteritis menular. Antiseptik tangan atau penggosok alkohol dalam jumlah memadai harus digunakan untuk membasahi atau menutupi dua tangan secara menyeluruh. Bagian depan dan belakang dua tangan serta di sela-sela dan ujung semua jari digosok sekitar 30 detik hingga cairan, busa, atau gel kering. Ujung jari juga harus dicuci dengan baik dengan menggosoknya di dua telapak tangan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS lebih menyarankan cuci tangan alih-alih penyanitasi tangan gosok, terutama ketika tangan terlihat kotor. Meningkatnya penggunaan agen penyanitasi karena kemudahan penggunaan dan aktivitas pembunuhan yang cepat terhadap mikroorganisme; namun, agen penyanitasi seharusnya tidak digunakan sebagai pengganti cuci tangan yang benar, kecuali sabun dan air tidak tersedia. Pengunaan penyanitasi tangan berbasis alkohol secara sering dapat menyebabkan kulit kering, kecuali jika emolien dan/atau pelembab kulit ditambahkan ke formula. Efek mengeringkan dari alkohol dapat dikurangi atau dihilangkan dengan menambahkan gliserin dan/atau emolien lain ke formula. Dalam uji klinis, penyanitasi tangan berbasis alkohol yang mengandung emolien menyebabkan iritasi dan kekeringan kulit jauh lebih rendah dibandingkan sabun dan deterjen antimikroba. Dermatitis kontak alergik, sindrom urtikaria kontak, atau hipersensitivitas terhadap alkohol atau zat aditif dalam penggosok tangan alkohol jarang terjadi. Kecenderungan lebih rendah menyebabkan dermatitis kontak yang mengganggu menjadi daya tarik produk ini dibandingkan mencuci tangan dengan air dan sabun. Meskipun efektif, agen non-air tidak membersihkan tangan dari bahan organik, tetapi hanya mendisinfeksinya. Karena alasan inilah, pembersih tangan tidak seefektif sabun dan air dalam mencegah penyebaran banyak patogen sebab patogen masih ada di tangan. Kemanjuran penyanitasi tangan bebas alkohol sangat tergantung pada bahan dan formulasinya, dan menurut sejarah, produk ini secara signifikan berkinerja lebih buruk dibandingkan alkohol dan penggosok alkohol. Baru-baru ini, formulasi yang menggunakan benzalkonium klorida terbukti memiliki aktivitas antimikroba yang terus-menerus dan kumulatif setelah pemakaian, tidak seperti alkohol, yang kemanjurannya terbukti berkurang setelah penggunaan berulang, mungkin karena reaksi efek samping yang progresif. Banyak orang di komunitas berpenghasilan rendah tidak mampu membeli sabun dan menggunakan abu atau tanah sebagai gantinya. Abu atau tanah mungkin lebih efektif dibandingkan air saja, tetapi kurang efektif dibandingkan sabun. Salah satu yang dikhawatirkan adalah, jika terkontaminasi dengan mikroorganisme, tanah atau abu mungkin akan meningkatkan penyebaran penyakit alih-alih menguranginya. Seperti sabun, abu juga merupakan agen desinfektan karena, jika kontak dengan air, abu akan membentuk larutan alkalin. WHO merekomendasikan abu dan pasir sebagai alternatif sabun ketika sabun tidak tersedia. Teknik mencuci tangan yang benar berdasarkan rekomendasi Pusat Pengendalian Penyakit AS untuk pencegahan penularan penyakit mencakup langkah-langkah berikut: Basahi tangan dengan air hangat atau dingin yang mengalir. Air mengalir direkomendasikan sebab baskom yang didiamkan mungkin terkontaminasi, sedangkan suhu air tampaknya tidak berpengaruh. Busakan tangan dengan menggosoknya dengan sabun yang banyak, termasuk punggung tangan, di sela-sela jari, dan di bawah kuku. Sabun mengangkat kuman dari kulit, dan studi menunjukkan bahwa orang cenderung mencuci tangan lebih saksama saat menggunakan sabun dibandingkan saat menggunakan air saja. Gosok setidaknya selama 20 detik. Menggosok menciptakan gesekan, yang membantu menghilangkan kuman dari kulit, dan menggosok lebih lama menghilangkan lebih banyak kuman. Bilas secara saksama di bawah air mengalir. Membilas di dalam baskom bisa membuat tangan terkontaminasi kembali. Keringkan dengan lap kering atau biarkan mengering di udara. Tangan yang basah dan lembab lebih mudah terkontaminasi kembali. Daerah yang sering terlewat adalah jempol, pergelangan tangan, daerah di antara jari, dan di bawah kuku. Kuku buatan dan cat kuku yang terkelupas dapat menyimpan mikroorganisme. Losion berpelembab sering direkomendasikan untuk menjaga agar tangan tidak mengering; kulit kering dapat menyebabkan kerusakan kulit yang dapat meningkatkan risiko penularan infeksi. Berbagai pilihan berbiaya rendah dapat dibuat untuk memfasilitasi mencuci tangan saat air keran dan/atau sabun tidak tersedia, misalnya, mengalirkan air dari jerigen atau botol yang digantung dan dilubangi dan/atau menggunakan abu, jika perlu, di negara berkembang. Dalam situasi ketika pasokan air terbatas (seperti sekolah atau daerah pedesaan di negara berkembang), ada solusi hemat air, seperti "tippy-tap", serta pilihan berbiaya rendah lainnya. Keran tippy adalah teknologi sederhana yang menggunakan botol air yang digantung dengan tali, tuas yang dioperasikan oleh kaki untuk menuangkan sedikit air ke tangan, dan sebatang sabun. Pengeringan tangan yang efektif adalah bagian penting dalam proses kebersihan tangan, tetapi ada perdebatan tentang bentuk pengeringan tangan paling efektif di toilet umum. Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa lap kertas jauh lebih bersih dibandingkan pengering tangan listrik yang ditemukan di banyak toilet. Pada tahun 2008, sebuah studi dilakukan oleh Universitas Westminster, London, dan disponsori oleh industri lap kertas European Tissue Symposium, untuk membandingkan tingkat kebersihan lap kertas, pengering tangan udara hangat, dan pengering tangan udara jet yang lebih moderen. Setelah mencuci dan mengeringkan tangan dengan pengering udara hangat, jumlah total bakteri ditemukan meningkat rata-rata 194% di buku-buku jari dan 254% di telapak tangan. Mengeringkan dengan pengering udara jet menyebabkan kenaikan jumlah total bakteri rata-rata 42% di buku-buku jari dan 15% di telapak tangan. Setelah mencuci dan mengeringkan tangan dengan lap kertas, jumlah total bakteri berkurang rata-rata 76% di buku-buku jari dan 77% di telapak tangan.Ilmuwan juga melakukan pengujian untuk menentukan potensi kontaminasi silang pada pengguna toilet lain dan lingkungan toilet akibat tiap-tiap jenis metode pengeringan. Pengering udara jet, yang mengembuskan udara dari unit dengan kecepatan yang diklaim 180 m/s (650 km/jam; 400 mph), mampu meniup mikroorganisme dari tangan dan unit dan berpotensi mencemari pengguna toilet lain dan lingkungan toilet hingga sejauh 2 meter. Penggunaan pengering tangan udara hangat menyebarkan mikroorganisme hingga 0,25 meter dari pengering. Lap kertas tidak menunjukkan penyebaran mikroorganisme yang signifikan. Pada tahun 2005, dalam studi yang dilakukan oleh TÜV Produkt und Umwelt, berbagai metode pengeringan tangan dievaluasi. Setelah pengeringan tangan, perubahan jumlah bakteri berikut diamati: Ada banyak manufaktur pengering tangan, dan pengering tangan telah dibandingkan dengan pengeringan dengan menggunakan lap kertas. Mencuci tangan dengan menggunakan tisu penyanitasi tangan adalah alternatif selama berpergian jika tidak ada sabun dan air. Penyanitasi tangan berbasis alkohol harus mengandung setidaknya 60% alkohol. Pencucian tangan medis diwajibkan jauh setelah ahli fisika Hungaria Ignaz Semmelweis menemukan keefektifannya (pada tahun 1846) dalam mencegah penyakit di lingkungan rumah sakit. Ada perangkat elektronik yang menyediakan umpan balik untuk mengingatkan karyawan rumah sakit untuk mencuci tangan jika mereka lupa. Satu studi menemukan bahwa tingkat infeksi menurun dengan penggunaan perangkat tersebut. Pencucian tangan medis dilakukan selama minimal 15 detik, dengan menggunakan sabun dan air dalam jumlah banyak atau gel untuk menyabuni dan menggosok setiap bagian tangan. Tangan harus digosok satu sama lain dengan jari-jari saling bertautan. Jika ada kotoran di bawah kuku, sikat bulu dapat digunakan untuk menghilangkannya. Karena kuman dapat bertahan dalam air yang ada di tangan, tangan perlu dibilas dengan saksama dan dikeringkan dengan lap bersih. Setelah kering, lap kertas digunakan untuk mematikan keran air (dan membuka pintu keluar jika perlu). Tindakan ini menghindari rekontaminasi tangan dari permukaan tersebut. Tujuan mencuci tangan dalam tatanan perawatan kesehatan adalah untuk menghilangkan mikroorganisme patogen ("kuman") dan menghindari penularannya. The New England Journal of Medicine melaporkan bahwa kurangnya mencuci tangan masih pada tingkat yang tidak dapat diterima di sebagian besar lingkungan medis, dengan sejumlah besar dokter dan perawat terus lupa mencuci tangan sebelum menyentuh pasien sehingga menularkan mikroorganisme. Satu studi menunjukkan bahwa mencuci tangan yang benar dan prosedur sederhana lainnya dapat menurunkan tingkat infeksi aliran darah terkait kateter hingga 66 persen. Organisasi Kesehatan Dunia telah menerbitkan lembaran yang menunjukkan standar cuci tangan dan gosok tangan di sektor perawatan kesehatan. Pedoman konsep kebersihan tangan WHO juga dapat dilihat di situs webnya untuk komentar publik. Tinjauan yang relevan dilakukan oleh Whitby et al. Perangkat komersil dapat mengukur dan memvalidasi kebersihan tangan jika demonstrasi kepatuhan terhadap peraturan diperlukan. Organisasi Kesehatan Dunia memiliki "Lima Saat" untuk mencuci tangan: setelah terpapar ke darah/cairan tubuh sebelum tugas aseptik, dan setelah perawatan pasien. Penambahan bahan kimia antiseptik ke sabun (sabun "obat" atau "antimikroba") berfungsi membunuh bahan cuci tangan. Fungsi membunuh tersebut mungkin diinginkan sebelum melakukan bedah atau dalam situasi ketika organisme yang tahan antibiotik sangat lazim. Untuk 'menggosok' tangan sebelum operasi bedah, diperlukan keran yang dapat dinyalakan dan dimatikan tanpa menyentuh, pencuci klorheksidin atau yodium, lap steril untuk mengeringkan tangan setelah mencuci, dan sikat steril untuk menggosok serta instrumen steril lainnya untuk membersihkan bawah kuku. Semua perhiasan harus dilepaskan. Prosedur ini mensyaratkan mencuci tangan dan lengan bawah sampai ke siku, biasanya 2–6 menit. Waktu penggosokan yang lama (10 menit) tidak diperlukan. Ketika membilas, air di lengan bawah harus dicegah agar tidak mengalir kembali ke tangan. Setelah selesai mencuci tangan, tangan dikeringkan dengan kain steril dan jubah bedah dikenakan. Untuk mengurangi penyebaran kuman, lebih baik mencuci tangan atau menggunakan penyanitasi tangan sebelum dan setelah menangani orang sakit. Untuk pengendalian infeksi stafilokokus di rumah sakit, ditemukan bahwa manfaat terbesar membersihkan tangan berasal dari 20% pertama pencucian, dan bahwa manfaat tambahan yang didapatkan sangat sedikit saat frekuensi pembersihan tangan ditingkatkan di atas 35%. Mencuci dengan sabun biasa mengakibatkan lebih dari tiga kali lipat penularan penyakit infeksi ke makanan dibandingkan mencuci dengan sabun antibakteri. Pembandingan antara menggosok tangan dengan larutan berbasis alkohol dan mencuci tangan dengan sabun antibakteri dengan waktu median masing-masing 30 detik menunjukkan bahwa penggosok tangan berbasis alkohol mengurangi kontaminasi bakteri 26% lebih banyak daripada sabun antibakteri. Namun, sabun dan air lebih efektif daripada penggosok tangan berbasis alkohol untuk mengurangi virus influenza A H1N1 dan spora Clostridium difficile dari tangan. Intervensi untuk meningkatkan kebersihan tangan di tatanan perawatan kesehatan dapat melibatkan pendidikan untuk staf tentang mencuci tangan, meningkatkan ketersediaan penggosok tangan berbasis alkohol, dan pengingat tertulis serta lisan kepada staf. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui intervensi yang paling efektif di berbagai tatanan perawatan kesehatan. Di negara berkembang, mencuci tangan dengan sabun diakui sebagai cara mendasar yang hemat biaya untuk mencapai kesehatan yang baik dan bahkan nutrisi yang baik. Namun, kurangnya pasokan air yang dapat diandalkan, sabun, atau fasilitas cuci tangan di rumah penduduk, sekolah, dan tempat kerja membuat sasaran untuk mencapai perilaku cuci tangan yang universal menjadi sebuah tantangan. Sebagai contoh, di sebagian besar daerah pedesaan di Afrika, keran cuci tangan di dekat toilet pribadi atau toilet umum jarang ada, meskipun tersedia opsi untuk membuat tempat cuci tangan yang murah. Bagaimana pun, rendahnya tingkat pencucian tangan dapat juga terjadi karena kebiasaan yang telah tertanam dan bukan karena kurangnya sabun atau air. Dorongan dan anjuran mencuci tangan dengan sabun dapat memengaruhi keputusan kebijakan, meningkatkan kesadaran tentang manfaat cuci tangan, dan menghasilkan perubahan perilaku populasi jangka panjang. Agar berjalan efektif, pengawasan dan evaluasi diperlukan. Tinjauan sistematik terhadap 70 studi menemukan bahwa pendekatan berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan cuci tangan di LMIC, sementara kampanye pemasaran sosial kurang efektif. Salah satu contoh penggalakan cuci tangan di sekolah adalah "Pendekatan Tiga Bintang" oleh UNICEF yang mendorong sekolah untuk mengambil langkah-langkah sederhana dan murah untuk memastikan siswa mencuci tangan dengan sabun, di antara persyaratan kebersihan lainnya. Saat standar minimum tercapai, sekolah dapat bergerak dari satu bintang hingga akhirnya ke tiga bintang. Membangun tempat cuci tangan bisa menjadi bagian dari kampanye penggalakan cuci tangan yang dilakukan guna mengurangi penyakit dan kematian anak. Hari Mencuci Tangan Sedunia adalah contoh lain kampanye peningkatan kesadaran yang mencoba mencapai tujuan perubahan perilaku. Akibat pandemi virus korona 2019-2020, UNICEF menggalakkan pemakaian emoji cuci tangan. Beberapa studi meneliti keefektifan biaya mencuci tangan secara keseluruhan di negara-negara berkembang dalam kaitannya dengan penghindaran Disability-adjusted Life Year (DALY) atau ukuran tahun yang hilang akibat sakit. Satu tinjauan menunjukkan bahwa menggalakkan cuci tangan dengan sabun secara signifikan lebih hemat biaya alih-alih intervensi air dan sanitasi lainnya. Pentingnya mencuci tangan untuk kesehatan manusia, terutama bagi orang dalam keadaan rentan, seperti ibu yang baru melahirkan atau tentara yang terluka di rumah sakit, pertama kali dikenali pada pertengahan abad ke-19 oleh dua pelopor kebersihan tangan: dokter Hungaria Ignaz Semmelweis yang bekerja di Wina, Austria, dan Florence Nightingale, "pendiri keperawatan moderen" di Inggris. Pada saat itu, banyak orang masih percaya bahwa infeksi disebabkan oleh bau busuk yang disebut miasma atau udara buruk. Pada tahun 1980-an, wabah yang ditularkan melalui makanan dan infeksi yang berhubungan dengan perawatan kesehatan membuat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat lebih aktif mendorong kebersihan tangan sebagai cara penting untuk mencegah penyebaran infeksi. Wabah flu babi pada tahun 2009 dan pandemi COVID-19 pada tahun 2020 meningkatkan kesadaran di banyak negara akan pentingnya mencuci tangan dengan sabun untuk melindungi diri dari penyakit menular tersebut. Sebagai contoh, poster "teknik mencuci tangan yang benar" digantung di sebelah wastafel cuci tangan di toilet umum serta di toilet gedung perkantoran dan bandara di Jerman. Ungkapan "mencuci tangan dari" sesuatu berarti menyatakan keengganan seseorang untuk bertanggung jawab atas sesuatu atau ikut terlibat dalam sesuatu. Ungkapan itu berasal dari pasal Alkitab di kitab Matius ketika Pontius Pilatus mencuci tangan atas keputusan untuk menyalibkan Yesus Kristus, tetapi telah menjadi ungkapan yang dipakai luas di komunitas Inggris. Dalam karya Shakespeare, Macbeth, Lady Macbeth mulai mencuci tangannya terus menerus untuk membersihkan noda imajiner; tindakan yang menunjukkan rasa bersalahnya atas kejahatan yang dia lakukan dan karena telah membujuk suaminya agar melakukannya. Juga telah diketahui bahwa, setelah mengingat atau merenungkan tindakan yang tidak etis, orang cenderung lebih sering mencuci tangan dan cenderung lebih menghargai peralatan mencuci tangan. Lebih lanjut, orang yang dibiarkan mencuci tangan setelah perenungan tersebut memiliki kemugkinan lebih kecil terlibat dalam tindakan kompensasi yang "membersihkan", seperti menjadi sukarelawan. Agama memerintahkan pencucian tangan untuk tujuan kebersihan dan simbolis. Pencucian tangan simbolis, yang menggunakan air, tetapi tanpa sabun untuk mencuci tangan, adalah bagian ritual mencuci tangan dalam banyak agama, termasuk Kepercayaan Bahá'í, Hindu, tevilah dan netilat yadayim dalam Yahudi, Lavabo dalam Kristen, dan Wudhu dalam Islam. Agama juga memerintahkan pencucian tangan untuk kebersihan, terutama setelah tindakan tertentu. Agama Hindu, Yahudi, dan Islam mewajibkan cuci tangan setelah menggunakan toilet. Selain itu, agama Hindu, Buddha, Sikh, Yahudi, dan Islam mewajibkan cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Dampak pandemi koronavirus 2019-2020 pada pendidikan Di seluruh dunia, pandemi koronavirus 2019-2020 telah memengaruhi sistem pendidikan dan mengakibatkan penutupan sekolah dan universitas di mana-mana. Hingga 8 April 2020, sekitar 1,716 miliar pelajar telah terdampak akibat penutupan sekolah sebagai respons terhadap COVID-19. Menurut pemantauan UNESCO, 188 negara menerapkan penutupan nasional dan 5 negara menerapkan penutupan lokal, yang berdampak pada sekitar 99,4% populasi siswa di dunia. Pada 23 Maret 2020, Cambridge International Examinations (CIE) merilis pernyataan yang mengumumkan pembatalan ujian Cambridge IGCSE, Cambridge O Level, Cambridge International AS & A Level, Cambridge AICE Diploma, dan Cambridge Pre-U untuk rangkaian Mei/Juni 2020 di seluruh negeri. Ujian International Baccalaureate juga dibatalkan. Penutupan sekolah bukan hanya berdampak pada siswa, guru, dan keluarga, tetapi juga memiliki konsekuensi ekonomi dan sosial yang luas. Penutupan sekolah sebagai respons terhadap COVID-19 telah menyoroti berbagai masalah sosial dan ekonomi, yang mencakup pinjaman mahasiswa, pembelajaran digital, kerawanan pangan, tuna wisma, dan akses ke perawatan anak, perawatan kesehatan, perumahan, internet, dan layanan disabilitas. Dampaknya lebih berat bagi anak yang kurang beruntung dan keluarganya, yakni menyebabkan gangguan belajar, gizi tidak memadai, masalah pengasuhan anak, dan konsekuensi ekonomi bagi keluarga yang tidak dapat bekerja. Menanggapi penutupan sekolah, UNESCO merekomendasikan penggunaan program pembelajaran jarak jauh dan aplikasi serta platform pendidikan terbuka yang dapat digunakan sekolah dan guru untuk menjangkau pelajar dari jarak jauh dan membatasi gangguan pendidikan. Upaya untuk membendung penyebaran COVID-19 melalui intervensi nonfarmasi dan langkah pencegahan seperti pembatasan sosial dan isolasi mandiri telah mendorong penutupan sekolah dasar, menengah, dan tingkat lanjut di lebih dari 100 negara. Wabah penyakit menular sebelumnya telah mendorong penutupan sekolah di mana-mana di seluruh dunia, dengan tingkat keefektifan yang beragam. Pemodelan matematika menunjukkan bahwa penularan wabah mungkin bisa diperlambat dengan penutupan sekolah. Namun, keefektifannya bergantung pada kontak yang dilakukan anak-anak di luar sekolah. Penutupan sekolah mungkin efektif jika diberlakukan segera. Jika terlambat, relatif terhadap wabah, penutupan sekolah kurang efektif dan mungkin tidak berdampak sama sekali. Lebih lanjut, dalam beberapa kasus, pembukaan sekolah kembali setelah periode penutupan mengakibatkan peningkatan angka infeksi. Karena penutupan cenderung dilakukan bersamaan dengan intervensi lain, seperti larangan berkumpul di tempat umum, pengukuran dampak penutupan sekolah secara spesifik sulit dilakukan. Selama pandemi influenza 1918-1919 di Amerika Serikat, penutupan sekolah dan larangan berkumpul di tempat umum dikaitkan dengan angka mortalitas total yang lebih rendah. Kota-kota yang menerapkan intervensi tersebut lebih awal mengalami perlambatan lebih besar dalam mencapai puncak angka mortalitas. Median durasi penutupan sekolah adalah 4 minggu menurut sebuah studi tentang respons 43 kota di AS terhadap Flu Spanyol. Penutupan sekolah terbukti menurunkan morbiditas akibat flu Asia hingga 90% selama wabah tahun 1957–1958 dan hingga 50% dalam pengendalian influenza di AS tahun 2004–2008.Beberapa negara berhasil memperlambat penyebaran infeksi melalui penutupan sekolah selama pandemi Flu H1N1 tahun 2009. Penutupan sekolah di kota Oita, Jepang, ditemukan berhasil menurunkan jumlah siswa yang terinfeksi pada puncak infeksi; namun, penutupan sekolah ditemukan tidak signifikan menurunkan jumlah total siswa yang terinfeksi. Penutupan sekolah wajib dan langkah pembatasan sosial lainnya dikaitkan dengan penurunan tingkat penularan influenza sebesar 29% hingga 37%. Penutupan sekolah dini di Amerika Serikat memperlambat puncak pandemi Flu H1N1 tahun 2009. Terlepas dari keberhasilan penutupan sekolah secara keseluruhan, sebuah studi tentang penutupan sekolah di Michigan menemukan bahwa "penutupan sekolah yang reaktif di tingkat kabupaten tidak efektif."Pada wabah flu tahun 2009 di Inggris Raya, dalam sebuah artikel berjudul "Penutupan sekolah selama pandemi influenza" yang diterbitkan di Lancet Infectious Diseases, sekelompok ahli epidemiologi mendukung penutupan sekolah untuk memutus perjalanan infeksi, memperlambat penyebaran lebih lanjut, dan memberikan waktu untuk penelitian dan pembuatan vaksin. Setelah mempelajari pandemi influenza sebelumnya, yang mencakup pandemi flu tahun 1918, pandemi influenza tahun 1957, dan pandemi flu tahun 1968, mereka melaporkan dampak ekonomi dan tenaga kerja yang akan terjadi akibat penutupan sekolah, terutama karena sebagian besar dokter dan perawat adalah wanita, yang setengahnya memiliki anak di bawah usia 16 tahun. Mereka juga melihat dinamika penyebaran influenza di Prancis selama liburan sekolah Prancis dan mencatat bahwa kasus flu menurun ketika sekolah ditutup dan muncul kembali ketika sekolah dibuka kembali. Mereka mencatat bahwa ketika para guru di Israel mogok selama musim flu tahun 1999-2000, kunjungan ke dokter dan jumlah infeksi pernapasan turun masing-masing lebih dari seperlima dan lebih dari dua perlima. Terlepas dari penyebaran di masyarakat, untuk sekolah dan fasilitas penitipan anak, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS merekomendasikan penutupan jangka pendek untuk membersihkan atau mendisinfeksi jika orang yang terinfeksi pernah berada di gedung sekolah. Jika ada penularan di masyarakat pada tingkat minimal hingga sedang, strategi pembatasan sosial dapat diterapkan, yang mencakup: membatalkan kunjungan lapangan, pertemuan, dan perkumpulan besar lainnya, seperti pendidikan jasmani, kelas paduan suara, atau makan di kafetaria, meningkatkan jarak antara meja, waktu kedatangan dan kepulangan yang bertahap, membatasi pengunjung nonesensial, dan menggunakan lokasi kantor kesehatan yang terpisah untuk anak-anak dengan gejala mirip flu. Jika ada penularan yang tinggi di masyarakat lokal, di samping strategi pembatasan sosial, memperpanjang penutupan sekolah dapat dipertimbangkan. Pada 26 Januari, Tiongkok menerapkan langkah-langkah untuk membendung wabah COVID-19, yang mencakup memperpanjang liburan Festival Musim Semi untuk membendung wabah tersebut. Semua universitas dan sekolah di seluruh negeri juga ditutup. Pada 23 Februari, Kementerian Kesehatan Iran mengumumkan penutupan universitas, institusi pendidikan tinggi, dan sekolah di beberapa kota dan provinsi. Pada 3 Maret, UNESCO merilis angka global pertama untuk penutupan sekolah dan siswa yang terdampak. Dilaporkan bahwa 13 negara telah memberlakukan tindakan pencegahan yang mencakup penutupan sementara sekolah dan universitas, yang berdampak pada 290,5 juta siswa di seluruh dunia. Sebagai tanggapan, UNESCO meminta negara untuk mendukung siswa dan keluarga yang terdampak serta memfasilitasi program pembelajaran jarak jauh inklusif berskala besar. Pada 4 Maret, pemerintah Italia memerintahkan penutupan total semua sekolah dan universitas secara nasional saat Italia mencapai 100 kematian. Dengan melakukannya, Italia menjadi salah satu dari 22 negara di tiga benua yang mengumumkan atau menerapkan penutupan sekolah. Pada 5 Maret, mayoritas pelajar yang terdampak langkah darurat COVID-19 berlokasi di Tiongkok, dengan 233 juta pelajar terdampak, diikuti oleh Jepang dengan 16,5 juta pelajar, dan Iran dengan 14,5 juta pelajar. Pada 10 Maret, satu dari lima siswa di seluruh dunia "tidak pergi ke sekolah karena krisis COVID-19", sementara satu dari empat siswa lainnya dilarang datang ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi. Pada 13 Maret, pemerintahan di 49 negara mengumumkan atau menerapkan penutupan sekolah, yang mencakup 39 negara yang melakukan penutupan sekolah secara nasional dan 22 negara yang melakukan penutupan sekolah secara lokal. Pada 16 Maret, angka ini meningkat dari 49 menjadi 73 negara menurut UNESCO. Pada 19 Maret, 50% siswa di seluruh dunia terdampak oleh penutupan sekolah, terkait dengan penutupan nasional di 102 negara dan penutupan lokal di 11 negara yang memengaruhi 850 juta anak dan remaja. Pada 20 Maret, lebih dari 70% pelajar di seluruh dunia terdampak penutupan, dengan 124 penutupan sekolah di seluruh negeri. Pada 23 Maret, semua sekolah Nigeria diketahui telah ditutup oleh pemerintah Nigeria, pasar dan perusahaan ditutup, dan anak-anak dilarang keluar rumah oleh orang tua. Pada 26 Maret, semua sekolah dan universitas Selandia Baru ditutup di seluruh negeri. Pemerintah memberlakukan libur dua minggu, yang memberi kesempatan kepada sekolah untuk beralih ke bentuk pengajaran jarak jauh sesegera mungkin. Universitas ditutup selama satu minggu, tetapi kemudian dilanjutkan kembali dengan pengajaran daring. Layanan sekolah lainnya tetap buka, tetapi pengajaran terbatas pada pembelajaran jarak jauh. Per 27 Maret, hampir 90 persen populasi siswa di seluruh dunia tidak berada di kelas. Wilayah dengan sekolah tetap buka mencakup Taiwan, Singapura, Australia, Swedia, dan beberapa negara bagian Amerika Serikat. Per 29 Maret, lebih dari 1,5 miliar anak dan siswa terdampak oleh penutupan sekolah secara nasional. Sejumlah lainnya terganggu oleh penutupan lokal. Hingga 6 April, liburan diperpanjang di semua sekolah menengah Turkmenistan. Perintah yang ditandatangani oleh Kementrian Pendidikan sebagai tindakan pencegahan ini bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit pernapasan sehubungan dengan pandemi koronavirus WHO. 10 negara melakukan penutupan sekolah lokal, UNESCO memperkirakan 473.933.356 pelajar berpotensi berisiko terdampak (pendidikan prasekolah-dasar hingga menengah atas) dan 77.938.904 pelajar berpotensi berisiko terdampak di pendidikan tersier. Catatan: Angka berdasarkan jumlah total pelajar yang terdaftar di tingkat pendidikan prasekolah-dasar, sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas [tingkat ISCED 0 hingga 3], serta di tingkat pendidikan tersier [tingkat ISCED 5 hingga 8] yang mungkin terdampak apabila penutupan lokal berubah menjadi nasional. Angka pendaftaran berdasarkan data terbaru dari Institusi Statistik UNESCO. Penutupan sekolah sebagai respons terhadap pandemi COVID-19 menyoroti berbagai masalah yang memengaruhi akses ke pendidikan, serta masalah sosial-ekonomi yang lebih luas. Pada 12 Maret, lebih dari 370 juta anak dan remaja tidak bersekolah karena penutupan sekolah sementara atau tidak terbatas yang terjadi di seluruh negeri dan diamanatkan oleh pemerintah dalam upaya untuk memperlambat penyebaran COVID-19. Per 29 Maret, hampir 90% pelajar di seluruh dunia terdampak oleh penutupan. Penutupan sekolah yang bersifat sementara sekalipun menyebabkan dampak sosial dan ekonomi yang tinggi. Gangguan yang disebabkannya memengaruhi orang di semua komunitas, tetapi dampaknya paling parah bagi anak kurang beruntung dan keluarganya, yang mencakup gangguan belajar, gizi tidak memadai, masalah pengasuhan anak, dan konsekuensi ekonomi bagi keluarga yang tidak dapat bekerja. Saat sekolah ditutup, orang tua yang bekerja kemungkinan harus membolos kerja untuk menjaga anaknya sehingga, dalam banyak kasus, menyebabkan kehilangan upah dan berdampak negatif pada produktivitas. Penutupan sekolah lokal menempatkan beban pada sekolah karena orang tua dan pejabat mengalihkan anak ke sekolah yang buka. Wanita sering kali mewakili sebagian besar tenaga kesehatan dan sering kali tidak bisa masuk kerja karena kewajiban mengasuh anak akibat penutupan sekolah. Hal ini berarti bahwa banyak tenaga medis tidak berada di fasilitas kesehatan tempat mereka paling dibutuhkan selama krisis kesehatan. Kurangnya akses ke teknologi atau akses internet yang cepat dan andal dapat menghambat siswa di daerah pedesaan dan dari keluarga kurang beruntung. Kurangnya akses ke teknologi atau sambungan internet yang baik merupakan hambatan untuk melanjutkan pembelajaran, terutama bagi siswa dari keluarga kurang beruntung. Menanggapi penutupan sekolah akibat COVID-19, UNESCO merekomendasikan penggunaan program pembelajaran jarak jauh dan aplikasi serta platform pendidikan terbuka yang dapat digunakan sekolah dan guru untuk menjangkau pelajar dari jarak jauh dan membatasi gangguan pendidikan. Untuk membantu memperlambat transmisi COVID -19, ratusan perpustakaan sementara ditutup. Di Amerika Serikat, banyak kota besar mengumumkan penutupan perpustakaan umum, yang mencakup Los Angeles, San Francisco, Seattle, dan Kota New York, dan berdampak pada 221 perpustakaan. Untuk siswa yang tidak memiliki internet di rumah, hal ini meningkatkan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh. Penutupan sekolah memberi tekanan pada orang tua dan wali untuk menyediakan pengasuhan anak dan mengelola pembelajaran jarak jauh saat anak tidak bersekolah. Jika tidak ada pilihan lain, orang tua yang bekerja sering kali meninggalkan anak sendirian saat sekolah ditutup dan hal ini dapat mengakibatkan perilaku berisiko, yang mencakup meningkatnya pengaruh tekanan teman sebaya dan penyalahgunaan zat. Banyak anak di seluruh dunia bergantung pada makanan gratis atau makanan dengan potongan harga di sekolah. Ketika sekolah ditutup, kecukupan gizi terganggu. Gizi berperan penting dalam perkembangan kognitif dan kinerja akademik bagi anak. Di negara bagian Washington, sekitar 45% dari 1,1 juta siswa negara bagian yang terdaftar di sekolah umum dan sekolah yang didanai pemerintah memenuhi syarat untuk mendapat makanan sekolah bersubsidi. Setidaknya 520.000 siswa dan keluarganya mungkin terdampak oleh kerawanan pangan akibat penutupan sekolah. Program makan siang sekolah adalah inisiatif antikelaparan terbesar kedua di Amerika Serikat setelah kupon makanan. Setiap tahun, hampir 30 juta anak bergantung pada sekolah untuk mendapatkan makanan gratis atau murah, yang mencakup sarapan, makan siang, makanan ringan, dan bahkan makan malam. Di Alabama, dengan penutupan sekolah di seluruh negara bagian per 18 Maret berdampak pada 720.000 siswa, pejabat negara bagian mengumumkan bahwa staf di sekolah yang sebagian terdampak kemiskinan akan menciptakan jaringan distribusi makanan untuk menyediakan makanan bagi siswa yang bergantung pada makan siang sekolah. Penutupan sekolah berdampak negatif pada hasil akhir pembelajaran siswa. Sekolah menyediakan pembelajaran yang esensial dan, ketika sekolah ditutup, anak dan remaja kehilangan kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang. Kerugiannya lebih berat bagi pelajar kurang beruntung yang cenderung memiliki lebih sedikit kesempatan edukasional di luar sekolah. Angka putus sekolah cenderung meningkat akibat penutupan sekolah karena kesulitan untuk memastikan semua siswa kembali ke sekolah setelah penutupan sekolah berakhir. Hal ini terutama berlaku jika penutupan sekolah diperpanjang. Sekolah merupakan pusat kegiatan sosial dan interaksi manusia. Ketika sekolah ditutup, banyak anak dan remaja kehilangan kontak sosial yang penting untuk pembelajaran dan pengembangan. Ketika sekolah tutup, orang tua sering kali diminta untuk memfasilitasi pembelajaran anak di rumah dan dapat kesulitan untuk melakukan tugas ini. Hal ini terutama terjadi pada orang tua dengan pendidikan dan sumber daya terbatas. Saat ini, potensi dampak penutupan sekolah dan ketergantungan pada pembelajaran jarak jauh tidak dibahas dalam undang-undang. Pendidikan formal, berlawanan dengan pendidikan informal atau pendidikan nonformal, cenderung merujuk ke sekolah, perguruan tinggi, universitas, dan lembaga pelatihan. Laporan Bank Dunia pada tahun 1974 mendefinisikan pendidikan formal sebagai berikut: Pendidikan formal: 'sistem pendidikan' yang terstruktur secara hierarki dan berjenjang secara kronologi, mulai dari sekolah dasar hingga universitas dan mencakup, selain studi akademik umum, berbagai program khusus dan lembaga untuk pelatihan teknis dan profesional penuh waktu. Mayoritas data yang dikumpulkan tentang jumlah siswa dan pelajar yang terdampak COVID-19 dihitung berdasarkan penutupan sistem pendidikan formal. Institusi Statistik UNESCO menyediakan angka tentang siswa yang terdampak COVID-19 berdasarkan jumlah pelajar yang terdaftar di tingkat pendidikan prasekolah-dasar, sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas [tingkat ISCED 0 hingga 3], serta di tingkat pendidikan tersier [tingkat ISCED 5 hingga 8]. Program pendidikan anak usia dini biasanya dirancang untuk anak berusia di bawah 3 tahun dan dapat merujuk ke prasekolah, pendidikan anak usia dini, taman kanak-kanak, dan beberapa program penitipan anak. Sementara sebagian besar sekolah dasar dan menengah ditutup di seluruh dunia karena COVID-19, langkah yang berdampak pada program pendidikan anak usia dini beragam. Di beberapa negara dan wilayah teritorial, prasekolah dan penitipan anak dianggap sebagai layanan esensial dan tidak ditutup bersama langkah penutupan sekolah yang lain. Di Amerika Serikat, Departemen Anak, Remaja, dan Keluarga negara bagian Washington mendorong tempat penitipan anak dan pusat pembelajaran usia dini untuk tetap buka. Beberapa sekolah wilayah mungkin menawarkan pilihan penitipan anak alternatif yang memprioritaskan anak-anak pekerja esensial dan tenaga kesehatan. Gubernur Maryland mengamanatkan agar layanan penitipan anak khusus tetap buka untuk anak-anak petugas kedaruratan, sementara negara bagian Washington dan California menyerahkannya pada kebijaksanaan penyedia perawatan. Gubernur California Gavin Newsom menjelaskan keputusan negara bagiannya, dengan mengatakan, “Kami membutuhkan fasilitas pengasuhan anak, yakni pusat penitipan anak, untuk beroperasi guna menyerap dampak penutupan sekolah ini.” Colorado mendorong pengembangan "perangkat alat" untuk digunakan orang tua di rumah menirukan pelajaran yang akan diterima anak dalam program pembelajaran awal mereka. Di Jepang, Perdana Menteri Shinzo Abe menutup semua sekolah di seluruh negeri hingga 8 April, tetapi, fasilitas penitipan anak tidak termasuk. Pada awal Maret, lima orang dewasa yang berkaitan dengan fasilitas penitipan anak prasekolah di Kobe teruji positif untuk koronavirus. Setelah menguji lebih dari seratus anak di fasilitas itu, seorang siswa prasekolah ditemukan membawa virus. Pendidikan pertama atau sekolah dasar biasanya terdiri dari empat hingga tujuh tahun pertama pendidikan formal. International Baccalaureate Organisation (IBO) membatalkan ujian untuk kandidat Program Diploma dan Program Karier yang dijadwalkan antara 30 April dan 22 Mei 2020, yang dilaporkan berdampak pada lebih dari 200.000 siswa di seluruh dunia. IBO menyatakan bahwa mereka akan memberikan diploma atau sertifikat kepada kandidat berdasarkan "tugas sekolah mereka" dan "keahlian, kekokohan, dan pengendalian mutu sistem penilaian yang telah dipadukan ke dalam program." Pendidikan tersier, yang disebut juga pendidikan tinggi, mengacu pada tingkat pendidikan nonwajib setelah menamatkan sekolah menengah atas. Pendidikan tersier yang biasa dilakukan mencakup pendidikan sarjana dan pascasarjana, serta pendidikan dan pelatihan kejuruan. Individu yang menyelesaikan pendidikan tersier biasanya menerima sertifikat, diploma, atau gelar akademik. Pendidikan sarjana adalah pendidikan yang dilakukan setelah pendidikan menengah dan sebelum pendidikan pascasarjana; untuk pendidikan ini, pelajar biasanya dianugerahi gelar sarjana. Siswa yang terdaftar di program pendidikan tinggi di perguruan tinggi, universitas, dan sekolah tinggi, di negara-negara seperti Amerika Serikat, sering disebut sebagai "mahasiswa".Penutupan perguruan tinggi dan universitas memiliki implikasi luas bagi mahasiswa, fakultas, petugas administrasi, dan institusi itu sendiri. Perguruan tinggi dan universitas di seluruh Amerika Serikat diminta untuk mengembalikan biaya kuliah, kamar, dan asrama kepada mahasiswa. Di Amerika Serikat, perguruan tinggi dan universitas beroperasi sebagai "kota kecil" yang menghasilkan pendapatan signifikan bagi kota, negara bagian, dan wilayah. Sebagai contoh, Universitas Princeton menyumbang $1,58 miliar USD untuk ekonomi New Jersey dan mahasiswa menghabiskan sekitar $60 juta dalam pengeluaran di luar kampus. Penutupan perguruan tinggi dan universitas memiliki efek domino pada ekonomi dengan implikasi yang luas. Menurut Linda Bilmes dari Harvard Kennedy School, "Ada bagian signifikan dalam pendapatan tahunan hotel, restoran, kafe, toko, agensi penyewaan mobil lokal, dan bisnis lokal lainnya yang berasal dari minggu wisuda dan reuni kampus... komunitas ini akan menderita kerugian ekonomi besar jika perguruan tinggi tetap ditutup pada waktu-waktu tersebut."Kota-kota kecil yang mengandalkan mahasiswa untuk mendukung ekonomi lokal dan menyediakan tenaga kerja untuk bisnis lokal sangat terdampak oleh penutupan sekolah dan keluarnya mahasiswa dari kampus. Di Ithaca, New York, mahasiswa Universitas Cornell menghabiskan setidaknya $4 juta per minggu di daerah Tompkins. Setelah keputusan Cornell untuk mahasiswa tetap di rumah setelah liburan musim semi dan beralih ke instruksi virtual, Walikota Ithaca menyerukan "tindakan federal yang segera dan tegas, kita akan melihat dampak ekonomi yang mengerikan sebagai akibat dari penutupan Universitas Cornell." UNESCO membagikan 10 rekomendasi selama masa ini: Periksa kesiapan dan pilih alat yang paling relevan: Tentukan penggunaan solusi berteknologi tinggi dan berteknologi rendah berdasarkan keandalan pasokan listrik lokal, sambungan internet, dan keahlian digital guru dan siswa. Pilihan ini dapat berkisar mulai dari platform pembelajaran digital terintegrasi, pelajaran video, kursus daring terbuka massal, hingga penyiaran melalui radio dan TV. Pastikan penyertaan program pembelajaran jarak jauh: Terapkan langkah-langkah untuk memastikan bahwa siswa, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus atau dari latar belakang berpenghasilan rendah, memiliki akses ke program pembelajaran jarak jauh jika hanya sejumlah kecil dari mereka yang memiliki akses ke perangkat digital. Pertimbangkan untuk sementara mengalihkan perangkat tersebut dari laboratorium komputer kepada keluarga-keluarga serta mendukung mereka dengan sambungan internet. Lindungi privasi data dan keamanan data: Nilai keamanan data saat mengunggah data atau sumber daya pendidikan ke ruang web, serta saat membagikannya dengan organisasi atau individu. Pastikan bahwa penggunaan aplikasi dan platform tidak melanggar privasi data siswa. Prioritaskan solusi untuk mengatasi tantangan psikososial sebelum mengajar: Mobilisasikan alat yang tersedia untuk menghubungkan sekolah, orang tua, guru, dan siswa satu sama lain. Ciptakan komunitas untuk memastikan interaksi manusia secara teratur, memungkinkan tindakan kepedulian sosial, dan mengatasi tantangan psikososial yang mungkin dihadapi siswa ketika mereka terisolasi. Rencanakan jadwal studi program pembelajaran jarak jauh: Adakan diskusi dengan pemangku kepentingan untuk mengetahui kemungkinan durasi penutupan sekolah dan putuskan apakah program pembelajaran jarak jauh harus berfokus pada mengajarkan pengetahuan baru atau meningkatkan pengetahuan siswa tentang pelajaran sebelumnya. Rencanakan jadwal tergantung pada situasi zona yang terdampak, tingkat studi, kebutuhan siswa, dan ketersediaan orang tua. Pilih metodologi pembelajaran yang sesuai berdasarkan status penutupan sekolah dan karantina di rumah. Hindari metodologi pembelajaran yang membutuhkan komunikasi tatap muka. Berikan dukungan kepada guru dan orang tua tentang penggunaan alat digital: Susun pelatihan singkat atau sesi orientasi untuk guru serta orang tua jika pemantauan dan fasilitasi diperlukan. Bantu guru untuk mempersiapkan pengaturan dasar, seperti solusi untuk penggunaan data internet, jika mereka harus memberikan pelajaran live streaming. Kombinasikan pendekatan yang sesuai dan batasi jumlah aplikasi dan platform: Kombinasikan alat atau media yang tersedia untuk sebagian besar siswa, baik untuk komunikasi dan pelajaran pada waktu bersamaan maupun untuk pembelajaran yang tidak bersamaan. Hindari membebani siswa dan orang tua dengan meminta mereka mengunduh dan menguji terlalu banyak aplikasi atau platform. Kembangkan aturan pembelajaran jarak jauh dan pantau proses belajar siswa: Tetapkan aturan dengan orang tua dan siswa tentang pembelajaran jarak jauh. Rancang pertanyaan, ujian, atau latihan yang formatif guna memantau proses belajar siswa dengan cermat. Usahakan menggunakan alat untuk mendukung pengiriman umpan balik siswa dan hindari membebani orang tua dengan meminta mereka untuk memindai dan mengirim umpan balik siswa Tentukan durasi unit pembelajaran jarak jauh berdasarkan kemampuan pengaturan diri siswa: Pertahankan waktu yang koheren sesuai dengan tingkat kemampuan pengaturan diri dan metakognitif siswa terutama untuk kelas livestreaming. Sebaiknya, unit pembelajaran untuk siswa sekolah dasar tidak lebih dari 20 menit dan tidak lebih dari 40 menit untuk siswa sekolah menengah. Ciptakan komunitas dan tingkatkan koneksi: Ciptakan komunitas guru, orang tua, dan manajer sekolah untuk mengatasi rasa kesepian atau ketidakberdayaan, fasilitasi berbagi pengalaman dan diskusi tentang strategi beradaptasi ketika menghadapi kesulitan belajar. 290 juta siswa tidak bersekolah karena COVID-19: UNESCO merilis angka global pertama dan memobilisasi respons, UNESCO. Pengendalian bahaya tempat kerja untuk COVID-19 Pengendalian bahaya tempat kerja untuk COVID-19 adalah penerapan metodologi keselamatan dan kesehatan kerja untuk pengendalian bahaya guna pencegahan penyakit koronavirus 2019 (COVID-19). Pengendalian bahaya yang tepat di tempat kerja tergantung pada lokasi kerja dan tugas pekerjaan, yang didasarkan pada penilaian risiko sumber paparan, tingkat keparahan penyakit di masyarakat, dan faktor risiko masing-masing pekerja yang mungkin rentan tertular COVID-19. Menurut Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OSHA) AS, pekerjaan berisiko paparan rendah memiliki kontak pekerjaan yang minimal dengan publik dan rekan kerja lainnya; untuk pekerjaan ini, dianjurkan langkah-langkah pencegahan infeksi dasar, yang mencakup mencuci tangan, mendorong pekerja untuk tinggal di rumah jika sakit, etika pernapasan, dan melakukan pembersihan serta disinfeksi lingkungan kerja secara rutin. Pekerjaan berisiko paparan sedang mencakup pekerjaan yang membutuhkan kontak dekat atau sering dengan orang yang tidak diketahui atau diduga menderita COVID-19, tetapi mungkin terinfeksi karena penularan di masyarakat yang sedang berlangsung atau perjalanan internasional. Kelompok ini termasuk pekerja yang memiliki kontak dengan masyarakat umum seperti di sekolah, lingkungan kerja dengan kepadatan populasi tinggi, dan tatanan ritel volume tinggi. Pengendalian bahaya untuk kelompok ini, selain langkah-langkah pencegahan infeksi dasar, mencakup ventilasi menggunakan saringan udara efisiensi tinggi, pelindung terhadap bersin, dan menyediakan alat pelindung diri apabila bertemu dengan penderita COVID-19. OSHA menganggap tenaga kesehatan dan kamar mayat yang terpapar pada orang yang diketahui atau diduga menderita COVID-19 berisiko paparan tinggi, yang meningkat menjadi berisiko paparan sangat tinggi jika pekerja melakukan prosedur penghasil aerosol pada, atau mengambil atau menangani spesimen dari, orang yang diketahui atau diduga menderita COVID-19. Pengendalian bahaya yang sesuai untuk pekerja ini mencakup pengendalian teknik, seperti ruang ventilasi bertekanan negatif, dan alat pelindung diri yang sesuai dengan tugas pekerjaan. Wabah COVID-19 dapat memiliki beberapa dampak di tempat kerja. Pekerja mungkin tidak datang bekerja karena sakit, perlu merawat orang lain, atau karena takut akan kemungkinan paparan. Pola perdagangan dapat berubah, baik dalam hal jenis barang yang diminta maupun cara memperoleh barang-barang ini (seperti berbelanja di luar jam sibuk, melalui pengiriman, atau lantatur). Akhirnya, pengiriman barang dari wilayah geografis yang sangat terdampak COVID-19 dapat terganggu. Kesiapsiagaan dan rencana penanggulangan penyakit infeksi dapat digunakan untuk memandu tindakan perlindungan. Rencana mempertimbangkan tingkat risiko yang terkait dengan berbagai tempat kerja dan tugas pekerjaan, mencakup sumber paparan, faktor risiko yang timbul dari tatanan rumah dan masyarakat, serta faktor risiko masing-masing pekerja, seperti usia tua atau kondisi medis kronis. Rencana juga menguraikan pengendalian yang diperlukan untuk mengatasi risiko tersebut dan rencana darurat untuk situasi yang mungkin timbul sebagai akibat dari wabah. Kesiapsiagaan dan rencana penanggulangan penyakit menular mungkin tunduk pada rekomendasi nasional atau subnasional. Tujuan penanggulangan wabah mencakup mengurangi penularan di antara staf, melindungi orang yang berisiko lebih tinggi untuk komplikasi kesehatan yang buruk, mempertahankan operasi bisnis, dan meminimalkan efek buruk pada entitas lain dalam rantai pasokan. Tingkat keparahan penyakit di komunitas tempat bisnis berada memengaruhi tindakan penanggulangan yang diambil. Hirarki pengendalian bahaya adalah kerangka kerja yang banyak digunakan dalam keselamatan dan kesehatan kerja untuk mengelompokkan pengendalian bahaya berdasarkan keefektifannya. Apabila bahaya COVID-19 tidak dapat dihilangkan, pengendalian paling efektif adalah pengendalian teknis, diikuti pengedalian administratif, dan terakhir alat pelindung diri. Pengendalian teknis meliputi mengisolasi karyawan dari bahaya terkait pekerjaan tanpa bergantung pada perilaku pekerja dan dapat menjadi solusi paling hemat biaya untuk diterapkan. Pengendalian administratif adalah perubahan dalam kebijakan atau prosedur kerja yang memerlukan tindakan pekerja atau pemberi kerja. Alat pelindung diri (APD) dianggap kurang efektif dibandingkan pengendalian teknik dan administratif, tetapi dapat membantu mencegah sebagian paparan. Semua jenis APD harus dipilih berdasarkan bahaya pada pekerja, dipasang dengan benar sebagaimana berlaku (misalnya, respirator), dikenakan secara konsisten dan benar, diperiksa, dirawat, dan diganti secara berkala, jika perlu, dan dilepas, dibersihkan, dan disimpan dengan benar atau dibuang untuk menghindari kontaminasi. Menurut Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OSHA) AS, pekerjaan berisiko paparan rendah memiliki kontak pekerjaan yang minimal dengan publik dan rekan kerja lainnya. Langkah-langkah pencegahan infeksi dasar yang direkomendasikan untuk semua tempat kerja termasuk sering mencuci tangan secara saksama, mendorong pekerja untuk tinggal di rumah jika sakit, etika pernapasan mencakup menutupi batuk dan bersin, menyediakan jaringan dan wadah sampah, mempersiapkan kerja dari jarak jauh atau giliran kerja dengan waktu kedatangan/kepulangan bertahap, jika diperlukan, memberi tahu pekerja untuk tidak menggunakan alat dan perlengkapan orang lain, dan melakukan pembersihan dan disinfeksi lingkungan kerja secara rutin. Identifikasi yang cepat dan isolasi terhadap individu yang berpotensi menularkan adalah langkah penting dalam melindungi pekerja, pelanggan, pengunjung, dan orang lain di tempat kerja. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS merekomendasikan agar karyawan yang memiliki gejala penyakit pernapasan akut harus tinggal di rumah hingga mereka bebas dari demam, tanda-tanda demam, dan gejala lainnya selama setidaknya 24 jam tanpa menggunakan obat penurun demam atau obat pengubah gejala lainnya, dan agar kebijakan cuti sakit bersifat fleksibel sehingga memungkinkan karyawan untuk tinggal di rumah untuk merawat anggota keluarga yang sakit, dan agar karyawan mengetahui kebijakan ini. Menurut OSHA, pekerjaan berisiko paparan sedang mencakup pekerjaan yang membutuhkan kontak dekat atau sering dalam jarak enam kaki (1,8 meter) dengan orang yang tidak diketahui atau diduga menderita COVID-19, tetapi mungkin terinfeksi dengan SARS-CoV-2 karena penularan di masyarakat sekitar lokasi bisnis, atau karena seseorang baru melakukan perjalanan internasional ke lokasi dengan penularan COVID-19 yang luas. Kelompok ini termasuk pekerja yang memiliki kontak dengan masyarakat umum seperti di sekolah, lingkungan kerja dengan kepadatan populasi tinggi, dan tatanan ritel volume tinggi. Pengendalian teknik untuk kelompok ini dan kelompok berisiko tinggi mencakup memasang filter udara efisiensi tinggi, meningkatkan tingkat ventilasi, memasang penghalang fisik seperti plastik bening penjaga bersin, dan memasang jendela drive-thru atau lantatur untuk layanan pelanggan. Pengendalian administratif untuk kelompok ini dan kelompok berisiko tinggi mencakup mendorong pekerja yang sakit untuk tinggal di rumah, mengganti pertemuan tatap muka dengan komunikasi virtual, membuat giliran kerja dengan waktu kedatangan/kepulangan bertahap, menghentikan perjalanan nonesensial ke lokasi yang sedang mengalami wabah COVID-19, mengembangkan rencana komunikasi darurat mencakup forum untuk menjawab keprihatinan pekerja, memperlengkapi pekerja dengan pendidikan dan pelatihan terkini tentang faktor risiko COVID-19 dan perilaku protektif, melatih pekerja yang perlu menggunakan pakaian dan alat pelindung tentang cara menggunakannya, menyediakan sumber daya dan lingkungan kerja yang mendukung higiene pribadi dan mengharuskan mencuci tangan secara teratur, membatasi akses pelanggan dan publik ke tempat kerja, dan memasang penanda peringatan tentang mencuci tangan dan langkah perlindungan COVID-19 lainnya. Bergantung pada tugas kerja, pekerja dengan setidaknya risiko paparan sedang mungkin perlu memakai alat pelindung diri mencakup kombinasi sarung tangan, jubah, perisai wajah atau masker wajah, atau kacamata pelindung. Pekerja dalam kelompok risiko ini jarang membutuhkan respirator. Jika seseorang jatuh sakit di pesawat terbang, kontrol yang tepat untuk melindungi pekerja dan penumpang lain mencakup memisahkan orang yang sakit dari orang lain dengan jarak 6 kaki, menunjuk satu awak kabin untuk mengurus orang yang sakit, dan menawarkan masker wajah untuk orang yang sakit atau memintanya menutup mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin. Awak kabin harus mengenakan sarung tangan medis sekali-pakai ketika merawat penumpang yang sakit atau menyentuh cairan tubuh atau permukaan yang berpotensi terkontaminasi dan mungkin alat pelindung diri lain jika penumpang yang sakit mengalami demam, batuk terus-menerus, atau kesulitan bernapas. Sarung tangan dan barang sekali pakai lainnya harus dibuang dalam kantong bahaya hayati, dan permukaan yang terkontaminasi harus dibersihkan dan didisinfeksi sesudahnya. Untuk pelayaran komersial, termasuk kapal pesiar dan kapal penumpang lainnya, pengendalian bahaya mencakup menunda perjalanan jika sakit, mengisolasi diri, dan menginformasikan pusat medis di atas kapal segera jika seseorang mengalami demam atau gejala lain saat berada di atas kapal. Idealnya, tindak lanjut medis dilakukan di kabin orang yang diisolasi. Terlepas dari penyebaran di masyarakat, untuk sekolah dan fasilitas penitipan anak, CDC merekomendasikan penutupan jangka pendek untuk membersihkan atau mendisinfeksi jika orang yang terinfeksi pernah berada di gedung sekolah. Jika ada penularan di masyarakat pada tingkat minimal hingga sedang, strategi pembatasan sosial dapat diterapkan, yang mencakup: membatalkan kunjungan lapangan, pertemuan, dan perkumpulan besar lainnya, seperti pendidikan jasmani, kelas paduan suara, atau makan di kafetaria, meningkatkan jarak antara meja, waktu kedatangan dan kepulangan yang bertahap, membatasi pengunjung nonesensial, dan menggunakan lokasi kantor kesehatan yang terpisah untuk anak-anak dengan gejala mirip flu. Jika ada penularan yang tinggi di masyarakat lokal, di samping strategi pembatasan sosial, memperpanjang penutupan sekolah dapat dipertimbangkan. Untuk petugas penegak hukum yang melakukan kegiatan rutin harian, risiko kesehatan langsung dianggap rendah oleh CDC. Petugas penegak hukum yang harus melakukan kontak dengan orang terkonfirmasi atau terduga COVID-19 direkomendasikan untuk mengikuti pedoman yang sama dengan teknisi medis darurat, termasuk menggunakan alat pelindung diri yang sesuai. Jika kontak dekat terjadi selama penangkapan, pekerja harus membersihkan dan mendisinfeksi sabuk dan perlengkapan tugas sebelum digunakan kembali dengan menggunakan semprotan atau lap pembersih rumah tangga dan mengikuti prosedur operasi standar untuk mengendalikan dan membuang APD bekas serta untuk mengendalikan dan mencuci pakaian kotor. OSHA menganggap tenaga kesehatan dan kamar mayat tertentu berada pada kategori risiko paparan tinggi atau sangat tinggi. Pekerjaan berisiko paparan tinggi mencakup pemberian perawatan kesehatan, dukungan, laboratorium, dan tenaga transportasi medis yang terpapar dengan pasien yang diketahui atau diduga COVID-19. Pekerjaan ini menjadi berisiko paparan sangat tinggi jika pekerja melakukan prosedur penghasil aerosol pada, atau mengambil atau menangani spesimen dari, pasien yang diketahui atau diduga COVID-19. Prosedur penghasil aerosol meliputi intubasi, prosedur induksi batuk, bronkoskopi, beberapa prosedur dan pemeriksaan gigi, atau pengambilan spesimen invasif. Pekerjaan kamar mayat berisiko paparan tinggi meliputi pekerja yang terlibat dalam mempersiapkan mayat orang yang diketahui atau diduga kasus COVID-19 pada saat kematian; pekerjaan ini menjadi berisiko paparan sangat tinggi jika pekerja melakukan otopsi. Pengendalian teknik tambahan untuk kelompok risiko ini mencakup ruang isolasi untuk pasien yang diketahui atau diduga COVID-19, mencakup ketika prosedur penghasil aerosol dilakukan. Ventilasi tekanan negatif khusus mungkin sesuai di beberapa tatanan perawatan kesehatan dan kamar mayat. Spesimen harus ditangani dengan tindakan pencegahan Level Keselamatan Biologi 3. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar pasien yang datang dipisahkan ke dalam ruang tunggu yang berbeda berdasarkan jika mereka diduga kasus COVID-19. Selain APD lainnya, OSHA merekomendasikan respirator bagi orang yang bekerja dalam jarak 6 kaki dari pasien yang diketahui atau diduga terinfeksi SARS-CoV-2, dan orang yang melakukan prosedur penghasil aerosol. Di Amerika Serikat, respirator penutup wajah filter N95 yang disetujui NIOSH atau yang lebih baik harus digunakan dalam konteks program perlindungan pernapasan tertulis dan komprehensif yang mencakup uji kesesuaian, pelatihan, dan pemeriksaan medis. Jenis respirator lain dapat memberikan perlindungan yang lebih besar dan meningkatkan kenyamanan pekerja. WHO tidak merekomendasikan baju tertutup seluruhnya atau coverall karena COVID-19 adalah penyakit pernapasan dan bukan ditularkan melalui cairan tubuh. WHO hanya merekomendasikan masker bedah untuk petugas skrining di titik masuk. Bagi orang yang mengambil spesimen pernapasan, merawat, atau mengangkut pasien COVID-19 tanpa prosedur penghasil aerosol, WHO merekomendasikan masker bedah, kacamata pelindung, atau perisai wajah, jubah, dan sarung tangan. Jika prosedur penghasil aerosol dilakukan, masker bedah diganti dengan respirator N95 atau FFP2. Mengingat bahwa pasokan APD tidak mencukupi di seluruh dunia, WHO merekomendasikan meminimalkan kebutuhan APD melalui layanan kedokteran jarak jauh, pembatas fisik seperti jendela tembus pandang, dengan hanya orang yang terlibat dalam perawatan langsung boleh memasuki ruangan berisi pasien COVID-19, menggunakan hanya APD yang diperlukan untuk tugas tertentu, terus menggunakan respirator yang sama tanpa melepasnya saat merawat banyak pasien dengan diagnosis sama, memantau dan mengoordinasi rantai pasokan APD, dan tidak mendorong penggunaan masker untuk orang tanpa gejala. MENGINGAT, pada tanggal 4 Maret 2020, saya mengumumkan Status Keadaan Darurat di California sebagai akibat dari ancaman COVID-19; dan MENGINGAT, dalam waktu singkat, COVID-19 menyebar cepat ke seluruh California sehingga diperlukan panduan yang diperbarui dan lebih ketat dari pejabat kesehatan masyarakat federal, negara bagian, dan lokal; dan MENGINGAT, untuk menjaga kesehatan dan keselamatan publik di seluruh Negara Bagian California, saya merasa perlu bagi semua warga California untuk memperhatikan arahan kesehatan masyarakat Negara Bagian dari Departemen Kesehatan Masyarakat. OLEH KARENA ITU, SAYA, GAVIN NEWSOM, Gubernur Negara Bagian California, sesuai dengan wewenang yang diberikan kepada saya oleh Konstitusi Negara dan undang-undang Negara Bagian California, dan khususnya, bagian Kode Pemerintah 8567, 8627, dan 8665 dengan ini mengeluarkan Perintah berikut untuk diberlakukan segera: DENGAN INI DIPERINTAHKAN BAHWA: 1) Untuk menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat, dan untuk memastikan sistem pemberian perawatan kesehatan mampu melayani semua, dan memprioritaskan mereka yang berisiko tinggi dan rentan, semua penduduk diperintahkan untuk segera mematuhi arahan kesehatan masyarakat Negara Bagian saat ini, yang saya perintahkan untuk dikembangkan oleh Departemen Kesehatan Masyarakat untuk status COVID-19 berskala negara bagian saat ini. Arahan tersebut konsisten dengan Memorandum 19 Maret 2020 tentang Identifikasi Pekerja Infrastruktur Kritis Esensial Selama Penanggulangan COVID-19, yang dapat dilihat di: https://covid19.ca.gov/. PERINTAH PEJABAT KESEHATAN MASYARAKAT NEGARA BAGIAN Untuk melindungi kesehatan masyarakat, saya sebagai Pejabat Kesehatan Masyarakat Negara Bagian dan Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat California memerintahkan semua orang yang tinggal di Negara Bagian California untuk tinggal di rumah atau di tempat tinggal mereka, kecuali jika diperlukan untuk menjaga kelangsungan pengoperasian sektor infrakstruktur kritis federal, sebagaimana diuraikan di https://www.cisa.gov/critical-infrastructure-sectors. Selain itu, dan setelah berkonsultasi dengan Direktur Kantor Layanan Darurat Gubernur, saya dapat menunjuk sektor-sektor lain sebagai sektor kritis untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan semua warga California. Berdasarkan otoritas di bawah Kode Kesehatan dan Keselamatan 120125, 120140, 131080, 120130 (c), 120135, 120145, 120175, dan 120150, perintah ini akan berlaku segera dan akan tetap berlaku hingga pemberitahuan lebih lanjut. Pemerintah federal telah mengidentifikasi 16 sektor infrastruktur kritis yang aset, sistem, dan jaringannya, baik fisik maupun virtual, dianggap sangat vital bagi Amerika Serikat sehingga kelumpuhan atau kerusakannya akan berdampak buruk pada keamanan, keamanan ekonomi, kesehatan atau keselamatan masyarakat, atau kombinasinya. Saya memerintahkan agar warga California yang bekerja di 16 sektor infrastruktur kritis ini dapat melanjutkan pekerjaan mereka karena pentingnya sektor-sektor ini bagi kesehatan dan kesejahteraan warga California. Perintah ini dikeluarkan untuk melindungi kesehatan masyarakat California. Departemen Kesehatan Masyarakat California berupaya membangun konsistensi di seluruh negara bagian untuk memastikan bahwa kita memitigasi dampak COVID-19. Tujuan kita sederhana, kita ingin menekuk kurva dan memutus penyebaran virus. Rantai pasokan harus tetap terjaga dan warga California harus memiliki akses ke kebutuhan dasar seperti makanan, obat resep, dan perawatan kesehatan. Ketika orang perlu meninggalkan rumah atau tempat tinggal mereka, baik untuk mendapatkan atau melakukan fungsi-fungsi di atas, atau untuk memfasilitasi kegiatan penting yang diijinkan, mereka harus mempraktikkan pembatasan sosial setiap saat. 2) Sistem pemberian perawatan kesehatan harus memprioritaskan layanan untuk melayani orang sakit yang paling parah dan harus memprioritaskan sumber daya, yang mencakup alat pelindung diri, untuk penyedia perawatan yang memberikan perawatan langsung kepada orang tersebut. 3) Kantor Layanan Darurat diarahkan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan kepatuhan terhadap Perintah ini. 4) Perintah ini akan diberlakukan sesuai dengan hukum California, yang mencakup, tetapi tidak terbatas pada, bagian Kode Pemerintah 8665. LEBIH LANJUT DIPERINTAHKAN agar sesegera mungkin, Perintah ini dicatat di Kantor Sekretaris Negara Bagian dan agar publisitas dan pemberitahuan yang luas dilakukan atas Perintah ini. Perintah ini tidak dimaksudkan untuk, dan tidak, menciptakan hak atau manfaat apa pun, substantif atau prosedural, yang dapat diberlakukan menurut aturan hukum atau asas keadilan, melawan Negara Bagian California, agensi, departemen, entitas, pejabat, karyawan, atau siapa pun. DEMIKIANLAH, di sini saya membubuhkan tanda tangan dan Segel Agung Negara Bagian California untuk menetapkan perintah ini pada tanggal 19 Maret 2020. DARI: Katherine Maher, CEO Yayasan Wikimedia KEPADA: Semua staf Yayasan Wikimedia BARIS SUBJEK: [Covid-19] Meringankan beban dan mempersiapkan masa depan TANGGAL/WAKTU PENGIRIMAN: 14 Maret 2020, 00:24 UTC LISENSI: CC0: Tidak ada hak yang dilindungi Kita mendapati diri kita berada dalam situasi yang luar biasa bulan ini. Epidemi COVID-19 adalah hal yang membuat jelas keterkaitan manusia global dan tanggung jawab yang kita miliki satu sama lain. Kita belum pernah mengalami tantangannya, tetapi kita tahu bahwa respons terbaik kita tergantung pada bentuk empati, kerja sama, dan pembangunan komunitas global, yang merupakan jantung organisasi ini. Persahabatan dan kepedulian yang telah kami saksikan di antara semua rekan kerja melalui email, panggilan, dan obrolan adalah validasi luar biasa adanya manusia luar biasa, yang kami cukup beruntung, untuk bekerja bersama mereka. Rasa syukur dan bangga saya tidak terhingga dapat menyebut Anda sekalian sebagai rekan kerja. Minggu lalu, seseorang berbagi dengan saya penghargaan mereka untuk pekerjaan kita. Mereka mengingatkan saya betapa berartinya bagi dunia saat ini untuk dapat mengakses Wikipedia dan betapa hal ini merupakan lambang kuat bagi sumber daya penting ini untuk tetap tersedia daring bagi semua orang. Pekerjaan Anda memungkinkan ini terjadi, entah Anda memastikan situs ini tetap berjalan, membantu membayar rekan kita, atau membantu menjaga keamanan komunitas kita. Dunia membutuhkan informasi yang disediakan Wikipedia, terutama saat ini. Inilah momen ketika bukan hanya pekerjaan yang kita lakukan, tetapi cara kita melakukannya, akan membuat dampak yang berarti bagi dunia. Karena pentingnya misi ini dan peran Anda di dalamnya, kita akan membuat beberapa penyesuaian penting terhadap cara kita bekerja bersama, yang akan dimulai minggu depan. Penyesuaian terhadap pekerjaan dan jadwal kita Seperti yang disebutkan Robyn sebelumnya, tim-c bertemu semalam untuk membahas pendekatan dan jadwal kita untuk beberapa hari dan bulan mendatang. Dalam percakapan itu, kami mempertimbangkan hal yang kami pikir merupakan respons tepat untuk tantangan yang kita hadapi dan cara terbaik untuk menjaga kelangsungan organisasi selama masa ini. Kami sangat ingin menghilangkan tekanan dan mendukung misi kita untuk jangka panjang. Jika Anda perlu mengurangi jadwal pekerjaan, tidak apa-apa. Untuk semua staf, kontraktor, dan pekerja kontrak: harapan kerja harian kita adalah sekitar 4 jam sehari, atau 20 jam seminggu, hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kami tidak menetapkan hari libur, jika Anda bisa bekerja lebih banyak pada jam normal, misi ini memerlukan Anda. Namun, dunia tidak dapat diprediksi saat ini, dan entah Anda perlu merawat orang terkasih, berbelanja kebutuhan pokok, atau pergi ke dokter, kesejahteraan Anda adalah prioritas kami. Kami tidak memantau waktu kerja Anda. Jika Anda sakit, jangan bekerja. Hal ini seharusnya tidak perlu dikatakan, tetapi kami mengatakannya. Cuti sakit atau PTO tidak diperlukan, cukup beri tahu manajer Anda dan bantu tim Anda merevisi kalender dan jadwal untuk memastikan bidang-bidang kerja yang utama dapat diselesaikan. (Jika Anda didiagnosis positif menderita COVID-19, harap beri tahu Bryan di dalam T & C Ops agar T & C dapat membantu dengan dukungan dan memastikan situasi Anda mendapat perhatian yang tepat dari manajemen). Rekan-rekan yang upahnya berbasis jam akan dibayar penuh. Kami telah mengatakannya, dan mengatakannya sekali lagi, untuk menghormati komitmen kami kepada rekan kontraktor dan staf berbasis jam. Semua orang akan dibayar berdasarkan jam kerja mereka biasa ketika keadaan normal. Hal ini termasuk jika Anda sakit dan tidak bisa bekerja. Jika Anda mau bekerja, kami mendukung Anda. Banyak orang menggunakan pekerjaan sebagai cara menyalurkan stres terhadap dunia di sekitar kita. Pekerjaan yang kita lakukan bisa sangat memberi kepuasan, terutama di masa-masa seperti ini. Sekali lagi, hal yang terutama adalah menjaga diri Anda. Permintaan kami adalah Anda berkomunikasi dengan manajer Anda sehingga kami tahu hal yang harus diantisipasi dan dapat mengambil tindakan yang sesuai. Pekerjaan tertentu dianggap esensial. Ada beberapa pekerjaan yang harus terus berjalan. SRE, Operasi SDM, Kepercayaan & Keamanan, serta tim Penggalangan Dana, antara lain, melakukan pekerjaan penting yang mungkin memerlukan dukungan tambahan. Kita akan memulai proses dengan semua departemen untuk menilai tujuan saat ini dan mengalihkan fokus kita untuk mendukung hal yang esensial untuk misi kita. Ada banyak yang harus dilakukan bagi kita semua, kita hanya akan berfokus penuh pada proyek yang paling esensial. Memperlambat saat ini tidak akan apa-apa untuk masa depan. Kita tidak berencana untuk "kerja lembur mengejar ketinggalan" setelah pandemi ini berlalu. Anda tidak akan diharapkan bekerja lembur untuk memenuhi tenggat waktu yang tidak realistis saat ini. Kami menyadari bahwa situasi berubah dan akan berupaya untuk menetapkan target dan garis waktu baru jika perlu. Bagaimana dengan APP (Perencanaan Tahunan)? Untuk menyesuaikan dengan kenyataan baru dan ekspektasi jam kerja harian, kami bermaksud untuk menyesuaikan garis waktu untuk pelaksanaan Rencana Tahunan 2020-2021. Maksud kami adalah untuk mengusulkan perpanjangan rencana 2019-2020 yang memungkinkan lebih banyak waktu untuk membuat anggaran sehingga karyawan dapat memprioritaskan pekerjaan yang penting, perawatan diri, dan perawatan orang terkasih sambil mengakomodasi mereka yang perlu atau ingin bekerja dengan jadwal lebih sedikit selama beberapa minggu ke depan. Perpanjangan garis waktu ini sangat mengurangi beban kerja dan tekanan perencanaan saat ini di seluruh organisasi. Kami akan menyampaikan proposal kami kepada Dewan minggu depan dan akan memperbarui delegasi dan tim pada langkah selanjutnya segera setelah kami mendapat konfirmasi. Terima kasih tim APP untuk kepemimpinan Anda dalam hal ini. Status, paparan, dan pembersihan kantor Minggu lalu, kami diberi tahu bahwa salah satu rekan kita yang berbasis di SF mungkin telah terpapar virus COVID-19. Namun, karena sangat khawatir, kami mempekerjakan kru pembersih antivirus untuk mendisinfeksi semua permukaan di kantor San Francisco. Mereka menggunakan cairan antivirus bertaraf rumah sakit untuk mendisinfeksi setiap permukaan, lobi, dan semua lift yang mengakses lantai kita. Pihak gedung menerapkan protokol pemastian keselamatannya sendiri dengan menggunakan produk yang mendukung keselamatan penyewanya. Kami merasa senang bahwa kantor akan siap dipakai ketika kita memutuskan untuk kembali. Kantor DC kita terletak di WeWork, yang telah membagikan protokol COVID-19 kepada kita dan semua anggota staf yang berbasis di DC. Mulai minggu lalu, kantor DC kita telah pindah ke tatanan kerja jarak jauh penuh, sejalan dengan panduan yang dibagikan dengan San Francisco. Seperti diketahui oleh beberapa rekan kita yang berbasis di NYC, kami juga sedang mendiskusikan tentang menyewa lokasi di Brooklyn. Diskusi ini masih berlanjut, tetapi mungkin akan tertunda. Beberapa rekan kita bekerja dari jarak jauh untuk pertama kalinya. Rekan kita yang sudah lama bekerja jarak jauh menyadari bahwa hal itu mungkin perlu penyesuaian dan mereka ingin memberi saran kepada Anda: Batasi durasi rapat paling lama satu atau dua jam. Jika sesi yang lebih lama diperlukan, pertimbangkan cara membaginya menjadi beberapa hari. Definisikan rapat dengan jelas, buat agenda, dan kirim bahan bacaan sebelumnya. Jadikan video sebagai default, dengan alat seperti Google Docs dan Zoom untuk memfasilitasi kolaborasi dan koneksi langsung. Tunjuk pemimpin untuk memfasilitasi setiap rapat, seseorang untuk memantau obrolan untuk pertanyaan dan mencatat daftar pembicara, dan seseorang untuk membantu membuat catatan rapat (atau lakukan pembuatan catatan kolaboratif). Kirim email ke dukungan teknis jika Anda membutuhkan headset yang nyaman. Gunakan kompensasi kesejahteraan Anda untuk membeli makanan kecil. Bergabunglah dengan saluran #remoties di Slack untuk berbicara dengan rekan tentang pekerjaan yang dibagikan Tim Operasi SDM sedang mencari pedoman ergonomi berbasis webinar untuk mendukung peningkatan pekerjaan yang didistribusikan di seluruh Yayasan. Minggu belakangan ini kami meminta semua penerima dana hibah komunitas untuk membatalkan acara publik yang didanai Wikimedia, seperti Edit-a-thon, hingga WHO menyatakan pandemi telah berakhir. Kami memberi tahu mereka bahwa kami memahami permintaan kami untuk pembatalan dan pembatasan lainnya dapat membuat mereka tidak mungkin menyelesaikan kegiatan hibah yang disetujui dan bahwa tidak ada yang akan diberi pinalti karena harus menunda atau memodifikasi sasaran tersebut. Minggu mendatang ini kami akan menindaklanjuti dengan panduan tambahan tentang Wikimania dan konferensi komunitas regional dan tematik lainnya. Secara umum, sentimen dari seluruh komunitas global tampaknya berupa kesedihan akibat gangguan ini, tetapi sekaligus lega atas kejelasan dan kemampuan untuk berfokus pada komunitasnya sendiri, baik Wikimedia maupun yang lain. Ke depan, CRT sedang berupaya untuk menyiapkan halaman di Meta-Wiki untuk menyediakan ruang bagi komunitas untuk memantau dampak dan mengikuti komunikasi kami dengan mereka. Tetap terhubung selama situasi COVID-19 Kami akan mengirimkan undangan ke kalender Anda untuk Kamis mendatang, pukul 14:00 UTC/07:00 PT untuk rapat staf khusus. Kami akan menggunakan waktu ini untuk membagikan pembaruan tambahan, menjawab pertanyaan Anda, dan meluangkan waktu untuk saling terhubung. Kita sama-sama berada dalam situasi ini dan kami ingin membantu sebisa kami. Sementara itu, Anda dapat terus mendapatkan informasi dari email ini dan semua informasi esensial terkait COVID-19 lainnya di Office Wiki. CRT akan terus memperbarui halaman ini dan memastikan semua informasi ada di satu tempat. Kami juga berupaya menjaga komunikasi rutin dengan staf yang tinggal di negara-negara yang saat ini terdampak secara signifikan. Jika Anda memiliki pertanyaan tentang perjalanan, acara, alur kerja utama, atau kesulitan mengenai liputan, atau hal lain yang mungkin memerlukan bantuan, jangan ragu untuk memberi tahu dan bekerja sama dengan CRT. Kami ada di sini untuk membantu memberikan dukungan dan menjadi penghubung sesuai kebutuhan. Jika Anda memiliki masalah rahasia atau sensitif, silakan kirimkan email kepada Bryan Judan, Direktur Operasi Global SDM Internasional. Jangan ada satu pun perubahan ini dilihat sebagai pengabaian pekerjaan dan kewajiban kita. Sebaliknya, perubahan ini merupakan pengakuan bahwa, saat ini, pekerjaan dan kewajiban kita mungkin perlu diadaptasi dalam cara yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Perubahan ini adalah langkah-langkah yang kami yakini penting untuk saling mendukung dalam situasi ini sehingga kita dapat terus bekerja, menyediakan dukungan yang diperlukan gerakan kita, dan memberi dunia layanan yang mereka andalkan. Pekerjaan yang kita rencanakan sebelumnya akan ada di sana menanti kita ketika waktunya tiba. Untuk sekarang, inilah waktunya untuk saling mendukung dan menciptakan ruang untuk pekerjaan penting yang akan datang dalam beberapa minggu dan mungkin beberapa bulan ke depan. Kami membutuhkan Anda semua untuk mewujudkannya, untuk itu, kami ingin Anda mengurus diri Anda dan keluarga Anda supaya Anda dapat bekerja sebaik-baiknya saat dibutuhkan. Akhirnya, mohon cuci tangan Anda dan jangan sentuh wajah Anda! Katherine, CRT (Amanda K, Amy V, Bryan J, Doreen D, Gregory V, Jaime V, Joel L, Lynette L, Ryan M, dan Tony S), dan anggota Tim Kepemimpinan lainnya (Grant I, Heather W, Jaime V, Janeen U, Lisa S, Robyn A, Ryan M, dan Toby N). Virus SARS-CoV-2 adalah penyebab COVID-19 (penyakit coronavirus 2019), penyakit pernapasan menular yang pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019, di Wuhan, Hubei, Tiongkok. Penyakit ini adalah jenis koronavirus, berada dalam keluarga yang sama dengan SARS, MERS, dan beberapa varietas pilek. Pada 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi. Walaupun banyak hal tentang COVID-19 masih belum diketahui, data awal menunjukkan bahwa COVID-19 lebih virulen dan menular daripada flu musiman, dan tidak sevirulen, tetapi lebih menular daripada SARS dan MERS. Lansia dan orang dengan kondisi mendasari memiliki risiko paling tinggi untuk komplikasi serius yang mencakup kematian. Karena penyebaran penyakit, Anda disarankan untuk tidak bepergian, kecuali sangat penting, untuk menghindari tertular, dikarantina, atau terdampar akibat perubahan pembatasan dan penerbangan yang dibatalkan. Sedapat mungkin, hindari tempat-tempat yang ramai. Tindakan ini bukan hanya untuk melindungi Anda, tetapi juga untuk melindungi orang yang kontak dengan Anda. Sebenarnya, Anda mungkin tidak melewatkan banyak hal dengan tinggal di rumah sebab banyak tempat wisata di seluruh dunia ditutup untuk menghindari penyebaran penyakit. Jika Anda memang perlu bepergian, lakukan tindakan pencegahan seperti yang Anda lakukan untuk infeksi lain: cuci tangan sesering mungkin, hindari menyentuh wajah Anda, batuk dan bersin ke dalam siku atau tisu, dan hindari kontak dengan orang yang sakit. Sebelum bepergian, baca serangkaian pembatasan perjalanan yang sangat luas dan berubah dengan cepat yang telah diberlakukan di seluruh dunia. Setelah bepergian, pantau kesehatan Anda dan pertimbangkan untuk melakukan isolasi mandiri selama dua minggu untuk mencegah menularkan penyakit kepada orang lain. Transportasi dari pesawat penumpang jarak jauh ke bus lokal telah dibatasi atau ditutup sepenuhnya di banyak negara karena rendahnya permintaan atau karena perintah pemerintah. Banyak perbatasan internasional dan regional ditutup. Jika Anda jauh dari rumah, dan terutama jika Anda berada di negara lain, pertimbangkan untuk pulang sesegera mungkin; hal ini mungkin akan semakin sulit seiring pembatasan terus berubah. Dalam beberapa kasus, Anda mungkin tidak bisa pulang sekalipun Anda sehat dan memenuhi persyaratan hukum untuk masuk negara. Jika Anda tidak dapat pulang ke negara Anda, hubungi kedutaan terdekat atau konsulat untuk mendapatkan bantuan. Mereka mungkin dapat mengatur evakuasi, menemukan penerbangan dengan jadwal khusus, atau memberi Anda pinjaman darurat untuk membayar transportasi. Jika mereka tidak bisa membantu, lakukan persiapan kalau-kalau Anda perlu tinggal lebih lama di tempat Anda sekarang. Jika Anda akhirnya menemukan cara untuk pulang, bersiaplah bahwa perjalanan itu mungkin mahal, tidak nyaman, dan memiliki pembatasan yang tidak lazim (misalnya tidak boleh membawa bagasi check-in). Hingga awal April 2020, angka kasus terkonfirmasi COVID-19 mendekati satu juta. Meskipun berawal di Tiongkok daratan, penyakit ini telah menyebar ke seluruh dunia dan Tiongkok memiliki lebih sedikit kasus terkonfirmasi dan kematian dibandingkan beberapa negara lain. Eropa merupakan episenter pandemi yang baru. Semua negara, kecuali beberapa negara, telah melaporkan setidaknya satu kasus, dengan jumlah kasus tertinggi dilaporkan di Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, Tiongkok daratan, Iran, dan Inggris Raya. Transmisi lokal terjadi di banyak negara di semua wilayah berpenghuni padat di dunia, kecuali beberapa negara kepulauan Pasifik. (Lihat pembaruan dari WHO.) Luasnya penyebaran tidak diketahui dengan pasti, sebagian karena terbatasnya pengujian. Banyak negara mengalami kekurangan alat uji yang parah dan otoritas belum dapat menguji semua orang yang berisiko tinggi sehingga jumlah kasus sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi daripada jumlah yang diumumkan. Negara-negara juga berbeda dalam praktik pengujian dan pelaporannya sehingga perbandingan jumlah kasus yang dilaporkan tidak menggambarkan secara lengkap perkembangan epidemi di berbagai daerah. Virus ini ditularkan melalui percikan atau droplet pernapasan dan melalui benda-benda. Koronavirus adalah virus yang relatif besar, yang berarti virus ini sebenarnya tidak bisa ditularkan melalui udara: virus akan menetap dalam droplet pernapasan. Menjaga jarak dua meter (enam kaki) dari orang lain biasanya cukup untuk mencegah penularan melalui rute ini. Penularan dari objek dapat terjadi, misalnya, jika seseorang bersin, menyentuh gagang pintu, kemudian orang lain menyentuh gagang pintu itu lalu menyentuh wajahnya. Virus SARS-CoV-2 dapat bertahan di kardus hingga 24 jam dan di plastik hingga 3 hari. Penularan melalui rute fekal-oral juga dapat terjadi. Bukti menunjukkan bahwa COVID-19 dapat menular bahkan tanpa gejala meskipun masih diselidiki tingkat penularannya. Gejala yang umum meliputi demam, batuk kering, dan kelelahan. Gejala lainnya yang kurang umum meliputi sesak napas, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, atau produksi sputum. Beberapa pasien memiliki gejala yang sangat ringan, mirip dengan pilek. Komplikasi serius mencakup pneumonia, sindrom gawat napas akut, dan gagal organ majemuk yang mengakibatkan disabilitas atau kematian. Sekitar 80% infeksi mengakibatkan gejala ringan, sedangkan sisanya dapat mengakibatkan rawat inap. Angka fatalitas kasus diperkirakan sebesar 1-3% dari orang yang terinfeksi, yang sebagian besar adalah lansia dengan kondisi kesehatan mendasari. Angka fatalitas jauh lebih tinggi bagi orang yang berusia di atas 70, tetapi secara signifikan lebih rendah untuk orang yang berusia di bawah 40. Orang yang paling berisiko untuk infeksi COVID-19 dan komplikasi serius adalah lansia dan orang dengan sistem imun lemah atau kondisi kesehatan mendasari, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, hipertensi, penyakit pernapasan kronis, dan kanker. Tidak banyak kasus dilaporkan pada anak dan sebagian besar kasus ringan atau sedang, meskipun ada bagian siginifikan yang mengalami pneumonia. Dari segi pekerjaan, tenaga kesehatan memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pekerja bidang lain, dengan klaster penyakit di antara petugas kesehatan dan di tatanan perawatan kesehatan. Waktu antara terpapar virus dan munculnya gejala (masa inkubasi) biasanya antara 2 dan 14 hari, meskipun ada satu kasus dilaporkan di Tiongkok dengan gejala muncul 27 hari setelah paparan. Hingga Februari 2020, periode penularan belum diketahui, tetapi kemungkinan paling signifikan ketika orang bergejala. Ada bukti penularan dari orang yang tidak bergejala, meskipun masih diselidiki tingkat penularannya. Masih belum jelas tentang kemungkinan orang dapat terinfeksi kembali oleh virus setelah sembuh dari infeksi pertama kali. Dampak jangka panjang bagi orang yang sudah sembuh masih belum jelas, tetapi ada bukti penurunan kapasitas paru pada beberapa pasien yang sudah sembuh. Pengujian untuk virus biasanya berupa usapan yang dimasukkan melalui hidung atau tenggorokan lalu dianalisis di laboratorium untuk menguji virus. Uji "standar emas" saat ini melibatkan ekstraksi bahan genetik dari sampel dan menganalisisnya untuk melihat penanda genetik virus yang diketahui. Belum ada pengujian mapan untuk memeriksa virus atau antibodi dalam darah, meskipun pengujian semacam itu sedang dikembangkan. Belum ada pengujian untuk mengetahui imunitas terhadap virus. Banyak pemerintah di seluruh dunia telah mengimbau warganya untuk tidak melakukan perjalanan yang tidak perlu di tengah pandemi. Banyak maskapai dan paket liburan memudahkan Anda dengan mengabaikan biaya pembatalan dan pengubahan. Terutama, hindari perjalanan dengan kapal pesiar. Lansia dan orang dengan kondisi mendasari berisiko paling tinggi dan harus menghindari perjalanan yang membahayakan mereka, seperti penerbangan pesawat yang panjang, kunjungan ke tempat-tempat ramai, dan terutama kapal pesiar, walaupun ke daerah yang tidak terdampak parah. Di daerah yang terdampak, sebagian besar ahli merekomendasikan praktik yang dikenal sebagai pembatasan sosial. Pembatasan ini berarti meminimalkan kontak dengan orang lain dengan menjaga jarak enam kaki atau dua meter dari orang lain dan menghindari berkumpul dalam kelompok. Beberapa daerah mengizinkan kelompok kecil, daerah yang lain melarang semua pertemuan kelompok. Langkah-langkah yang dianjurkan untuk Anda ambil mencakup bekerja dari rumah jika memungkinkan, menghindari keramaian, dan menghindari meninggalkan rumah, kecuali jika benar-benar diperlukan. Jika Anda harus keluar, cobalah untuk menjaga jarak setidaknya 2 meter (6 kaki) dari orang lain. Di banyak tempat, langkah-langkah ini diwajibkan. Ikuti praktik kebersihan seperti untuk pencegahan flu. Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air hangat, lalu keringkan tangan dengan lap bersih. Karena koronavirus adalah virus beramplop, mencuci tangan dengan sabun membunuh virus dengan merusak amplop virus yang sebagian besar berbasis lemak. Mencuci tangan yang efektif memerlukan penggosokan tangan setidaknya selama 20 detik. Mengeringkan tangan yang telah dicuci secara fisik menghilangkan sebagian kuman dari kulit Anda (jadi jangan lewati langkah ini, dan jangan berbagi lap). Jika air dan sabun tidak tersedia, gunakan penyanitasi tangan berbasis alkohol > 60%. Alkohol adalah pembunuh kuman yang cepat, tetapi tidak instan, jadi proses ini tetap membutuhkan waktu 20 detik untuk saling menggosok tangan, memastikan bahwa semua bagian kulit terbasahi, lalu Anda harus menunggu sekitar satu menit lagi hingga alkohol benar-benar kering. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut Anda dengan tangan. Kebanyakan orang menyentuh wajah mereka setiap beberapa menit, sepanjang hari. Cobalah untuk lebih jarang melakukan hal ini, dan cobalah untuk mencuci tangan sebelum menyentuh wajah Anda. Selain itu, cobalah untuk menghindari menyentuh permukaan yang sebenarnya tidak perlu Anda sentuh, setidaknya tidak perlu dengan tangan kosong. Batuk dan bersin ke dalam siku atau tisu, lalu segera buang tisu itu dan cuci tangan Anda. Jangan berdiri atau duduk di dekat orang yang mungkin sakit. Jagalah jarak setidaknya satu meter, idealnya dua meter (enam kaki). Sebagai cara cepat untuk melihat jarak ini, bayangkan bahwa Anda dan orang itu sama-sama mengulurkan tangan ke arah satu sama lain. Bisakah Anda menyentuh tangan orang itu tanpa maju selangkah ke arah orang itu? Jika jawabannya iya, posisi Anda terlalu dekat. Bersihkan benda dan permukaan yang disentuh banyak orang, seperti gagang pintu, telepon, dan remote televisi dengan pembersih rumah tangga biasa. Disinfeksi permukaan dengan disinfektan yang sesuai, seperti cairan pemutih rumah tangga yang diencerkan. Tetaplah di rumah jika Anda sakit, dan hindari kontak dengan orang lain sampai gejala Anda hilang. Jangan berbagi barang-barang pribadi yang bersentuhan dengan air liur, seperti sikat gigi, peralatan makan, minuman, botol air minum, dan handuk. Praktik penyajian dari piring bersama dengan sumpit masing-masing, seperti yang lazim di Tiongkok, harus dihindari. Sapa orang lain tanpa menyentuh mereka. Hindari pelukan, ciuman, jabat tangan, memberi salam dengan kepalan tangan, dan kontak lainnya. Jika kontak tidak mungkin dihindari, cuci kedua tangan Anda sebelum dan sesudahnya. Tindakan ini tidak akan melindungi Anda dari koronavirus, tetapi setidaknya akan melindungi Anda dari flu, yang tetap merupakan risiko lebih besar daripada COVID-19 di banyak daerah. Tindakan ini juga mengurangi kekhawatiran yang tidak perlu jika Anda mengalami flu dan menduga Anda mungkin tertular koronavirus. Jika Anda termasuk lansia atau kelompok berisiko tinggi lainnya dan bisa mendapatkan divaksinasi untuk pneumonia, dapatkan vaksinasi itu. Vaksinasi itu tidak akan melindungi Anda dari pneumonia akibat virus COVID-19, tetapi beberapa pasien COVID-19 meninggal akibat pneumonia bakterial yang menyerang paru-paru mereka yang melemah, jadi vaksinasi pneumonia dapat menyelamatkan hidup Anda. Mengenakan masker dianjurkan bagi orang yang diduga membawa penyakit dan orang yang kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Bagi orang yang tidak menunjukkan gejala, WHO tidak merekomendasikan penggunaan masker, meskipun beberapa pemerintah nasional menganjurkannya. Mengenakan sejenis masker diwajibkan di beberapa negara dan kota dalam upaya mengurangi penularan di masyarakat. Di seluruh dunia, terjadi kelangkaan masker bedah. Jika memakai masker, pastikan Anda memakainya dengan benar. Masker harus menutupi hidung dan mulut Anda dan harus pas tanpa ada celah. Cuci tangan Anda sebelum mengenakan masker dan hindari menyentuh masker saat mengenakannya. Jika Anda menyentuhnya, segera cuci tangan Anda sesudahnya. Saat masker menjadi lembap, buang dan ganti masker. Lepaskan masker dari belakang, buang, lalu cuci tangan Anda. Ingatlah bahwa masker bukan pengganti higiene yang baik: tetaplah mencuci tangan sesering mungkin. Jangan menimbun masker jika Anda tidak memerlukannya. Kelangkaan masker berarti bahwa tenaga kesehatan akan kesulitan mendapatkan masker, yang membuat semua orang menjadi berisiko. Ini mencakup respirator N95, yang tidak direkomendasikan untuk masyarakat umum, barang ini adalah perlengkapan untuk spesialis yang harus dipaskan agar optimal keefektifannya. Biarkan perlengkapan tersebut hanya untuk tenaga kesehatan. Hindari daerah yang ramai, terutama daerah tertutup tanpa banyak sirkulasi udara, seperti konferensi, pertunjukan, pusat perbelanjaan, angkutan umum, dan layanan keagamaan. Acara yang melibatkan pertemuan banyak orang, mulai dari ziarah keagamaan hingga konser musik, dibatalkan di seluruh dunia, dalam upaya untuk membendung penyebaran virus. Tempat wisata, bisnis, dan transportasi kemungkinan ditutup, terutama di negara-negara yang terdampak. Beberapa acara yang dibatalkan, terutama pertunjukan, acara olahraga, dan kelas, dipindahkan menjadi daring, yang berarti Anda dapat menikmatinya tanpa bepergian. Di pompa bensin, sebisa mungkin, gunakan sarung tangan atau lap gagang pengisi bensin dengan tisu disinfektan. Setelah mengisi bensin, bersihkan tangan Anda dengan penyanitasi tangan. Pemerintah AS dan Kanada merekomendasikan untuk menghindari perjalanan menggunakan kapal pesiar. Infeksi mudah menyebar di atas kapal dan perawatan medis terbatas. Di tengah wabah kapal pesiar, karantina dan penyandaran kapal menjadi sulit dilakukan, sebagian karena banyaknya orang di atas kapal. Bahkan kapal pesiar tanpa kasus terkonfirmasi tidak diberi izin untuk berlabuh karena ketakutan akan virus, dan dalam hal Diamond Princess dengan profil kasus yang tinggi di Jepang, ratusan orang terinfeksi di kapal. Jika Anda yakin telah terinfeksi, hubungi rumah sakit atau layanan medis darurat setempat dan jangan datang sendiri untuk menghindari menulari orang lain. Sebutkan gejala dan riwayat perjalanan Anda. Kenakan masker medis dan ikuti instruksi pihak berwenang dan dokter. Lihat juga: Penerbangan dan kesehatan Di pesawat, ikuti praktik kebersihan yang sama seperti di tempat lain: sering mencuci tangan, atau gunakan penyanitasi tangan berbasis alkohol jika Anda tidak ingin meninggalkan kursi Anda, dan hindari menyentuh wajah Anda. Peneliti menemukan bahwa penumpang yang duduk di kursi dekat jendela memiliki risiko lebih kecil untuk kontak dengan orang sakit. Cobalah memesan tempat duduk dekat jendela, dan hindari bergerak di seputar kabin selama penerbangan. Setelah mencuci tangan dan sebelum duduk, gunakan tisu disinfektan untuk membersihkan area di sekitar kursi Anda. Seka permukaan yang keras, dan jika tempat duduk Anda berbahan kulit, Anda bisa menyekanya juga. Jangan menyeka dudukan kain karena lembap dapat mempermudah penularan. Saat menggunakan tisu disinfektan, ikuti petunjuk pada kemasan. Ingat, virus masuk melalui mulut, hidung, dan mata Anda, menyeka daerah-daerah tersebut boleh saja, tetapi tindakan itu bukan pengganti tindakan higiene yang sesuai. Cuci tangan Anda dan hindari menyentuh wajah Anda. Dan gunakan tisu untuk menyentuh layar sentuh atau pengendali lainnya. Saat menggunakan toilet, gunakan lap kertas untuk mematikan keran dan membuka pintu, lalu buang lap kertas itu. Maskapai di daerah yang terdampak mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penularan dan menjaga keselamatan penumpang. Misalnya, langkah-langkah ini mungkin mencakup membersihkan fasilitas lebih sering, mengijinkan pramugari untuk memakai masker, serta menyajikan makanan kemasan dan bukan makanan yang baru dipanaskan. Jika sekelompok penumpang berasal dari daerah yang terdampak parah, pramugari mungkin dapat mendudukkan mereka jauh dari penumpang lainnya (karena alasan ini, jika Anda baru-baru ini berada di daerah berisiko tinggi, pertimbangkanlah untuk memberi tahu pramugari). Anda mungkin dilarang mengganti tempat duduk di penerbangan. Tujuannya, jika seseorang dalam penerbangan ternyata terinfeksi, pihak berwenang dapat melacak orang-orang yang duduk di dekatnya untuk pengujian atau karantina. COVID-19 dirawat dengan meringankan gejala dan mencegah komplikasi. Belum ada vaksin atau terapi spesifik untuk koronavirus baru. Penelitian untuk membuat vaksin atau obat antivirus spesifik sedang dilakukan. Ada berbagai uji coba menggunakan obat HIV dan obat antivirus baru lainnya untuk pengobatan COVID-19. Gejala ringan dapat dihilangkan dengan meminum parasetamol (asetaminofen). Jika Anda terinfeksi COVID-19, di beberapa negara, Anda akan diisolasi hingga hasil beberapa uji COVID-19 berturut-turut negatif. Jika Anda kontak dekat dengan seseorang yang terinfeksi COVID-19, banyak negara akan mengarantina Anda selama 14 hari sejak paparan terakhir dan memantau Anda untuk melihat adanya tanda dan gejala. Beberapa negara juga akan menguji Anda sekalipun Anda tidak bergejala. Di banyak negara, sistem perawatan kesehatan sudah kewalahan sampai tidak mampu menangani jumlah pasien yang sangat banyak, dan ada kemungkinan Anda tidak bisa mendapat perawatan karena kurangnya ketersediaan staf medis, persediaan, atau peralatan. Banyak negara telah menghentikan atau sangat membatasi penerbangan, kapal, dan perlintasan di perbatasan, terutama ke dan dari daerah yang terdampak. Lebih banyak lagi negara yang telah memberlakukan pembatasan pada kedatangan orang, baik melarang masuk (mungkin dengan pengecualian untuk warga setempat dan pemegang izin tinggal permanen) maupun mengharuskan karantina, biasanya selama 14 hari. Meskipun karantina wajib tidak diberlakukan, Anda mungkin diminta untuk "karantina mandiri" dengan tinggal di rumah dan tidak berinteraksi dengan orang lain. Pembatasan paling berat adalah pada orang yang baru-baru ini pergi ke daerah yang terdampak, tetapi semakin banyak negara menerapkannya untuk semua orang yang akan masuk ke dalam negara. Beberapa negara bahkan melarang semua atau hampir semua orang asing untuk masuk atau membatasi warga dan penduduk lokal untuk keluar negara. Daerah mana saja yang terdampak? Nah, situasi ini berubah cepat, dan setiap negara/wilayah/organisasi memiliki daftar sendiri tentang daerah yang dibatasi. Kota Wuhan ada di semua daftar dan daerah Tiongkok daratan lainnya ada di sebagain besar daftar. Daerah lain yang sering dimasukkan daftar: Prancis, Jerman, Hong Kong, Iran, Italia, Jepang, Makau, Singapura, Korea Selatan, Spanyol, Taiwan, Inggris Raya, Amerika Serikat, Wilayah Schengen secara keseluruhan, dan kadang-kadang berbagai negara lain. Beberapa negara memberlakukan pembatasan berdasarkan kewarganegaraan atau tempat tinggal dari daerah yang terdampak parah. Daftar terperinci tentang pembatasan masuk dikelola oleh IATA. Daftar ini tidak mencakup semua pembatasan, tetapi tetap berguna. Tetap ikuti perkembangan terkini, wabah dan pembatasan perjalanan berubah dengan cepat. Untuk perjalanan dalam waktu dekat, pertimbangkan untuk memesan tiket yang dapat dikembalikan jika perubahan situasi memaksa Anda untuk mengubah rencana. Hindari membeli tiket yang transit di daerah terdampak sebab pergantian pesawat pun dapat membuat Anda harus tunduk pada pembatasan. Penerbangan dapat dibatalkan dengan sedikit pemberitahuan, baik karena penyebaran penyakit dan pembatasan masuk yang selalu berubah maupun hanya karena penumpang terlalu sedikit dan maskapai kesulitan mengisi kursi. Anda juga mungkin mengalami penundaan berjam-jam setelah tiba untuk menunggu pemeriksaan suhu dan prosedur terkait serta pemeriksaan dokumen, atau bahkan dikarantina selama dua minggu. Bersiaplah untuk kemungkinan gangguan terhadap rencana perjalanan Anda, terutama jika bepergian internasional. Walaupun Anda jauh dari daerah terdampak, ada risiko Anda harus tinggal di daerah tujuan lebih lama daripada yang direncanakan jika Anda berada dalam bangunan atau kendaraan yang sama dengan orang terinfeksi. Misalnya, pada akhir Februari, seorang dokter Italia yang sedang berlibur di Costa Adeje (Kepulauan Canary) didiagnosis menderita COVID-19, dan akibatnya, semua tamu di hotel tempat ia menginap dikarantina. Karantina wilayah dan pembatasan internal lainnya Beberapa negara dan wilayah, terutama yang terdampak parah, menerapkan karantina wilayah darurat dan pembatasan pada pergerakan dan kegiatan masyarakat, bahkan bagi mereka yang tidak bepergian ke luar negeri baru-baru ini. Pembatasan ini mencakup penerapan kembali kontrol perbatasan untuk sementara waktu, pembatasan perjalanan di dalam negeri, menutup atau membatasi layanan di restoran dan tempat usaha lain, melarang acara publik besar, dan dalam pembatasan paling berat, melarang orang meninggalkan rumah, kecuali untuk alasan esensial. Di luar batasan pemerintah, tempat-tempat usaha tutup dan membatalkan acara untuk mencoba mengurangi penyebaran virus. Di Tiongkok, ada pembatasan ekstensif pada transportasi dan aktivitas, yang sangat beragam menurut provinsi, kota, dan bahkan menurut kabupaten atau desa. Banyak pemerintah mengimbau untuk tidak bepergian ke Tiongkok masa-masa ini. Jika Anda tidak memiliki pilihan, lakukan riset dan dapatkan informasi terkini tentang situasi setempat yang Anda tuju, di mana pun itu. Orang yang baru bepergian ke Hubei, khususnya, menghadapi pembatasan yang sangat berat. Contoh pembatasan yang mungkin Anda jumpai di beberapa bagian Tiongkok (ini bukan daftar lengkap): karantina 14 hari, karantina mandiri, atau pengujian COVID-19 setelah tiba dari daerah lain di Tiongkok atau dari negara lain, dengan biaya Anda sendiri pertanyaan tentang perjalanan dan riwayat kesehatan Anda (berbohong bisa membuat Anda dipenjara bertahun-tahun) pendaftaran wajib menggunakan formulir daring atau kertas keharusan mengenakan masker di tempat umum orang yang berada di luar Tiongkok dalam 14 hari tidak diijinkan ke tempat umum, seperti mal toko hanya menerima pembayaran seluler, tidak menerima tunai restoran, transportasi, dan tempat usaha lain menolak melayani orang yang bukan warga Tiongkok banyak bentuk transportasi dikurangi atau ditutup pendaftaran nama asli diwajibkan untuk kartu transit publik akses keluar masuk kota, desa, atau kota besar ditutup sepenuhnya pengunjung yang bukan penghuni dilarang memasuki kompleks apartemen hanya diizinkan sekali dalam dua hari keluar rumah untuk mendapatkan kebutuhan pokok bisnis, aktivitas, dan objek wisata ditutup bisnis membutuhkan izin pemerintah daerah untuk dibuka kembali restoran (jika pun masih buka) mewajibkan jarak minimum antarpelanggan menjual masker wajah dengan kualitas di bawah standar dapat dihukum penjara seumur hidup Mulai Maret 2020, Eropa adalah pusat epidemi dan banyak negara Eropa menutup perbatasannya untuk perjalanan internasional, hanya pekerja lintas perbatasan dan angkutan barang yang boleh melintas. Selain itu, bisnis selain toko sembako dan apotek ditutup, serta transportasi umum dikurangi atau dihentikan. Di negara-negara yang terdampak paling buruk, mencakup Italia, Spanyol, dan Prancis, diberlakukan karantina wilayah seperti karantina di Tiongkok pada bulan Januari. Uni Eropa juga telah menutup perbatasan luarnya. COVID-19 juga prevalen di Amerika Utara. Perbatasan antara Kanada, AS, dan Meksiko ditutup untuk perjalanan nonesensial, dan di banyak daerah, diberlakukan larangan pertemuan banyak orang (hal ini berarti tempat-tempat seperti restoran ditutup dan acara-acara dibatalkan). Banyak yurisdiksi negara bagian, kabupaten, dan kota telah mengeluarkan perintah tetap di rumah yang mengharuskan semua bisnis nonesensial untuk tutup. Dengan banyaknya penerbangan dibatalkan, peringatan dikeluarkan, dan pembatasan diberlakukan, bepergian dengan pesawat terbang di masa koronavirus bisa sulit. Sebagian rute penerbangan tidak memungkinkan. Rute yang lain akan membutuhkan transit yang lebih tidak nyaman dibanding biasanya, dengan banyak perhentian dan waktu tunggu yang panjang antara penerbangan. Dalam beberapa kasus, hal ini berarti harga tiket yang lebih mahal. Di sisi lain, kabar baiknya, banyak penerbangan lebih murah daripada biasanya karena penurunan permintaan dan ada kemungkinan besar Anda akan mendapatkan kursi kosong di sebelah Anda. Antisipasi waktu ektra untuk transit, terutama jika Anda beralih dari penerbangan internasional ke penerbangan domestik dan terutama jika rencana perjalanan Anda melibatkan negara yang terdampak serius. Waktu yang terkait dengan skrining, pemeriksaan suhu, dokumen tambahan, dan waktu tunggu bisa bermenit-menit atau berjam-jam sebelum Anda diizinkan melanjutkan perjalanan. Anda mungkin akan mendapati bahwa membeli tiket ke atau dari tempat tujuan dengan peringatan dan pembatasan menjadi lebih sulit daripada biasanya. Masalah ini lebih sulit jika Anda mencoba keluar dari wilayah yang terdampak. Sebagai contoh, sebagian besar agregator tiket tidak menjual tiket dari Tiongkok ke Amerika Serikat (mungkin untuk menghindari melanggar aturan pembatasan dan terjebak dalam masalah akibat penerbangan penumpang). Untuk membeli tiket untuk rencana perjalanan seperti ini, Anda mungkin perlu menghubungi maskapai atau menggunakan agregator yang kurang dikenal. Kemungkinan lain adalah membeli dua tiket terpisah (misalnya, tiket dari Tiongkok ke Kamboja dan tiket kedua dari Kamboja ke AS), tetapi berhati-hatilah agar Anda tidak dikarantina atau kehilangan barang bawaan di antara dua penerbangan itu. Penerbangan bersambung bisa menjadi masalah. Saat ini, risiko untuk terjebak di kota transit lebih tinggi daripada biasanya, karena penundaan untuk skrining dan pengujian, dan karena banyaknya pembatalan. Transit di daerah yang terdampak mungkin mengakibatkan pembatasan masuk nantinya, dan jika Anda baru dari daerah terdampak, beberapa negara bahkan tidak akan mengizinkan Anda untuk berganti pesawat. Rencana perjalanan tertentu memiliki risiko karantina di salah satu tempat dalam perjalanan tersebut. Jadi, pesanlah penerbangan langsung jika memungkinkan, dan jika tidak, pikirkan baik-baik tempat yang dipilih untuk transit. Di masa-masa yang tidak menentu ini, rencana dapat berubah. Banyak kedutaan dan konsulat telah mengevakuasi staf nonesensial dan sebagian menutup operasi sepenuhnya. Bantuan darurat mestinya masih tersedia, tetapi Anda mungkin harus menghubungi konsulat yang lebih jauh jika konsulat terdekat telah ditutup. Jika Anda terdampar karena pandemi, konsulat terdekat mungkin dapat membantu mencarikan penerbangan pulang, mengatur pinjaman darurat sehingga Anda dapat membeli tiket, atau memberikan paspor darurat. Paling tidak, mereka dapat memberi Anda informasi tentang situasi setempat dan memberi tahu Anda tentang persyaratan dan pembatasan perjalanan yang baru diberlakukan. Layanan konsuler biasa, seperti pemrosesan visa dan paspor, mungkin ditangguhkan atau dibatasi untuk kebutuhan mendesak, tergantung lokasi dan konsulatnya. Meskipun beberapa orang menyebut penyakit ini sebagai "pneumonia Wuhan" (武汉(漢)肺炎/武肺), "penyakit Wuhan", atau "virus Tiongkok", penggunaan istilah ini dianggap rasis di Tiongkok dan oleh banyak orang yang berasal dari Tiongkok. Penyakit ini masih lazim disebut "pneumonia Wuhan" atau "virus Tiongkok" di tempat-tempat seperti Hong Kong dan Taiwan. Agar aman, gunakan istilah yang tidak terikat lokasi ketika merujuk pada penyakit ini, seperti "COVID-19", "koronavirus baru", atau "virus" atau "pandemi" saja. Khususnya di negara-negara berkembang dengan penegakan hukum tidak terlatih dengan baik, penegakan jam malam, karantina wilayah, atau perintah tetap rumah sering kali tidak beradab dan sering kali menggunakan angkatan bersenjata yang tidak sebanding dengan jumlah kerumunan. Karena itu, patuhi perintah ini dan hindari kerumunan di tempat umum. Sebagai akibat dari pandemi koronavirus, xenofobia meningkat di banyak negara terutama, tetapi tidak secara eksklusif, menargetkan orang yang dianggap orang Tionghoa. Lonjakan insiden rasis yang menargetkan orang yang berasal dari Asia Timur terjadi di seluruh dunia, mencakup di kota-kota besar, seperti New York, London, dan San Francisco. Di Hong Kong, Sinofobia, yang sudah tinggi sejak awal, meningkat akibat pandemi sehingga banyak toko dan restoran kini menolak memberi layanan kepada pelanggan orang Tiongkok daratan dan melarang penutur bahasa Mandarin di tempat mereka (dengan pengecualian orang Taiwan). Tingkat xenofobia juga meningkat di Asia Timur, dengan beberapa restoran dan bisnis lain di Jepang dan Tiongkok menolak memberi layanan kepada pelanggan asing. Di Tiongkok, terjadi insiden orang asing tidak diberi kamar oleh staf hotel dan warga asing, terutama orang kulit hitam, diusir dari apartemen dengan pemberitahuan singkat oleh pemilik apartemen. Sumber-sumber untuk informasi lebih lanjut tentang wabah koronavirus antara lain: Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pemerintah AS Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (pembaruan setiap hari) Pemerintah Inggris Raya - Saran untuk Wisatawan dari Dinas Asing dan Persemakmuran Peta dan dasbor daring dari Pusat Sains dan Teknik Sistem Universitas John Hopkins dengan pembaruan langsung Daftar parsial tentang pembatasan masuk dari IATA dan The New York Times Berbagai informasi yang salah dan teori konspirasi tentang virus sedang digaungkan daring dan bahkan oleh beberapa pejabat pemerintah, jadi berhati-hatilah dengan sumber yang Anda buka untuk mendapatkan informasi. Pastikan bahwa semua informasi dan saran yang Anda terima telah didukung oleh dokter dan ilmuwan yang bereputasi baik. Dalam situasi krisis, wajar jika Anda ingin terus mengikuti pembaruan terkini, tetapi mungkin lebih baik, demi kesehatan mental Anda, untuk membatasi jumlah berita yang Anda lihat dan tetap berpatokan pada sumber-sumber berita yang dapat dipercaya. Jika Anda biasanya menonton berita dua kali sehari, tetaplah mengikuti jadwal ini dan lakukan sesuatu yang lain daripada terus menerus menonton berita 24 jam. b'Enzim pengubah angiotensin 2 (ACE2) adalah enzim yang melekat pada permukaan luar sel (membran sel) di paru, arteri, jantung, ginjal, dan usus. ACE2 memiliki aktivitas yang berlawanan dengan enzim pengonversi angiotensin (ACE), dengan mengurangi jumlah angiotensin-II dan meningkatkan Angiotensin (1-7), sehingga membuatnya menjadi target obat yang menjanjikan untuk mengobati penyakit kardiovaskular. ACE2 juga berfungsi sebagai titik masuk ke dalam sel untuk beberapa koronavirus. ACE2 versi manusia sering disebut sebagai hACE2. Enzim pengoversi angiotensin 2 adalah metaloenzim mengandung seng yang terletak di permukaan sel endotel dan sel lainnya. Protein ACE2 memiliki domain M2 peptidase terminal-N dan domain transporter asam amino renal collectrin terminal-C. ACE2 adalah protein membran pelewat tunggal tipe I, dengan domain aktif secara enzimatik terpapar pada permukaan sel di paru dan jaringan lainnya. Domain ekstrasel ACE2 dipisahkan dari domain transmembran oleh enzim lain, yang dikenal sebagai sheddase, dan protein terlarut yang dihasilkan dilepaskan ke dalam aliran darah dan akhirnya diekskresi ke dalam urin. ACE2 ada di sebagian besar organ: ACE2 melekat pada membran sel terutama sel alveolar paru tipe II, enterosit usus kecil, sel endotel arteri dan vena, dan sel otot polos arteri di sebagian besar organ. Ekspresi mRNA ACE2 juga ditemukan di korteks serebral, striatum, hipotalamus, dan batang otak. Fungsi utama ACE2 adalah sebagai penyeimbang ACE. ACE memecah hormon angiotensin I menjadi angiotensin II vasokonstriksi. Akhirnya, ACE2 memotong asam amino fenilalanin terminal karboksil dari angiotensin II (Asp-Arg-Val-Tyr-Ile-His-Pro-Phe) dan menghidrolisisnya menjadi angiotensin (1-7) vasodilator (H-Asp-Arg -Val-Tyr-Ile-His-Pro-OH). ACE2 juga dapat memecah sejumlah peptida lain mencakup [des-Arg9] -bradikinin, apelin, neurotensin, dinorfin A, dan ghrelin. ACE2 juga mengatur lalu lintas membran transporter asam amino netral SLC6A19 dan terlibat dalam penyakit Hartnup. Sebagai protein transmembran, ACE2 berfungsi sebagai titik masuk utama ke dalam sel untuk beberapa koronavirus, yang mencakup HCoV-NL63; SARS-CoV (virus yang menyebabkan SARS); dan SARS-CoV-2 (virus yang menyebabkan COVID-19). Lebih spesifik lagi, pengikatan protein S1 pada spike atau tonjolan SARS-CoV dan SARS-CoV2 dengan domain enzimatik ACE2 pada permukaan sel mengakibatkan endositosis dan translokasi virus dan enzim ke dalam endosom yang terletak di dalam sel. Proses masuk virus ini juga memerlukan priming protein S oleh serin protease inang TMPRSS2, yang penghambatannya sedang diselidiki saat ini sebagai terapi yang potensial. Fakta ini membuat orang berhipotesis bahwa penurunan kadar ACE2 dalam sel mungkin dapat membantu memerangi infeksi. Namun, banyak masyarakat profesional dan badan regulasi merekomendasikan melanjutkan terapi inhibitor ACE dan ARB standar. Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis, yang dipublikasikan pada 11 Juli 2012, menemukan bahwa "penggunaan inhibitor ACE menyebabkan penurunan signifikan 34% dalam risiko pneumonia dibandingkan dengan kontrol." Lebih lanjut, "penggunaan inhibitor ACE juga menurunkan risiko pneumonia pada pasien yang memiliki risiko lebih tinggi untuk pneumonia, terutama pasien penderita stroke dan gagal jantung. Penggunaan inhibitor ACE juga dikaitkan dengan penurunan mortalitas terkait pneumonia, meskipun hasilnya kurang kuat dibandingkan dengan risiko pneumonia keseluruhan." ACE2 manusia rekombinan (rhACE2) diharapkan menjadi terapi baru untuk cedera paru akut, dan tampaknya meningkatkan hemodinamik paru dan saturasi oksigen pada anak babi dengan sindrom gawat napas akut yang diinduksi oleh lipoplisakarida. Waktu paruh rhACE2 pada manusia sekitar 10 jam dengan awitan kerja 30 menit selain panjangnya efek (durasi) 24 jam. Beberapa temuan menunjukkan bahwa rhACE2 mungkin merupakan obat yang menjanjikan bagi pasien dengan intoleransi terhadap inhibitor sistem renin-angiotensin (inhibitor RAS) klasik atau pada penyakit dengan angiotensin II dalam sirkulasi darah meningkat. Infus rhACE2 telah dievaluasi dalam uji klinis untuk pengobatan sindrom gawat napas akut. b'Koronavirus mirip-SARS kelelawar WIV1 (Bat SL-CoV-WIV1), kadang-kadang disebut juga koronavirus mirip-SARS WIV1, adalah galur koronavirus terkait sindrom pernapasan akut berat (SARSr-CoV) yang diisolasi dari kelelawar ladam Tiongkok (Rhinolophus sinicus). Seperti semua koronavirus, virion berupa RNA sense positif untai tunggal yang dibungkus dalam amplop. Penemuan ini mengonfirmasi bahwa kelelawar adalah reservoir alami SARS-CoV. Analisis filogenetik menunjukkan kemungkinan transmisi langsung SARS dari kelelawar ke manusia tanpa musang Tiongkok sebagai perantara, seperti yang diyakini sebelumnya. b'Aplikasi COVID-19 adalah aplikasi perangkat lunak seluler yang dirancang untuk membantu pelacakan kontak untuk menanggulangi pandemi koronavirus 2019-2020, yakni proses mengidentifikasi orang ("kontak") yang mungkin telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi. Banyak aplikasi dikembangkan atau diusulkan, yang mendapat dukungan resmi pemerintah di beberapa wilayah dan yurisdiksi. Beberapa kerangka kerja untuk membangun aplikasi pelacakan kontak telah dikembangkan. Masalah privasi dipertanyakan, terutama berkaitan dengan sistem yang didasarkan pada pelacakan lokasi geografis pengguna aplikasi. Alternatif yang tidak terlalu menyusupi privasi mencakup penggunaan sinyal Bluetooth untuk mencatat kedekatan pengguna dengan ponsel lain. Pada 10 April 2020, Google dan Apple bersama-sama mengumumkan bahwa mereka akan mengintegrasikan fungsionalitas untuk mendukung aplikasi berbasis Bluetooth tersebut langsung ke dalam sistem operasi Android dan iOS. Di Tiongkok, pemerintah Tiongkok, bersama dengan Alipay, telah menyebarkan aplikasi yang memungkinkan warga untuk memeriksa jika mereka telah kontak dengan penderita COVID-19. Aplikasi ini digunakan di lebih dari 200 kota Tiongkok. Di Singapura, digunakan aplikasi bernama TraceTogether. Aplikasi ini dikembangkan oleh komunitas TI lokal, dirilis sebagai sumber terbuka dan akan diserahkan kepada pemerintah. Makedonia Utara meluncurkan "StopKorona!", sebuah aplikasi berbasis Bluetooth untuk melacak paparan terhadap orang yang berpotensi terinfeksi dan memberikan respons cepat kepada otoritas perawatan kesehatan. Aplikasi ini dikembangkan oleh Kementerian Komunikasi dan Teknologi dan Kementerian Kesehatan. Hingga 14 April 2020, aplikasi tersebut masih menunggu persetujuan Google Play Store dan Apple App Store. Pada 12 April, pemerintah menyatakan bahwa aplikasi pelacakan kontak sedang dalam tahap pengembangan lanjutan dan akan tersedia untuk disebarkan dalam beberapa minggu. Aplikasi serupa direncanakan di Irlandia dan di Prancis ("StopCovid"). Australia dan Selandia Baru sedang mempertimbangkan aplikasi yang didasarkan pada aplikasi TraceTogether Singapura dan protokol BlueTrace. Rusia bermaksud memperkenalkan aplikasi geofencing untuk pasien terdiagnosis COVID-19 yang tinggal di Moskow; aplikasi ini dirancang untuk memastikan mereka tidak meninggalkan rumah. Ross Anderson, profesor teknik keamanan di Universitas Cambridge, menyebutkan sejumlah masalah praktis yang mungkin terjadi pada sistem berbasis aplikasi, yang mencakup positif palsu dan kemungkinan kurangnya efektivitas jika data yang diambil aplikasi terbatas pada sebagian kecil populasi saja. Untuk mengatasi kekhawatiran tentang penyebaran aplikasi "koronavirus" yang menyesatkan atau berbahaya, Apple menetapkan batasan pada jenis organisasi yang dapat menambahkan aplikasi terkait koronavirus ke App Store, yakni membatasi hanya untuk organisasi "resmi" atau yang memiliki reputasi baik. Google dan Amazon menerapkan pembatasan serupa. Para pendukung privasi menyuarakan keprihatinan mereka mengenai implikasi surveilans massal menggunakan aplikasi koronavirus, khususnya mengenai apakah infrastruktur surveilans yang dibuat untuk menangani pandemi koronavirus akan dihentikan setelah ancaman berlalu. Amnesty International dan lebih dari 100 organisasi lainnya mengeluarkan pernyataan yang menyerukan batasan pada surveilans semacam ini. Organisasi ini menyatakan delapan syarat pada proyek pemerintah: surveilans harus "sesuai hukum, perlu, dan proporsional"; perluasan pemantauan dan surveilans harus memiliki klausa matahari terbenam; penggunaan data harus dibatasi untuk tujuan COVID-19; keamanan dan anonimitas data harus dilindungi dan terbukti dilindungi berdasarkan bukti; surveilans digital harus menghindari semakin parahnya diskriminasi dan marginalisasi; setiap pembagian data dengan pihak ketiga harus didefinisikan dalam undang-undang; harus ada perlindungan terhadap penyalahgunaan dan hak warga negara untuk merespons penyalahgunaan; partisipasi bermakna semua "pemangku kepentingan yang relevan" diperlukan, yang mencakup pakar kesehatan masyarakat dan kelompok termarginalisasi. Chaos Computer Club (CCC) Jerman dan Reporters Without Borders (Reporter ohne Grenzen) (RSF) juga mengeluarkan daftar periksa. Rencana Google/Apple yang diusulkan bermaksud untuk mengatasi masalah surveilans terus menerus dengan menghapus mekanisme pelacakan dari sistem operasi perangkat setelah tidak diperlukan lagi. Beberapa negara menggunakan pelacakan lokasi berbasis jaringan, dan bukan aplikasi, sehingga menghilangkan keharusan mengunduh aplikasi dan kemampuan untuk menghindari pelacakan. Di Israel, pelacakan berbasis jaringan disetujui. Solusi berbasis jaringan yang memiliki akses ke data lokasi mentah memiliki potensi masalah privasi yang signifikan. Namun, tidak semua sistem dengan server pusat perlu mengakses data lokasi pribadi; sejumlah sistem yang melindungi privasi telah dibuat dan menggunakan server pusat hanya untuk antarkomunikasi (lihat bagian di bawah). Di Korea Selatan, sistem yang tidak berbasis aplikasi digunakan untuk melakukan pelacakan kontak. Sebagai ganti menggunakan aplikasi khusus, sistem mengumpulkan informasi pelacakan dari berbagai sumber, mencakup data pelacakan perangkat seluler dan data transaksi kartu, dan menggabungkan informasi ini untuk menghasilkan pemberitahuan melalui pesan teks kepada orang yang berpotensi terinfeksi. Selain menggunakan informasi ini untuk memperingatkan kontak potensial, pemerintah juga membuat informasi lokasi tersebut tersedia untuk umum, hal yang diizinkan dengan adanya perubahan luas pada undang-undang privasi informasi setelah merebaknya MERS di negara itu. Informasi ini tersedia untuk umum melalui sejumlah aplikasi dan situs web. Negara-negara seperti Jerman mempertimbangkan untuk menggunakan sistem terpusat sekaligus sistem yang melindungi privasi. Hingga 6 April 2020, detailnya belum dirilis. Pelacakan kontak yang melindungi privasi adalah konsep yang sudah mapan, dengan sejumlah besar literatur penelitian mulai dari setidaknya tahun 2013.Pada 7 April 2020, lebih dari selusin kelompok pakar mengerjakan solusi ramah privasi, seperti menggunakan Bluetooth Low Energy (BLE), untuk mencatat kedekatan pengguna dengan ponsel lain. Namun, PEPP-PT adalah upaya koordinasi yang berisi pendekatan tersentralisasi dan terdesentralisasi, dan bukan protokol tunggal. Protokol terdesentralisasi mencakup Pelacakan Kedekatan yang Melindungi Privasi Terdesentralisasi (DP-PPT/DP-3T), Nomor Kontak Sementara (TCN, sebelumnya disebut Nomor Kejadian Kontak, CEN), Protokol dan Mekanisme Sensitif Privasi untuk Pelacakan Kontak Seluler (PACT), dan lain-lain. Dalam protokol ini, data pribadi yang dapat teridentifikasi tidak pernah meninggalkan perangkat, dan semua pencocokan terjadi di perangkat. Grup Privasi di MIT Media Lab mengembangkan SafePaths, platform untuk menggunakan teknik yang melindungi privasi saat mengumpulkan dan menggunakan lokasi atau data interseksi alur untuk melacak penyebaran COVID-19. Ini didasarkan pada penelitian dari lembar putih "Apps Gone Rogue: Maintaining Personal Privacy in an Epidemic" yang dirilis pada Maret 2020.Upaya lain yang serupa adalah platform SafeTrace oleh Enigma MPC, perusahaan yang mengembangkan teknologi privasi dan awalnya juga didirikan di MIT Media Lab. SafeTrace menggunakan teknologi perangkat keras yang aman untuk memungkinkan pengguna berbagi lokasi dan data kesehatan sensitif dengan pengguna lain dan petugas tanpa mengorbankan privasi data tersebut. Pada 5 April 2020, Koalisi TCN global didirikan oleh kelompok-kelompok yang memiliki pendekatan yang pada dasarnya sama dan merupakan protokol yang banyak tumpang tindih, dengan tujuan untuk mengurangi fragmentasi dan memungkinkan interoperabilitas global untuk aplikasi pelacakan dan peringatan, yang merupakan aspek utama untuk mencapai penerimaan yang luas. Pada 9 April 2020, pemerintah Singapura mengumumkan bahwa mereka telah membuat protokol BlueTrace yang digunakan oleh aplikasi resmi pemerintahnya menjadi sumber terbuka. Pada 10 April 2020, Google dan Apple, perusahaan yang mengendalikan platform seluler Android dan iOS, mengumumkan inisiatif untuk pelacakan kontak, yang mereka klaim akan melindungi privasi, berdasarkan kombinasi teknologi Bluetooth Low Energy dan kriptografi yang melindungi privasi. Mereka juga memublikasikan spesifikasi teknologi inti yang digunakan dalam sistem tersebut. Menurut Apple dan Google, sistem ini dimaksudkan untuk diluncurkan dalam tiga tahap: peluncuran alat untuk memungkinkan pemerintah membuat aplikasi resmi pelacakan koronavirus yang melindungi privasi integrasi fungsi ini secara langsung ke iOS dan Android Google dan Apple berencana untuk mengatasi masalah pengambilan data dan surveilans terus menerus dengan awalnya mendistribusikan sistem melalui pembaruan sistem operasi, lalu menghapusnya dengan cara yang sama setelah ancaman berlalu. b'Pengembangan obat COVID-19 adalah proses penelitian untuk mengembangkan vaksin pencegahan atau obat resep terapeutik yang akan meringankan keparahan penyakit koronavirus 2019-2020 (COVID-19). Platform Pendaftaran Uji Klinis Internasional WHO mencatat 536 studi klinis untuk mengembangkan terapi pascainfeksi untuk infeksi COVID-19, dengan banyak senyawa antivirus yang sudah mapan untuk mengobati infeksi lain disertakan dalam penelitian klinis untuk tujuan baru. Pada bulan Maret, WHO memprakarsai "SOLIDARITY Trial" di 10 negara, yang mendaftarkan ribuan orang yang terinfeksi COVID-19 untuk mengkaji efek pengobatan empat senyawa antivirus yang sudah ada dengan kemanjuran paling menjanjikan. Sebuah tinjauan dinamis dan sistematis dibuat pada April 2020 untuk melacak perkembangan uji klinis terdaftar untuk kandidat vaksin dan obat terapeutik COVID-19. Pengembangan vaksin dan obat merupakan proses multilangkah, yang biasanya membutuhkan waktu lebih dari lima tahun untuk memastikan keamanan dan kemanjuran senyawa baru tersebut. Pengembangan obat adalah proses untuk membawa vaksin atau obat terapeutik penyakit infeksi baru ke pasar setelah senyawa utama diidentifikasi melalui proses penemuan obat. Proses ini mencakup penelitian laboratorium pada mikroorganisme dan hewan, mengajukan status regulasi, misalnya melalui FDA, untuk obat baru yang sedang diteliti untuk memulai uji klinis pada manusia, dan dapat mencakup langkah mendapatkan persetujuan regulasi dengan permohonan obat baru untuk memasarkan obat. Pengembangan vaksin atau obat antivirus terapeutik COVID-19 dimulai dengan mencocokkan konsep kimia dengan potensi mekanisme profilaksis vaksin yang akan dibuat atau aktivitas antivirus in vivo. Entitas kimia baru (NCE, disebut juga entitas molekul baru atau NME) adalah senyawa yang muncul dari proses penemuan obat untuk menentukan kandidat vaksin atau obat antivirus. Entitas ini memiliki aktivitas menjanjikan terhadap target biologis yang terkait dengan penyakit COVID-19. Di awal pengembangan vaksin atau obat, sedikit yang diketahui tentang keamanan, toksisitas, farmakokinetik, dan metabolisme NCE pada manusia. Pengembangan obat memiliki fungsi dan kewajiban untuk mengkaji semua parameter ini sebelum uji klinis manusia untuk membuktikan keamanan dan kemanjuran. Tujuan utama pengembangan obat lebih lanjut adalah untuk merekomendasikan dosis dan jadwal penggunaan pertama dalam uji klinis manusia ("pertama pada manusia" [FIH] atau Dosis Manusia Pertama [FHD], yang sebelumnya disebut juga "pertama pada orang"[FIM]). Selain itu, pengembangan obat harus menetapkan sifat-sifat fisikokimia NCE: susunan kimia, stabilitas, dan kelarutannya. Produsen harus mengoptimalkan proses yang digunakan untuk membuat bahan kimia sehingga mereka dapat meningkatkan skala pembuatan, dari awalnya ahli kimia yang memproduksi beberapa miligram ke produsen yang memproduksi skala kilogram dan ton. Selanjutnya, mereka memeriksa kesesuaian produk untuk dikemas sebagai kapsul, tablet, aerosol, injeksi intramuskular, injeksi subkutan, atau formulasi intravena. Secara bersama-sama, proses-proses ini dikenal dalam pengembangan praklinis dan klinis sebagai kimia, manufaktur, dan kontrol (CMC).Banyak aspek pengembangan obat berfokus pada pemenuhan persyaratan regulasi otoritas perizinan obat. Proses ini umumnya berupa pengujian yang dirancang untuk mengetahui toksisitas utama senyawa baru sebelum penggunaan pertama pada manusia. Pemerintah Kanada mengumumkan CA$275 juta untuk mendanai 96 proyek penelitian tentang penanggulangan medis terhadap COVID-19, yang mencakup sejumlah kandidat vaksin, di universitas-universitas Kanada, dengan rencana untuk mendirikan "bank vaksin" untuk vaksin baru guna diterapkan jika wabah koronavirus lain terjadi. Program uji klinis melibatkan tiga tahap, yang masing-masing berlangsung beberapa tahun, untuk mendapatkan persetujuan produk, dan tahap keempat adalah tahap pascapersetujuan untuk pemantauan keamanan vaksin atau terapi obat yang sedang berlangsung: Uji coba Fase I, biasanya pada sukarelawan sehat, untuk mengetahui keamanan dan dosis. Uji coba Fase II digunakan untuk mendapatkan nilai awal kemanjuran dan untuk menelusuri lebih lanjut keamanan kandidat di sejumlah kecil orang yang memiliki penyakit yang ditargetkan oleh NCE. Uji coba Fase III adalah uji coba besar dan penting untuk mengetahui keamanan dan kemanjuran pada cukup banyak orang yang menderita infeksi COVID-19. Jika keamanan dan kemanjuran terbukti memadai, pengujian klinis dapat dihentikan pada langkah ini dan NCE maju ke tahap permohonan obat baru (NDA) untuk mulai dipasarkan. Uji coba Fase IV adalah uji coba pascapersetujuan yang mungkin merupakan persyaratan yang ditambahkan oleh FDA, disebut juga studi surveilans pascapasar. Selain pengujian yang diperlukan untuk memindahkan vaksin atau obat antivirus baru ke pemakaian klinik untuk pertama kalinya, produsen harus memastikan bahwa setiap toksisitas jangka panjang atau kronis didefinisikan dengan baik, yang mencakup efek pada sistem yang sebelumnya tidak dipantau (di antaranya kesuburan, reproduksi, sistem kekebalan tubuh). Di Amerika Serikat, proses ini disebut "permohonan obat baru" atau NDA. Desain uji klinis yang sedang berjalan dapat dimodifikasi sebagai "desain adaptif" jika pengumpulan data dalam uji coba memberikan gambaran awal tentang kemanjuran positif atau negatif pengobatan. Uji coba Solidaritas dan Penemuan Eropa global pada orang yang dirawat inap akibat infeksi COVID-19 berat menerapkan desain adaptif untuk dengan cepat mengubah parameter uji coba saat hasil dari empat strategi terapeutik eksperimental muncul. Desain adaptif dalam uji klinis Fase II-III yang sedang berlangsung pada kandidat terapi dapat memperpendek durasi uji coba dan menggunakan lebih sedikit subjek, mempercepat keputusan untuk penghentian dini atau keberhasilan, dan mengoordinasikan perubahan desain untuk uji coba spesifik di lokasi internasional. Sebagian besar kandidat obat baru (NCE) gagal selama pengembangan obat, baik karena memiliki toksisitas yang tidak dapat diterima maupun karena tidak membuktikan kemanjuran pada penyakit yang ditargetkan, seperti yang ditunjukkan dalam uji klinis Fase II-III. Tingkat kegagalan yang tinggi terkait pengembangan farmasi disebut sebagai "tingkat atritasi", yang mengharuskan keputusan diambil di tahap awal pengembangan obat untuk "membunuh" proyek lebih awal demi menghindari kegagalan yang mahal. Sebuah studi di tahun 2010 mengkaji biaya modal dan biaya talangan untuk membawa obat baru ke pasar masing-masing sekitar US$1,8 miliar dan $870 juta. Median perkiraan biaya uji coba tahun 2015-2016 untuk pengembangan 10 obat antikanker adalah $648 juta. Dalam sebuah tinjauan tahun 2016 tentang 106 kandidat obat yang dikaji melalui uji klinis, total pengeluaran modal untuk produsen agar obatnya disetujui melalui uji coba Fase III yang berhasil sebesar $2,6 miliar (dalam dolar tahun 2013), jumlah yang meningkat pada tingkat tahunan sebesar 8,5%. Tujuh uji coba mengevaluasi obat yang telah disetujui untuk mengobati malaria, tetapi dengan tujuan baru, yang mencakup empat studi tentang hidroksiklorokuin atau klorokuin fosfat. Obat antivirus yang diberi tujuan baru membentuk sebagian besar penelitian Tiongkok, dengan 9 uji coba Fase III pada remdesivir di beberapa negara dengan tenggat waktu pelaporan pada akhir April. Dipimpin oleh Bill and Melinda Gates Foundation dan mitra yang menginvestasikan US$125 juta dan berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia, COVID-19 Therapeutics Accelerator mulai berjalan pada bulan Maret, yang memfasilitasi para peneliti pengembangan obat untuk secara cepat mengidentifikasi, menilai, mengembangkan, dan meningkatkan skala pengobatan potensial. COVID-19 Clinical Research Coalition dibentuk untuk mengoordinasikan dan mempercepat hasil dari uji klinis internasional tentang perawatan pascainfeksi paling menjanjikan. Pada awal 2020, banyak senyawa antivirus, yang sudah mapan untuk mengobati infeksi lain, diberi tujuan baru atau dikembangkan dalam upaya penelitian klinis baru untuk meringankan penyakit COVID-19. Untuk obat yang sudah disetujui (seperti hidroksiklorokuin untuk malaria), uji coba Fase III-IV pada ratusan hingga ribuan orang yang terinfeksi COVID-19 menentukan kemungkinan penggunaan baru untuk obat yang sudah disetujui guna mengobati infeksi COVID-19. Per awal April 2020, 103 kandidat terapeutik berada dalam praklinis atau tahap pengembangan Fase I-IV, dengan hasil uji coba untuk 29 kandidat obat diharapkan pada bulan April. Pada bulan Maret, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan "uji solidaritas" terkoordinasi di 10 negara untuk mengkaji dengan cepat, pada ribuan orang yang terinfeksi COVID-19, potensi kemanjuran agen antivirus dan antiinflamasi yang sudah ada, tetapi belum dievaluasi secara spesifik untuk penyakit COVID-19. Adakah obat-obatan tersebut yang menurunkan mortalitas? Adakah obat-obatan tersebut yang menurunkan waktu rawat inap pasien? Apakah pengobatan memengaruhi kebutuhan penderita pneumonia akibat COVID-19 untuk diventilasi atau tetap berada dalam perawatan intensif? Dapatkah obat-obatan tersebut digunakan untuk meminimalkan penyakit infeksi COVID-19 pada staf perawatan kesehatan dan orang yang berisiko tinggi untuk mengalami sakit parah?Pendaftaran penderita infeksi COVID-19 disederhanakan dengan menggunakan entri data, yang mencakup perstujuan setelah penjelasan, di situs web WHO. Setelah staf uji coba mengetahui obat yang tersedia di rumah sakit, situs web WHO mengacak subjek yang dirawat inap untuk salah satu obat uji coba atau untuk standar perawatan rumah sakit untuk mengobati COVID-19. Dokter uji coba mencatat dan mengirimkan informasi tindak lanjut tentang status dan perawatan subjek serta melengkapi input data melalui situs web Solidaritas WHO. Dewan pemantauan keamanan global yang berisi dokter-dokter WHO memeriksa hasil sementara untuk membantu pengambilan keputusan tentang keamanan dan efektivitas obat uji coba dan mengubah desain uji coba atau merekomendasikan terapi yang efektif. Penelitian berbasis web yang mirip dengan Solidaritas, yang disebut "Discovery", dimulai pada bulan Maret di tujuh negara oleh INSERM (Paris, Prancis).Selama bulan Maret, pendanaan untuk uji coba Solidaritas mencapai US$108 juta dari 203.000 individu, organisasi, dan pemerintah, dengan 45 negara terlibat dalam pembiayaan atau manajemen uji coba. Banyak kandidat obat yang sedang diteliti sebagai perawatan "pendukung" untuk menghilangkan ketidaknyamanan selama sakit, seperti OAINS atau bronkodilator, tidak disertakan dalam tabel di bawah ini. Obat-obat lain dalam tahap uji coba Fase II, atau banyak kandidat pengobatan dalam uji coba Fase I, juga tidak disertakan. Kandidat obat dalam uji coba Fase I-II memiliki tingkat keberhasilan yang rendah (di bawah 12%) untuk melewati semua fase uji coba untuk akhirnya mendapatkan persetujuan. Di Amerika Serikat, hidroksiklorokuin lebih banyak tersedia dibandingkan klorokuin. Meskipun beberapa negara menggunakan klorokuin atau hidroksiklorokuin untuk pengobatan pasien COVID-19 yang dirawat inap, hingga Maret 2020, obat ini belum disetujui secara resmi melalui uji klinis di Amerika Serikat. Klorokuin direkomendasikan oleh otoritas kesehatan Tiongkok, Korea Selatan, dan Italia untuk pengobatan COVID-19, walaupun lembaga-lembaga ini dan CDC AS mengamati kontraindikasi pada penderita penyakit jantung dan diabetes. Dua obat tersebut memiliki interaksi yang luas dengan obat resep, yang memengaruhi dosis terapeutik dan mitigasi penyakit. Beberapa orang mengalami reaksi terhadap obat ini. Pada 12 April, uji klinis pendahuluan yang dilakukan di sebuah rumah sakit di Brasil dihentikan saat beberapa orang yang diberi klorokuin dosis tinggi untuk infeksi COVID-19 mengalami denyut jantung yang tidak beraturan sehingga menyebabkan 11 kematian. Uji klinis Tiongkok di Wuhan dan Shenzhen mengklaim bahwa favipiravir terbukti "jelas efektif". Tiga puluh lima pasien di Shenzhen teruji negatif dalam median 4 hari, sedangkan durasi penyakit adalah 11 hari pada 45 pasien yang tidak menerima obat tersebut. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Wuhan pada 240 pasien dengan pneumonia, setengah dari jumlah pasien diberi favipiravir dan setengahnya lagi menerima umifenovir. Istilah "penelitian praklinis" didefinisikan oleh studi laboratorium in vitro dan in vivo, yang menunjukkan tahap awal untuk pengembangan vaksin, terapi antivirus atau antibodi monoklonal, seperti percobaan untuk menentukan dosis efektif dan toksisitas, sebelum senyawa kandidat dimajukan untuk evaluasi keamanan dan kemanjuran pada manusia. Beberapa antibiotik mungkin dapat diberi tujuan baru sebagai pengobatan COVID-19: Pada Maret 2020, protease utama virus SARS-CoV-2 diidentifikasi sebagai target untuk obat pascainfeksi. Enzim ini sangat penting bagi sel inang untuk mereproduksi asam ribonukleat virus. Untuk menemukan enzim, ilmuwan menggunakan genom yang dipublikasikan peneliti Tiongkok pada Januari 2020 untuk mengisolasi protease utama. Sebagai terapi kombinasi potensial, obat-obat ini digunakan bersama dalam dua kelompok Fase III pada proyek Solidaritas global 2020 tentang COVID-19. Sebuah studi pendahuluan di Tiongkok tentang kombinasi lopinavir dan ritonavir menemukan bahwa kombinasi tidak memiliki efek untuk pasien COVID-19 yang dirawat inap. b'Reposisi obat (disebut juga pemberian tujuan baru, profil baru, atau tugas baru pada obat atau peralihan terapi) adalah penggunaan obat yang telah disetujui untuk tujuan pengobatan baru, yakni untuk penyakit atau kondisi medis yang berbeda dengan tujuan awal pengembangan obat. Jalur ini merupakan jalur penelitian ilmiah yang saat ini sedang dilakukan untuk mengembangkan pengobatan COVID-19 yang aman dan efektif. Arah penelitian lain mencakup pengembangan vaksin COVID-19 dan transfusi plasma konvalesen. SARS-CoV-2 memiliki sekitar 66 protein yang dapat menjadi target obat, masing-masing protein memiliki beberapa situs pengikatan ligan. Analisis terhadap situs-situs pengikatan ligan tersebut dapat menjadi dasar proyek pengembangan obat antivirus yang efektif terhadap protein COVID-19. Beberapa protein target SARS-CoV-2 yang paling penting adalah protease mirip papain, RNA polimerase tergantung-RNA, helikase, protein S, dan ADP ribofosfatase. Hussein A A, et al meneliti beberapa senyawa kandidat yang kemudian dioptimalkan dan dianalisis kemiripan kerangkanya dengan obat yang telah disetujui dan memiliki kemipiripan tertinggi guna mempercepat pengembangan obat anti-SARS-CoV-2 poten dalam studi praklinisnya untuk direkomendasikan dalam desain studi klinis. Klorokuin adalah obat antimalaria yang juga digunakan melawan beberapa penyakit autoimun. Pada 18 Maret, WHO mengumumkan bahwa klorokuin dan hidroklorokuin yang terkait adalah dua di antara empat obat yang akan diteliti sebagai bagian dari uji klinis Solidaritas. Gubernur New York, Andrew Cuomo, mengumumkan bahwa uji coba klorokuin dan hidroklorokuin di New York akan dimulai pada 24 Maret. Pada 28 Maret, FDA mengotorisasi penggunaan hidroksiklorokuin sulfat dan klorokuin fosfat berdasarkan Otorisasi Penggunaan Darurat (EUA). Pengobatan ini belum disetujui oleh proses uji klinis FDA dan diotorisasi berdasarkan EUA hanya sebagai pengobatan eksperimental untuk penggunaan darurat pada pasien yang dirawat inap, tetapi tidak dapat menerima pengobatan dalam uji klinis. CDC mengatakan bahwa "penggunaan, dosis, atau durasi hidroksiklorokuin untuk profilaksis atau pengobatan infeksi SARS-CoV-2" belum ditetapkan. Dokter mengatakan mereka menggunakan obat itu ketika "tidak ada pilihan lain". Sebuah tim peneliti Turki di Istanbul sedang melakukan studi kecil tentang penggunaan klorokuin yang dikombinasikan dengan seng, vitamin A, vitamin C, dan vitamin D. Studi besar sedang berlangsung di Duke University dan University of Oxford. NYU Langone Medical School sedang melakukan uji coba keamanan dan kemanjuran penggunaan preventif hidroksiklorokuin. Uji klinis Tiongkok di Wuhan dan Shenzhen mengklaim bahwa favipiravir terbukti "jelas efektif". Tiga puluh lima pasien di Shenzhen teruji negatif dalam median 4 hari, sedangkan durasi penyakit adalah 11 hari pada 45 pasien yang tidak menerima obat tersebut. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Wuhan pada 240 pasien dengan pneumonia, setengah dari jumlah pasien diberi favipiravir dan setengahnya lagi menerima umifenovir. Badan Farmasi Italia mengingatkan publik bahwa bukti yang ada untuk mendukung obat tersebut tidak banyak dan terlalu dini. Pada tanggal 2 April, Jerman mengumumkan akan membeli obat tersebut dari Jepang untuk persediaan dan menggunakan militer untuk mengirimkan obat ke rumah sakit universitas, tempat obat akan digunakan untuk mengobati pasien COVID-19. Menurut South China Morning Post, Shinzo Abe telah membuat penawaran kepada pemerintahan Trump tentang pembelian obat tersebut. Obat ini mungkin kurang efektif dalam kasus penyakit berat dengan virus yang telah bermultiplikasi. Obat ini mungkin tidak aman jika digunakan oleh ibu hamil atau orang yang mencoba untuk mengandung. Sebuah studi tentang lopinavir/ritonavir (Kaletra), yaitu kombinasi antivirus lopinavir dan ritonavir, menyimpulkan bahwa “tidak ada manfaat yang teramati”. Obat ini dirancang untuk menghambat replikasi HIV dengan mengikat protease. Sebuah tim peneliti di University of Colorado sedang mencoba memodifikasi obat untuk menemukan senyawa yang akan berikatan dengan protease SARS-CoV-2.Ada kritik dalam masyarakat ilmiah mengenai pengarahan sumber daya untuk mereposisi obat yang dikembangkan khusus untuk HIV/AIDS. WHO memasukkan lopinavir/ritonavir dalam uji coba Solidaritas internasional. Remdesivir dibuat dan dikembangkan oleh Gilead Sciences sebagai pengobatan untuk penyakit virus Ebola dan infeksi virus Marburg. Kemudian, Gilead Sciences menemukan bahwa Remdesivir memiliki aktivitas antivirus secara in vitro terhadap beberapa filo-, pneumo-, paramikso-, dan koronavirus. Salah satu masalah dengan pengobatan antivirus adalah terjadinya resistensi melalui mutasi yang dapat menyebabkan penyakit dan transmisi yang lebih parah. Beberapa studi prauji-coba awal menunjukkan remdesivir mungkin memiliki hambatan genetik yang tinggi terhadap resistensi. Ada beberapa uji klinis yang sedang berlangsung, mencakup dua uji klinis yang dilakukan oleh Rumah Sakit Universitas Cleveland, yakni satu untuk orang dengan penyakit sedang dan satu lagi untuk orang yang sakit parah. Ada tiga uji klinis sedang berlangsung untuk vitamin C intravena untuk orang yang dirawat inap dan sakit COVID-19 parah, yakni dua plasebo terkontrol (Tiongkok, Kanada) dan satu tanpa kontrol (Italia). Negara Bagian New York memulai uji coba untuk antibiotik azitromisin pada 24 Maret 2020. Pusat Nasional Kesehatan dan Kedokteran Global (NCGM) Jepang sedang merencanakan uji coba klinis untuk Alvesco (ciclesonide) Teijin, kortikosteroid inhalasi untuk asma, untuk perawatan pasien infeksi koronavirus baru yang prasimtomatik. Untuk suatu bentuk enzim pengonversi angiotensin 2, uji coba Fase II sedang berlangsung dengan 200 pasien akan direkrut dari kasus parah yang dirawat inap di Denmark, Jerman, dan Austria untuk mengetahui efektivitas pengobatan. Peneliti dari Montreal Heart Institute di Kanada saat ini sedang meneliti peran kolkisin dalam mengurangi inflamasi dan komplikasi paru pada pasien yang menderita gejala COVID-19 ringan. Studi tersebut, yang diberi nama COLCORONA, merekrut 6000 orang dewasa berusia 40 tahun dan lebih tua yang didiagnosis menderita COVID-19 dan mengalami gejala ringan sehingga tidak memerlukan rawat inap. Wanita yang sedang hamil atau menyusui atau tidak menggunakan metode kontrasepsi yang efektif tidak memenuhi syarat. Beberapa antikoagulan sedang diuji di Italia. Heparin berbobot molekul rendah banyak digunakan untuk mengobati pasien sehingga mendorong Badan Obat Italia untuk menerbitkan pedoman tentang penggunaannya. Sebuah penelitian multipusat pada 300 pasien yang meneliti penggunaan natrium enoksaparin pada dosis profilaksis dan terapeutik diumumkan di Italia pada 14 April. Karena SARS-CoV-2 adalah virus, banyak perhatian ilmiah difokuskan untuk memberi tujuan pengobatan baru pada obat antivirus yang disetujui dan dikembangkan untuk wabah sebelumnya, seperti MERS, SARS, dan virus West Nile. Ribavirin: ribavirin direkomendasikan untuk pengobatan COVID-19 menurut pedoman Tiongkok edisi ke-7 Umifenovir: umifenovir direkomendasikan untuk pengobatan COVID-19 menurut pedoman Tiongkok edisi ke-7 Beberapa antibiotik yang diidentifikasi berpotensi sebagai obat yang dapat diberi tujuan baru untuk pengobatan COVID-19: Tocilizumab (Anti-reseptor IL-6): Disetujui oleh Tiongkok. Selain itu, uji coba juga dilakukan di Italia dan Tiongkok, lihat juga Tocilizumab#COVID-19. Masih belum jelas jika kondisi yang timbul selama kehamilan, yang mencakup diabetes, gagal jantung, hiperkoagulabilitas, atau hipertensi, dapat menimbulkan faktor risiko tambahan untuk orang hamil seperti untuk orang tidak hamil. Berdasarkan data yang terbatas, transmisi vertikal selama trimester ketiga kemungkinan tidak terjadi atau sangat jarang terjadi. Belum ada data tentang kehamilan tahap awal. Terlalu sedikit bukti yang tersedia untuk dapat membuat kesimpulan kuat tentang sifat infeksi COVID-19 pada kehamilan. Serangkaian kasus pada 43 wanita dari New York yang teruji positif COVID-19 menunjukkan pola yang sama dengan orang dewasa yang tidak hamil: 86% mengalami penyakit ringan, 9,3% mengalami penyakit parah, dan 4,7% berkembang menjadi penyakit kritis. Gawat janin dilaporkan pada dua kasus. Tidak satu pun dari wanita tersebut mengalami pneumonia COVID-19 parah atau meninggal. Semua wanita tersebut melahirkan bayi hidup dan tidak ada asfiksia neonatal parah teramati. Sampel ASI, cairan ketuban, darah tali pusar, dan usap tenggorokan neonatus diuji untuk memeriksa SARS-CoV-2, dan semua hasilnya negatif. Dalam penelitian lain pada 15 wanita hamil, sebagian besar pasien mengalami demam dan batuk, sementara uji laboratorium menghasilkan limfositopenia pada 12 pasien. Temuan tomografi terkomputasi pada pasien ini konsisten dengan laporan sebelumnya pada pasien yang tidak hamil, berupa opasitas ground-glass pada tahap awal. Citra yang diambil setelah melahirkan, sebagai tindak lanjut, tidak menunjukkan perkembangan pneumonia. Laporan media menunjukkan bahwa mungkin ada lebih dari 100 wanita penderita COVID-19 yang telah melahirkan, dan pada Maret 2020, tidak ada kematian ibu dilaporkan. Oleh karena itu, pedoman mereka menyarankan agar setiap orang hamil yang dirawat inap dengan infeksi COVID-19 harus mendapat, setidaknya selama 10 hari, heparin berbobot molekul rendah setelah dipulangkan dari rumah sakit. Belum ada data mengenai implikasi infeksi COVID-19 untuk persalinan. Satu bayi perempuan yang lahir dari ibu penderita COVID-19 mengalami peningkatan kadar IgM dua jam setelah kelahiran, yang menunjukkan bahwa ia telah terinfeksi dalam rahim dan mendukung kemungkinan penularan vertikal dalam beberapa kasus. Sebuah penelitian kecil yang melibatkan 6 ibu terkonfirmasi COVID-19 menunjukkan tidak ada indikasi SARS-COV-19 di tenggorokan atau serum neonatus, tetapi antibodi ada dalam sampel serum darah neonatus, termasuk IgM pada dua bayi. Ini tidak lazim diteruskan dari ibu kepada janin maka penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah virus melintasi plasenta atau apakah plasenta wanita dalam studi ini rusak atau abnormal. Karena COVID-19 menunjukkan kemiripan dengan SARS-CoV dan MERS-CoV, kemungkinan pengaruhnya terhadap kehamilan serupa. Empat dari tujuh wanita mengalami keguguran di trimester pertama, dua dari lima mengalami hambatan pertumbuhan janin pada trimester kedua, dan empat dari lima mengalami kelahiran prematur. Tidak ada bayi baru lahir yang terinfeksi SARS-CoV. Sebuah laporan tentang sepuluh kasus infeksi MERS-CoV pada kehamilan di Arab Saudi menunjukkan bahwa gambaran klinis bervariasi, mulai dari infeksi ringan hingga berat. Hasil akhirnya bagus di sebagian besar kasus, tetapi angka kematian bayi sebesar 27%.Sebuah tinjauan terbaru menunjukkan bahwa COVID-19 tampaknya tidak semematikan SARS dan MERS bagi ibu dan bayi, tetapi mungkin ada peningkatan risiko kelahiran prematur setelah kehamilan 28 minggu. Organisasi Kesehatan Dunia dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menyarankan wanita hamil untuk melakukan hal yang sama seperti masyarakat umum untuk menghindari infeksi, seperti menutup ketika batuk, menghindari berinteraksi dengan orang sakit, membersihkan tangan dengan sabun dan air atau penyanitasi. Sebuah survei yang dilakukan di Shanghai di antara wanita hamil pada berbagai trimester kehamilan mengidentifikasi tingginya permintaan akses daring ke informasi dan layanan kesehatan. Orang yang menantikan bayi pertamanya lebih bersedia untuk melakukan konsultasi dan bimbingan daring dibandingkan yang sudah pernah melahirkan sebelumnya. RCOG dan RCM merekomendasikan agar janji temu tatap muka ditunda 7 hari setelah awitan gejala COVID-19 atau 14 hari jika ada orang lain dalam satu rumah yang memiliki gejala. Demam kemudian muncul pada tiga pasien tanpa gejala. Satu pasien yang sebelumnya teruji negatif, kemudian menjadi simptomatik pascapartum dan teruji positif tiga hari setelah uji pertama yang negatif. Dokter yang melakukan skrining merekomendasikan, dalam rangka mengurangi infeksi dan mengalokasikan APD, karena tingginya pasien tanpa gejala, skrining universal pada pasien hamil harus dilakukan. Mereka juga menyarankan agar pemantauan janin secara elektronik harus dilakukan secara kontinu pada orang terduga atau terkonfirmasi COVID-19. Penggunaan kolam persalinan tidak dianjurkan untuk kasus terduga atau terkonfirmasi COVID-19 karena risiko infeksi melalui feses. Di Inggris Raya, rekomendasi resmi menyatakan bahwa pemisahan ibu dan bayi yang sehat sebagai tindak pencegahan jangan terlalu mudah diputuskan dan keduanya harus dibiarkan bersama-sama pada masa pascapartum jika perawatan neonatus tidak diperlukan. Literatur dari Tiongkok merekomendasikan pemisahan ibu yang terinfeksi dari bayi selama 14 hari. Di AS, juga ada rekomendasi agar bayi yang baru lahir dan ibu dipisahkan sementara sampai tindakan pencegahan untuk menghindari transmisi dihentikan, dan jika hal ini tidak memungkinkan, bayi yang baru lahir harus dipisahkan sejauh 2 meter dari ibu. b'Surveilans COVID-19 melibatkan pemantauan penyebaran penyakit koronavirus guna menetapkan pola perkembangan penyakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan surveilans aktif, dengan fokus penemuan kasus, pengujian, dan pelacakan kontak di semua skenario penularan. Surveilans COVID-19 diharapkan memantau tren epidemiologis, mendeteksi kasus-kasus baru dengan cepat, dan berdasarkan informasi ini, menyediakan informasi epidemiologis untuk melakukan penilaian risiko dan memandu kesiapsiagaan terhadap penyakit. Surveilans sindromik dilakukan berdasarkan gejala individu yang sesuai dengan COVID-19. Pada Maret 2020, WHO merekomendasikan definisi kasus berikut: Kasus yang mungkin: "Kasus terduga yang dilakukan pengujian virus COVID-19 dan hasilnya tidak konklusif" ATAU "kasus terduga yang tidak dilakukan pengujian karena suatu alasan". Kasus terkonfirmasi: "Seseorang yang mendapat konfirmasi laboratorium untuk infeksi COVID-19, terlepas dari tanda dan gejala klinis". Kontak fisik langsung dengan kasus yang mungkin atau terkonfirmasi; Perawatan langsung untuk pasien dengan kasus yang mungkin atau terkonfirmasi COVID-19 tanpa menggunakan alat pelindung diri yang tepat; Situasi lain seperti yang ditunjukkan oleh penilaian risiko lokal".WHO merekomendasikan pelaporan kasus yang mungkin atau terkonfirmasi COVID-19 dalam waktu 48 jam setelah identifikasi. Sebisa mungkin, negara-negara harus melaporkan kasus per kasus, tetapi jika mengalami keterbatasan sumber daya, pelaporan mingguan dalam bentuk kumpulan juga dapat dilakukan. Beberapa organisasi membuat aplikasi urun daya untuk surveilans sindromik, dengan orang dapat melaporkan gejala mereka untuk membantu peneliti memetakan area dengan konsentrasi gejala COVID-19. Surveilans virologis dilakukan dengan menggunakan uji molekuler untuk COVID-19. WHO telah memublikasikan sumber daya untuk laboratorium tentang cara melakukan pengujian COVID-19. Di Uni Eropa, kasus COVID-19 terkonfirmasi laboratorium dilaporkan dalam 24 jam setelah identifikasi. Setidaknya 24 negara telah membentuk surveilans digital terhadap warganya. Teknologi surveilans digital mencakup aplikasi, data lokasi, dan tag elektronik. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS melacak informasi perjalanan seseorang menggunakan data penumpang maskapai. Di Hong Kong, otoritas mengharuskan gelang dan aplikasi untuk semua orang yang melakukan perjalanan. Di Korea Selatan, aplikasi GPS digunakan untuk melacak lokasi seseorang guna memastikan tidak ada pelanggaran karantina, dengan mengirimkan peringatan kepada pengguna dan otoritas jika orang meninggalkan area yang ditentukan. Di Singapura, orang harus melaporkan lokasi mereka dengan bukti foto. Thailand menggunakan aplikasi dan kartu SIM untuk semua orang yang melakukan perjalanan guna memastikan karantina mereka dipatuhi. Organisasi hak asasi manusia mengkritik beberapa langkah ini dan meminta pemerintah untuk tidak menggunakan pandemi sebagai tameng untuk memberlakukan surveilans digital invasif. b'Vaksin COVID-19 adalah vaksin hipotetis terhadap penyakit koronavirus 2019 (COVID-19). Meskipun belum ada vaksin yang menyelesaikan uji klinis, ada banyak upaya sedang dilakukan untuk mengembangkan vaksin tersebut. Pada akhir Februari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa, menurut WHO, vaksin terhadap SARS-CoV-2, virus kausatif penyakit ini, tidak akan tersedia dalam waktu kurang dari 18 bulan. Lima kandidat vaksin sedang dalam studi keamanan Fase I pada bulan April. COVID-19 diidentifikasi pada Desember 2019. Wabah besar menyebar ke seluruh dunia pada tahun 2020, yang mengakibatkan investasi dan kegiatan penelitian yang besar untuk mengembangkan vaksin. Banyak organisasi menggunakan genom yang dipublikasikan untuk mengembangkan vaksin yang mungkin dapat melawan SARS-CoV-2. Inisiatif CEPI memberikan pernyataan pada bulan April bahwa hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan vaksin adalah kecepatan, kapasitas produksi, penyebaran pada skala yang dibutuhkan, serta akses global. Pada bulan April, lmuwan CEPI melaporkan bahwa 10 platform teknologi berbeda sedang dalam penelitian dan pengembangan selama awal 2020 untuk membuat vaksin yang efektif terhadap COVID-19. Target platform utama yang maju ke studi keamanan Fase I, meliputi: asam nukleat (DNA dan RNA) (pengembang Fase I dan kandidat vaksin: Moderna, mRNA-1273) vektor virus (pengembang Fase I dan kandidat vaksin: CanSino Biologics, vektor adenovirus tipe 5) Seperti yang dilaporkan oleh ilmuwan CEPI pada bulan April, total 115 kandidat vaksin sedang dalam tahap awal pengembangan, dengan 78 dikonfirmasi sebagai proyek aktif (79, menurut Milken Institute), dan 37 lainnya diumumkan, tetapi dengan sedikit informasi publik tersedia (dianggap sedang dalam perencanaan atau sedang dirancang). Uji coba Fase I-II melakukan uji keamanan dan imunogenisitas awal, biasanya dilakukan secara acak, terkontrol plasebo, dan di beberapa lokasi, sambil menentukan dosis efektif yang lebih tepat. Uji coba Fase III biasanya melibatkan lebih banyak peserta, termasuk kelompok kontrol, dan menguji efektivitas vaksin untuk mencegah penyakit, sambil memantau efek samping pada dosis optimal. Dari 79 kandidat vaksin yang sedang aktif dikembangkan (dikonfirmasi pada awal April 2020), 74 di antaranya belum berada dalam evaluasi manusia (masih dalam penelitian "praklinis"). Pada 24 Januari 2020 di Australia, Universitas Queensland mengumumkan bahwa mereka sedang menyelidiki potensi vaksin penjepit molekuler yang secara genetik akan memodifikasi protein virus untuk merangsang reaksi imun. Pada 24 Januari 2020 di Kanada, Pusat Vaksin Internasional (VIDO-InterVac) di Universitas Saskatchewan mengumumkan bahwa mereka mulai mengembangkan vaksin, dengan target pengujian pada manusia pada tahun 2021. Proyek pengembangan vaksin diumumkan di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok pada 26 Januari 2020 dan Universitas Hong Kong pada 28 Januari. Pada 29 Januari 2020, Perusahaan Farmasi Janssen, yang dipimpin oleh Hanneke Schuitemaker, mengumumkan bahwa mereka mulai mengembangkan vaksin. Janssen bekerja sama dengan mitra bioteknologinya, Vaxart, untuk mengembangkan vaksin oral. Pada 18 Maret 2020, Emergent BioSolutions mengumumkan kemitraan produksi dengan Vaxart untuk mengembangkan vaksin. Pada 8 Februari 2020, laboratorium OncoGen di Rumania memublikasikan makalah tentang desain vaksin dengan teknologi serupa dengan teknologi yang digunakan untuk terapi vaksinasi neoantigen kanker. Pada 25 Maret, kepala lembaga penelitian mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan sintesis vaksin dan akan memulai pengujian. Pada 27 Februari 2020, anak perusahaan Generex, NuGenerex Immuno-Oncology, mengumumkan mereka memulai proyek vaksin untuk membuat vaksin peptida Ii-Key terhadap COVID-19. Mereka ingin memproduksi kandidat vaksin yang dapat diuji pada manusia "dalam waktu 90 hari." Pada 5 Maret 2020, Universitas Washington di St. Louis mengumumkan proyeknya untuk mengembangkan vaksin. Pada 5 Maret 2020, Komando Riset Medis dan Pasokan Angkatan Darat Amerika Serikat di Fort Detrick dan Institut Riset Angkatan Darat Walter Reed di Silver Spring, keduanya di Maryland barat, mengumumkan bahwa mereka sedang mengembangkan vaksin. Pada 10 Maret 2020, Emergent Biosolutions mengumumkan bahwa mereka bekerja sama dengan Novavax Inc. dalam pengembangan dan pembuatan vaksin. Lebih lanjut, kemitraan ini smengumumkan rencana pengujian praklinis dan uji klinis Fase I pada Juli 2020. Pada 12 Maret 2020, Kementerian Kesehatan India mengumumkan mereka sedang mengerjakan 11 isolat, dan bahkan pada jalur cepat, pengembangan vaksin setidaknya memerlukan waktu sekitar satu setengah hingga dua tahun. Pada 12 Maret 2020, Medicago, sebuah perusahaan bioteknologi di Quebec City, Quebec, melaporkan pengembangan partikel mirip koronavirus dengan pendanaan parsial dari Canadian Institutes for Health Research. Kandidat vaksin ini sedang dalam penelitian laboratorium, dengan pengujian pada manusia direncanakan pada bulan Juli atau Agustus 2020. Awal pekan itu, The Guardian melaporkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, telah menawarkan "'sejumlah besar uang' untuk akses eksklusif ke vaksin Covid-19" kepada CureVac, yang diprotes oleh pemerintah Jerman. Pada 17 Maret 2020, perusahaan farmasi Amerika Pfizer mengumumkan kemitraan dengan perusahaan Jerman, BioNTech, untuk bersama-sama mengembangkan vaksin berbasis mRNA. Saat ini, kandidat vaksin berbasis mRNA, BNT162, berada dalam pengujian praklinis dengan uji klinis diperkirakan akan dimulai pada April 2020. Pada 17 Maret 2020 di Italia, perusahaan biotek Italia Takis Biotech mengumumkan mereka akan mendapatkan hasil pengujian praklinis pada bulan April 2020 dan kandidat vaksin yang berada di tahap akhir dapat mulai diuji pada manusia pada musim gugur. Pada 19 Maret 2020 di Prancis, Koalisi Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI) mengumumkan investasi sebesar US$4,9 juta dalam konsorsium penelitian vaksin COVID-19 yang melibatkan Institut Pasteur, Themis Bioscience (Wina, Austria), dan Universitas Pittsburgh, dengan total investasi CEPI dalam pengembangan vaksin COVID-19 mencapai US$29 juta. Mitra investasi CEPI lainnya untuk pengembangan vaksin COVID-19 adalah Moderna, Curevac, Inovio, Novavax, Universitas Hong Kong, Universitas Oxford, dan Universitas Queensland. Pada 20 Maret 2020, pejabat kesehatan Rusia mengumumkan bahwa ilmuwan telah memulai pengujian enam kandidat vaksin pada hewan. Peneliti Imperial College London mengumumkan pada 20 Maret 2020 bahwa mereka sedang mengembangkan vaksin RNA yang dapat mengamplifikasi sendiri untuk COVID-19. Kandidat vaksin dikembangkan dalam 14 hari setelah menerima sekuens dari Tiongkok. Pada akhir Maret, pemerintah Kanada mengumumkan dana sebesar C$275 juta untuk 96 proyek penelitian penanggulangan medis terhadap COVID-19, yang mencakup sejumlah kandidat vaksin di perusahaan dan universitas Kanada, seperti inisiatif Medicago dan Universitas Saskatchewan. Di waktu yang hampir bersamaan, pemerintah Kanada mengumumkan dana sebesar C$192 juta khusus untuk mengembangkan vaksin COVID-19, dengan rencana untuk mendirikan "bank vaksin" nasional berisi beberapa vaksin baru yang dapat digunakan jika wabah koronavirus lain terjadi. Pada 2 April 2020, para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburgh melaporkan pengujian PittCoVacc, kandidat vaksin COVID-19, pada tikus; mereka menyatakan bahwa "MNA yang memberikan vaksin subunit S1 SARS-CoV-2 menimbulkan respons antibodi spesifik antigen yang poten [pada tikus] yang mulai terlihat 2 minggu setelah imunisasi." Pada 16 April 2020 di Kanada, Fakultas Farmasi Universitas Waterloo mengumumkan desain kandidat vaksin berbasis DNA sebagai semprotan nasal potensial. Dengan menggunakan bakteriofag, DNA dirancang untuk bereplikasi di dalam bakteri manusia untuk memproduksi partikel mirip-virus yang tidak berbahaya, yang dapat merangsang sistem imun untuk menghasilkan antibodi terhadap virus SARS-CoV-2. Pada Maret 2020, pemerintah, industri, dan tiga universitas AS mengumpulkan sumber daya untuk mengakses superkomputer dari IBM, dikombinasikan dengan sumber daya komputasi awan dari Hewlett Packard Enterprise, Amazon, Microsoft, dan Google. Beberapa vaksin memiliki efek heterolog, yang disebut juga efek nonspesifik. Hal itu berarti bahwa vaksin-vaksin ini dapat memiliki manfaat di luar penyakit yang dicegahnya. Uji coba teracak lebih lanjut di Australia berusaha mengikutkan 4.170 petugas kesehatan. Ada kemungkinan vaksin dalam pengembangan tidak akan aman atau efektif. Penelitian awal untuk menilai kemanjuran vaksin menggunakan model hewan COVID-19 spesifik, seperti tikus ACE2-transgenik, hewan laboratorium lain, dan primata nonmanusia, menunjukkan perlunya langkah-langkah pembendungan untuk mencapai level keselamatan biologi 3 dalam menangani virus hidup, dan koordinasi internasional untuk memastikan prosedur keselamatan standar. Vaksin terhadap SARS dan MERS telah diuji pada model hewan nonmanusia. Hingga 2020, belum ada obat atau vaksin pelindung untuk SARS yang terbukti aman dan efektif pada manusia. Menurut makalah penelitian yang dipublikasikan tahun 2005 dan 2006, identifikasi dan pengembangan vaksin dan obat baru untuk mengobati SARS adalah prioritas bagi pemerintah dan lembaga kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Selain itu, vaksin yang terbukti untuk MERS juga belum ada. Ketika MERS menjadi prevalen, penelitian SARS yang ada diyakini dapat menjadi templat yang berguna untuk mengembangkan vaksin dan terapi terhadap infeksi MERS-CoV. Pada Maret 2020, ada satu vaksin MERS (berbasis DNA) yang menyelesaikan uji klinis fase I pada manusia, dan tiga vaksin lainnya sedang dalam proses, yang semuanya adalah vaksin bervektor virus, dua bervektor adenovirus (ChAdOx1-MERS, BVRS-GamVac), dan satu bervektor-MVA (MVA-MERS-S). Postingan media sosial menggaungkan teori konspirasi yang mengklaim virus di balik COVID-19 telah dikenal sebelumnya dan bahwa vaksin telah tersedia. Paten-paten yang dikutip oleh berbagai postingan media sosial merujuk paten yang ada untuk sekuens genetik dan vaksin untuk galur koronavirus lain, seperti koronavirus SARS. b'Koronavirus adalah sekumpulan virus yang berkerabat dan dapat menyebabkan penyakit pada mamalia dan burung. Pada manusia, koronavirus menyebabkan infeksi saluran pernapasan mulai dari ringan hingga mematikan. Sakit ringan meliputi sebagian kasus pilek (yang memiliki kemungkinan penyebab lain, terutama rinovirus), sementara varietas yang lebih mematikan dapat menyebabkan SARS, MERS, dan COVID-19. Gejala pada spesies lain beragam: pada ayam, koronavirus menyebabkan penyakit saluran pernapasan atas, sedangkan pada sapi dan babi, koronavirus menyebabkan diare. Belum ada vaksin atau obat antivirus untuk mencegah atau mengobati infeksi koronavirus manusia. Koronavirus membentuk subfamili Orthocoronavirinae, dalam famili Coronaviridae, ordo Nidovirales, dan realm Riboviria. Koronavirus adalah virus beramplop dengan genom RNA untai tunggal sense positif dan nukleokapsid simetri heliks. Ukuran genom koronavirus berkisar mulai dari 26 hingga 32 kilobasa, salah satu yang terbesar di antara virus RNA. Koronavirus memiliki ciri tonjolan berbentuk pentungan yang mencuat dari permukaannya, yang pada mikrograf elektron membentuk gambar yang mengingatkan pada mahkota matahari; dari sinilah, nama virus ini berasal. Koronavirus pertama kali ditemukan pada tahun 1930-an ketika infeksi saluran pernapasan akut pada ayam peliharaan terbukti disebabkan oleh virus bronkitis yang menular (IBV). Pada 1940-an, dua koronavirus hewan lainnya diisolasi, yakni virus hepatitis mencit (MHV) dan virus gastroenteritis menular (TGEV). Koronovirus manusia ditemukan pada tahun 1960-an. Koronavirus yang paling pertama diteliti berasal dari pasien manusia yang mengalami pilek, yang kemudian diberi nama koronavirus manusia 229E dan koronavirus manusia OC43. Koronavirus ini pertama kali dicitrakan oleh ahli virus Skotlandia, June Almeida, di Rumah Sakit St. Thomas, London. Sejak itu, koronavirus manusia lainnya teridentifikasi, di antaranya SARS-CoV pada tahun 2003, HCoV NL63 pada tahun 2004, HKU1 pada tahun 2005, MERS-CoV pada tahun 2012, dan SARS-CoV-2 pada tahun 2019. Sebagian besar virus ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan serius. Nama ini pertama kali digunakan pada tahun 1968 oleh kelompok ahli virus informal di jurnal Nature untuk menyebut keluarga virus baru. Namanya mengacu pada penampilan karakteristik virion (bentuk infektif virus) jika dilihat dengan mikroskop elektron, yang memiliki pinggiran berupa tonjolan permukaan yang besar dan bulat sehingga menghasilkan gambar yang mengingatkan pada mahkota atau korona matahari. Morfologi ini diciptakan oleh peplomer tonjolan virus, yang adalah protein permukaan virus. Koronavirus adalah partikel sferis pleomorfik besar dengan tonjolon permukaan bulat. Amplop virus di mikrograf elektron kelihatan sebagai sepasang kulit padat elektron yang tampak jelas. Amplop virus terdiri dari dua-lapis lipid tempat protein struktur membran (M), amplop (E), dan tonjolan (S) tertambat. Amplop dua-lapis lipid, protein membran, dan nukleokapsid melindungi virus ketika berada di luar sel inang. Koronavirus memiliki genom RNA beruntai tunggal sense positif. Ukuran genom koronavirus berkisar mulai dari 26,4 hingga 31,7 kilobasa. Ukuran genomnya adalah salah satu yang terbesar di antara virus-virus RNA. Rangka baca terbuka 1a dan 1b, yang menempati dua pertiga bagian pertama genom, menyandi poliprotein replikase/transkriptase. Poliprotein replikase/transkriptase memecah dirinya sendiri membentuk protein nonstruktural. Rangka baca terbuka 1b menyandi empat protein struktural utama: tonjolan, amplop, membran, dan nukleokapsid. Di antara rangka-rangka baca ini terseling rangka baca untuk protein aksesori. Jumlah protein aksesori dan fungsinya berbeda-beda tergantung koronavirus tertentu. Infeksi dimulai ketika glikopretein tonjolan (S) virus menempel pada reseptor sel inang yang komplementer. Setelah penempelan, protease sel inang memecah dan mengaktifkan protein tonjolan yang menempel pada reseptor. Tergantung pada protease sel inang yang tersedia, pemecahan dan pengaktifan memungkinkan virus untuk memasuki sel inang melalui endositosis atau fusi langsung amplop virus dengan membran inang. Setelah masuk ke dalam sel inang, partikel virus terbuka dari selubungnya dan genomnya memasuki sitoplasma sel. Ribosom inang mentranslasi rangka baca terbuka awal yang tumpang tindih dan membentuk poliprotein yang panjang. Poliprotein memiliki protease sendiri yang memecah poliprotein menjadi beberapa protein nonstruktural. Sejumlah protein nonstruktural bergabung untuk membentuk kompleks replikase-transkriptase (RTC) multiprotein. Protein replikase-transkriptase utama adalah RNA polimerase tergantung-RNA (RdRp). Protein ini terlibat langsung dalam replikasi dan transkripsi RNA dari untai RNA. Protein nonstruktural lainnya dalam kompleks tersebut membantu dalam proses replikasi dan transkripsi. Protein nonstruktural eksoribonuklease, misalnya, memberi tambahan fidelitas pada replikasi dengan menyediakan fungsi proofreading atau pengoreksian yang tidak dimiliki RNA polimerase tergantung-RNA. Salah satu fungsi utama kompleks ini adalah untuk mereplikasi genom virus. RdRp secara langsung memediasi sintesis RNA genomik sense negatif dari RNA genomik sense positif. Proses ini diikuti dengan replikasi RNA genomik sense positif dari RNA genomik sense negatif. Fungsi lain kompleks ini yang penting adalah mentranskripsi genom virus. RdRp secara langsung memediasi sintesis molekul RNA subgenomik sense negatif dari RNA genomik sense positif. Proses ini diikuti oleh transkripsi molekul RNA subgenomik sense negatif menjadi mRNA sense positif yang sesuai. RNA genomik sense positif yang direplikasi menjadi genom virus progeni. mRNA adalah transkrip gen yang ada di bagian sepertiga akhir genom virus setelah rangka baca terbuka awal yang tumpang tindih. mRNA ini ditranslasi oleh ribosom inang menjadi protein struktural dan sejumlah protein tambahan. Translasi RNA berlangsung di dalam retikulum endoplasma. Protein struktural virus S, E, dan M bergerak di sepanjang jalur sekretori ke dalam kompartemen perantara Golgi. Di sana, protein M mengarahkan sebagian besar interaksi antarprotein yang diperlukan untuk perakitan virus setelah pengikatannya dengan nukleokapsid. Virus progeni kemudian dilepaskan dari sel inang dengan cara eksositosis melalui vesikel sekretori. Interaksi protein tonjolan koronavirus dengan reseptor sel inang yang komplementer sangat penting dalam menentukan tropisme jaringan, infektivitas, dan rentang spesies virus. Koronavirus SARS, misalnya, menginfeksi sel manusia dengan menempel pada reseptor enzim pengubah angiotensin 2 (ACE2). Nama ilmiah untuk koronavirus adalah Orthocoronavirinae atau Coronavirinae. Koronavirus termasuk dalam famili Coronaviridae, ordo Nidovirales, dan realm Riboviria. Genus Betacoronavirus; jenis spesies: Koronavirus murin Spesies: Betacoronavirus 1 (Koronavirus Sapi, Koronavirus manusia OC43), Koronavirus manusia HKU1, Koronavirus murin, Koronavirus kelelawar Pipistrellus HKU5, Koronavirus kelelawar Rousettus HKU9, Koronavirus terkait sindrom pernapasan akut berat (SARS-CoV, SARS-CoV-2), Koronavirus kelelawar Tylonycteris HKU4, Koronavirus terkait sindrom pernapasan Timur Tengah, Koronavirus landak susu 1 (EriCoV) Spesies: Koronavirus paus beluga SW1, Virus bronkitis menular Leluhur bersama terakhir (MRCA) semua koronavirus diperkirakan masih baru, yakni sekitar 8000 SM, meskipun beberapa model menempatkan leluhur bersama sejauh 55 juta tahun lalu atau lebih, yang menyiratkan koevolusi jangka panjang dengan spesies kelelawar dan unggas. Leluhur bersama terakhir garis keturunan alphacoronavirus ditempatkan sekitar 2400 SM, garis keturunan betacoronavirus pada 3300 SM, garis keturunan gammacoronavirus pada 2800 SM, dan garis keturunan deltacoronavirus sekitar 3000 SM. Spesies kelelawar dan unggas inang dengan jumlah yang besar, serta memiliki jangkauan global, sehingga memungkinkan evolusi dan penyebaran koronavirus yang luas. Banyak koronavirus manusia berasal dari kelelawar. Yang lebih baru, koronavirus alpaka dan koronavirus manusia 229E berdivergen tidak lama sebelum 1960. MERS-CoV muncul pada manusia dari kelelawar melalui inang perantara unta. MERS-CoV, meskipun berkerabat dengan beberapa spesies koronavirus kelelawar, tampaknya telah berdivergen dari koronavirus kelelawar tersebut beberapa abad yang lalu. Koronavirus kelelawar yang paling dekat berkerabat dan SARS-CoV berdivergen pada tahun 1986. Suatu jalur evolusi yang mungkin terjadi, pada koronavirus SARS dan koronavirus kelelawar yang berkerabat, mengisyaratkan bahwa koronavirus terkait SARS berkoevolusi dalam kelelawar dalam waktu yang lama. Pada tahun 1790-an, korovirus kuda berdivergen dari koronavirus sapi setelah lompatan lintas spesies. Kemudian, pada tahun 1890-an, koronavirus manusia OC43 berdivergen dari koronavirus sapi setelah peristiwa penyebaran lintas spesies lainnya. Pandemi flu tahun 1890 dispekulasi mungkin disebabkan oleh peristiwa penyebaran ini, dan bukan oleh virus influenza, karena waktu pandemi yang sesuai, gejala neurologis, serta agen kausatif pandemi yang tidak diketahui. Koronavirus manusia OC43 selain menyebabkan infeksi pernapasan diduga juga berperan dalam penyakit neurologis. Pada tahun 1950-an, koronavirus manusia OC43 mulai berdivergen menjadi genotipenya sekarang. Secara filogenetis, virus hepatitis mencit (Koronovirus murin), yang menginfeksi hati dan sistem saraf pusat mencit, berkerabat dengan koronavirus manusia OC43 dan koronavirus sapi. Koronavirus manusia HKU1, seperti virus yang disebutkan di atas, juga memiliki asal muasal di roden. Dari segi faktor risiko, koronavirus sangat beragam. Beberapa koronavirus dapat membunuh lebih dari 30% orang yang terinfeksi, seperti MERS-CoV, dan beberapa relatif tidak berbahaya, seperti pilek. Koronavirus dapat menyebabkan pilek dengan gejala utama, seperti demam dan sakit tenggorokan akibat pembengkakan adenoid. Koronavirus dapat menyebabkan pneumonia (baik pneumonia virus langsung maupun pneumonia bakteri sekunder) dan bronkitis (baik bronkitis virus langsung maupun bronkitis bakteri sekunder). Koronavirus manusia SARS-CoV yang ditemukan pada tahun 2003, dan menyebabkan sindrom pernapasan akut berat (SARS), memiliki patogenesis yang unik karena menyebabkan infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah. Diketahui ada enam spesies koronavirus manusia, dengan satu spesies terbagi menjadi dua galur berbeda, sehingga ada tujuh galur koronavirus manusia secara keseluruhan. Empat dari koronavirus ini terus beredar dalam populasi manusia dan menimbulkan gejala pilek yang umumnya ringan pada orang dewasa dan anak-anak di seluruh dunia: -OC43, -HKU1, HCoV-229E, -NL63. Koronavirus menyebabkan sekitar 15% kasus pilek. Sebagian besar pilek disebabkan oleh rinovirus. Empat koronavirus ringan ini memiliki insiden musiman yang terjadi pada bulan-bulan musim dingin di daerah beriklim sedang. Di daerah beriklim tropis, tidak ada preferensi terhadap musim tertentu. Empat koronavirus manusia ini menimbulkan gejala yang umumnya ringan: Virus ini secara resmi diberi nama koronavirus SARS (SARS-CoV). Lebih dari 8.000 orang terinfeksi, sekitar sepuluh persen di antaranya meninggal. Pada September 2012, koronavirus jenis baru diidentifikasi, awalnya disebut Koronavirus Baru 2012, dan sekarang secara resmi diberi nama koronavirus sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS-CoV). Organisasi Kesehatan Dunia mengeluarkan peringatan global segera setelah itu. Pembaruan WHO pada 28 September 2012 mengatakan virus tersebut tampaknya tidak mudah menular dari orang ke orang. Namun, pada 12 Mei 2013, satu kasus penularan manusia-ke-manusia di Prancis dikonfirmasi oleh Kementerian Sosial dan Kesehatan Prancis. Selain itu, kasus penularan manusia-ke-manusia dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan di Tunisia. Dua kasus terkonfirmasi melibatkan orang-orang yang tampaknya tertular penyakit dari almarhum ayah mereka, yang sakit setelah berkunjung ke Qatar dan Arab Saudi. Meskipun demikian, tampaknya virus ini sulit menyebar dari manusia ke manusia karena kebanyakan orang yang terinfeksi tidak menularkan virus. Nama akhir untuk virus ini adalah koronavirus sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS-CoV). Hanya ada dua kasus di AS (keduanya selamat), yang dicatat pada Mei 2014.Pada Mei 2015, wabah MERS-CoV terjadi di Republik Korea ketika seorang pria, yang telah melakukan perjalanan ke Timur Tengah, mengunjungi empat rumah sakit di daerah Seoul untuk mengobati penyakitnya. Wabah ini menyebabkan salah satu wabah MERS-CoV terbesar di luar Timur Tengah. Pada Desember 2019, 2.468 kasus infeksi MERS-CoV dikonfirmasi melalui tes laboratorium, 851 di antaranya fatal, angka mortalitas sekitar 34,5%. Pada Desember 2019, wabah pneumonia dilaporkan di Wuhan, Tiongkok. Pada 31 Desember 2019, wabah ini ditelusuri ke galur koronavirus baru, yang diberi nama sementara 2019-nCoV oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lalu diganti namanya menjadi SARS-CoV-2 oleh Komite Internasional Taksonomi Virus. Beberapa peneliti menyatakan bahwa Pasar Grosir Makanan Laut Huanan mungkin bukan sumber asal penularan virus ke manusia. Hingga 17 April 2020, setidaknya ada 153.822 kematian terkonfirmasi dan lebih dari 2.240.191 kasus terkonfirmasi dalam pandemi pneumonia koronavirus ini. Galur Wuhan diidentifikasi sebagai galur Betacoronavirus baru dari grup 2B dengan kesamaan genetik sekitar 70% dengan SARS-CoV. Virus ini memiliki kesamaan genetik 96% dengan koronavirus kelelawar sehingga banyak yang menduga virus ini berasal dari kelelawar juga. Pandemi ini telah mengakibatkan pembatasan perjalanan dan karantina wilayah tingkat nasional di beberapa negara. Koronavirus telah diketahui sebagai penyebab kondisi patologis dalam kedokteran hewan sejak tahun 1930-an. Kecuali bronkitis menular pada unggas, penyakit-penyakit utama yang terkait kebanyakan berlokasi di usus. Koronavirus terutama menginfeksi saluran pernapasan bagian atas dan saluran gastrointestinal mamalia dan unggas. Koronavirus juga menyebabkan berbagai penyakit pada hewan ternak dan peliharaan, beberapa di antaranya bisa serius dan merupakan ancaman bagi industri pertanian. Pada ayam, virus bronkitis menular (IBV), yang adalah koronavirus, menargetkan bukan hanya saluran pernapasan, tetapi juga saluran urogenital. Virus ini dapat menyebar ke berbagai organ di seluruh tubuh ayam. Pada hewan ternak, koronavirus yang signifikan secara ekonomi mencakup koronavirus babi (koronavirus gastroenteritis dapat menular, TGE) dan koronavirus sapi, yang keduanya mengakibatkan diare pada hewan muda. Koronavirus kucing: ada dua bentuk, koronavirus enterik kucing adalah patogen dengan signifikansi klinis kecil, tetapi mutasi spontan virus ini dapat mengakibatkan peritonitis menular felina (FIP), penyakit yang dikaitkan dengan mortalitas yang tinggi. Begitu pula, ada dua jenis koronavirus yang menginfeksi ferret: koronavirus enterik ferret menyebabkan sindrom gastrointestinal yang dikenal sebagai enteritis kataral epizootik (ECE), dan versi virus sistemik yang lebih mematikan (seperti FIP pada kucing) yang dikenal sebagai koronavirus sistemik ferret (FSC). Ada dua jenis koronavirus anjing (CCoV), satu koronavirus menyebabkan penyakit gastrointestinal ringan dan satu lagi diketahui menyebabkan penyakit pernapasan. Virus hepatitis mencit (MHV) adalah koronavirus yang menyebabkan penyakit murin epidemik dengan mortalitas tinggi, terutama di antara koloni mencit laboratorium. Virus sialodakrioadenitis (SDAV) adalah koronavirus yang sangat menular pada tikus laboratorium, yang dapat ditularkan di antara tikus melalui kontak langsung dan secara tidak langsung melalui aerosol. Beberapa galur MHV menyebabkan ensefalitis demielinasi progresif pada mencit yang telah digunakan sebagai model murin untuk sklerosis multipel. Upaya penelitian yang signifikan telah difokuskan untuk menjelaskan patogenesis koronavirus hewan ini, terutama oleh ahli virus yang tertarik pada kedokteran hewan dan penyakit zoonotik. Koronavirus babi (koronavirus gastroenteritis dapat menular pada babi, TGEV). Koronavirus sapi (BCV) menyebabkan enteritis profusi berat pada anak sapi. Koronavirus kucing (FCoV) menyebabkan enteritis ringan pada kucing dan juga Peritonitis menular felina berat (varian lain dari virus yang sama). dua jenis koronavirus anjing (CCoV) (satu koronavirus menyebabkan enteritis, satu lagi ditemukan di penyakit pernapasan). Koronavirus kalkun (TCV) menyebabkan enteritis pada kalkun. Koronavirus enterik ferret menyebabkan enteritis kataral epizootik pada ferret. Koronavirus sistemik ferret menyebabkan sindrom sistemik mirip-FIP pada ferret. Koronavirus enterik kelinci menyebabkan penyakit gastrointestinal akut dan diare pada kelinci muda Eropa. Virus diare epidemik babi (PED atau PEDV) merebak di seluruh dunia. b'Penyakit koronavirus 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2). Gejala umum meliputi demam, batuk, dan sesak napas. Gejala lain bisa mencakup kelelahan, nyeri otot, diare, sakit tenggorokan, kehilangan daya penciuman, dan sakit perut. Waktu sejak terpapar hingga awitan gejala pada umumnya sekitar lima hari, tetapi dapat berkisar mulai dari dua hingga empat belas hari. Walaupun kebanyakan kasus mengakibatkan gejala ringan, beberapa berkembang menjadi pneumonia virus dan gagal organ majemuk. Hingga 17 April 2020, lebih dari 2,24 juta kasus telah dilaporkan di 210 negara dan wilayah teritorial, yang mengakibatkan lebih dari 153.000 kematian. Lebih dari 568.000 orang telah sembuh. Virus ini terutama menyebar antarmanusia saat terjadi kontak dekat, sering kali melalui percikan atau droplet kecil yang dihasilkan melalui batuk, bersin, atau saat berbicara. Meskipun dihasilkan saat mengembuskan napas, droplet biasanya jatuh ke tanah atau ke permukaan dan bukan menular hingga jarak jauh. Orang juga dapat terinfeksi dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulutnya. Di permukaan, virus ini dapat bertahan hingga 72 jam. Virus ini sangat menular selama tiga hari pertama setelah awitan gejala, meskipun penyebaran mungkin terjadi sebelum gejala muncul dan setelah tahap penyakit selanjutnya. Metode diagnosis standar adalah dengan reaksi rantai polimerase transkripsi balik real-time (rRT-PCR) pada usap nasofaring. Penggunaan masker dianjurkan bagi orang yang diduga tertular virus dan orang yang merawatnya. Rekomendasi mengenai penggunaan masker oleh masyarakat umum berbeda-beda; sebagian otoritas merekomendasikan agar tidak menggunakan masker, sebagian merekomendasikan penggunaannya, dan sebagian yang lain mengharuskan penggunaannya. Saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan antivirus spesifik untuk COVID-19. Transmisi lokal penyakit telah dicatat di hampir semua negara di enam wilayah WHO. Orang yang terinfeksi virus bisa tanpa gejala atau mengalami gejala seperti flu, seperti demam, batuk, kelelahan, dan sesak napas. Gejala darurat termasuk kesulitan bernapas, nyeri atau sesak di dada yang terus-menerus, kebingungan, sulit bangun, dan wajah atau bibir kebiruan; penangangan medis segera disarankan jika gejala-gejala ini muncul. Gejala pernapasan atas, seperti bersin, ingusan, atau sakit tenggorokan dapat dijumpai, tetapi lebih jarang terjadi. Gejala gastrointestinal, seperti mual, muntah, dan diare, teramati dalam persentase beragam. Beberapa kasus di Tiongkok awalnya hanya dengan gambaran klinis sesak dada dan palpitasi. Pada beberapa orang, penyakit dapat berkembang menjadi pneumonia, gagal organ majemuk, dan kematian. Masa ini disebut masa inkubasi. Masa inkubasi untuk COVID-19 biasanya lima hingga enam hari, tetapi dapat berkisar mulai dari dua hingga 14 hari. 97,5% orang yang bergejala akan mengalami gejala dalam 11,5 hari infeksi. Laporan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang terinfeksi mengalami gejala. Peran pembawa tanpa gejala ini dalam penularan belum diketahui sepenuhnya; namun, bukti awal menunjukkan bahwa mereka mungkin berkontribusi pada penyebaran penyakit. Saat ini, proporsi orang terinfeksi yang tidak menunjukkan gejala belum diketahui dan sedang diteliti, dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan bahwa 20% dari semua kasus terkonfirmasi tetap tanpa gejala selama dirawat di rumah sakit. Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok mulai menyertakan kasus tanpa gejala dalam kasus hariannya pada 1 April; dari 166 infeksi pada hari itu, 130 kasus (78%) tidak menunjukkan gejala pada saat pengujian. Sputum dan air liur dapat membawa muatan virus dalam skala besar. Berbicara dengan lantang melepaskan lebih banyak percikan atau droplet dibanding berbicara secara normal. Sebuah penelitian di Singapura menemukan bahwa batuk yang tidak ditutupi dapat menyebabkan droplet terdorong hingga sejauh 4,5 meter (15 kaki). Meskipun virus ini biasanya tidak ditularkan melalui udara, Akademi Sains Nasional Amerika Serikat menunjukkan bahwa transmisi bioaerosol mungkin terjadi dan pengumpul udara yang ditempatkan di lorong di luar kamar orang menghasilkan sampel yang positif untuk RNA virus. Beberapa prosedur medis, seperti intubasi dan resusitasi jantung paru (RJP), dapat membuat sekret pernapasan berubah menjadi aerosol lalu tersebar lewat udara. Walaupun ada kekhawatiran bahwa virus dapat menyebar melalui feses, risiko ini diyakini rendah. Virus paling menular saat orang bergejala; walaupun penyebaran mungkin terjadi sebelum gejala muncul, risikonya rendah. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) mengatakan bahwa meskipun belum jelas sepenuhnya seberapa mudah penyakit ini menyebar, satu orang umumnya menginfeksi dua hingga tiga orang lain. Virus ini dapat bertahan di permukaan selama berjam-jam hingga berhari-hari. Khususnya, ditemukan bahwa virus dapat dideteksi selama satu hari pada karton/kardus, hingga tiga hari pada plastik (polipropilen) dan baja tahan karat (AISI 304), dan hingga empat jam pada tembaga 99%. Namun, hal ini bervariasi tergantung pada kelembapan dan suhu. Sabun dan detergen juga efektif jika digunakan dengan benar; produk sabun menguraikan lapisan lemak pelindung virus, mendeaktivasi virus, serta membebaskannya dari kulit dan permukaan lainnya. Larutan lain, seperti benzalkonium klorida dan klorheksidin glukonat (disinfektan bedah), kurang efektif. Dalam sebuah penelitian di Hong Kong, sampel air liur diambil dalam median dua hari setelah rawat inap dimulai. Pada lima dari enam pasien, sampel pertama menunjukkan muatan virus tertinggi, dan pasien keenam menunjukkan muatan virus tertinggi pada pengujian hari kedua. Koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2) adalah koronavirus sindrom pernapasan akut berat baru, yang pertama kali diisolasi dari tiga orang dengan pneumonia yang terkait dengan klaster kasus penyakit pernapasan akut di Wuhan. Semua ciri virus SARS-CoV-2 baru ada pada koronavirus yang berkerabat di alam. Di luar tubuh manusia, virus ini terbunuh oleh sabun rumah tangga, yang merusak gelembung pelindungnya. SARS-CoV-2 berkerabat dekat dengan SARS-CoV pertama. Paru adalah organ yang paling terdampak oleh COVID-19 karena virus mengakses sel inang melalui enzim pengubah angiotensin 2 (ACE2), yang paling melimpah di sel alveolar tipe II paru. Virus ini menggunakan glikoprotein permukaan khusus yang disebut "spike atau tonjolan" (peplomer) untuk terhubung ke ACE2 dan memasuki sel inang. Cedera jantung akut ditemukan pada 12% orang terinfeksi yang dirawat inap di Wuhan, Tiongkok, dan lebih sering pada penyakit parah. Tingkat gejala kardiovaskular tinggi karena adanya respons inflamasi sistemik dan gangguan sistem imun selama perkembangan penyakit, tetapi cedera miokard akut mungkin juga terkait dengan reseptor ACE2 di jantung. Reseptor ACE2 diekspresikan sangat tinggi di jantung dan terlibat dalam fungsi jantung. Insiden trombosis (31%) dan tromboembolisme vena (25%) yang tinggi ditemukan pada pasien infeksi COVID-19 di ICU dan mungkin terkait dengan prognosis yang buruk. Otopsi pada orang yang meninggal karena COVID-19 menemukan kerusakan alveolar difus (DAD) dan infiltrat inflamasi yang mengandung limfosit di dalam paru. Meskipun SARS-COV-2 memiliki tropisme untuk sel epitel saluran napas yang mengekspresikan ACE2, pasien COVID-19 berat memiliki gejala hiperinflamasi sistemik. Secara khusus, sel T yang menyekresi GM-CSF patogenik terbukti berkorelasi dengan perekrutan monosit yang menyekresi IL-6 inflamatori dan patologi paru yang parah pada pasien COVID-19. Infiltrat limfositik juga pernah dilaporkan pada otopsi. WHO telah memublikasikan beberapa protokol pengujian untuk penyakit ini. Metode standar pengujian adalah reaksi rantai polimerase transkripsi balik real-time (rRT-PCR). Pengujian ini biasanya dilakukan pada sampel pernapasan yang diperoleh melalui usap nasofaring; namun, sampel usap nasal atau sputum juga dapat digunakan. Umumnya, hasil tersedia dalam beberapa jam hingga dua hari. Pengujian darah dapat digunakan, tetapi membutuhkan dua sampel darah yang diambil dengan jarak dua minggu sehingga hasilnya memiliki nilai waktu yang kecil. Ilmuwan Tiongkok mampu mengisolasi galur koronavirus ini dan memublikasikan sekuens genetiknya sehingga laboratorium di seluruh dunia dapat mengembangkan pengujian reaksi rantai polimerase (PCR) secara independen untuk mendeteksi infeksi oleh virus ini. Pada 4 April 2020, uji antibodi (yang dapat mendeteksi infeksi aktif dan jika seseorang telah terinfeksi sebelumnya) sedang dalam pengembangan, tetapi belum banyak digunakan. Pengalaman Tiongkok dengan pengujian tersebut menunjukkan keakuratannya hanya 60 hingga 70%. FDA di Amerika Serikat menyetujui pengujian point-of-care pertama pada 21 Maret 2020 untuk digunakan pada akhir bulan itu. Pedoman diagnosis yang dirilis oleh Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan menyarankan metode untuk mendeteksi infeksi berdasarkan gambaran klinis dan risiko epidemiologis. Opasitas ground-glass multilobar bilateral dengan distribusi perifer, asimetris, dan posterior banyak ditemui di awal infeksi. Dominasi subpleural, crazy paving (penebalan septum lobular dengan pengisian alveolar bervariasi), dan konsolidasi dapat muncul seiring perkembangan penyakit. Sedikit data tersedia tentang lesi mikroskopik dan patofisiologi COVID-19. Temuan patologis utama pada otopsi adalah: Makroskopi: pleurisi, perikarditis, konsolidasi paru, dan edema pulmoner Empat jenis keparahan pneumonia virus dapat teramati: pneumonia ringan: edema pulmoner, hiperplasia pneumosit, pneumosit atipis besar, inflamasi interstisial dengan infiltrasi limfositik, dan pembentukan sel raksasa berinti banyak pneumonia berat: kerusakan alveolar difus (DAD) dengan eksudat alveolar difus. DAD adalah penyebab sindrom gawat napas akut (ARDS) dan hipoksemia berat. pneumonia dalam tahap penyembuhan: susunan eksudat di rongga alveolar dan fibrosis interstitial pulmoner Darah: koagulasi intravaskular diseminata (DIC); reaksi leukoeritroblastik Langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi kemungkinan infeksi mencakup tetap di rumah, menghindari tempat-tempat ramai, sering mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik, mempraktikkan higiene pernapasan yang baik, dan menghindari menyentuh mata, hidung, atau mulut dengan tangan yang tidak dicuci. CDC merekomendasikan untuk menutup mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin dan merekomendasikan penggunaan bagian dalam siku jika tisu tidak tersedia. Higiene tangan yang sesuai setelah batuk atau bersin dianjurkan. CDC merekomendasikan penggunaan penutup wajah dari kain di tempat umum, sebagian untuk membatasi penularan oleh orang tanpa gejala. Strategi pembatasan sosial bertujuan untuk mengurangi kontak orang yang terinfeksi dengan banyak orang, dengan cara menutup sekolah dan tempat kerja, membatasi perjalanan, dan membatalkan pertemuan berskala besar di tempat umum. Pedoman pembatasan juga mencakup orang menjaga jarak setidaknya 6 kaki atau 1,8 meter. Belum ada obat yang diketahui efektif mencegah COVID-19.Karena vaksin diantisipasi belum ada hingga awal 2021, bagian utama dalam menangani COVID-19 adalah mencoba untuk mengurangi puncak epidemi, yang dikenal sebagai "meratakan kurva". CDC juga merekomendasikan agar orang sering mencuci tangan dengan sabun dan air selama setidaknya 20 detik, terutama setelah dari toilet atau ketika tangan terlihat kotor, sebelum makan, serta setelah mengembus hidung, batuk, atau bersin. Lebih lanjut CDC juga merekomendasikan menggunakan penyanitasi tangan berbasis alkohol yang mengandung setidaknya 60% alkohol, tetapi hanya ketika sabun dan air tidak tersedia. Di daerah yang penyanitasi tangan komersial tidak tersedia, WHO menyediakan dua formulasi untuk produksi lokal. Dalam formulasi ini, aktivitas antimikroba berasal dari etanol atau isopropanol. Hidrogen peroksida digunakan untuk membantu menghilangkan spora bakteri dalam alkohol; zat ini "bukan zat aktif untuk antisepsis tangan". Gliserol ditambahkan sebagai humektan. Orang ditangani dengan perawatan dukungan, yang dapat mencakup terapi cairan, dukungan oksigen, dan mendukung organ vital lain yang terdampak. CDC merekomendasikan orang yang menduga mereka membawa virus agar memakai masker wajah sederhana. Oksigenasi membran ekstrakorporeum (ECMO) telah digunakan untuk mengatasi masalah kegagalan pernapasan, tetapi manfaatnya masih dipertimbangkan. Kebersihan diri dan gaya hidup serta pola makan sehat direkomendasikan untuk meningkatkan imunitas. Perawatan suportif mungkin berguna pada orang yang memiliki gejala ringan di tahap awal infeksi. WHO dan Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok telah menerbitkan rekomendasi untuk menangani penderita COVID-19 yang dirawat inap. Ahli perawatan intensif dan ahli paru di AS telah menyusun rekomendasi perawatan dari berbagai lembaga menjadi sumber daya gratis, yaitu IBCC. Hingga April 2020, belum ada pengobatan spesifik untuk COVID-19. Untuk gejala, sebagian tenaga medis lebih merekomendasikan parasetamol (asetaminofen) dibandingkan ibuprofen untuk penggunaan lini pertama. Tindakan pencegahan harus diambil untuk meminimalkan risiko penularan virus, terutama dalam tatanan perawatan kesehatan ketika melakukan prosedur yang dapat menghasilkan aerosol, seperti intubasi atau ventilasi tangan. Untuk tenaga kesehatan yang merawat penderita COVID-19, CDC merekomendasikan menempatkan orang tersebut di Ruang Isolasi Infeksi Tular-Udara (AIIR) selain menggunakan tindakan pencegahan standar, tindakan pencegahan kontak, dan tindakan pencegahan tular-udara. CDC menguraikan pedoman untuk penggunaan alat pelindung diri (APD) selama pandemi. Peralatan yang direkomendasikan adalah: jubah APD, respirator atau masker wajah, pelindung mata, dan sarung tangan medis. Jika tersedia, respirator (bukan masker wajah) lebih baik. Respirator N95 disetujui untuk tatanan industri, tetapi FDA telah mengotorisasi masker ini untuk digunakan berdasarkan Otorisasi Penggunaan Darurat (EUA). Respirator N95 dirancang untuk melindungi dari partikel bawaan udara seperti debu, tetapi efektivitas terhadap agen biologis tertentu tidak dijamin untuk penggunaan yang tidak disebutkan di label. Jika masker tidak tersedia, CDC merekomendasikan untuk menggunakan pelindung wajah atau, sebagai upaya terakhir, masker buatan sendiri. Sebagian besar kasus COVID-19 tidak terlalu berat sampai membutuhkan ventilasi mekanis atau alternatifnya, tetapi sebagian kasus memang berat. Jenis dukungan pernapasan untuk orang yang mengalami gagal napas terkait COVID-19 sedang aktif diteliti untuk orang yang dirawat inap, dan ada bukti bahwa intubasi dapat dihindari dengan kanula nasal aliran tinggi atau tekanan salur udara bipositif. Belum diketahui apakah salah satu dari kedua metode ini menghasilkan manfaat yang sama untuk orang yang sakit kritis. Sebagian dokter lebih suka tetap menggunakan ventilasi mekanis invasif, apabila tersedia, karena teknik ini membatasi penyebaran partikel aerosol dibandingkan dengan kanula nasal aliran tinggi. Kasus berat lebih banyak terjadi pada lansia (orang yang berusia di atas 60 tahun, dan terutama orang yang berusia di atas 80 tahun). Banyak negara maju tidak memiliki tempat tidur rumah sakit per kapita yang memadai, yang membatasi kapasitas sistem kesehatan untuk menangani lonjakan tiba-tiba jumlah kasus COVID-19 yang cukup parah sehingga memerlukan rawat inap. Sebuah studi di Tiongkok menemukan bahwa 5% masuk unit perawatan intensif, 2,3% membutuhkan dukungan ventilasi mekanis, dan 1,4% meninggal. Di Tiongkok, sekitar 30% penderita COVID-19 yang dirawat inap akhirnya masuk ICU. Ventilasi mekanis menjadi lebih rumit seiring sindrom gawat napas akut (ARDS) terjadi pada COVID-19 dan oksigenasi menjadi semakin sulit. Ventilator yang mampu melakukan mode kontrol tekanan dan PEEP tinggi diperlukan untuk memaksimalkan pengiriman oksigen sekaligus meminimalkan risiko cedera paru dan pneumotoraks terkait ventilator. PEEP yang tinggi mungkin tidak tersedia pada ventilator lama. Penelitian tentang potensi perawatan dimulai pada Januari 2020 dan beberapa obat antivirus sedang dalam uji klinis. Remdesivir tampaknya yang paling menjanjikan. Meskipun pengembangan obat baru mungkin butuh waktu hingga 2021, beberapa obat yang sedang diuji sudah disetujui untuk penggunaan lain atau sudah berada dalam pengujian tingkat lanjut. Obat antivirus dapat dicoba pada orang dengan penyakit parah. Para relawan yang direkomendasikan WHO ikut serta dalam uji coba keefektifan dan keamanan pengobatan potensial. FDA telah memberikan otorisasi sementara untuk plasma konvalesen sebagai perawatan eksperimental dalam kasus nyawa seseorang sangat atau serta-merta terancam. Plasma konvalesen belum menjalani studi klinis yang diperlukan untuk membuktikan keamanan dan keefektifannya untuk penyakit ini. Pada Februari 2020, Tiongkok meluncurkan aplikasi seluler untuk menangani wabah penyakit ini. Pengguna diminta untuk memasukkan nama dan nomor ID mereka. Aplikasi ini mampu mendeteksi 'kontak dekat' menggunakan data surveilans sehingga dapat mendeteksi potensi risiko infeksi. Setiap pengguna juga dapat memeriksa status tiga pengguna lainnya. Jika potensi risiko terdeteksi, aplikasi bukan hanya merekomendasikan karantina mandiri, tetapi juga memberi tahu petugas kesehatan setempat. Analitik mahadata pada data ponsel, teknologi pengenalan wajah, pelacakan ponsel, dan kecerdasan buatan digunakan untuk melacak orang terinfeksi dan orang yang berkontak dengan mereka di Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura. Pada Maret 2020, pemerintah Israel mengizinkan badan keamanan untuk melacak data ponsel orang yang diduga tertular koronavirus. Langkah itu diambil untuk memberlakukan karantina dan melindungi orang yang mungkin kontak dengan warga yang terinfeksi. Selain itu, pada Maret 2020, Deutsche Telekom membagikan agregat data lokasi telepon kepada badan pemerintah federal Jerman, Robert Koch Institute, dalam rangka meneliti dan mencegah penyebaran virus. Rusia menggunakan teknologi pengenalan wajah untuk mendeteksi pelanggar karantina. Komisioner kesehatan regional Italia, Giulio Gallera, mengatakan ia diberi tahu operator ponsel bahwa "40% warga masih terus berpindah-pindah tempat". Pemerintah Jerman melakukan hackathon akhir pekan 48 jam dengan lebih dari 42.000 peserta. Selain itu, Presiden Estonia, Kersti Kaljulaid, membuat seruan global untuk solusi kreatif melawan penyebaran koronavirus. Orang bisa mengalami tekanan akibat karantina, pembatasan perjalanan, efek samping perawatan, atau ketakutan terhadap infeksi itu sendiri. BBC mengutip Rory O'Connor yang mengatakan, "Meningkatnya isolasi sosial, kesepian, kecemasan kesehatan, stres, dan kemerosotan ekonomi adalah badai sempurna yang membahayakan kesehatan mental dan kesejahteraan masyarakat." Penyakit ini dapat berlangsung ringan dengan sedikit atau tanpa gejala, yang menyerupai penyakit saluran napas atas umum lainnya, seperti pilek. Kasus ringan biasanya sembuh dalam dua minggu, sementara mereka yang menderita penyakit parah atau kritis mungkin membutuhkan tiga hingga enam minggu untuk sembuh. Wanita hamil mungkin memiliki risiko lebih tinggi untuk infeksi COVID-19 berat berdasarkan data dari virus yang mirip, seperti SARS dan MERS, tetapi data untuk COVID-19 masih kurang. Pada sebagian orang, COVID-19 dapat memengaruhi paru sehingga menyebabkan pneumonia. Pada orang yang paling parah terdampak, COVID-19 dapat dengan cepat berkembang menjadi sindrom gawat napas akut (ARDS) yang menyebabkan kegagalan pernapasan, syok septik, atau gagal organ majemuk. Komplikasi yang terkait dengan COVID-19 termasuk sepsis, penggumpalan darah abnormal, dan kerusakan pada jantung, ginjal, dan hati. Kelainan penggumpalan darah, khususnya peningkatan waktu protrombin, diamati pada 6% pasien COVID-19 yang dirawat inap, sementara kelainan fungsi ginjal terlihat pada 4% dari kelompok ini. Sekitar 20-30% orang dengan gambaran COVID-19 menunjukkan peningkatan enzim hati (transaminase). Menurut laporan yang sama, waktu median antara awitan gejala dan kematian adalah sepuluh hari, dengan lima hari dihabiskan dalam rawat inap. Namun, pasien yang dipindahkan ke ICU memiliki waktu median tujuh hari antara rawat inap dan kematian. Dalam sebuah studi yang meneliti kasus-kasus awal, waktu median mulai dari gejala awal hingga kematian adalah 14 hari, dengan rentang penuh enam hingga 41 hari. Dalam sebuah studi oleh Komisi Kesehatan Nasional (NHC) Tiongkok, pria memiliki angka kematian 2,8%, sementara wanita memiliki angka kematian 1,7%. Pemeriksaan histopatologis sampel paru postmortem menunjukkan kerusakan alveolar difus dengan eksudat fibromiksoid seluler di kedua paru. Perubahan sitopatik virus teramati pada pneumosit. Gambar paru menyerupai sindrom gawat napas akut (ARDS). Pada 11,8% kematian yang dilaporkan oleh Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, kerusakan jantung teramati, dengan peningkatan kadar troponin atau henti jantung. Menurut data bulan Maret dari Amerika Serikat, 89% orang yang dirawat inap memiliki kondisi bawaan. Ketersediaan sumber daya medis dan sosial ekonomi suatu daerah juga dapat memengaruhi mortalitas. Perkiraan mortalitas dari kondisi bervariasi karena perbedaan wilayah tersebut, tetapi juga karena kesulitan metodologis. Kurangnya penghitungan kasus ringan dapat menyebabkan angka kematian dihitung terlalu tinggi. Namun, fakta bahwa kematian adalah akibat dari kasus yang berlangsung di masa lalu dapat berarti angka mortalitas saat ini dihitung terlalu rendah. Perokok memiliki kemungkinan 1,4 kali lebih besar mengalami gejala COVID-19 yang parah dan sekitar 2,4 kali lebih mungkin membutuhkan perawatan intensif atau meninggal dibandingkan dengan yang bukan perokok. Ada kekhawatiran tentang sequela jangka-panjang penyakit ini. Otoritas Rumah Sakit Hong Kong menemukan penurunan kapasitas paru 20% hingga 30% pada beberapa orang yang pulih dari penyakit, dan pemindaian paru menunjukkan kerusakan organ. Hal ini juga dapat menyebabkan sindrom pascaperawatan-intensif setelah sembuh. Hingga Maret 2020, belum diketahui jika infeksi sebelumnya memberikan imunitas yang efektif dan jangka panjang pada orang yang sembuh dari penyakit ini. Imunitas dipandang mungkin diperoleh, jika melihat perilaku koronavirus lain, tetapi telah dilaporkan adanya kasus sembuh COVID-19 yang diikuti dengan uji koronavirus yang positif beberapa hari setelahnya. Kasus ini diyakini merupakan infeksi sisa yang memburuk, dan bukan infeksi ulang. Virus ini diduga alami dan berasal dari hewan, melalui infeksi yang menyebar. Asal sebenarnya tidak diketahui, tetapi per Desember 2019, penyebaran infeksi hampir seluruhnya didorong oleh penularan dari manusia ke manusia. Sebuah studi terhadap 41 kasus terkonfirmasi COVID-19 pertama, yang dipublikasikan pada Januari 2020 di The Lancet, mengungkapkan tanggal awitan gejala paling awal adalah 1 Desember 2019. Publikasi resmi dari WHO melaporkan awitan gejala paling awal pada 8 Desember 2019. Umumnya, beberapa pengukuran digunakan untuk menghitung mortalitas. Angka ini bervariasi berdasarkan wilayah dan seiring waktu, serta dipengaruhi oleh jumlah pengujian, kualitas sistem perawatan kesehatan, opsi penanganan, waktu sejak wabah pertama, dan karakter populasi seperti usia, jenis kelamin, dan kesehatan secara keseluruhan. Di akhir 2019, WHO menetapkan kode penyakit ICD-10 darurat U07.1 untuk kematian akibat infeksi SARS-CoV-2 yang terkonfirmasi laboratorium dan U07.2 untuk kematian akibat COVID-19 yang didiagnosis secara klinis atau epidemiologis tanpa konfirmasi laboratorium untuk infeksi SARS-CoV-2. Rasio kematian terhadap kasus mencerminkan jumlah kematian dibagi jumlah kasus terdiagnosis dalam suatu interval waktu yang ditentukan. Menurut statistik Universitas Johns Hopkins, rasio kematian terhadap kasus secara global adalah 6,9% (153.822/2.240.191) per 17 April 2020. Jumlahnya bervariasi berdasarkan wilayah. Pengukuran lain meliputi angka fatalitas kasus (CFR), yang mencerminkan persentase orang terdiagnosis yang meninggal akibat penyakit tertentu, dan angka fatalitas infeksi (IFR), yang mencerminkan persentase orang terinfeksi (terdiagnosis dan tidak terdiagnosis) yang meninggal akibat penyakit tertentu. Statistik ini tidak terikat waktu dan mengikuti suatu populasi tertentu mulai dari infeksi hingga resolusi kasus. Walaupun tidak semua orang yang terinfeksi membuat antibodi, keberadaan antibodi dapat memberikan informasi tentang jumlah orang yang telah terinfeksi. Di episentrum wabah di Italia, Castiglione d'Adda, sebuah desa kecil yang berisi 4600 warga, 80 (1,7%) sudah meninggal. Di Gangelt, penyakit ini disebarkan melalui festival Karnaval, yang menyebar ke kalangan orang muda, menyebabkan mortalitas yang relatif lebih rendah, dan kemungkinan tidak semua kematian COVID-19 diklasifikasikan sebagai kematian COVID-19. Lebih lanjut, sistem kesehatan Jerman belum kewalahan. Di Belanda, sekitar 3% populasi mungkin memiliki antibodi, sebagaimana dikaji dari donor darah. 69 orang (0,004% populasi) dikonfrimasi meninggal karena COVID-19. Dampak pandemi dan tingkat mortalitasnya berbeda untuk pria dan wanita. Mortalitas lebih tinggi pada pria dalam studi yang dilakukan di Tiongkok dan Italia. Risiko tertinggi untuk pria adalah di usia 50-an, dengan selisih risiko antara pria dan wanita baru tidak tampak pada usia 90. Di Tiongkok, angka kematian untuk pria sebesar 2,8 persen dan untuk wanita sebesar 1,7 persen. Alasan pasti untuk perbedaan berdasarkan jenis kelamin ini tidak diketahui, tetapi faktor genetik dan perilaku mungkin menjadi alasan. Perbedaan imunologis berdasarkan jenis kelamin, prevalensi merokok yang lebih rendah pada wanita, dan pria yang memiliki kondisi komorbid, seperti hipertensi, pada usia lebih muda dibandingkan wanita dapat berkontribusi pada mortalitas yang lebih tinggi pada pria. Di Eropa, 57% orang yang terinfeksi adalah pria dan 72% orang yang meninggal karena COVID-19 adalah pria. Hingga April 2020, pemerintah AS tidak melacak data terkait jenis kelamin untuk infeksi COVID-19. Penelitian menunjukkan bahwa penyakit virus, seperti Ebola, HIV, influenza, dan SARS, memengaruhi pria dan wanita secara berbeda. Persentase petugas kesehatan yang berjenis kelamin wanita lebih tinggi, khususnya perawat, dan mereka memiliki peluang lebih tinggi untuk terpapar virus. Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan pada 11 Februari 2020 bahwa nama resmi penyakit ini adalah "COVID-19". Pemimpin WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan bahwa CO adalah singkatan untuk corona, VI untuk virus, D untuk penyakit, dan 19 untuk saat wabah pertama kali teridentifikasi: 31 Desember 2019. Nama itu dipilih untuk menghindari referensi ke lokasi geografis tertentu (misalnya Tiongkok), spesies hewan, atau sekelompok orang, sejalan dengan rekomendasi internasional untuk penamaan yang bertujuan mencegah stigmatisasi. Virus yang menyebabkan COVID-19 diberi nama koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2). WHO juga menggunakan "virus COVID-19" dan "virus yang bertanggung jawab atas COVID-19" dalam komunikasi publik. Baik penyakit maupun virus lazim disebut sebagai "koronavirus". Pada awal wabah di Wuhan, Tiongkok, virus dan penyakit ini lazim disebut sebagai "koronavirus" dan "koronavirus Wuhan". Pada Januari 2020, WHO merekomendasikan 2019-nCoV dan penyakit pernapasan akut 2019-nCov sebagai nama sementara untuk virus dan penyakit sesuai dengan pedoman 2015 yang mengimbau untuk tidak menggunakan nama lokasi dalam nama penyakit dan virus. Nama resmi COVID-19 dan SARS-CoV-2 dikeluarkan pada 11 Februari 2020. Karena keterbatasan kapasitas dalam rantai pasokan standar, beberapa produsen digital mencetak bahan perawatan kesehatan seperti usap nasal dan komponen ventilator. Dalam satu contoh, ketika sebuah rumah sakit Italia sangat membutuhkan katup ventilator, dan pemasok tidak dapat memberikan dalam skala waktu yang diperlukan, sebuah perusahaan lokal merekayasa-balik dan mencetak 100 katup yang diperlukan dalam semalam. Setelah awal wabah COVID-19, teori konspirasi, informasi yang salah, dan disinformasi bermunculan mengenai asal, skala, pencegahan, pengobatan, dan aspek-aspek penyakit lainnya, yang menyebar dengan cepat daring. Manusia tampaknya mampu menyebarkan virus ke beberapa hewan lain. Studi gagal menemukan bukti replikasi virus pada babi, bebek, dan ayam. Belum ada obat atau vaksin yang disetujui untuk mengobati penyakit ini. Penelitian internasional terhadap vaksin dan obat COVID-19 sedang dilakukan oleh organisasi pemerintah, kelompok akademik, dan peneliti industri. Pada bulan Maret, Organisasi Kesehatan Dunia memprakarsai "SOLIDARITY Trial" untuk mengkaji efek pengobatan empat senyawa antivirus yang sudah ada dengan kemanjuran paling menjanjikan. Vaksin belum tersedia, tetapi berbagai lembaga sedang aktif mengembangkan kandidat vaksin. Penelitian sebelumnya terhadap SARS-CoV digunakan karena SARS-CoV dan SARS-CoV-2 sama-sama menggunakan reseptor ACE2 untuk memasuki sel manusia. Ada tiga strategi vaksinasi yang sedang diteliti. Pertama, peneliti bertujuan untuk membuat vaksin virus utuh. Penggunaan virus tersebut, baik virus yang tidak aktif atau mati, bertujuan untuk dengan cepat memicu respons imun tubuh manusia terhadap infeksi COVID-19 baru. Strategi kedua, vaksin subunit, bertujuan untuk menciptakan vaksin yang membuat sistem imun sensitif terhadap subunit tertentu pada virus. Dalam kasus SARS-CoV-2, penelitian tersebut berfokus pada protein S-spike yang membantu virus menyusupi reseptor enzim ACE2. Strategi ketiga adalah vaksin asam nukleat (vaksin DNA atau RNA, teknik baru untuk membuat vaksinasi). Vaksin eksperimental yang dibuat dengan strategi-strategi ini harus diuji untuk mengetahui keamanan dan kemanjurannya. Pada 16 Maret 2020, uji klinis pertama sebuah vaksin dimulai dengan empat sukarelawan di Seattle. Vaksin mengandung kode genetik tidak berbahaya yang disalin dari virus yang menyebabkan penyakit. Peningkatan tergantung-antibodi telah disarankan sebagai tantangan potensial untuk pengembangan vaksin SARS-COV-2, tetapi metode ini masih kontroversial. Ada lebih dari 300 uji klinis aktif yang sedang berlangsung pada April 2020. Tujuh uji coba mengevaluasi pengobatan yang telah disetujui untuk malaria, mencakup empat studi terhadap hidroksiklorokuin atau klorokuin. Obat antivirus yang diberi tujuan baru membentuk sebagian besar penelitian Tiongkok, dengan sembilan uji coba Fase III pada remdesivir di beberapa negara dengan tenggat waktu pelaporan pada akhir April. Pada April 2020, tinjauan dinamis tentang pengembangan klinis untuk kandidat vaksin dan obat COVID-19 sudah ada.Beberapa obat antivirus yang ada sedang dievaluasi untuk pengobatan COVID-19, yang mencakup remdesivir, klorokuin dan hidroksiklorokuin, lopinavir/ritonavir, dan lopinavir/ritonavir dikombinasikan dengan interferon beta. Pada Maret 2020, ada bukti sementara untuk kemanjuran remdesivir. Peningkatan klinis teramati pada pasien yang diobati dengan remdesivir dalam pengobatan darurat. Uji klinis Fase III sedang dilakukan di AS, Tiongkok, dan Italia. Klorokuin, yang sebelumnya digunakan untuk mengobati malaria, diteliti di Tiongkok pada Februari 2020, dengan hasil awal. Namun, ada seruan untuk tinjauan sejawat terhadap riset tersebut. Otoritas Kesehatan Korea dan Tiongkok merekomendasikan penggunaan klorokuin. Namun, Institut Virologi Wuhan, meskipun merekomendasikan dosis harian satu gram, mencatat bahwa dosis dua kali lipat sangat berbahaya dan bisa mematikan. Pada 28 Maret 2020, FDA mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat untuk hidroksiklorokuin dan klorokuin atas kebijakan dokter yang merawat penderita COVID-19.Pedoman Tiongkok edisi ke-7 juga menyertakan interferon, ribavirin, atau umifenovir untuk digunakan melawan COVID-19. Data awal menunjukkan bahwa dosis tinggi ribavirin diperlukan untuk menghambat SARS-CoV-2 secara in vitro. Nitazoksanida telah direkomendasikan untuk studi in vivo lebih lanjut setelah menunjukkan penghambatan SARS-CoV-2 dalam konsentrasi rendah.Penelitian menunjukkan bahwa priming awal terhadap protein tonjolan oleh serin protease transmembran 2 (TMPRSS2) sangat penting untuk masuknya SARS-CoV-2 melalui interaksi dengan reseptor ACE2. Studi tentang klorokuin dan hidroksiklorokuin dengan atau tanpa azitromisin memiliki keterbatasan besar yang telah mencegah komunitas medis untuk menggunakan terapi ini tanpa penelitian lebih lanjut. Oseltamivir tidak menghambat SARS-CoV-2 secara in vitro dan tidak memiliki peran yang diketahui dalam pengobatan COVID-19. Komplikasi badai sitokin dapat terjadi pada COVID-19 berat tahap lanjut. Ada bukti bahwa hidroksiklorokuin mungkin memiliki sifat antisitokin. Tocilizumab telah dimasukkan dalam pedoman pengobatan oleh Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok setelah sebuah penelitian kecil selesai. Obat ini sedang menjalani uji fase 2 nonacak di tingkat nasional di Italia setelah menunjukkan hasil positif pada orang dengan penyakit parah. Dikombinasikan dengan uji darah feritin serum untuk mengidentifikasi badai sitokin, obat ini dimaksudkan untuk melawan badai sitokin, yang diduga merupakan penyebab kematian pada beberapa orang yang terdampak. Pada tahun 2017, antagonis reseptor interleukin-6 disetujui oleh FDA berdasarkan studi kasus retrospektif untuk pengobatan sindrom pelepasan sitokin refrakter steroid yang diinduksi oleh penyebab yang berbeda, yakni terapi sel CAR T. Sampai saat ini, belum ada bukti acak dan terkontrol yang menunjukkan bahwa tocilizumab adalah pengobatan yang manjur untuk CRS. Mentransfer antibodi yang dimurnikan dan dipekatkan yang diproduksi oleh sistem orang yang sudah sembuh dari COVID-19 kepada orang yang membutuhkannya sedang diteliti sebagai metode imunisasi pasif nonvaksin. Strategi ini dicoba untuk SARS dengan hasil tidak konklusif. Netralisasi virus adalah mekanisme kerja yang diharapkan untuk terapi antibodi pasif dapat memediasi pertahanan melawan SARS-CoV-2. Namun, mekanisme lain, seperti sitotoksisitas seluler yang bergantung pada antibodi dan/atau fagositosis, juga mungkin. Bentuk terapi antibodi pasif lain, misalnya, menggunakan antibodi monoklonal yang diproduksi, sedang dalam pengembangan. Produksi serum konvalesen, yang berupa bagian cairan dari darah pasien yang sudah sembuh dan mengandung antibodi spesifik terhadap virus ini, dapat ditingkatkan untuk penggunaan yang lebih cepat. Penyakit koronavius, sekelompok sindrom yang terkait erat Li Wenliang, seorang dokter di Rumah Sakit Pusat Wuhan, yang kemudian terjangkit dan meninggal karena COVID-19 setelah memunculkan kesadaran akan penyebaran virus.